Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Menemuinya


__ADS_3

Tak terasa sudah mau maghrib, Mas Arif menghampiriku di belakang rumah dan duduk di sampingku.


"Rin, aku mau keluar, Ibu minta beli empek-empek lagi, kamu ikut?" tanya Mas Arif.


"Aku di rumah saja Mas" jawabku.


"Kamu nitip apa?" tanya Mas Arif.


"Empek-empek juga Mas" jawabku.


Kemudian Mas Arif meninggalkan aku.


"Bunda, Vano ikut Ayah" teriak Vano.


"Iya Vano, hati-hati ya" pesanku.


"Iya Bunda" jawab Vano.


Sepeninggal Mas Arif dan Vano hpku berbunyi, aku masuk ke kamar mengambil hp, Rista, ada apa lagi, pikirku.


"Assalamualaikum" sapaku.


"Waalaikum salam Mbak" jawab Rista.


"Ada apa Rista?" tanyaku.


"Mbak, kapan kita bisa bertemu?" tanya Rista.


"Tadi aku sudah cerita ke suamiku, kalau kamu mau besok kita bertemu di kafe sekitar jalan Ahmad Dahlan, tapi aku tidak bisa lama" jawabku.


"Iya Mbak, makasih, Mbak lagi sibuk?" tanya Rista.


Nih perempuan sok akrab begini sih, batinku.


"Oh iya, aku mau masak untuk makan malam" jawabku.


"Maaf Mbak, besok saja dilanjut" kata Rista kemudian mematikan telponnya.


Ini perempuan lama-lama mencurigakan saja, ikuti saja apa maunya, batinku.


Tak lama kemudian Mas Arif dan Vano pulang membawa bungkusan dan dikasihkan ke aku.


"Vano tadi minta apa sama Ayah?" tanyaku.


"Minta mi Bunda" jawab Vano.


"Ayo makan!" kataku.


"Aku ke atas dulu Rin, bawakan ini untuk Ibu" kata Mas Arif.


Aku dan Vano menunggunya di meja makan, Vano mulai memakan mi ayam, aku menaruh empek-empek ke mangkok, tak lama kemudian Mas Arif datang dan bergabung di meja makan menikmati makanan ini.


Menjelang malam, rumah terasa sepi, Vano sudah tidur, tinggal aku dan mas Arif berdua di atas kamar tidur.


"Mas, Rista tadi telpon lagi, minta segera bertemu" kataku.


"Terus?" tanya Mas Arif.


"Aku ikuti saja maunya, aku ada curiga sama dia, entahlah seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan Rista, akhirnya besok aku janjian di kafe jam dua belas siang" kataku.


"Aku curiga Rista itu perempuan yang dulu pernah menelponku waktu aku masih dengan mantanku" kataku.


"Telpon apa memangnya?" tanya Mas Arif.


"Perempuan telpon aku kayak perempuan murahan saja, sudahlah mas, daripada bahas perempuan itu lebih baik kita nikmati waktu berdua kita" kataku.


"Hmmm istriku ini memang tau yang kumau" bisik Mas Arif menggoda.


"Rin, nanti diatas ya? aku ajari" bisik mas Arif mesra.


Kami saling berpelukkan, saling mencium saling merangsang dan menikmati setiap rangsangan.

__ADS_1


Suara erangan kami, sayup-sayup terdengar, Mas Arif berdiri memutar lagu romantis, untuk menyamarkan suara desahan kami.


"Kamu di atas sayang" bisik Mas Arif.


Aku menurutinya dan Mas Arif membimbingku.


"Iya begitu sayang, hmmm nikmat sekali" bisik Mas Arif.


"Kamu pinter sekali, cepat bisa" bisik Mas Arif yang menahan gejolak rasa yang di timbulkan.


"Aw, Mas..." ketika aku sudah sampai pada titik puncak.


Mas Arif berpindah posisi di atasku, kami terus bercinta, menikmati setiap proses, setiap sentuhan-sentuhan di dalam.


"Hmmm Mas... enak" bisikku.


"Iya sayang, love you" bisiknya.


"Love you too" bisikku.


Suamiku memang luar biasa, batinku.


Hanya suara dari mulut kami, suara-suara penuh kenikmatan.


Dan pada akhirnya, kami sampai pada puncak kenikmatan, kami saling memeluk erat.


"Kamu luar biasa sayang" bisik Mas Arif.


"Mas juga luar biasa" bisikku lembut.


Kami tertidur setelah puas bercinta.


Aku terbangun, kulihat jam di dinding kamar menunjukkan pukul empat pagi, aku turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk mandi besar, setelah itu aku sholat subuh dan menyiapkan sarapan pagi, selesai semuanya, aku menuju ke kamar Vano kulihat masih tidur aku siapkan bekal untuk Vano selama berada di penitipan anak.


Kemudian aku menuju kamar, Mas Arif masih tidur, memang perlu digoda biar mau bangun dia.


Aku ciumi bagian sensitifnya.


"Ayo bangun Mas, nanti mengantarku kerja apa tidak? tanyaku.


"Iya aku antar, tapi aku pingin lagi" katanya.


"Nanti malam lagi" kataku.


"Ayo bangun" kataku lagi.


Aku bersiap untuk pergi ke tempat kerja diantar Mas Arif, seperti biasa kami mengantar Vano baru aku.


Di kantor.


"Suamimu pulang Rin?" tanya Nia.


"Iya Nia, Nia nanti aku pinjam sepedamu ya?" tanyaku.


"Iya, mau kemana?" tanya Nia.


"Ketemu seseorang, setelah bertemu dia aku akan ceritakan padamu" kataku.


Aku ambil hpku dan aku kirim pesan ke Rista.


"Rista aku akan berangkat, kamu sudah di mana?" bunyi pesanku.


"Aku sudah dekat dengan kafe yang Mbak maksud" jawabnya.


"Oke" balasku.


Jam 12 kurang lima menit aku berangkat meninggalkan kantorku menuju kafe yang aku janjikan, sebelumnya aku wa suamiku mengabarkan aku menemui Rista.


Sampai di kafe, Rista sudah menungguku sendirian. Kami bersalaman dan aku duduk di depan Rista.


Pelayan datang menghampiri kami menyodorkan menu dari kafe tersebut dan aku menulis sesuai pesananku dan Rista.

__ADS_1


"Rista apa yang akan kamu tanyakan padaku, aku bekerja waktuku tidak banyak" kataku memulai pembicaraan.


"Sebelumnya aku minta maaf, karena mengganggu aktifitas Mbak" kata Rista.


"Mbak, boleh aku tanya awal mula seperti apa Mbak bertemu sampai menikah dengan mas Ardi?" tanya Rista serius.


"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, kamu mulai mengenal Ardi kapan?" tanyaku serius.


"Aku kenal dia baru tahun ini, ya... sekitar pertengahan tahun ini" jawab Rista.


Aku mulai bercerita awal mula bertemu dengan ayahnya Vano sampai kejadian diperkosa kemudian hamil dan menikah.


"Mbak Rinda, apa betul seperti itu kejadianya?" tanya Rista.


Aku mengeluarkan bukti dari psikolog yang dikeluarkan empat tahun yang lalu.


"Bacalah, ini buktinya" kataku sambil menyodorkan selembar kertas kepada Rista, aku lihat Rista serius membacanya.


"Mbak... berarti yang diceritakan mas Ardi tidak benar" kata Rista sambil memberikan selembar kertas tadi kepadaku.


"Dia cerita apa tentangku?" tanyaku.


"Dia cerita kalau dia terpaksa menikahi Mbak Rinda karena hamil dengan laki-laki lain" jawab Rista.


"Oh... begitu ya, terus untuk apa dia bersihkeras ingin bertemu dengan anaknya kalau itu bukan darah dagingnya?" tanyaku kembali, hatiku semakin benci sama ayahnya Vano mendengar cerita dari Rista.


"Katanya kasihan, begitu Mbak" jawab Rista.


"Rista, kamu percaya, aku sejak kejadian pemerkosaan itu, aku tidak bisa melakukan hubungan suami istri, aku menikah dengan Ardi, tidak pernah bisa, aku selalu ketakutan Ris, dan beberapa waktu yang lalu traumaku kembali kambuh, ini bukti hasil dari psikolog" kataku sambil memberikan hasil tes psikolog yang dikeluarkan dari biro psikolog ibu mertua.


Rista membaca kertas tersebut dan memberikan kembali kepadaku.


"Rista, aku tidak pernah menghalangi siapapun yang dekat dengan mantanku, tapi tolong hati-hatilah, dia itu sangat licik sekali, itu alasanku untuk tidak memperbolehkan dia bertemu dengan anaknya" kataku.


"Mungkin karena aku tidak pernah melaksanakan kewajibanku jadi dia mulai mencari perempuan lainya" kataku lagi.


Kemudian pelayan datang ke meja kami membawa jus dan mi pesanan kami.


"Maksud Mbak Rinda, dia berselingkuh?" tanya Rista.


"Tidak hanya berselingkuh tapi juga menikah siri" jawabku.


"Aku harus berfikir panjang Mbak untuk menikah dengannya, terlalu banyak cerita bohong darinya" kata Rista.


"Maafkan aku Mbak, kalau aku sudah berfikiran jelek tentang Mbak, aku yakin Mbak orang baik yang menjadi korban Mas Ardi" kata Rista.


"Oh iya, aku tanya, kemarin kamu bilang kamu disuruh untuk mendekatiku juga anakku, untuk apa?" tanyaku.


"Mbak itu syarat dia jika mau menikahiku" jawab Rista sambil menunduk.


"Rista, apa kamu juga senasib denganku? sudah ditiduri?" tanyaku pelan sambil meminum jus yang aku pesan.


"Mbak... aku masih beruntung daripada Mbak" kata Rista pelan.


"Aku belum pernah" katanya lagi.


"Tapi mendengar semua cerita Mbak dengan bukti-bukti itu, aku akan meninggalkan dia mulai saat ini, aku tidak mau menjadi korbanya" kata Rista.


"Rista... maaf, kamu sudah pernah berkeluarga?" tanyaku dengan menatap wajah Rista.


"Aku sudah pernah menikah Mbak, suamiku meninggal bersama dengan anakku saat terjadi kecelakaan, hanya aku yang selamat" cerita Rista.


"Rista, sudah hampir jam satu, aku harus kembali ke kantor, apapun keputusanmu aku tidak perduli" kataku, kemudian aku menuju ke kasir untuk membayar makananku dan Rista.


Sebelum meninggalkan Rista, aku menghampirinya.


"Aku tinggal dulu, sudah aku bayar, hati-hati" kataku sambil menepuk pundak Rista.


"Terima kasih Mbak" kata Rista.


Aku meninggalkan kafe tersebut menuju ke kantorku.

__ADS_1


__ADS_2