Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Ke Klinik Dokter Lisa


__ADS_3

Sore hari setelah makan masakannya ibu, kami kembali ke ruang keluarga, ibu mertua masih di atas belum turun.


“Bu… bagaimana dengan Faris, kapan lamarannya?” tanyaku.


“Oh iya, Ibu sampai lupa belum cerita ke kamu,” jawab Ibu.


“Untungnya kita kemarin segera mendesak Faris untuk segera melamar Fina, ternyata Fina mau di jodohkan pada anak dari teman orang tuanya,” kata Ibu.


“Terus…” Penasaran aku mendengar cerita Ibu.


“Fina tidak mau di jodohkan, jadi kemarin itu Faris langsung menghadap kepada kedua orang tua Fina bermaksud ingin segera melamar dan menikahi Fina,” kata Ibu.


“Diterima tidak Bu?” tanyaku.


“Ya diterima Rin, kan Fina tidak mau di jodohkan, sebenarnya Fina ini sudah bolak-balik omong ke Faris kapan seriusnya, tapi Faris itu yang bilang tidak siap saja, setelah Faris dari rumah dia menemui Fina dan Fina bercerita


kalau mau dijodohkan sama anak teman orang tuanya,” jawab Ibu.


“Kapan Bu, kita ke sana, melamar Fina?” tanyaku.


“Bulan depan Rin, sekarang ini Fina dan Faris sedang menyiapkan seserahan,” jawab Ibu.


“Kamu  gak usah ikut, hamil.begini, khawatir ada apa-apa dengan kehamilanmu, karena jauh Rin perjalannya,” kata Ibu.


“Iya Bu,” jawabku.


Ibu mertua terlihat menuruni tangga dan bergabung dengan kami.


“Sepertinya sedang asyik ngobrolnya?” tanya Ibu mertua.


“Ini Bu sedang membicarakan adikku Faris,” jawabku.


“Kenapa?” tanya Ibu mertua.


“Mau lamaran Bu, Insyaallah bulan depan, mohon doanya semoga lancar,” jawab Ibuku.


“Aamiin,” kata Ibu.


“Bu, ayo mencicipi masakan saya,” ajak Ibu.


Ibuku dan Ibu mertua beranjak dari tempat duduknya menuju ke meja makan, aku tidak ikut makan Karen tadi sudah makan, masih kenyang.


***


Malam menjelang, aku di kamar sendiri, sedangkan Ibu dan Vano tidur di kamar depan.


Mengambil hp di meja dan menelpon Mas Arif.


Tuut… tuut… tuut… suara telepon, tak lama kemudian diangkat oleh Mas Arif.


“Belum tidur Rin?” tanya Mas Arif.


“Belum bisa tidur Mas,” jawabku.


“Kenapa?” tanya Mas Arif.


“Kangen sama suamiku,” jawabku.


“Aku juga Rin, semoga bulan depan bisa bertemu lagi,” kata Mas Arif.


“Oh, iya Ibuku di sini Mas, besok sore Ibumu berangkat ke


Jogja,” kataku.


“Lama Ibumu di sana?” tanya Mas Arif.


“Ya sampai Ibumu kembali di sini, gak tega ninggalin aku sendiri sama Vano di sini, kalau aku pulang ke rumah orang tuaku malah jauh Mas dari tempat kerjaku juga sekolahnya Vano,” jawabku.


“Iya juga, rencana periksa kapan?” tanya Mas Arif.


“Besok sore Mas ke dokter Lisa,” jawabku.


“Iya Rin, semoga baik-baik saja ya anakku,” kata Mas Arif.


“Kok anakmu sih, yang mengandung juga siapa?” tanyaku.


“He he he, iya maaf, anak kita berdua,” jawab Mas Arif.


“Nah itu baru benar,” kataku.

__ADS_1


“Mas, sudah dulu ya, sudah mulai ngantuk Rinda,” kataku.


“Iya Rin, di sini juga sudah malam, Assalamualaikum,” kata Mas Arif.


“Waalaikum salam,” jawabku dan telepon aku matikan.


Aku mulai memjamkan mataku dan tertidur dengan damai.


***


Keesokan hari, bangun tidur kenapa badanku seperti ini, perutku tidak nyaman sekali, masuk ke kamar mandi mau muntah tapi gak ada yang keluar, kepala juga pusing, keluar kamar membuat susu untuk ibu hamil, agak


lumayan enak badanku, kemudian aku rebahkan tubuhku di sofa ruang keluarga, sambil mengelus perutku, nak, jangan nyusahkan Bunda ya, kamu pingin apa? Kata hatiku.


Sudah jam 6 pagi, Vano dan Ibu kemana ya? batinku. Mungkin sedang keluar atau jalan-jalan di sekitaran komplek rumah, aku tersenyum sendiri, di rumah ini sudah hampir 8 bulan tidak mengenal tetangga sama sekali juga tidak pernah keluar rumah, ya… keluar hanya berangkat kerja saja atau mau ada keperluan apa begitu.


“Assalamualaikum.” Teriak Vano dari luar.


“Waalaikum salam,” jawabku.


Tak lama kemudian muncul Vano dari balik tembok ruang tamu.


“Dari mana anak Bunda?” tanyaku.


“Dari jalan-jalan sama Mbah Uti juga sama Nenek,” jawab Vano.


“Jalan-jalan ke mana?” tanyaku.


“Ke Gapura depan Bunda, tadi Bunda masih tidur jadi ditinggal saja,” jawab Vano.


Tak lama kemudian Ibuku dan Ibu mertua masuk ke dalam rumah.


“Kamu baik-baik saja Rin?” tanya Ibuku.


“Agak pusing juga mual Bu,” jawabku.


“Ini aku bawakan klepon, kamu mau” kata Ibu sambil memberikan kotak berisi klepon kepadaku.


“Vano mau?” tanyaku.


“Itu tadi sudah makan sambil jalan Rin,” kata Ibu.


“Iya Bunda,” jawab Vano.


“Rin, nanti kamu jadi periksa ke klinik?” tanya Ibu mertua.


“Iya Bu, nanti sore,” jawabku.


“Sekalian berangkat bareng ke stasiun, naik transportasi online saja.” Ibu mengusulkan.


“Iya Bu,” jawabku.


“Vano nanti sama Mbah Uti ya.” Pintaku.


“Iya, Vano sama Mbah Uti saja, Bunda mau periksa adikmu, tidak lama.” Bujuk Ibu.


Vano mengangguk pelan.


***


Tak terasa hari sudah sore, Ibu Mertua berkemas dan membawa tas hendak berangkat ke Jogja, sudah jam tiga sore.


“Rin, kamu sudah pesan transportasi online?” tanya Ibu Mertua.


“Sudah Bu” jawabku.


“Rin, mobilnya sudah datang.” Teriak Ibuku dari luar.


“Iya Bu,” jawabku.


Aku keluar rumah demikian juga dengan Ibu Mertua dan Vano, aku mencium pipi Vano, bersalaman dengan Ibuku.


“Vano, jangan rewel, Bunda mungkin setelah maghrib pulang,” kataku ke Vano.


Dia menganggukkan kepala.


“Hati-hati,” pesan Ibukku.


“Iya Bu,” jawabku.

__ADS_1


Dan aku masuk ke dalam mobil bersamaan dengan Ibu Mertua.


“Pak, ke stasiun dulu ya.” Pintaku.


“Iya Bu,” jawab Pak Sopir.


Mobil meninggalkan rumah mertua menuju ke stasiun kota, sampai di sana Ibu mertua turun, kami bersalaman.


“Hati-hati Bu.” Pesanku.


“Iya, Kamu juga, kalau ada apa-apa, Ibu di kabari ya,” kata Ibu.


“Iya Bu,” jawabku.


Kemudian Ibu berjalan menuju ke dalam stasiun, dan aku melanjutkan perjalanan menuju klinik dokter Lisa. Sampai di klinik mendaftar dan menerima nomer antrian, sambil menunggu dipanggil aku membaca-baca beberapa


berita juga artikel-artikel di hpku.


Hampir satu setengah jam menunggu akhirnya namaku di panggil, aku masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.


“Ibu, apa keluahanya?” tanya dokter Lisa.


“Tadi pagi mual juga pusing Bu, kemarin-kemarin sih biasa saja,” jawabku.


“Sudah tespek Bu?” tanya dokter Lisa.


“Sudah Bu, seminggu yang lalu,” jawabku.


“Hasilnya?” tanya dokter Lisa.


“Positif Bu,” jawabku.


Dokter Lisa bertanya  juga kapan aku terakhir haid, kemudian aku naik ke bed pasien untuk di periksa.


Setelah perawat mengoleskan gel ke perutku, dokter Lisa mengarahkan alat ke perutku dan terlihat gambar dua dimensi di layar tv di depanku, “Perkembangannya bagus Bu, sesuai dengan usianya, sudah menginjak 8 minggu, semoga baik-baik saja, banyak makan yang sehat-sehat ya juga yang mengandung asam folat.”


Nasehat dokter Lisa.


“Iya Bu,” jawabku sambil turun dari bed pasien kemudian duduk di kursi di depan bangku berhadapan dengan dokter Lisa, menunggu resep di tulis dokter Lisa, “Satu bulan periksa kembali ya Bu” kata dokter Lisa


mengingatkanku sambil memberikan resep untuk aku tebus di apotik.


“Iya Bu, terima kasih,” jawabku sambil berdiri dan meninggalkan ruang pemeriksaan menuju ke kasir untuk membayar kemudian ke apotik untuk mengambil obatnya.


Beberapa menit kemudian, namaku di panggil dari apotik, aku kesana untuk mengambil obatnya, petugas apotik menjelaskan obat tersebut dan kapan meminumnya.


Mengambil hpku untuk pesan trasnportasi online, sudah dapat drivernya, aku menunggu beberapa saat kemudian mobil yang aku pesan sampai aku masuk ke dalam mobil tersebut dan perlahan meninggalkan klinik menuju ke rumah mertua.


Sampai di rumah mertua, bertemu Ibu dan Vano di ruang keluarga, aku duduk di sofa di samping Ibuku.


“Bagaimana hasilnya RIn?” tanya Ibu.


“Alhamdulillah Bu baik, sudah dua bulan,” jawabku.


“Alhamdulillah Rin, kamu istirahat saja, biar Vano aku yang menjaganya,” kata Ibu.


“Iya Bu, aku masuk ke kamar dulu,” kataku dan berdiri dari sofa berjalan menuju ke kamarku.


Di dalam kamar mengambil hp dan menelpon Mas Arif.


“Rin, ada apa?” tanya Mas Arif.


“Rinda baru saja pulang dari klinik,” jawabku.


“Hasilnya bagaimana?’ tanya Mas Arif.


“Alhamdulillah baik Mas, sudah 8 minggu,” kataku.


“Iya sayang, di jaga ya, love you” kata Mas Arif.


“Love you too” Jawabku.


“Sudah dulu Mas, Rinda mau menemui Ibu,” pamitku.


“Iya Rin, oh iya, Ibuku apa sudah berangkat ke Jogja?” tanya Mas Arif.


“Sudah Mas, tadi bareng sama Rinda berangkatnya,” jawabku.


“Assalamualaikum” salamku mengakhiri telpon.

__ADS_1


“Waalaikum salam” jawab suamiku dan telpon berakhir.


__ADS_2