Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Bertemu Tetangga Lama


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, pada hari jumat, sepulang menjemput Vano, aku langsung pulang menuju rumah orang tuaku, tadi pagi sudah pamit sama Ibu mertuaku.


"Bunda... Vano pingin makan" kata Vano saat dalam gendongan ranselku.


Aku berhenti di tepi jalan, melihat jam tangan di pergelangan tangan kiriku, waktu menunjukkan pukul 15:20 menit.


"Vano minta makan apa?" tanyaku.


"Ayam kentucky kayak kemarin Bunda" kata Vano.


"Oke" kataku sambil tersenyum.


Aku kendarai sepeda motor menuju tempat yang di maksud Vano, setelah sampai aku matikan sepeda motor di parkiran yang tersedia di sana, dan masuk ke dalam tempat makan tersebut menuju ke kasir untuk memesan makanan, kulihat Vano asyik bermain plorotan.


Cukup lama menunggu antrian akhirnya sampailah giliranku, aku pesan beberapa makanan dan aku menunggu makanan dan minuman disajikan, setelah makanan siap aku membayarnya dan membawa menuju meja kosong yang dekat dengan permainan plorotan dimana Vano berada.


"Vano ayo" panggilku.


Kemudian Vano berjalan ke arahku dan mulai makan makanan kesukaannya.


"Rinda...?" panggil seseorang, aku menoleh ke samping melihat siapa yang memanggilku.


"Hei... Farida, apa kabar, ayo duduk gabung kami" ajakku.


"Kamu sendiri?" tanyaku lagi.


"Iya, sebentar aku pesan makanan ya, tunggu disini" kata Farida kemudian meninggalkanku.


Tak lama kemudian Farida datang menghampiriku dengan membawa makanan yang dipesan.


"Vano, sudah besar ya, mau ikut tante ke rumah nenekmu?" tanya Vano.


"Bunda, nenek siapa?" tanya Vano dengan wajah penasaranya.


"Ibunya ayah Ardi" jawabku menjelaskan.


Seketika itu Vano menggelengkan kepala.


"Vano lanjutkan makananya ya" kataku.


"Farida, jangan bicara tentang mereka di depan Vano begini, dia masih takut, pernah ada kejadian Vano dipaksa ikut mantanku, Vano menangis" ceritaku.


"Oh... begitu ya" kata Farida mengerti.


"Apa dia sering menghubungimu?" tanya Farida di sela-sela makan kita.


"Iya, beberapa hari yang lalu, memang apa yang terjadi dengannya?" tanyaku.


"Sepertinya dia mau menikah Rin" kata Farida mengabariku.


"Alhamdulillah kalau begitu, sama siapa?" tanyaku.


"Aku gak tau siapa dia, yang aku tau dia pakaianya sepertimu, dan sepantaran denganmu" kata Farida menjelaskan.


"Hah... gak salah orang itu" kataku terkejut.


"Nah itu Rin, aku juga tetangga merasa heran" kata Farida lagi.

__ADS_1


"Aku dulu berpakaian begini dibilang kuno begitu" kataku.


"Apa dia mau ketemu aku mau memperkenalkan wanitanya ya?" tanyaku ke Farida.


"Bisa jadi Rin" jawab Farida.


"Bilangnya sih mau berubah begitu, tapi aku kan tidak bisa percaya dia seutuhnya, toh dulu-dulu juga begitu, mau berubah nyatanya tetap saja mengulang kesalahanya" jelasku.


"Aku belum bisa bertemu denganya Farida" kataku pelan.


"Rin, kabar-kabarnya kamu sudah menikah ya?' tanya Farida.


"Iya, baru saja kok" jawabku.


"Dapat orang mana?" tanya Farida lagi dengan penasaranya.


"Orang sini saja Farida, tapi kerja di Papua sana, dua bulan sekali pulang, baru lima hari yang lalu berangkat" kataku.


"Vano bagaimana dengan suamimu?" tanya Farida.


"Vano sih merasa nyaman dan senang dengan suamiku ini Farida, karenanya aku mau menikah dengan orang ini" kataku.


"Loh... kok cepat sekali kamu memutuskan menikah Rin, kan barusan saja kamu cerai?" tanya Farida lagi.


"Iya, he he he, habis masa iddah aku menikah, ini pacarku dulu sepuluh tahun menunggu akhirnya bertemu lagi" kataku sambil tertawa.


"Dia bujang atau duda?" tanya Farida.


"Masih bujang, dia mencariku dan bertemu aku lagi akhirnya melanjutkan hubungan kami dulu, ya... hubungan yang tidak pernah ada kata putus dan terpisah dengan keadaan masing-masing akhirnya bertemu kembali" kataku.


"Oh... begitu ceritanya" kata Farida.


"Oh iya Rin, hati-hati ya!" pesan Farida.


Aku dan Vano bergandengan tangan keluar dari tempat tersebut dan Vano aku gendong menggunakan gendongan ransel, setelah itu aku meninggalkan tempat tersebut menuju rumah orang tuaku, Vano tertidur dalam gendonganku.


Sampailah kami di rumah orang tuaku, Vano masih pulas tidur, aku tidurkan di kamarku, kemudian aku keluar kamar menuju ruang keluarga menemui kedua orang tuaku.


"Rinda... Vano mana?" tanya Ibuku.


"Vano tidur Bu" jawabku.


"Bu... Rinda beberapa hari ini di hubungi ayahnya Vano" aku mulai bercerita.


"Maunya apa Rin?" tanya Ibu.


"Ingin bertemu dengan Vano, tapi Rinda masih belum siap bertemu dengannya Bu, Mas Arif juga tidak suka Rinda bertemu dengannya sejak kejadian dulu di Penitipan anak, Ayahnya Vano memaksa Vano untuk ikut dengannya" kataku menjelaskan.


"Kok tumben dia ingat anaknya?" tanya ibu.


"Oh iya tadi aku ketemu sama Farida, dia bercerita kalau ayahnya Vano mau menikah Bu" kataku.


"Sama wanita yang dulu itu?" tanya ibu dengan nada penasaran.


"Katanya tidak wanita itu, kurang tau siapa, tapi pakaiannya seperti aku, dan seumuran denganku Bu" aku menceritakan sesuai yang di ceritakan Farida tadi sore.


"Apa dia ingin bertemu Vano, untuk mengambil Vano ya Rin, apalagi perempuan yang dekat dengannya sekarang mungkin sama denganmu sifatnya" kata ibu ada nada khawatir.

__ADS_1


"Iya Bu, tadi Rinda juga kaget mendengar berita ini dari Farida, semoga tidak terjadi apa-apa Bu" kataku berusaha menenangkan hatiku.


"Apa kamu sudah cerita sama Arif?" tanya Ibu lagi.


"Belum Bu, aku khawatir Mas Arif ikut khawatir di sana, sementara di sini aku atasi dulu, semoga dia tidak punya niatan licik untuk mengambil Vano ya Bu" kataku.


"Iya Rin, Ibu ke masjid dulu untuk sholat berjamaah berangkat bersama Bapakmu" Pamit ibu.


"Iya Bu, Rinda di rumah saja sholatnya, Vano masih tidur khawatir nanti bangun mencariku" Kataku.


Adzan maghrib berkumandang, segera aku mengambil wudhu dan melaksanakan sholat maghrib sendiri di rumah, selesai sholat maghrib, ketika aku membuka mukenah, hp dari dalam kamarku berbunyi, semoga suamiku yang menelpon, batinku.


Alhamdulillah ternyata Mas Arif yang menghubungiku.


"Rinda... kamu di rumah orang tuamu?" tanya Mas Arif ketika melihatku berada di kamar.


"Iya Mas, maafkan Rinda tadi tidak ijin sama Mas Arif, lain waktu Rinda kemanapun akan ijin" kataku.


"Aku tidak marah Rin, bagaimana kabar Ibu Bapak?" tanya Mas Arif.


"Alhamdulillah semua baik mas" jawabku.


"Vano mana sayang?" Mas Arif menanyakan keberadaan Vano.


Kamera hp aku arahkan ke Vano yang sedang pulas tidur.


"Tidur lagi, padahal aku pingin bicara sama Vano, kangen aku sama Vano" kata Mas Arif.


"Sama istrimu ini kangen apa tidak?" tanyaku serius.


"Jelas kangen lah sayang, sayang buka sedikit, aku pingin lihat" kata mas Arif.


"Ih, parno juga pikiranmu" kataku.


"Gak apa-apa, kan aku ini suamimu, menyenangkan suami dapat pahala loh" kata Mas Arif.


Akhirnya aku buka sedikit anggota tubuhku yang dia inginkan.


"Sudah Mas?" tanyaku dengan jengkel karena malu dan tidak suka tapi terpaksa menyenangkan suami.


"He he he, makasih sayang, love you" kata Mas Arif tersenyum puas,


"Rin... kamu kangen enggak sama aku?" tanya Mas Arif.


"Kangen buanget sayang, tapi Rinda tahan" jawabku.


"Semua untukku nanti ya kalau bertemu, kurang satu bulan tiga minggu ya kita ketemu" katanya.


"Ha ha ha, gak sekalian dihitung detik dan menitnya mas?" tanyaku dan tertawa.


"Gak usah Rin, Rin sudah dulu ya, aku mau keluar sama Deni, mau makan" pamit Mas Arif.


"Iya my hubby, hati-hati ya..." pesanku, kemudian telpon di matikan.


Selang beberapa menit kemudian Ibu dan Bapak pulang dari masjid.


"Ibu, Bapak tadi dapat salam dari Mas Arif" kataku dengan senyumanku.

__ADS_1


"Baru telpon Arif, salam kembali ya dari kami, dia baik-baik saja kan?" tanya Bapak.


"Alhamdulillah baik, sehat Pak, mas Arif di sana" kataku.


__ADS_2