Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Beraktifitas Kembali


__ADS_3

Pagi ini langit cerah tidak seperti kemarin-kemarin sering hujan, aku sudah bersiap masuk kerja, Vano juga begitu siap untuk berangkat ke sekolah.


"Bu... Rinda berangkat dulu" pamitku ke Ibu, yang aku lihat juga akan bersiap berangkat kerja.


"Iya Rin hati-hati, aku juga akan berangkat, ayo bareng saja keluar rumah, kamu jangan lupa bawa mantel" kata ibu mengingatkanku.


"Ibu juga hati-hati" pesanku, kemudian aku mengambil sepeda motorku dan menghidupkanya, Vano berdiri di depanku, kami siap berangkat menuju sekolah Vano.


Sampai di sekolah Vano, aku turun dari sepeda demikian juga Vano, aku menggandeng tangan mungil Vano masuk ke penitipan anak.


"Bu Rinda sudah sehat?" sapa Bu Via.


"Alhamdulillah Bu Via, oh iya ini Bu tanda terimakasih kami kemarin, jangan ditolak" kataku sambil menyerahkan amplop berisi sejumlah uang sebagai tanda terima kasih ke Bu Via yang sudah mengantar jemput Vano, kemudian Bu Via menerimanya.


"Terima kasih Bu" kata Bu Via


"Saya yang harus berterimakasih pada Ibu" kataku.


"Oh iya bu, titip Vano, saya mau ke kantor dulu" pamitku


Kemudian Vano bersalaman denganku dan aku memeluk mencium Vano dan berjalan keluar meninggalkan penitipan anak, kulihat dari luar Vano melambaikan tanganya dan tersenyum kepadaku, akupun melambaikan tanganku dan tersenyum kemudian menghidupkan sepedaku menuju ke tempatku kerja.


Sampai di tempat kerja, setelah sepedaku aku taruh di parkiran aku naik ke lantai dua dimana tempatku bekerja.


"Rinda..." teriak Nia kemudian menghampiriku dan memelukku.


"Sabar ya Rin, ikhlas" bisik Nia.


"Nia sudah jangan mengingatnya lagi, aku malah sedih" kataku


Kemudian melepas pelukan Nia dan berjalan menuju meja kerjaku dan kunyalakan komputerku, Widya menghampiriku dan membawa kursi duduk di samping mejaku.


"Rin... tetap semangat ya" kata Widya.


"Terima kasih ya, insyaallah aku sudah ikhlas" kataku.


"Widya... kok malah duduk di sini? mau bantu aku menyelesaikan pekerjaanku yang menumpuk?" tanyaku.


"Enggak Rin, nyerah aku" kata Widya sambil membawa kursinya dan meninggalkan mejaku, aku mengambil map di depanku dan membuka satu persatu berkas di dalam map tersebut, kemudian menginputnya di komputer.

__ADS_1


Waktu istirahat, aku tidak turun tapi tetap di dalam kantor, menelpon mbak Yah untuk mengantar makanan ke kantor, aku tetap menginput data, ya... lumayan banyak memang pekerjaanku setelah aku tinggal cuti ini, ketika makanan sudah di antar mbak Yah, aku membayarnya dan segera menghabiskan makanan tersebut dan menaruh di depan ruanganku, Nia masuk ke dalam kantor dan berjalan mendekati mejaku.


"Rin... kerjamu kayak nguber setoran saja" kata Nia.


"Bukan ngejar setoran Nia, lah ini kalau tidak segera aku kerjakan laporan akhir bulan bagaimana? kataku.


"Setelah cuti menikah sampai keguguran aku tidak masuk hampir satu bulan ya, untung bulan kemarin aku kamu bantu menyelesaikanya Nia" kataku sembari menaruh map yang isinya sudah selesai aku input di sampingku.


"Kamu lanjut saja pekerjaanmu Rin, kalau butuh bantuanku aku siap membantu" kata Nia menawarkan diri membantuku.


Tiba waktunya aku pulang, berniat ingin meneruskan pekerjaanku tapi Vano siapa yang menjemputnya, sudahlah pulang saja, besok diteruskan pekerjaanya, batinku, kemudian aku mulai berkemas, merapikan berkas di atas mejaku dan mematikan komputer.


Ketika aku berdiri dari kursiku, hp ku berbunyi segera kubuka tas ku dan kuambil hp ku, mas Arif yang telpon, segera kuangkat telpon mas Arif sambil aku berjalan menuruni tangga.


"Assalamualaikum" sapaku.


"Waalaikum salam" jawab Mas Arif.


"Kamu dimana sekarang Rin?" tanya Mas Arif.


"Mau pulang kerja mas, ini masih menuruni tangga, ada apa?" tanyaku sambil terus berjalan menuruni tangga.


"Gak ada apa-apa Rinda, bagaimana kondisinya?" tanya Mas Arif.


"Seminggu lagi aku pulang Rin" kata Mas Arif.


"Iya Mas, nanti di jemput di bandara atau langsung pulang naik bus?" tanyaku yang sudah sampai di parkiran sepeda kemudian memakai helm dan menyelipkan hp di antara telinga dan helmku.


"Aku pulang sendiri saja Rin" jawab mas Arif, kemudian sepeda aku hidupkan menuju penitipan anak menjemput Vano.


"Rin ini kamu mengendarai sepeda motor sambil telpon? kok suaranya seperti di jalan begini?" tanya Mas Arif.


"Iya Mas" jawabku singkat.


"Aku matikan saja, nanti di lanjut di rumah" kata mas Arif kemudian telpon mati.


Tak berapa lama aku sampai di penitipan anak Vano, kulihat Vano masih asyik bermain dengan teman-temanya.


"Vano... "panggilku, Vano menoleh ke arahku, "sebentar bunda" katanya.

__ADS_1


"Ayo... sudah sore ini, besok di lanjut kembali" bujukku sambil membawa tas sekolahnya Vano, Vano melihatku membawa tas nya segera berdiri dan berjalan menujuku.


"Ayo salim sama bu guru semua" pintaku.


Kemudian Vano menyalami semu bu gurunya dengan tangan mungilnya.


"Bu... terima kasih, saya pamit pulang dulu" kataku.


Kemudian bersalaman dengan bu gurunya Vano dan berjalan keluar menuju sepedaku, Vano berdiri di depanku dan segera aku nyalakan sepeda motor meninggalkan penitipan anak.


"Vano... kita beli lauk dulu ya untuk makan malam" kataku di tengah perjalanan.


"Bunda... Vano ingin telur puyuh" katanya.


"Iya nanti, semoga masih ada" kataku.


Kemudian aku berhenti di sebuah warung, turun dari sepeda motor, menggandeng tangan Vano dan masuk ke dalam warung tersebut, membeli beberapa ikan dan sayur kemudian membayarnya dan pulang.


Sampai di rumah masih sepi, pintu pagar juga masih di gembok, pertanda ibu mertuaku belum pulang, turun dari sepeda motor kubuka gembok pagar dan mendorong pintu pagar, Vano segera masuk ke dalam dan aku menyalakan sepeda motorku masuk ke dalam garasi, kemudian berjalan ke arah pintu pagar dan menutupnya, setelah itu aku melangkahkan kaki ke arah pintu dan membuka kunci pintu, Vano terus berjalan ke arah ruang keluarga menyalakan tv, aku masuk ke kamar tamu ya... kamar yang terdekat dengan pintu masuk, aku taruh tas nya Vano dan tas ku di meja dan menuju tempat tidur untuk merebahkan tubuhku, hari ini dan hari-hari selanjutnya sangat sibuk di kantor, dua minggu lagi laporan harus selesai, sedangkan yang aku kerjakan baru pekerjaan seminggu, setelah merasa tidak begitu lelah aku turun dari pembaringan membawa bungkusan plastik menuju ke meja makan, mengambil wadah makanan menaruh makanan disana dan menutupnya dengan tudung saji, kulihat waktu menunjukkan pukul setengah lima, ibu mungkin lagi sibuk, jam segini belum juga pulang.


"Vano... bunda mandi dulu ya" kataku.


Kemudian berjalan menuju kamar tidur untuk mandi di kamar mandi dalam, dari kamar mandi ku dengar telpon berbunyi berkali-kali, biarlah setelah ini aku telpon balik, nanggung banget, batinku akhirnya aku teruskan mandiku, setelah itu keluar kamar mandi memakai handuk, dan telpon berdering kembali, aku lihat hp ku, ternyata Mas Arif video call, aku angkat hp aku letakkan di meja dengan layar menghadapku.


"Habis mandi Rin?" tanya Mas Arif.


Memandangku dengan tatapan tajam.


"Iya... Mas kenapa menatapku begitu" tanyaku dengan polos.


"Aku ingin segera pulang, bertemu denganmu" kata Mas Arif pelan.


"He he he, sudah dulu Mas, aku mau ganti baju dulu" pamitku.


"Hei... gak usah di tutup, biarkan aku melihatmu berganti baju he he he" kata Mas Arif.


"Hmmm" kataku agak jengkel dengan ulah suamiku, aku tinggalkan hp dan membuka pintu almari membawa baju dan softek masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju, kemudian kembali lagi dan menghadap hp yang masih terlihat Mas Arif tidur-tiduran di kamar mes nya dengan wajah kecewanya.


"Rin... kenapa ganti baju gak di depanku?" tanya Mas Arif.

__ADS_1


"Dari pada bikin kamu pusing lebih baik aku masuk kamar mandi he he he" kataku sambil tertawa.


"Mas sudah dulu ya... aku mau menemani Vano belajar" kataku, kemudian hp aku matikan.


__ADS_2