
Pagi hari aku bangun tidur, kulihat ibu sudah bangun duluan dan memasak, mungkin Vano tidur di kamar tamu, aku masuk ke kamar mandi untuk mandi, melihat perutku, hatiku bersedih lagi, nak... maafkan bunda tidak bisa menjagamu, batinku, kemudian aku ambil gayung untuk aku guyurkan ke tubuhku, badanku serasa lebih segar, setelah mandi aku keluar dari kamar mandi dan berganti baju, ya... memang masih terasa perih setelah kuret kemarin tapi tidak seberapa sakit, masih sakit hatiku yang kehilangan anak, tiga bulan lagi semoga aku bisa hamil lagi kasihan mas Arif.
Aku keluar dari kamarku, menuju kamar tamu, biasanya Vano tidur di situ, aku buka pintu kamar, Vano masih terlelap tidurnya, mungkin dia tidak mau sekolah dulu, terus bagaimana sekolah Vano besok, sedangkan aku belum bisa mengantarnya apa aku hubungi bu Via untuk mengantar jemput Vano, kata Nia kemarin aku dapat cuti seminggu, dan seminggu lagi suamiku pulang, aku harus bagaimana? apa mas Arif tidak akan menyalahkanku karena aku tidak bisa menjaga kehamilanku, mataku berkaca-kaca lagi, aku rindu mas Arif tapi aku takut menghubunginya, setelah aku cium Vano aku keluar dari kamar tidur dan menuju ke dapur kulihat ibu sedang memasak, mungkin ibu mertuaku masih di atas bersiap-siap untuk beraktifitas.
"Rin... makanlah dulu, ibu buatkan pecel" kata ibuku
"Iya Bu terimakasih" kataku, ketika aku duduk di meja makan, ibu mertuaku turun dari tangga dengan memakai baju kantoran dan berjilbab rapi dan menghampiriku, duduk di sampingku
"Rinda... bagaimana kondisimu?" tanya Ibu mertuaku.
"Sudah lebih baik Bu" kataku.
"Maaf, Rinda merepotkan ibu terus" kataku kemudian.
"Tidak ada yang direpotkan disini, semalam Arif menghubungi ibu, dia cemas memikirkanmu, apa kamu tidak ingin menghubunginya?" tanya ibu mertua.
"Rinda ingin sendiri dulu bu, Rinda takut mas Arif kecewa, sampaikan salamku untuk mas Arif, bilang aku dan Vano baik-baik saja" kataku.
"Bu... ayo sarapan dulu, saya sudah buatkan pecel dan telur ceplok" kata Ibuku kepada Ibu mertuaku.
"Oh iya Bu, terimakasih Bu, ayo Rinda, ayo Bu kita sarapan bareng" kata Ibuku, kemudian kami mengambil piring masing-masing dan makan bersama.
"Bu enak loh sambal pecelnya, saya suka" kata Ibu mertuaku.
"Ah Ibu memujiku" kata Ibuku tersipu malu, setelah selesai makan, Ibu mertua berniat untuk membantu membersihkan meja makan dan piring sisa makan.
"Sudah Bu, biar saya saja yang membereskan, Ibu segeralah berangkat kerja" kata Ibu yang tidak mengijinkan Ibu mertuaku membantunya
"Terimakasih bu, saya tinggal dulu, mungkin jam satu an saya sudah di rumah" kata Ibu mertua menjelaskan, kemudian aku bersalaman dengan Ibu mertuaku, dan Ibu mertua berjalan keluar rumah, kudengar suara mobil, sepertinya ibu bekerja mengendarai mobil.
__ADS_1
Di meja makan tinggal berdua, aku dan Ibuku.
"Rin... sudah lebih baik suasana hatimu?" tanya Ibu.
"Iya Bu" jawabku pelan dan menundukkan kepalaku.
"Rin... sudah jangan nangis terus, jangan salahkan dirimu sendiri, coba lihatlah di kaca itu, matamu sembab sekali" kata ibu sambil menunjukkan sebuah kaca yang menempel di dinding dekat dengan ruang tamu
"Yakinlah semua itu sudah suratan takdir dari Allah" kata ibu kemudian
"Iya bu, terima kasih, Rinda berusaha menerima kenyataan ini" kataku kemudian berdiri dari kursi dan berjalan menuju kamar tidur untuk meminum obat setelah itu aku keluar kamar berjalan ke sofa ruang keluarga menyalakan tv, ibu masih membereskan meja makan dan mencuci piring, kusandarkan tubuhku di sofa, melihat acara tv tapi tidak menikmati, Vano datang menghampiriku
"Bunda... Vano bolos saja ya" kata Vano dengan wajah melas
"Iya Vano, besok Vano di jemput bu Via ya" kataku
"Bunda masih sakit sayang, senin depan bunda kerja" kataku kemudian mencium Vano
"Vano main sendiri ya sayang" kataku
"Ini remotnya, kamu mau lihat acara apa?" tanyaku
"Ipin upin bunda, nenek ke mana?" tanya Vano sambil melihat sekelilingnya, mungkin tidak menemukan nenek jadi dia bertanya kepadaku
"Nenek kerja sayang" kataku, kemudian Vano berjalan ke kamarnya, mungkin mau mengambil sesuatu dari kamar, tak lama kemudian Vano kembali membawa susu kotak yang sedang di minumnya dan tanganya membawa beberapa mainan kemudian Vano duduk di karpet di depanku.
Hari ini aku ingin sendiri merenungi semua yang sudah terjadi dan berusaha menerima kehilangan anakku
"Bu.... " panggilku
__ADS_1
"Iya, ada apa Rinda" kata ibu dan berjalan mendekatiku kemudian duduk di sofa di sebelahku dan menatapku
"Bu.. janin anakku kemarin sudah di kubur?" tanyaku pelan dengan mata sembab
"Sudah di kubur sama bapakmu di sekitaran kuburan adikmu sebelum Faris yang meninggal setelah lahir" kata ibu
"Iya bu, makasih" ucapku
"Rinda... kamu betul-betul belum mau menghubungi suamimu?" tanya ibu dengan tatapannya, aku menunduk dan menangis lagi
"Bu... aku ingin sendiri dulu, aku belum siap bicara dengan mas Arif, biarkan aku berdamai dengan diriku dulu" kataku
"Jangan lama-lama, kasihan Arif, disana pasti sangat menghawatirkanmu" kata ibu menasehatiku, aku menganggukkan kepala kemudian berdiri dan berjalan ke taman belakang.
Aku duduk di kursi taman melihat hijaunya tanaman ibu mertuaku, di kursi ini banyak waktu aku habiskan bersama mas Arif, mas... maafkan Rinda, Rinda belum bisa memberimu keturunan, mataku berkaca-kaca lagi teringat perkosaan itu yang sangat menyakitiku, yang membuatku trauma berkepanjangan, ya perkosaan yang menjadikan Vano ada, ya Allah, kejadian seperti yang tak kuinginkan menjadikanku seorang ibu, tapi ketika aku melakukan dengan cinta dengan hubungan yang halal, engkau mengambilnya kembali, ya Allah... jika semua ini sebagai penggugur dosa kami, ampuni kami, berikanlah kekuatan hatiku untuk bisa menerima semua ini, setelah bosan di taman belakang rumah aku berjalan ke dalam rumah menuju kamarku, di ruang keluarga terlihat Vano sedang asyik melihat acara tv dan bermain, ibu menemani Vano di ruang keluarga
"Rinda..." sapa ibu
"Iya bu, Rinda mau istirahat di kamar" kataku
Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh siang, aku berjalan menuju kamarku dan mengambil hp dari dalam tas ku, mungkin baterainya habis, dari hari minggu sampai selasa ini aku tidak memegang hp sama sekali, ternyata memang baterainya habis, aku charge hp ku, dan baringkan tubuhku di kasur memeluk guling, Nia kemarin kebetulan ke rumah sakit karena melihat keluarganya dan bertemu Vano di rumah sakit, jadi tau aku lagi di rumah sakit dan mengajukan cutiku ke tempatku kerja, beberapa menit kemudian aku tertidur.
Ketika aku bangun, aku ambil hp yang aku charge baterainya sudah lima puluh lima persen, aku cabut dan aku nyalakan, beberapa saat kemudian hp sudah menyala, banyak pesan masuk juga panggilan masuk, mas Arif... begitu kamu menghawatirkanku, aku baca satu persatu wa yang masuk, ada panggilan sampai tiga puluh kali di hari minggu sampai senin, beberapa whats up dari suamiku, maafkan aku mas, aku sudah salah paham denganmu, beberapa hari ini memang aku tidak mau menghubungi aku takut kamu kecewa tapi malah membuatmu khawatir seperti ini, aku mau membalas whats up suamiku.
"Mas... maafkan Rinda, sudah salah paham, maafkan Rinda tidak bisa menjaga anak kita, maafkan Rinda membuatmu sangat khawatir" tulis pesanku, tak lama kemudian ada balasan dari mas Arif
"Sayang... aku mencintaimu, aku ikhlas anak kita sudah tiada, nanti pulang bikin lagi ya " balasan pesan mas Arif membuatku tersenyum-senyum.
"Terima kasih mas" jawabku
__ADS_1