
Kami masih di pantai menikmati waktu berdua mengenang masa lalu
"Mas... ayo kita ke rumah mbah, biar gak kemalaman" kataku
"Ayo Rin kita kesana, aku juga pingin kenal dengan keluargamu" katanya, kami berjalan beriringan menuju mobil setelah membayar parkir kami masuk mobil menuju rumah mbah
Dalam perjalanan terdengar suara adzan duhur
"Mas kita berhenti di masjid dulu ya? ayo sholat dhuhur" kataku
"Iya, sayang, itu di depan ada masjid" katanya sambil tersenyum memandangku
Mobil memasuki pelataran masjid, kami turun bersamaan menuju tempat wudhu masing-masing dan menunaikan ibadah sholat dhuhur, setelah selesai kami keluar dari masjid menuju ke mobil melanjutkan perjalanan ke rumah mbah sekitar empat puluh menit dari sini
Menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan
"Masih lama Rin?" tanya mas Arif
"Sebentar lagi mas, lima belas menit lagi sampai" kataku
"Di depan ada pertigaan kita belok ke kanan ya" kataku lagi
"Mas... maaf ya Rinda selalu merepotkan mas Arif" kataku
"Sayang... aku tidak pernah kamu repotkan, aku sehari semalam bersamamu aku sudah senang sekali" katanya
"Mas Arif kok bisa cuti dua bulan sekali bagaimana ceritanya?" tanyaku
"Oh itu, aku naik posisi lebih tinggi Rin, ya memang posisiku cutinya dua bulan sekali, malah ada yang dapat libur tiga minggu tapi selama dua bulan tidak ambil libur sama sekali" jelasnya
"Terus mas Arif dapat cuti libur berapa hari?" tanyaku
"Dua minggu Rin, selama dua minggu aku ingin bersamamu terus" katanya
"Mas itu gapura depan belok kanan" kataku
mas Arif membelokkan mobilnya sesuai arahanku
"Nah depan itu mas yang halamanya luas rumah mbah" kataku
Mobil berhenti di halaman rumah mbah, terlihat Vano berlari menghampiri mobil, aku keluar dari mobil bersamaan dengan mas Arif, Vano di gendong mas Arif masuk ke dalam rumah, di dalam rumah ada mbah, bibi, paman, ibu dan bapak
"Assalamualaikum" sapaku
"Waalaikumsalam" jawab mereka
"Ini calonnya Rinda, namanya Arif" kata bapak memperkenalkan mas Arif
"Darimana Rin, kok lama?" tanya ibu
"Tadi aku ajak ke pantai dulu bu" jawab mas Arif
"Ayo duduk dulu" kata mbah
Kami duduk bergabung dengan mereka
__ADS_1
"Rin... lamaran gak cerita bagaimana kamu ini?" tanya paman
"Gimana ya, Rinda juga tidak tau mau di lamar" kataku
"Loh, kok bisa sih" tanya bibi
"Mau buat kejutan buat Rinda, jadi tidak memberitahu ke Rinda" kata mas Arif
"Anak sekarang ya, punya cara sendiri" kata mbah
"Kalau dulu begini jelas di marahi semuanya, sekarang yang penting kalian rukun, serius menjalani rumah tangga, sama-sama menghadapi masalah rumah tangga dan menemukan penyelesainya" nasehat mbah
"Iya, maaf tidak memberi kabar, tapi nanti waktu menikah pasti memberi kabar pada semuanya" kata mas Arif
"Rencananya kapan ini?" tanya bibi
"Enam bulan lagi" jawab bapak
"Tanggal juga belum di tentukan, lihat Arif dapat cuti nanti" kata bapak menjelaskan
"Vano kok kelihatan sudah akrab begitu ya sama calonmu Rin, sudah kenal lama?" tanya bibi
"Kenalnya sih sudah lama sama mas Arif, kakak kelas Rinda dulu waktu SMA, kalau sama Vano kenal dua bulan yang lalu, terus ketemu lagi kemarin sore" kataku
"Nak Arif tidak disini setiap hari?" tanya paman
"Saya kerjanya jauh di Papua di daerah Mimika" jelas mas Arif
"Ini lagi libur kerja?" tanya paman
"Iya, cuma dua minggu libur nanti balik lagi ke sana" kata mas Arif
Kami semua menuju meja makan duduk bersama, makan bersama sesekali terdengar gurauan
Setelah makan aku, mas Arif dan Vano keluar rumah melihat sekitar rumah
"Enak ya di sini gak bising kendaraan" kata mas Arif
"Iya mas, kapan hari aku nginap disini sama Vano" kataku
"Iya yah, sama bunda di ajak jalan-jalan ke sana tuh, capek Vano" kata Vano sambil menunjuk arah
"Ibu bapak nginap sini atau bagaimana Rin?" tanya mas Arif
"Gak tau aku mas" jawabku
"Nanti pulang ke rumahku ya?" pinta mas Arif
"Aku ingin melihatmu terus Rin, aku masih capek kalau bolak balik ke tempatmu, mau ya?" kata mas Arif
"Tanya orang tuaku mas" kataku
Masuk ke dalam rumah...
"Ibu tidur sini?" tanyaku
__ADS_1
"Iya sepertinya Rin, ini belum selesai sawah yang satunya, bapakmu besok kan masih libur" kata ibu
"Bu, Rinda biar tidur di rumah, ada ibu di rumah daripada di rumah sendiri sama Vano" kata mas Arif
"Tapi besok pulang?" tanya ibu
"Iya pulang bu, sekalian ambil sepeda di sana" kataku
"Ini mau pulang?" kata ibu
"Iya bu" jawab mas Arif
Ibu masuk ke rumah membawa sesuatu
"Ini ada telur bebek untuk ibumu Rif, ibu tidak bisa memberi apa-apa" kata ibu
Embah berjalan ke arah kami dengan bantuan tongkatnya
"Mau kemana?" tanya mbah
"Mau pulang mbah" kataku
"Sih..Arsih... ambilkan beras di dalam untuk di bawah Arif pulang" kata mbah
"Gak usah repot-repot mbah" kata mas Arif
"Gak repot, untuk oleh-oleh orang kota, di kota beras pasti beli, kalau di desa dari hasil tanam sendiri" kata mbah
Bi Arsih keluar membawa sekantong beras memberikan pada mas Arif
"Terima kasih bi" kata mas Arif
"Bu, bapak sama paman kemana?" tanyaku
"Di belakang ngurusi ayam, bebek mungkin, sebentar aku panggilkan" kata ibu sambil berjalan ke halaman samping rumah, tak lama kemudian ibu kembali diikuti paman sama bapak
"Saya pamit pulang dulu bersama Rinda dan Vano, mohon maaf selalu merepotkan" kata mas Arif sambil berjabat tangan
Kami keluar rumah diikuti bapak, ibu, mbah, bibi dan paman, mas Arif menaruh beras di bagasi, Vano masuk ke kursi tengah, aku duduk di kursi depan, mas Arif masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah mbah, langsung menuju rumah mas Arif, Vano terlihat mengantuk
"Rin... keluargamu kelihatan rukun ya dan mereka apa adanya dengan kesederhanaanya" kata mas Arif
"Ya begitulah mas keluargaku, aku sering merindukan suasana di desa itu" kataku
"Kamu ngantuk Rin? kok menguap terus" tanya mas Arif
"Iya mas, ngantuk aku" kataku
🌷🌷🌷🌷
Melihat Rinda tidur di sebelahnya Arif
Bidadariku ini memang cantik luar dalam, apalagi saat tidur sangat menggemaskan pikirku
Ya Allah kuatkan imanku ini agar bisa menjaga hawa nafsuku ketika dekat dengan Rinda doaku.
__ADS_1
Mobil aku hentikan di Pom bensin, Rinda dan Vano masih lelap tidurnya aku turun dari mobil, setelah membayar ke petugas Pom bensin aku naik lagi ke mobil, melaju menuju rumah
Andaikan waktu itu aku selalu berada di sisimu tidak mungkin kejadian menyakitimu dan menimbulkan trauma terjadi padamu Rin, maafkan aku batinku