Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Terkejut


__ADS_3

Tiga minggu sudah aku berpisah dengan suamiku, Ibu mertua kembali lagi ke Jogja setelah satu minggu di rumah, Vera memang membutuhkan ibu mertua, sedangkan ibuku sendiri tinggal di rumahnya bersama bapak, sepertinya bapak tidak bisa jauh dari ibu, ditinggal sedikit sakit.


Hari-hariku seperti biasanya, bekerja, mengantarkan Vano dan membersihkan rumah.


Beberapa minggu ini di kantor melihat Nia dan Widya bikin tertawa saja, yang satu bahagia yang satu murung, "Sabar Nia, nanti pasti bahagia menghampirimu," kataku untuk menghibur Nia.


"Dari kemarin-kemarin begitu saja Rin, bosan mendengarnya," Kata Nia.


"Aku juga ingin kepastian dari mas Deni," lanjutnya.


"Sabar lah," kataku.


Mau bercerita sejujurnya tapi aku sudah janji pada suamiku untuk tidak menceritakan rencana mas Deni, kurang lima minggu saja rencana itu terwujud.


"Sampai kapan? sampai hari raya kuda?" tanya Nia.


"Banyak berdoa saja, semoga Mas Deni segera tergerak hatinya menuju ke rumahmu untuk melamarmu," kataku, sambil membolak balik kertas di atas mejaku.


"Mimpi kali," kata Nia.


Dalam hatiku, ternyata mas Deni ini pintar sekali mengobrak abrik perasaan Nia.


Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Nia yang sedang jengkel.


Tiba saatnya pulang kerja, aku berjalan pelan, perutku sudah terlihat sekali, sudah lima bulan lebih seminggu, seminggu yang lalu periksa Alhamdulillah sehat semua, perkembangannya juga sesuai usianya saat 5 bulan, gerakannya pun semakin terasa sering, pasti anak ini banyak tingkahnya seperti kakaknya Vano.


Menuju ke Penitipan anak tempat Vano berada, sampai di sana aku masuk ke dalam Penitipan anak, Vano melihatku langsung berlari menghampiriku dan menciumi perutku yang semakin gendut.


"Bu Rinda terlihat semakin cantik saja, cewek kayaknya adiknya Vano," kata Bu Lia.


Aku tersenyum.


"Cowok ataupun cewek yang penting selamat sehat Bu," kataku.


"Aamiin," jawab Bu Lia.


"Bu saya pamit dulu," pamitku ke Bu Lia dan kami berjabat tangan dengan Bu Lia dan Bu gurunya Vano lainnya yang berada di Penitipan anak.


Aku dan Vano keluar dari Penitipan anak berjalan menuju sepeda motorku.


Ketika sepeda motor aku hidupkan, di sampingku ada ayahnya Vano.


Melihatku lebih lama.


"Napa?" tanyaku.


"Vano, mau makan ayam kentucky?" tanya Mas Ardi.


"Mau, ayo Bunda ke sana," rengek Vano.


Akhirnya kami menuju ke tempat makan cepat saji yang sering Vano kunjungi, disana ada permainan plorotan kesukaan Vano.


Aku mengendarai sepeda motor di belakang sepeda motor Ayahnya Vano.


Ini orang semakin hari semakin pintar saja merebut hati Vano, tapi aku tetap gak ngijinkan dia mengambil Vano, enak saja, batinku.


Vano juga ngapain mau pula di tawari ayam kentucky, pikirku.


Sampai di parkiran tempat makan cepat saji, Vano turun dari sepeda dan masuk ke dalam.


Karena kondisiku sedang hamil jadi aku sangat berhati-hati saat berjalan, aku juga tidak mengejar Vano, toh di sana juga aman, Ayahnya sendiri tidak ada pergerakan untuk membawa Vano kabur, jadi aku agak santai.

__ADS_1


Membuka pintu tempat tersebut yang terbuat dari kaca, udara dingin dari ac terasa di kulitku.


Kulihat Vano sudah naik di prosotan dan Mas Ardi duduk di kursi pengunjung, dengan menatapku dari kejauhan.


Aku menghampiri Vano.


"Vano... makanannya di bawa pulang ya?" tanyaku.


"Enggak mau, di makan di sini saja!" katanya dengan suara keras.


Aku menuju ke kasir berniat untuk memesan makanan, Mas Ardi menghampiriku.


"Rin... kamu sedang hamil ya?" tanya Mas Ardi.


"Iya," jawabku.


"Kamu duduk saja aku yang mengantri," kata Mas Ardi.


"Untuk Vano saja, aku masih kenyang," kataku.


Aku membuka tasku dan mengeluarkan dompetku.


"Aku yang membayarnya, sudah kamu duduk saja," pinta Mas Ardi


Aku meninggalkan Mas Ardi yang sedang mengantri makanan untuk kami.


Dalam hati bertanya-tanya, apa betul itu mantanku? kok sifatnya berubah 180 derajat begitu? salah makan apa dia ya?.


Aku duduk di kursi pengunjung dekat dengan Vano bermain.


Mengusap perutku yang sedari tadi bergerak saja anakku ini.


Ada apa sih Nak, kok gerak-gerak terus, apa kamu tidak suka, Bunda bertemu dengan Ayahnya Kakak Vano? batinku.


"Vano... ayo makan! panggilku.


Vano mendengar panggilanku menoleh ke arahku dan berlari kemari


"Vano, cuci tangan dulu, tau kan tempatnya?" tanyaku.


"Iya Bunda," jawab Vano.


Ketika Vano meninggalkan kami berdua untuk cuci tangan.


"Rin, sudah berapa bulan kehamilanmu?" tanya Mas Ardi pelan, terlihat raut kecewa di wajahnya.


"Jalan lima bulan Mas," jawabku.


"Kamu benar-benar bisa menghilangkan traumamu?" tanya Mas Ardi lagi.


Aku menganggukkan kepalaku, mungkin dia terkejut ketika dia melihatku sedang berbadan dua.


Dia terus memandangku begitu dalam tatapannya.


Aku menundukkan kepalaku dan berkata lirih, "jangan memandang istri orang seperti itu, itu akan membuatmu dosa, buang pandanganmu."


"Rin... kamu apa betul-betul kamu bahagia menikah dengan suamimu sekarang?" tanya Mas Ardi.


"Iya aku sangat bahagia sekali," jawabku.


"Berarti sudah tidak ada celah untukku kembali kepadamu?" tanya Mas Ardi.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku.


Vano datang menghampiri kami.


"Vano... jadi anak yang pintar ya? ini Ayah ada uang untuk jajan Vano," kata Mas Ardi sambil memberikan amplop berisi uang.


"Rinda, Vano aku pergi dulu ada perlu, kalian lanjutkan makannya saja," pamitnya.


Mas Ardi berdiri dari kursinya menghampiri Vano dan mengusap rambut Vano, kemudian berjalan keluar meninggalkan kami berdua.


Dalam hatiku berkata, apakah ada penyesalan dalam dirinya? ah... entahlah aku tidak tau, untuk apa memikirkannya.


"Bunda, kok tidak makan? adik gak mau makanannya Vano lagi?" tanya Vano.


Aku tersenyum mendengar pertanyaan Vano, hampir tiap hari aku selalu berebut makanan sama anakku ini, dan selalu dia yang mengalah, saat dia tidak mau memberi aku pasti beralasan adikmu minta makananmu.


"Bunda masih kenyang, kamu makan saja, Bunda minta susu kotak ini saja ya" kataku.


"Alhamdulillah ya Allah, sore ini aku bisa makan sepuasnya," doa Vano.


"Vano sebentar disini ya? atau kita pindah di sana?" tanyaku.


"Kenapa Bunda?" tanya Vano.


"Bunda pingin pesan spaghetti," jawabku.


"Kamu mau minum lagi enggak?" tanyaku ke Vano.


"Mau Bunda," jawab Vano.


Vano berdiri dan duduk di dekat kasir, untung tidak ada antrian, aku memesan spaghetti dan susu kotak kemudian membayarnya.


"Mas, kalau selesai bisa di antar ke sana?" tanyaku.


Pelayan tersebut melihatku dan berkata, "Bisa Bu, ditunggu ya."


Aku duduk di depan Vano, melihat Vano yang makan dengan lahabnya.


Beberapa saat kemudian pelayan membawa pesananku, aku segera menikmatinya, kemudian pulang ke rumah.


Setelah maghrib aku duduk santai di dalam kamar, apa aku menceritakan bertemu mantanku tadi atau tidak ya? batinku dengan memegang ponselku.


Ah... lebih baik tidak usah bercerita, tiba-tiba teringat dengan Nia.


Aku menelpon Mas Arif dan langsung di angkat.


"Assalamualaikum Rin," sapa Mas Arif.


"Waalaikum salam Mas, bagaimana di sana?" tanyaku.


"Baik-baik saja Rin, di sana bagaimana?" tanya Mas Arif.


"Alhamdulillah baik, anakmu juga sehat," jawabku.


"Mas... Nia beberapa hari ini terlihat jengkel sama Mas Andi, apa aku cerita saja ya? gak tega aku setiap hari mendengar keluhannya Nia, bilang mas Deni gak serius begitu," ceritaku.


"Biarkan saja Rin, mereka sebentar lagi juga bertemu," kata Mas Arif.


"Vano di mana?" tanya Mas Arif.


"Biasa Mas di depan tv," jawabku.

__ADS_1


"Sudah dulu ya Rin, jaga kesehatan ya, love you bidadariku," kata Mas Arif dan telpon di matikan


__ADS_2