Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Tuduhanya


__ADS_3

Setelah isya, kami meninggalkan rumah orang tuaku menuju rumah Mas Arif.


"Bunda ke rumah Mbah uti kapan lagi?" tanya Vano di tengah perjalanan kami.


"Sabtu ke sana Vano?" kataku.


"Rin... langsung pulang atau mau kemana dulu?" tanya Mas Arif.


"Kalau Rinda langsung pulang, Mas Arif mungkin mampir kemana? oh iya ibu pulang dari Jogja kapan mas? lama aku tidak menelpon Ibu" kataku.


"Kemarin wa aku, katanya hari minggu Rin, mau sama Vera dulu" kata Mas Arif.


"Mas... gak ada rencana ke Jogja Mas?" tanyaku.


"Sebenarnya pingin Rin, kamu mau kesana?" tanya Mas Arif.


"Iya pingin juga" kataku.


"Minggu depan saja, tapi lihat dulu aku bisa mengajukan cuti atau tidak" kata Mas Arif.


"Iya Mas" kataku.


Tak berapa lama perjalanan sudah sampai di rumah, Mas Arif turun dari mobil membuka pintu pagar dan menggesernya kemudian masuk lagi ke mobil untuk memasukkan mobil di teras rumah, ketika aku akan membuka pintu mobil


"Kamu tetap duduk disitu Rin, biar aku yang gendong Vano" katanya.


Aku menganggukkan kepala, tak lama kemudian Mas Arif membuka pintu mobil dan mengambil Vano dari pangkuanku digendong masuk ke dalam rumah, aku keluar dari mobil masuk ke dalam rumah mengikuti suamiku sampai di kamar tamu dibaringkan Vano di kamar tidur.


"Makasih Mas" ucapku pelan.


Mas Arif tersenyum memandangku dan menggendongku


"Hei... mas... aku bisa jalan sendiri" kataku.


Tapi Mas Arif tetap saja menggendongku sampai di kamarnya.


"Sayang.. pingin lagi" katanya manja.


Aku tersenyum melihat tingkah laku manja suamiku.


"Sudah berapa kali sehari?" tanyaku.


"Sekali sayang" katanya.


"Hah... ya lebih lah" jawabku.


"Aku ingatnya sekali saja, jadi mau lagi" katanya kemudian menciumku dengan lembut.


"Sayang... selama aku pergi, jangan berikan hatimu juga tubuhmu untuk lelaki lain ya?" bisiknya pelan.


"Suamiku.. tubuhku hatiku cintaku hanya untukmu" jawabku.

__ADS_1


"Mas..." bisikku, dia tersenyum puas.


"Terimakasih bidadariku" katanya kemudian kami tidur berpelukan..


Pagi hari suamiku masih tertidur dengan pulasnya, aku beranjak dari tempat tidur mau mandi kemudian sholat subuh, rambut mas Arif kok masih kelihatan basah? apa dia mandi duluan kemudian sholat subuh ya? batinku.


Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk mandi keramas kemudian sholat subuh, setelah itu aku keluar kamar menuju kamar Vano, dia masih terlelap, masak dulu saja kemudian bersih-bersih rumah terus mengantar Vano sekolah, batinku.


Waktu menunjukkan pukul setengah delapan, waktunya mengantar Vano sekolah, sampai di sekolahnya Vano, kenapa ayahnya Vano ada di sana pikirku.


Kuparkir sepedaku di dekat pintu masuk sekolahnya.


"Rin..." sapanya.


Kulihat Vano seperti tidak nyaman melihat Ayahnya.


"Vano salim dulu sama Ayah" pintaku.


Dia menggelengkan kepala memeluk tubuhku.


"Kalau begitu Vano masuk dulu ke sekolah ya, itu sudah ditunggu Bu guru" kataku.


Kemudian Vano masuk ke halaman sekolahnya.


"Ada apa?" tanyaku


Aku harus lebih waspada dengan orang ini batinku.


"Iya kenapa?" jawabku singkat.


"Oh begitu ya, berarti memang sudah kamu siapkan semua, kamu sudah lama dekat dengan laki-laki itu sehingga selama kamu pergi dari rumahku kamu mendekatkan dia dengan Vano?" katanya.


"Kamu ngomong yang enak, asal nuduh tanpa bukti, aku sudah malas berurusan denganmu" kataku.


"Harusnya kamu sadar apa yang kamu tanam sekarang kamu tuai bukan menyalahkan orang?" kataku lagi.


"Aku Ayahnya... aku juga punya hak untuk mendapatkan Vano?" katanya lagi.


"Untuk apa kamu inginkan Vano? untuk kamu didik sepertimu? yang hanya bisa merusak anak orang?" kataku pedas sambil tanganku merogoh hp dan kulirik nama suamiku, segera aku kirim lokasi lewat wa ke suamiku, khawatir ada apa-apa denganku.


"Kamu sekarang semakin pintar ngomong Rinda" tanyanya.


"Gak perlu banyak omong, silahkan meninggalkan tempat ini?" kataku.


"Aku ingin menunggui Vano disini" katanya.


"Terserah kamu" jawabku dan berlalu meninggalkan dia nenuju penitipan anak yang bersebelahan dengan sekolahnya Vano.


Sampai di penitipan anak, aku masuk ke dalam meletakkan tas bekalnya Vano.


"Bu Via sekarang yang jaga piket siapa di sekolah" tanyaku ke Bu Via.

__ADS_1


"Bu Lia, ada apa Bu Rinda?" tanya Bu Via.


"Ayahnya Vano ada di depan sekolah Bu, aku harus mengawasinya, khawatir diculik" kataku ke Bu Via.


"Aku wa ke Bu Lia saja untuk lebih mengawasi Vano, oh iya Bu Rinda tidak bekerja?" tanya Bu Via.


"Masih cuti Bu kurang seminggu lagi masuk" kataku.


"Bu Rinda tetap di sini saja" kata Bu Via.


"Iya Bu" kataku.


Tak lama kemudian ada hp ku berbunyi, kuangkat.


"Ada apa Rin, tadi telpon kok juga tumben serlok?" tanya Mas Arif.


"Di sekolahnya Vano ada ayahnya, nunggu di depan, dia nuduh macam-macam padaku" jelasku.


"Kamu sekarang di mana?" tanya amas Arif.


"Ini di penitipan anak, Vano di awasi sama bu gurunya, ayahnya masih di depan di seberang jalan Mas" kataku.


"Aku kesana saja" katanya.


"Jangan Mas aku tidak mau ada keributan, nanti kalau Vano sudah di penitipan Mas aku kabari" kataku.


"Kamu pasti aman sekarang? aku gak mau kamu trauma lagi" katanya dengan cemas.


"Insyaallah aku kuat" kataku.


"Sudah dulu mas, aku mau mengawasi Vano dari balik jendela, assalamualaikum" kataku dan aku menutup telpon Mas Arif.


Tiba saat Vano pulang sekolah paud 3 tahun, aku melihat dari balik jendela, masih ada Ayahnya Vano, hatiku was was, kulihat Ayahnya Vano mendekati Vano.


"Bu Via aku keluar" kataku sambil berlari menuju ke Vano yang ditarik oleh ayahnya tapi masih dipertahankan oleh Bu Lia.


"Maksudmu apa? lepaskan Vano..!!" teriakku.


Segera aku gendong Vano berlari meninggalkan Ayahnya menuju ke dalam penitipan anak, Vano menangis lebih kencang lagi, aku masuk ke dalam penitipan anak, duduk di bawah menenangkan Vano, Vano masih terus menangis.


"Bu Via, Bu Lia bagaimana ini?" tanyaku khawatir.


"Bu Rinda coba telp suami Bu Rinda untuk menjemput Vano sekarang, ayahnya masih di luar Bu" usul Bu Lia.


"Kalau aku nanti di jemput suami, sepedaku bagaimana?" tanyaku.


"Biar nanti saya yang mengantar, Bu Rinda masih tinggal dengan orang tua yang dulu aku pernah bertemu di sana?" tanya Bu Via.


"Tidak bu, saya sekarang tinggal di rumah Mas Arif gak jauh dari sini" kataku.


"Nanti saya antar ke sana, Bu Rinda hubungi suami dulu saja, kasihan Vano" kata Bu Via.

__ADS_1


"Ini bu alamat tinggal saya sekarang" kataku sambil memberikan kertas berisi alamat rumah mas Arif, kemudian aku kirim pesan whats up ke mas Arif untuk segera menjemputku, kuintip dari balik jendela Ayahnya Vano masih di sana.


__ADS_2