
Kami masih di rumah makan menikmati suasana yang romantis.
“Mas, ayo pulang sudah malam” kataku pelan.
Suamiku tersenyum memandangku dan berkata “Aku masih ingin di sini memandangmu”
“Mulai lagi gombalan mautnya” kataku.
“Rin” panggilnya
Aku menoleh “Apa” kataku pelan.
“Love you bidadariku” kata Mas
Arif.
“Iya, sudah malam, dilanjutkan di rumah gombalan mautmu’ kataku kemudian berdiri dan berjalan menuju ke kasir
untuk membayarnya.
Suamiku kalau tidak di dahului, sampai subuh juga betah gombal.
Kami berjalan beriringan, Mas Arif memeluk pinggangku dan aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
Kami masuk ke dalam mobil.
“Rin” bisiknya lirih
Dan suamiku menciumku kembali, kami menikmati ciuman lembut di bibir ini.
“Mas, ayo dilanjutkan di rumah saja, nanti di lihat orang” bisikku setelah melepaskan ciuman ini.
Kami meninggalkan rumah makan tersebut setelah membayar karcis parker.
“Loh Mas, ini mau ke mana? Ini kan bukan jalan ke rumahku?” tanyaku penasaran.
“Iya memang bukan jalan pulang ke rumah orang tuamu, kenapa memangnya?” tanya Mas Arif lagi.
“Mas mau bawa aku ke mana lagi?” tanyaku.
“Di bawa suami kok bingung sih, kalau di culik orang baru kamu bingung” kata Mas Arif.
“Hmmm” kataku mendehem.
Aku diam dan mataku melihat ke depan, lampu-lampu jalan yang temaram, ini hampir menuju ke kota, apa suamiku
akan pulang ke rumahnya? Batinku.
Percuma juga bertanya kepadanya toh jawabannya begitu.
Ya suka saja ikut sama suami, tap masak tanya mau ke mana jawabannya begitu, apa dia mau buat kejutan buatku, kan dia punya hobby begitu dari dulu.
Mobil berhenti di pelataran hotel di mana kami merayakan pesta pernikahan, untuk apa coba ke sini, lebih baik di
rumah, dasar laki-laki buang-buang uang saja, kata hatiku kembali.
“Rin, ayo turun” ajak Mas Arif.
“Untuk apa mas tidur di sini, pulang juga enak” jawabku.
“Aku ingin suasana berbeda sayang” bisiknya.
Aku menggelengkan kepalaku dan membuka pintu mobil kemudian turun bersamaan dengan suamiku, kami saling
bergandengan tangan layaknya pengantin baru.
Melangkah menuju ke resepsionis dan memesan kamar yang bagus di situ, kami menuju ke ke kamar diantar oleh
petugas hotel, membuka pintu kamar dan berkata “Silahkan beristirahat Mbak, Mas” kata petugas hotel, aku menganggukkan kepalaku “Terima kasih Pak” jawabku.
__ADS_1
Pintu di tutup dan di kunci oleh suamiku dan suamiku langsung memeluk tubuhku dengan lembut, melepas jilbabku.
“Mas… aku tidak bawa baju ganti bagaimana?” tanyaku.
“Enggak usah bajuan” kata suamiku menggodaku.
“Enak di Mas, gak enak di aku, bisa-bisa masuk angin aku” jawabku.
“Kan ada selimut” kata Mas Arif.
Di kamar hotel tersebut ada sofa juga tempat tidur yang lumayan besar.
Aku duduk di sofa sambil menyisiri rambutku yang panjang sebahu kemudian menalinya. Suamiku mendekatiku,
dan mulai beraksi menciumi mukaku dan tangannya mulai meraba-raba tubuhku dan buah dadaku.
“Mas…” bisikku.
“Kenapa?” tanya suamiku.
“Ditahan dulu ya, ayo cerita-cerita” kataku.
“Tapi lepaskan bajumu dulu” kata Mas Arif.
“Mas saja yang melepaskan” kataku.
Kemudian baju gamisku dibuka resleting di belakang dan jatuh ke lantai tinggal bra dan celana dalam yang melekat di tubuhku, suamiku mulai membuka kancing bra ku.
“Masuk angina Rinda mas, ambilkan selimutnya” pintaku.
“Enggak mau, aku mau melihat istriku seperti ini” katanya sambil meremas buah dadaku dan menciumnya.
Dalam hatiku, suamiku ini memang hmmmm.
“Tadi sudah sepakat kita bercerita-cerita sekarang malah cium-cium begini” protesku.
“He he he, gimana lagi kamu menggairahkan sekali istriku.
pangkuannya.
“Apa yang mau kamu tanyakan ke aku Rin?” tanya Mas Arif.
“Mas…” kataku sambil membuka resleting celananya dan mencari adiknya.
“Hei mau apa” kata Mas Arif kaget.
“Mau menggoda adikmu he he he” kataku juga menggoda suamiku.
Tak mau kalah suamiku meremas buah dadaku.
“Rin… tetaplah menjadi istriku selamanya” katanya.
Aku tersenyum memandang suamiku.
“Iya Mas, aku terima kasih sekali atas segalanya yang telah Mas berikann, jangan mencari perempuan lain di luar
sana” kataku.
“Hanya kamu yang ada dalam hatiku” katanya.
Setelah bisa mengeluarkan adiknya aku mulai menciuminya, aku lihat suamiku meringis menikmatinya, dia
menggelengkan kepalanya.
“Hmmm, istriku love you, sekarang kamu semakin pintar menggodaku” kata Mas Arif.
“He he he, itu karena ajaranmu selama lima bulan setengah ini” jawabku, kemudian aku bangun dan duduk
memandang suamiku dan menciumi bibirnya dengan lembut.
__ADS_1
“Love you my hubby” bisikku mesra.
Kami saling menikmati ciuman ini, melepasnya dan mencium lagi.
Suamiku tersenyum memandangku kemudian menggelengkan kepalanya.
“Mas… ke depan apa rencana Mas? Apa sampai tua kerja di sana?” tanyaku.
“Enggak Rin” jawab suamiku kemudian menciumi buah dadaku, aku menggeliat menikmatinya, aku belai lembut
rambut suamiku, semakin dia membenamkan wajahnya dan semakin kuat menciuminya.
“Mas… “ bisikku.
“Iya sayang” kata Mas Arif pelan dan kembali menciumiku.
“Rin… aku pingin punya anak” katanya lirih.
Aku memandangnya lebih lama.
“Aku juga menginginkannya sayang” kataku dan menciumi bibirnya.
“Istriku, kamu memang cantik dan wajahmu yang lembut menenangkanku” kata suamiku sambil membelai pipiku dan menciumku kembali.
Aku tersenyum mendengar perkataan suamiku.
Suamiku kembali menciumi buah dadaku dengan lembut kemudian menggendongku menuju tempat tidur dan meletakkan tubuhku di pinggir tempat tidur dengan kaki menggantung.
“Mas…” bisikku.
“Iya kenapa?” tanya Mas Arif.
“sekarang aku sedang masa subur” jawabku.
Dia tersenyum memandangku.
“Semoga bercinta kita akan membuahkan anak” kata Mas Arif.
Aku tersenyum mendengar ucapan suamiku, dalam hati berdoa semoga ini proses menjadikanku hamil kembali.
Mas Arif melepas celana dalamku dan menciumiku, aku menggeliat menahan sensasi rasa nikmat. Mas Arif tidak
peduli denganku, dia terus beraksi mengerjaiku, dia semakin senang melihatku semakin menggeliat dan bergerak tidak beraturan dan pada akhirnya aku sampai pada puncaknya.
Aku terdiam jengkel juga senang dengan ulah suamiku. Kemudian aku merubah posisiku naik ke atas pembaringan,
suamiku menyusul dan berbaring di sampingku memeluk tubuhku, tersenyum memandangku.
“Enak sayang?” bisiknya.
Aku tersenyum dan mencium kembali bibirnya kemudian ke bawah dan aku menggoda adiknya, dia meringis menikmati, dalam hatiku rasain setelah ulahmu tadi. Aku terus menggoda suamiku dan tidak
perduli dengan erangannya.
“Rin ayo” bisiknya.
“Nanti saja” jawabku dengan seyum menggoda.
“Hmmm, istriku mau balas dendam ini” katanya.
Aku tersenyum mendengar ucapan suamiku dan naik ke atas kami berciuman bibir dengan lembut, melepasnya dan menciumnya kembali.
“Mas, jangan tinggalkan Rinda” bisikku.
“Tidak istriku, aku mencintaimu” bisiknya
Kemudian tangannya mulai meraba bagian sensitifnya.
“Aku masukkan sekarang” katanya pelan.
__ADS_1
Malam ini kami menikmati percintaan ini di hotel sampai puas dan lelah kemudian kami tertidur. Dalam hatiku
semoga ini menjadi anak.