
Sehari beraktifitas membuat tubuhku terasa lelah juga capek.
"Mas, badanku capek semua, perutku juga kencang sekali, aku istirahat dulu ya Mas, nitip Vano," pesanku ke Mas Arif ketika kami sudah sampai di rumah.
Aku segera masuk ke kamar merebahkan tubuhku dan tertidur pulas dengan posisi miring memeluk guling.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
Entah sudah jam berapa sekarang, aku merasa ada tangan yang memeluk tubuhku dan menciumiku.
"Mas... besok saja, aku sangat lelah sekali," kataku.
"Rin... aku ingin sekali," bisik suamiku.
"Besok saja Mas," kataku.
"Perutku terasa gak nyaman, besok ya, maaf Mas," kataku pelan dan aku kembali menutup mataku dan tidur kembali setelah tidak ada pergerakan di belakangku.
Malam ini aku hanya ingin beristirahat, lelah seharian ke Nia dan ke orang tuaku.
***
Suara adzan subuh membangunkanku dari tidurku, badanku sudah lumayan enak, aku rabah-rabah tidak ada tubuh suamiku di sampingku, akhirnya aku buka mataku, suamiku tidak ada di kamarku, mungkin tidur bersama dengan Vano.
Aku mengambil wudhu dan melaksanakan sholat subuh, setelah itu berjalan menuju ke kamar Vano, ternyata Vano tidur sendirian, mungkin mas Arif tidur dengan mas Deni.
Menuju ke dapur untuk membuat sarapan pagi.
Mas Deni menuruni anak tangga, terlihat sudah rapi.
"Mau kemana Mas?" sapaku.
"Mbak... boleh pinjam sepeda motornya? mau ke Nia," jawab Mas Deni.
"Oh iya, sebentar aku ambilkan kunci kontaknya," kataku dan berjalan ke kamarku untuk mengambil kunci dan menyerahkannya ke Mas Deni.
"Mas Arif tidur di atas?" tanyaku.
"Iya Mbak, semalam ngobrol-ngobrol terus tidur denganku," jawab Mas Deni.
"Ingat jalan ke Nia, kan?" tanyaku.
"Ingat Mbak," jawab Mas Deni.
"Oh iya kunci pagar satu bendel sama kunci pintu, hati-hati di jalan," pesanku.
__ADS_1
"Iya Mbak," kata Mas Deni sambil berjalan ke luar rumah.
Setelah sepeda motor yang dikendarai mas Deni terdengar menjauh, aku menaiki anak tangga menuju ke kamar atas dimana mas Arif tidur.
Sampai di atas dan aku buka pintu kamar, terlihat Mas Arif masih pulas tidurnya.
Dasar laki-laki mau enaknya saja, bini hamil pindah tidur, emang laki-laki gak pernah hamil jadi gak bisa merasakan seperti apa.
Malam-malam minta jatah, badan saja capek banget.
"Mas... bangun," kataku sambil menggoyang-goyangkan badan suamiku.
Memang minta digoda dulu baru mau bangun.
Seperti biasanya aku menciumi bagian sensitinya, beberapa saat kemudian suamiku mulai bergerak dan mendesis kenikmatan, ketika sudah tegang aku mengakhirinya.
"Ayo bangun... sudah pagi," kataku.
"Rin...Rin... nanggung sekali," katanya.
"Biarin, sapa suruh tidur di sini, ya... mentang-memtang istri jadi gendut sudah tidak menarik lagi, terus tidurnya minggat ke sini," kataku jengkel dan meninggalkan suamiku di kamar atas.
Menuruni anak tangga satu persatu dengan hati-hati, kemudian menuju ke dapur untuk memasak.
Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh, Mas Arif belum juga turun ke bawah, Vano keluar dari kamarnya, masakanku sudah siap semua.
"Iya Bunda," jawab Vano dan berlari menaiki anak tangga.
Aku berjalan masuk ke dalam kamar untuk mandi, setelah itu duduk santai di kursi di depan nakas, mengambil ponsel suamiku, melihat isinya, siapa tau ada perempuan yang menggodanya.
Melihat isi dari percakapan baik di inbox maupun di chat mesenger, tidak ada yang mencurigakan, hanya obrolan biasa saja, akhirnya aku buka foto dari galeri, ada fotoku juga Vano dan mas Arif sendiri, kapan foto ini di ambil mas Arif, ya... fotoku sendiri tesenyum menghadap ke arah kamera, kalau di lihat latarnya seperti di kebun binatang, oh... ya aku ingat itu foto saat aku keluar pertama kali dengan mas Arif dan Vano, saat dia sedang mendekatiku dan mendapatkan hatiku he he he.
Melihat foto-foto lainnya, hmmm... dasar lelaki, masih saja menyimpan foto wanita itu, foto setengah telanjang yang dulu di kirim dan aku melihat duluan.
Mas Arif masuk ke dalam kamar.
“Pagi istriku,” sapanya dengan mesra.
“Pagi...pagi... ada maunya saja baik-baik,” kataku jengkel.
Mas Arif memelukku dari belakang dan mencium pipiku dengan lembut dan berbisik, “Jangan marah terus.”
“Gak marah bagaimana, nih lihat apa maksudnya?” tanyaku sambil menunjukkan foto bugil mantannya.
“Masih menikmati lekuk tubuhnya, daripada tubuh istrimu,” kataku marah.
__ADS_1
“Semakin menggemaskan ya istriku kalau marah,” kata Mas Arif.
“Rayuan gombalmu tidak berlaku sekarang, aku mau kerja dan menyiapkan Vano,” kataku dan berjalan ke luar kamar.
“Eits... sini,” kata Mas Arif sambil memegang tanganku dan memelukku dari belakang kembali.
“Ini sudah aku hapus, hanya kamu dalam hatiku,” bisiknya.
“Gombal,” kataku.
“Gombal itu di dapur sana loh Rin, buat serbet,” kata suamiku membuatku tersenyum.
“Nah begitu tersenyum, ayo senyum lagi, banyak senyum banyak pahala katamu dulu,” kata suamiku.
Aku membalikkan badanku dan memukul tubuh suamiku dan tersenyum.
“Deni kemana Rin?” tanya Mas Arif.
“Lagi menjemput Nia, biarkan mereka bahagia, menikmati benih-benih cinta yang mulai bersemih indah di hati mereka,” kataku.
“Aku juga ingin loh Rin,” kata Mas Arif.
“Oh... mau cari perempuan lagi untuk kamu pacari begitu?” tanyaku.
“Aduh... salah paham lagi, laki-laki di mata perempuan lama-lama selalu salah saja ya, dan perempuan yang benar, maksudku...,” kata suamiku dan aku memotongnya.
“Maksudmu mau mencari perempuan muda lagi?” tanyaku.
“Bukan Rin... aku juga ingin memadu kasih denganmu, ah... gak paham juga sih istriku, mulai kapan sih kamu gak peka begini,” jawab Mas Arif.
“Nanti malam saja, sekarang antar aku kerja,” kataku.
“Rin... ijin kerja apa sehari, temani aku, masak Deni yang bahagia, aku juga ingin, ayolah,” bujuk Mas Arif.
“Vano aku mandikan, aku ganti bajunya, aku siapkan semuanya untuk ke sekolah terus aku antar, bagaimana,” kata Mas Arif.
Laki-laki kalau ada maunya ada saja ide-idenya, di kantor saat ini tidak begitu banyak pekerjaan, ya sudah aku ijin sehari saja, pikirku.
“Iya, tapi nanti jangan kayak dulu, nih ada anakmu di dalam,” kataku.
Aku bersantai di dalam kamar, membiarkan Mas Arif sibuk dengan Vano, dan mereka berpamitan, Vano pergi sekolah dan Mas Arif yang mengantarnya.
Selepas kepergian mas Arif untuk mengantar Vano sekolah, aku menghubungi pak Farid untuk meminta ijin tidak masuk kerja dan beliau mengijinkannya.
Keluar dari kamar berjalan menuju sofa ruang keluarga, aku mengambil remot dan menyalakan televisi melihat acara-acara televisi.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu suamiku datang membawa satu kresek plastik di tangan kananya dan meletakkan di atas meja makan, kemudian menghampiriku dan menciumi wajahku dengan mesra lalu ke bawah mencium perutku.
“Nak, jangan nakal ya di dalam, ayah juga rindu sama Bundamu,” bisiknya.