
Dalam perjalanan menuju ke rumah orang tuaku
"Bunda... nanti menginap tidak?" tanya Vano
"Enggak, besok kan antar ayah ke bandara" jawabku
"Bunda... sebenarnya Vano pingin ke mbah uyut, sudah lama gak ke sana" kata Vano lagi
"Lain kali Vano, kalau ada libur bunda" jawabku
"Kapan-kapan kamu ajak ke sana Rin" kata mas Arif
"Iya mas, insyaallah" jawabku
Tak lama kemudian kami sampai di rumah orang tuaku, terlihat bapak lagi santai duduk di teras rumah, melihat mobil kami, bapak berdiri menghampiri kami
Aku turun dari mobil dan membuka pintu belakang kemudian Vano turun di sambut pelukan dari bapak dan di gendongnya Vano ke dalam rumah
"Ibu... ini cucu kita ke sini" teriak Bapak sambil masuk ke rumah dan menggendong Vano.
"Vano... Mbah uti kangen" kata Ibu.
Aku dan suamiku berjalan mendekati kedua orang tuaku yang berada di ruang keluarga dan bersalaman.
"Kalian sudah makan?" tanya Ibu.
"Sudah Bu di rumah tadi" jawab Mas Arif.
"Mau nginap lagi di sini?" tanya Bapak.
"Enggak pak, besok Mas Arif sudah berangkat ke Papua" kataku menjelaskan.
"Cepat ya dua minggu" kata Ibu
"Iya Bu, maunya sih lebih lama" jawab Mas Arif
Kami ngobrol banyak hal di ruang tamu, waktu menunjukkan pukul dua sore.
"Rin... sekarang kita berangkat ke pantai pasir putih" ajak Mas Arif.
"Iya Mas, biar tidak malam pulangnya" kataku.
"Bu, Arif pamit ya, sekalian pamit besok berangkat ke Papua" kata Mas Arif.
"Iya, hati-hati ya, jaga diri di tempat orang" nasehat Ibu.
"Dimana bumi di pijak di situ langit di junjung" kata Bapak.
"Iya, pasti itu Ibu, Bapak" kata Mas Arif.
"Bu... Rinda pamit dulu, nanti kalau agak tidak sibuk mau nginap di sini" kataku sambil bersalaman ke kedua orang tuaku.
"Vano... ayo salim sama Mbah kung dan Mbah uti" pintaku.
__ADS_1
Kemudian Vano mengulurkan tangan mungilnya ke kedua orang tuaku.
"Vano... ini Mbah uti kasih uang untuk beli jajan ya" kata Ibuku sambil memberikan selembar uang ke Vano.
"Asyiikk dapat uang, bunda buat beli mainan ya" kata Vano.
"Iya Vano, besok ya" kata Mas Arif
Kemudian kami keluar rumah dan memasuki mobil, mobil segera berlalu meninggalkan rumah kedua orang tuaku.
"Vano... beli mainan sekarang?" tanya Mas Arif.
"Boleh ya bunda?" tanya Vano mengiba
"Iya gak apa-apa" kataku.
"Mas, di depan ada mini market berhenti di sana saja, sekalian beli susunya Vano dan beberapa kebutuhan" kataku.
"Iya" jawab Mas Arif singkat karena fokus mengemudi.
Tak lama kemudian mobil menepi di pinggir jalan di dekat sebuah mini market, kami turun dari mobil dan masuk menuju mini market tersebut.
Aku memilih dan memasukkan beberapa bahan kebutuhan dapur, sedangkan Mas Arif dan Vano sedang memilih mainan, setelah aku selesai memasukkan susunya Vano dan beberapa bahan dapur yang aku butuhkan, aku menghampiri Mas Arif dan Vano.
"Ini Rin, Vano bingung milih yang mana" kata Mas Arif.
"Ambil satu saja Vano" kataku.
"Bunda... dua ya?" tanya Vano.
Kulihat ada raut kecewa di wajah Vano.
"Begini saja, satu Vano beli dari uang mbah uti, satu ayah yang belikan" kata Mas Arif.
Hmmm Mas Arif ini memanjakan sekali Vano, batinku.
Selesai berbelanja kami meneruskan perjalanan menuju Pantai Pasir Putih.
Dalam perjalanan aku banyak diam karena masih jengkel dengan ulah mas Arif yang suka memanjakan Vano.
Mungkin suamiku ini mengerti kalau aku lagi jengkel.
"Rin... kamu marah aku belikan Vano mainan?" tanya Mas Arif tanpa menoleh ke arahku karena dia fokus mengemudi.
"Iya" jawabku pendek dan pandanganku ke depan tanpa menoleh ke suamiku.
Mas Arif diam saja, mungkin baginya bukan waktu yang tepat membicarakan ini saat mengemudi.
Suasana hening di dalam mobil sampai pada tempat tujuan.
Kami turun dari mobil bersamaan berjalan ke tepi pantai, aku duduk di bongkahan batu, Vano asyik bermain pasir tidak jauh dariku, Mas Arif mendekatiku.
"Rin... masih marah?" tanya suamiku pelan.
__ADS_1
Aku tidak segera menjawab pertanyaannya, mataku lepas melihat laut.
"Rin... aku minta maaf, jika itu menurutmu salah" kata Mas Arif lagi.
"Mas... berapa kali Mas seperti itu ke Vano? iya aku tau uangmu banyak, membelikan dengan nominal segitu tidak berarti apa-apa? apa mas tau bagaimana mengajari konsisten ke anak?" kataku dengan raut wajah masih marah
"Apa yang Mas lakukan kelak akan berdampak buruk pada Vano" kataku lagi
"Iya kalau kita selalu ada kalau ke depan kita tak punya? terus Vano minta sesuatu di luar batas kepunyaan kita, bagaimana? sedangkan saat ini dia merasa apa yang dia inginkan bisa dia dapatkan, Mas mau bertanggung jawab? jika nanti ketika dia dewasa dia memaksa kita memberi apa yang dia inginkan?" tanyaku
"Sekali lagi maaf Rin, aku tidak akan mengulangi lagi, betul katamu, sebenarnya aku ini sayang sama Vano, jarang bertemu jadi ingin membeli apa yang dia inginkan" kata Mas Arif
"Tapi semua yang Mas lakukan bukan sayang tapi malah membuatnya manja, dan tergantung, dia merasa kalau dia ingin sesuatu dia bisa minta ke mas, dan itu akan berlanjut ketika dewasa" kataku
"Iya Rin, sudah jangan cemberut lagi" kata mas Arif
"Ayo tersenyumlah, disini kita ingin berlibur, itu batu yang kamu duduki itu, tempat kita menyatakan cinta 12 tahun yang lalu" kata Mas Arif mengingatkan
"Pantai ini, pantai penuh kenangan kita" kata Mas Arif lagi
Aku tersenyum dan mengingat peristiwa waktu itu
"Ayo ke sana Mas" ajakku ke Mas Arif sambil menunjuk ke arah Vano
Vano lagi bermain pasir membentuk gunungan.
Aku melepas alas kakiku dan duduk bersama Vano bermain pasir dengan Vano
"Mas... kenapa? takut kotor?" tanyaku saat melihat Mas Arif berdiri saja, memandang kami berdua.
"Enggak Rin, ini mau lepas alas kaki" kata Mas Arif, kemudian dia duduk bergabung bersama kami
"Vano, hati-hati pasirnya kena mata" kataku mengingatkan Vano
"Main buat benda saja Vano, ini ayah buat bentuk kotak" kata mas Arif
"Vano bisa?" tanya mas Arif kepada Vano
"Ya bisalah ayah" jawabnya bersemangat
Aku berdiri dan melihat ke arah barat, senja mulai nampak kekuning-kuningan
"Mas... bagus banget ya?" tanyaku sambil menunjuk ke arah barat
Mas Arif berdiri dan tersenyum memandang senja, iya Rin
"Rin... senja selalu dinantikan sebagian orang, kepergianyapun selalu dirindukan, demikian pula dengan dirimu, sejauh apapun aku pergi, aku akan selalu merindukanmu" kata Mas Arif sambil memandangku
Aku tersenyum manis memandang suamiku
"Sudah sore Mas, ayo kita pulang" ajakku
"Vano... ayo kita pulang" ajakku ke Vano
__ADS_1
Aku kibaskan bajuku dari pasir yang menempel di pakaianku, demikian juga Mas Arif, kemudian aku mengkibaskan pakaian Vano membersihkan pasir-pasir yang menempel
Kami berjalan beriringan meninggalkan Pantai pasir putih