
Arif melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang ICU, memakai baju khusus dan menuju ke arah Rinda yang masih terbaring di sana.
Sudah tiga hari Rinda di sana.
Duduk di kursi di samping Rinda, Arif mencium kening Rinda.
"Bidadariku bangunlah sayang, jangan meninggalkanku sendiri bersama putri kita, aku janji akan selalu menemanimu 24 jam jika kamu sadar Rin," bisik Arif.
Arif mengambil kursi dan duduk di samping bed pasien, memegang jemari istrinya dengan perasaan tak menentu.
Beberapa saat kemudian terasa ada gerakan kecil dari jemari tangan Rinda yang Arif genggam.
"Rinda.... kamu bergerak," kata Arif dengan senyum merekah tersimpul dari bibirnya.
Arif melepas genggaman tangannya dan melangkah menghampiri perawat di sana.
"Mbak... istri saya tadi jemari tangannya bergerak pelan, lihatlah," ucap Arif sambil menunjuk ke arah Rinda.
Perawat segera berjalan menghampiri Rinda bersama dengan Arif.
Terlihat mata Rinda mulai terbuka pelan menatap wajah suaminya.
"Mas... Rinda di mana?" tanya Rinda dengan suara pelan tapi masih terdengar oleh Arif.
"Kamu masih di rumah sakit sayang, bertahanlah, anak kita perempuan dalam kondisi sehat," ucap Arif dengan mata berkaca-kaca.
Seketika itu Arif sujud syukur di ruang Icu, bersyukur atas kesadaran istrinya.
Lalu kembali melangkah menemui istrinya yang sedang di periksa oleh dokter dan perawat.
"Pak... istrinya sudah sadar, tapi masih butuh beberapa hari lagi untuk penyembuhan, semoga kondisinya terus stabil, kami ambil darahnya untuk melihat kondisi kesehatan istri Bapak," kata Dokter tersebut.
Perawat menyodorkan kertas untuk Arif tanda tangani sebagai tanda persetujuan tindakan mengambil sampel darah.
"Rin... bertahanlah," kata Arif sambil tersenyum memandang istrinya.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Arif.
"Badan Rinda terasa lemah sekali Mas," ucap Rinda.
"Kamu istirahat saja Rin," jawab Arif.
"Mas, Rinda boleh lihat anak kita?" tanya Rinda.
"Nanti, kamu istirahat saja, kamu harus pulih," kata Arif.
Rinda menganggukkan kepala pelan.
"Rin, waktu besuk sudah habis, aku mau pulang dulu," kata Arif dan mengecup lembut kening Rinda yang tampak pucat.
Rinda tersenyum memandang suaminya.
__ADS_1
Arif dengan berat hati meninggalkan Rinda yang sudah sadar di ruang ICU.
Arif duduk di bangku di sekitar ruang ICU tidak langsung pulang, khawatir jika ada petugas kesehatan mencarinya.
Beberapa saat duduk tetmenung di depan ruang ICU, seorang perawat perempuan menghampirinya.
"Bapak keluarga Ibu Rinda?" tanya perawat tersebut saat berdiri di depan Arif.
"Iya... ada apa? bagaimana dengan kondisi istriku?" tanya Arif dengan wajah cemas.
"Masuk dulu Pak, biar nanti dijelaskan sendiri oleh Dokter," kata perawat itu.
Arif mengikuti langkah perawat tersebut dari belakang masuk kembali ke ruang ICU dan ke ruang Dokter.
Duduk di kursi menghadap dokter yang menangani Rinda dengan perasaan yang berkecemuk.
Ada apa dengan Rinda, semoga dia baik-baik saja.
Arif tidak bertemu dengan Rinda karena ruang dokter berada dekat dengan pintu masuk sedangkan Rinda terbaring di bed pasien paling pojok.
Melihat Rinda tadi yang sudah siuman membuat Arif memiliki secercah harapan untuk merajut kasih bersama dengan Rinda.
Tapi... ketika perawat datang menghampirinya, wajah Arif kembali bersedih, apalagi Dokter sedang memanggilnya memberitahu kondisi Rinda.
Ya Allah... semoga kabar baik yang aku dapatkan, doa Arif.
"Ada apa Dok? tanya Arif membuka pembicaraan.
"Pak... dari hasil tes darah, istri Bapak hb nya rendah jadi butuh trasfusi darah sedangkan darah O sudah habis di sini," kata Dokter tersebut.
"Kebetulan darah saya golongan O Pak, biar saya sebagai pendonor istri saya," ucap Arif.
Dokter manganggukkan kepala kemudian melambaikan tangan kepada perawat yang tadi menemui Arif.
"Mbak, sudah dapat pendonor, tolong antar Bapak ini untuk donor darah," kata Dokter tersebut.
Arif berdiri dari kursinya melangkah mengikuti perawat tersebut masuk kensebuah ruangan masih di rumah sakit tersebut.
Diperiksa oleh seorang Bapak yang berada di ruang tersebut.
"Bapak bisa melakukan donor darah hari ini silahkan Bapak naik ke sana," kata Bapak tersebut sambil menunjuk bed pasien.
Arif naik ke bed pasien, diukur tensi darahnya kemudian disuntikkan jarum ke nadinya untuk mengambil darahnya.
Darah keluar melalui selang menuju ke kantong khusus.
Beberapa saat kemudian Bapak tersebut menghampiri Arif dan melepas jarum yang berada di tangannya.
***
Keesokan harinya Arif kembali ke rumah sakit menemui putrinya dan istrinya yang masih berada di rumah sakit.
__ADS_1
Putrinya sebenarnya sudah bisa keluar tapi Arif sementara meminta bantuan perawat untuk merawat putrinya di sana sampai istrinya pulih dan diperboleh pulang.
Arif memasuki ruang ICU menghampiri bed pasien menemui Rinda.
Terlihat wajah Rinda sudah tidak sepucat kemarin, ada kantong darah yang mengalir dari selang infus ke tubuhnya.
Ya darahku kemarin sekarang mengalir ke tubuh istri tercinta.
Tersenyum memandang istriku dan mengecup lembut keningnya.
"Bagaimana keadaanmu Rin?" tanya Arif.
"Sudah lebih enak Mas, putri kita seperti apa wajahnya? mirip kamu atau mirip aku?" tanya Rinda penasaran.
"Sayangnya masuk ke sini tidak boleh membawa ponsel, cepat pulih nanti bisa bertemu dengan putri kita, dia sangat cantik dan menggemaskan sayang," jawab Arif.
"Sekarang dimana dia Mas?" tanya Rinda.
"Masih di rumah sakit sini, aku minta perawat sementara merawatnya Rin sampai kamu sehat dan bisa pulang, kalau kamu sudah di ruang rawat, kamu bisa menemui putri kita, aku juga belum memberi nama," jawab Arif.
Rinda memandang Arif dengan tatapan penuh cinta.
"Mas, dulu aku memberi nama Vano ada namamu di sana, aku berharap suatu saat bisa bertemu denganmu, karena sampai Vano lahir aku tidak bisa melupakanmu, waktu itu pemikiranku, biarlah namamu abadi di nama anakku walaupun aku tidak bertemu denganmu, eh sekarang jadi istrimu," kata Rinda dan tersenyum.
"Putri kita Mas yang beri nama," kata Rinda kemudian.
Tampak wajah Arif berfikir.
"Rin, kamu pernah membaca tentang tempat yang indah di Belanda, di desa Giethroon?" tanya Arif.
"Oh... desa yang transportasinya memakai perahu itu ya? desa yang di kelilingi oleh sungai," jawab Rinda.
"Iya Rin, aku ingin menamai putri kita Vanesia," kata Arif.
"Iya Mas aku setuju," jawab Rinda.
***
Tujuh hari Rinda dirawat di rumsh sakit.
Kondisi Rinda semakin hari semakin membaik. Pagi ini Rinda sudah diperbolehkan untuk pulang.
Rinda keluar rumah sakit dengan duduk di kursi roda, Arif yang mendorongnya, seorang perawat berjalan di belakang Arif sedang menggendong putrinya, Rinda naik ke dalam mobil dibantu Arif dan perawat tersebut menyerahkan putrinya kepada Rinda.
"Terima kasih Mbak," ucap Rinda dengan tersenyum bahagia.
"Hati-hati Bu, semoga selalu sehat, jangan lupa dua minggu lagi ke sini untuk imunisasi putrinya," kata perawat tersebut.
"Insyaallah Mbak," ucap Rinda.
Arif menutup pintu mobil dan membuka pintu kemudi naik ke dalam, menutup pintu mobil memasang sabuk pengaman kemudian menyalakan mobil menuju ke rumah Arif.
__ADS_1