Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Serasa ABG Kembali


__ADS_3

Meninggalkan Deni di rumah Nia menuju ke rumah orang tuaku.


Dalam perjalanan.


"Nia mati kutu ya Mas," kataku memulai pembicaraan.


"Sama Deni juga begitu he he he," kata Mas Arif dan tertawa.


"Lucu ya mereka, serasa jadi anak abg kembali, malu-malu kucing he he he," kataku.


"Bunda ini ngomong apa, Vano tidak paham, mana ada kucing malu." Vano menyela pembicaraan kami.


"Ha ha ha," kami tertawa bersamaan.


Sampai di rumah orang tuaku, Ibu dan Bapakku sedang duduk santai di teras rumah.


"Rif... kapan pulang?" tanya Bapak ketika berjabat tangan dengan suamiku.


"Rin... sehat saja kamu?" tanya Ibuku sambil mengusap perutku.


"Alhamdulillah Bu, sehat," jawabku sambil tersenyum kepada Ibuku.


"Ayo masuk ke dalam," kata Bapak.


Kami berjalan memasuki rumah orang tuaku menuju ruang keluarga.


Di ruang keluarga hanya ada karpet, jadi kami duduk santai di bawah, aku meluruskan kakiku dan menyandarkan punggungku di tembok.


"Bunda... Vano mau main sama Adit dan Fyan ya," pamit Vano dan keluar rumah


"Iya hati-hati Vano," pesanku.


Kemudian Bapak mengajak Mas Arif duduk di ruang tamu, mereka asyik berbincang-bincang di sana, sedangkan aku masih di ruang keluarga bersama dengan Ibu.


"Dari rumah ini tadi?" tanya Ibu.


"Dari melamar Nia tadi," kataku.


"Maksudmu bagaimana?" tanya Ibu penasaran.


"Mas Deni teman Mas Arif kan suka sama Nia, baru hari ini bertemu ingin segera melamar Nia, jadi tadi aku dan Mas Arif melamarkan mas Deni, karena keluarganya jauh di Merauke jadi tidak bisa ke sini, nanti saat acara menikah mereka ke sini," ceritaku.


"Terus diterima sama keluarganya? sekarang teman Arif di mana?" tanya Ibu, lagi-lagi dengan rasa penasaranya yang tinggi.


"Ya... diterimalah Bu, mas Deni sekarang di rumah Nia, biar akrablah sama keluarganya juga dengan Nia, toh baru kenal beberapa bulan lewat telepon," jawabku.


"Semoga berjodoh ya Rin, ngomong-ngomong Arif pulang kapan?" tanya Ibu.


"Aamin... Mas Arif pulang kemarin siang Bu, terus sorenya kami membeli seserahan dan sebagainya untuk Nia," jawabku.


"Nia tau mau dilamar?" tanya Ibu.


"Gak tau, lah aku saja merahasiakannya kok, untuk kejutan," jawabku.


"He he he, tak bisa Ibu bayangkan Nia seperti apa, pasti marah-marah ya?" tebak Ibu.


"Bukan Bu, Nia mati kutu diam saja dan nangis he he he," kataku.

__ADS_1


"Nia yang bawel kayak gitu bisa menangis?" tanya Ibu.


"Iya Bu, gaya mereka berdua ini lucu Bu, gak tegur sapa tapi diam, malu-malu kucing lah, kayak anak abg yang sedang dijodoh-jodohkan sama temannya gitu Bu," kataku.


"Lucu Rin he he he," kata Ibu dan tertawa.


"Iya Bu, nanti sore aku ke sana lagi menjemput mas Deni," kataku.


"Oh iya, kemarin juga ada teman sekantorku juga sedang lamaran Bu, juga dapat temannya mas Arif dan mas Deni," kataku


"Walah... jadi hari lamaran toh ini buat temanmu dan temannya Arif, semoga dari hubungan pertemanan menjadi hubungan persaudaraan ya Rin," kata Ibu.


"Aamiin, semoga saja Bu," kataku.


"Saking bingungnya keluarga Nia, jadi di meja tidak ada makanan maupun minuman Bu," kataku kemvali.


"Untung Rin, tidak ada yang punya sakit jantung ya keluarga Nia, kalian ini ada-ada saja, lamaran serius, malah dibuat kejutan, paling ini idenya Arif, kan sama itu saat kamu dilamar Arif, gak tau juga kamu," kata Ibu mengingat kejadian setahun yang lalu.


"He he he, iya ya Bu," Kataku dan tertawa.


"Kamu kalau lapar makan dulu, ajak suamimu dan Vano, aku dan bapakmu sudah makan barusan," kata Ibu.


"Iya," kataku.


"Mas...Mas Arif," panggilku dari dalam.


"Iya Rin, ada apa?" tanya Mas Arif dari ruang tamu.


"Ayo makan, tolong panggil Vano juga ajak makan," jawabku.


Mas Arif dan Vano masuk ke dalam rumah, aku berdiri dari tempat dudukku.


Mengambil piring dan sendok, kemudian mengambilkan nasi, lauk dan sayur untuk suamiku dan Vano sesuai yang mereka inginkan.


Kami menikmati makan siang, Vano dan Mas Arif di ruang keluarga, sedangkan aku membersihkan peralatan untuk makan.


Selesai, aku bergabung di ruang keluarga.


"Mas... aku tidur sebentar, kok ngantuk," kataku ke Mas Arif.


"Iya Rin," jawab Mas Arif.


Waktu sudah jam satu siang, setelah kami melaksanakan sholat duhur aku masuk ke kamar Faris untuk beristirahat.


Entah sudah berapa lama aku tidur siang.


Membuka mataku dan turun dari ranjang menuju ke ruang keluarga, Mas Arif dan Vano tidur di sana.


Aku duduk di ruang tamu, sudah jam tiga sore.


Terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah orang tuaku.


Apa ada tamu atau sepeda tetangga rumah, batinku.


Pintu rumah di ketuk dari luar, aku berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Tersenyum melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Nia... secepat ini kesini," kataku.


Nia tersenyum malu.


"Ayo masuk semua," kataku mengajak ke Mas Deni dan Nia.


Mereka duduk di kursi ruang tamu, aku masuk ke dalam, mengambil botol mineral dingin dari dalam kulkas, cuaca di sini memang sangat panas.


Kembali ke ruang tamu, menaruh botol mineral di atas tamu.


"Nia, kenapa kamu jadi berubah begini, biasanya bawel banget," kataku memulai pembicaraan.


Nia hanya tersenyum saja.


"Temanku kok jadi senyum-senyum terus begini sih?" tanyaku.


"Sudah gak waras?" tanyaku.


"Iya itu karenamu," jawab Nia.


"Alhamdulillah temanku bisa bicara lagi," kataku.


Mas Deni yang mendengar perkataanku menahan tawa.


"Mas Deni jangan di tahan tawanya, gak baik," kataku.


"Dari tadi kok malah aku yang banyak omong ya, Bagaimana dengan kalian sudah saling mengenal, sudah semakin cinta?" tanyaku serius.


"Bikin aku malu saja pertanyaanmu," jawab Nia.


"Kalian ini kayak abg jatuh cinta saja," kataku.


"Kok cepat kesini, padahal nanti setelah isya mau jemput ke sana," kataku lagi.


"Mau silahturahmi dengan orang tuamu Rin, Mas Deni, jadi aku antar ke sini, nanti baliknya bareng," kata Nia.


"Santai saja Mas Deni," kataku.


Mas Arif datang menghampiri kami.


"Loh sudah di sini Den," sapa Mas Arif.


"Rin, ayo ke dalam biar laki-laki bicara dengan laki-laki," kata Nia sambil berdiri dan menghampiriku menggandeng tanganku dan masuk ke dalam kamarku.


Sampai di kamar.


"Rin, terima kasih sekali, hatiku hari ini tak bisa kulukiskan dengan kata-kata, aku bahagia sekali, ternyata mas Deni tidak seperti yang aku pikirkan, dia baik sekali," kata Nia.


"Untuk sahabatku pasti aku lakukan yang terbaik. Kapan rencana menikahnya?" tanyaku serius.


"Insyaallah empat bulan lagi Rin," jawab Nia dengan senyum merekah.


"Alhamdulillah, semoga lancar ya sampai hari h," kataku.


Selanjutnya kami berbincang-bincang santai bersama dengan keluargaku, suasana yang akrab membuat kami nyaman.


Setelah isya kami pamit pulang, Nia dibonceng Mas Deni sampai di depan gang rumah Nia.

__ADS_1


Karena mas Deni sudah berpamitan kepada keluarga Nia sebelum ke rumah orang tuaku, jadi setelah berpisah dengan Nia di depan gang, mas Deni masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya ke arah Nia.


"Cie cie," godaku bersamaan dengan suamiku.


__ADS_2