Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Kejutan Untuk Nia


__ADS_3

Esok hari...


“Rin, kapan kamu beli baju itu?” tanya Mas Arif sambil memandangiku.


“Beberapa hari yang lalu Mas, kanapa?” tanyaku.


“Kamu terlihat sangat cantik Rin, dengan memakai baju hamil seperti itu, oh ya apa sudah terlihat hasil usg jenis kelamin anak kita?” tanya Mas Arif penasaran.


“Belum jelas mas,” jawabku.


Mas Arif mencium perutku kemudian memelukku.


“Terima kasih istriku,” bisiknya.


“Mas, ayo sarapan dulu,” pintaku.


“Anak kita sudah lapar ya?” tanya Mas Arif sambil tersenyum bahagia.


Aku menganggukkan kepalaku dan membalas dengan senyuman manisku.


“Bunda, mau kemana, kok dandan cantik begitu?” tanya Vano.


“Emang selama ini Bundamu tidak cantik apa?” omelku ke Vano, entahlah semenjak hamil ini selalu bertengkar dan berdamai dengan Vano, berebut makanan juga hampir tiap hari.


“Ya cantik sih, tapi sekarang lebih cantik, mau kemana Bunda?” tanya Vano lagi


“Mau ke rumah tante Nia, setelah itu ke rumah mbah uti dan mbah kung, Vano jangan bikin ulah ya, jadi anak yang pinter,” pesanku.


Mas Deni turun dari tangga sudah berpakain rapi, memakai celana jins dan baju kemeja, demikian juga dengan suamiku.


“Mas Arif, ajaklah Mas Deni untuk sarapan,” kataku.


“Den, ayo sarapan masakan istri apa adanya he he he,” kata Mas Arif.


Aku mencubit.pinggangnya dan tersenyum.


“Vano ayo sarapan,” panggilku.


Vano menghampiri kami duduk di sebelah Mas Arif, Mas Deni berada di kursi depan kami.


Kami sarapan bersama-sama.


“Maaf Mas Deni, keluarga Mas, sudah tau kalau Mas Deni mau melamar Nia?” tanyaku di sela-sela kami makan.


“Sudah Mbak, mereka menyerahkan semuanya kepadaku juga Arif sampai menikah nanti, mungkin saat menikah orang tuaku yang datang kesini,” jawab Mas Deni.


“Tapi mereka setuju, kan? Tanyaku.


“Alhamdulillah Mbak setuju semua, apalagi Nia ini kenal dengan Mbak yang istri Arif, jadi


mereka sudah percaya, anak baik, begitu,” jawab Mas Deni.


“Ya sudah kalau begitu, karena pernikahan itu sebaiknya dengan restu orang tua, restu mereka itu yang membuat langgengnya suatu pernikahan,” kataku menasehati Mas Deni.


Selesai sarapan, kau membersihkan meja makan dan menaruh piring sendok gelas di wastafel, biar nanti saja di selesaikan kalau sudah pulang, batinku.


“Rin, sudah siap?” tanya suamiku.


“Sudah Mas, ayo berangkat,” jawabku.


Kami semua memasuki mobil, Mas Arif yang mengemudi, aku duduk di samping Mas Arif,


sedangkan Mas Deni dan Vano di kursi tengah.


“Bunda... Vano belum berkenalan dengan om temannya Ayah,” kata Vano.


“Vano kenalan sana,” jawab Mas Arif.


“Malu ayah,” kata Vano.


“Namanya Om Deni,” jawabku.


“Oh... Om Deni ya,” kata Vano.


“Om Deni rumahnya mana ya? Teman kerja Ayah Arif?” tanya Vano antusias.


“Iya, rumah Om, jauh di sana di Merauke,” jawab Mas Deni.


“Teman Ayah kok jauh-jauh ya, sedangkan teman Vano di sini-sini saja,” kata Vano.


Kami tertawa bersama.


Sampailah di toko kemarin, kami turun dari mobil menuju ke toko tersebut untuk mengambil seserahan yang mau di bawa ke Nia.


Mas Arif dan Mas Deni bergantian membawa seserahan dan memasukkan di bagasi mobil, setelah selesai kami masuk lagi ke dalam mobil.


Perlahan mobil keluar dari halaman toko tersebut menuju rumah Nia.


Aku mengambil ponselku dari dalam tas berniat untuk menelpon Nia.


Panggilan telponku diangkat Nia.


“Jadi kesini


Rin?” tanya Nia segera setelah mengangkat panggilanku.


“Iya, ini perjalanan ke sana, kamu siap-siap ya, dandan yang cantik, orang tuamu juga di

__ADS_1


rumah, kan?” tanyaku.


“Ketemu kamu saja dandan cantik Rin, tumben menanyakan orang tuaku?” tanya Nia.


“Emang gak boleh apa? Aku kan juga pingin ketemu orang tuamu, ngobrol-ngobrol seperti dulu,” jawabku.


“Iya ada di rumah,” kata Nia.


“Kamu jangan ngiri ya, aku ke sana dengan suamiku tercinta,” kataku menggoda Nia.


“Hmmm, jangan pamer kemesraan deh,” jawab Nia.


“Oke, sudah dulu ya, Assalamualaikum,” kataku kemudian mematikan panggilan telponku.


“Kira-kira bagaimana ya Nia nanti?” tanya Mas Arif.


“Yang jelas surprise lah Mas,” jawabku.


“Eh Mas Dani kok diam saja, grogi ya...?” godaku.


“Iya ini Mbak,” jawabnya.


“Den...Den... ingat umur kayak abg saja ketemu perempuan grogi,” kata Mas Arif menggoda.


“Mas Arif, gang depan itu kita belok ke kiri,” kataku ketika sudah dekat dengan rumah Nia.


Mobil berbelok sesuai dengan arahanku.


“Nah, itu rumah Nia,” kataku.


Mobil berhenti di depan rumah Nia, aku menoleh kebelakang.


“Bagaimana? Jadi enggak lamarannya ini, kok dari tadi diam saja,” godaku ke Mas Dani.


“Iya Dan, bagaimana?” tanya Mas Arif juga.


“Jadilah, tapi aku kok grogi begini ya,” jawab Mas Deni dengan expresi wajah bingung, senang, bahagia jadi satu.


“Biar kami dulu yang turun setelah kami melambaikan tangan kamu baru turun, sembunyi dulu ya,” pesan Mas Arif.


“Vano diam saja, jangan bilang kalau ada Om Deni di mobil” kataku mengingatkan Vano.


“Kenapa?” tanya Vano.


Aku segera menutup mulut Vano dengan telunjuk jariku menyuruh dia untuk tidak banyak bertanya.


“Assalamualaikum,” ucapku dari luar.


“Waalaikum salam,” jawaban dari dalam.


Nia keluar dari dalam rumah menyalamiku dan mencubit pipi Vano.


Kami duduk di ruang tamu rumah Nia.


“Nia kemana orang tuamu?” tanyaku.


“Ada di dalam, tumben sih kamu cari orang tuaku, biasanya enggak gitu,” jawab Nia.


“Ayolah panggilkan ke dalam,” pintaku.


“Ada yang penting mau aku bicarakan kepada kedua orang tuamu,” kataku kembali.


Nia curiga, “Maksudmu apa Rin?”


“Kamu mau kan dijadikan istrinya mas Deni?” tanyaku.


Diam beberapa saat Nia, baru menjawabnya, “Ya mau, tapi dia yang tidak mau.”


“Kalau begitu segera masuk ke dalam bawa orang tuamu ke sini,” kataku.


Nia segera masuk ke dalam rumah mengikuti keinginanku.


“Mas, tolong mas Deni ajak keluar dari dalam mobil, sebelum pingsan di dalam mobil karena tidak ada udara cukup, kan tertutup semua kacanya,” bisikku.


Mas Arif berdiri dan keluar rumah.


Beberapa saat kemudian orang tuan Nia datang menghampiriku dan kami berjabat tangan.


“Rinda, lama tidak kesini, sudah berapa bulan kehamilanmu?” tanya Ibunya Nia.


“Enam bulan jalan Bu, mau memasuki tujuh bulan,” jawabku.


“Suamimu ke mana?” tanya Ibunya Nia.


“Ada di luar sebentar lagi masuk kok,” jawabku.


Dalam hati kok lama sih Mas Arif ini masuk.


Ibu dan Bapaknya Nia duduk di kursi ruang tamu rumah mereka.


“Rin... katanya mau ngomong dengan orang tuaku, kok tidak ngomong-ngomong sih?” tanya Nia tidak sabar.


“Ibu, Bapak, sebelumnya saya minta maaf kalau sudah tidak sopan dan mungkin tidak memenuhi adat di sini.” Aku mulai bercerita maksud kedatanganku.


Mas Arif datang.bersama dengan Mas Deni.


Nia... diam terkejut dan beberapa saat tidak berbicara, hanya matanya yang terlihat

__ADS_1


berkaca-kaca, demikian juga dengan Mas Deni, hanya diam mematung di sebelahnya


Mas Arif.


“Suamimu yang mana Rin?” tanya Ibunya Nia penasaran.


Aku tersenyum lalu menjawab pertanyaan Ibunya Nia, “Yang ini Bu suaminya Rinda.” Sambil berdiri dan menggandeng tangan suamiku untuk duduk di sebelahku.


“Nah, yang masih berdiri itu, calon menantu Ibu dan Bapak,” kataku kemudian.


“Nak Rinda maksudnya apa?” tanya Bapaknya Nia keheranan.


“Nia, masak calon suamimu kamu suruh jadi patung hidup begitu, kamu tidak kasihan apa?” godaku ke Nia, karena dari tadi hanya diam saja.


“Oh, iya maaf Mas, silahkan duduk,” kata Nia mempersilahkan duduk Mas Deni.


“Begini Bu, niat Rinda ke sini, mau melamar Nia, karena rumah calonnya Nia ini jauh, jadi


lamaran di serahkan kepada kami, kebetulah keluarga Mas Deni ini sudah dekat dengan suamiku,” kataku.


Terlihat raut muka orang tua Nia terkejut.


“Rinda, kenapa tidak bercerita dulu, bagaimana ini Pak,” tanya Ibu Nia gugup.


“Siapa namamu Nak?” tanya Bapaknya Rinda.


“Deni nama saya, saya dari Merauke, Papua sana Pak,” jawab Mas Deni.


“Kenal dimana dengan Nia?” tanya Bapaknya Nia.


“Baru hari ini saya bertemu Nia, saya kenal dari istrinya sahabat saya ini,” jawab Mas Deni.


“Baru kenal terus mau melamar, apa tidak begitu tergesa-gesa?” tanya Bapaknya Nia.


Aku dan Mas Arif diam sesaat, biar Mas Deni yang bisa membuktikan keseriusannya kepada Nia.


“Tidak Pak, saya sudah yakin dengan Nia untuk saya jadikan istri saya, saya jauh-jauh dari sana ke sini berniat untuk melamar anak Bapak, nanti saat kami menikah, kedua orang


tuaku pasti datang ke sini,” kata Deni.


“Nia, kamu bagaimana? Bapak ini ya bagaimana ya, belum kenal keluarganya juga, belum tau asal usulnya juga, tiba-tiba datang melamar, kan juga bagaimana,” tanya


Bapaknya Nia ke Nia.


“Bapak ini, bagaimana sih, kemarin minta segera menikah, ini ada yang serius datang ke sini malah ragu, Nia ya mau lah nikah sama Mas Deni,” jawab Nia.


“Sudah kamu pikirkan?” tanya Bapaknya Nia.


“Ya sudah Pak, beberapa minggu ini Nia uring-uringan ya karena ini, Mas Deni ditanya serius enggak tapi jawabnya bercanda saja, tapi sekarang malah buat kejutan begini”


jawab Nia.


“Ya sudah, kalau kamu mau menerimanya, Bapak juga menerimnya, menimbang keluarga Deni kenal dengan keluarga suami Rinda, jadi Bapak percaya,” kata Bapaknya Nia.


“Alhamdulillah...,” ucap Mas Arif.


“Terima kasih Pak, Bu, sudah menerima lamaran sahabat saya ini yang sudah aku anggap saudara, dia anak baik dari keluarga baik-baik juga,” kata Mas Arif sedikit menjelaskan.


“Dua minggu ini Deni berada di rumah saya, jadi bisa saling mengenal Nia,” kata Mas Arif lagi.


“Den, kamu sudah bawa itu?” tanya Mas Arif ke Mas Deni mengingatkan tentang cincin pertunangan.


“Eh iya, ini,” jawab Mas Deni dengan gugupnya.


“Ini Nia, sebagai tanda lamaranya,” kataku sambil menyerahkan kotak cincin ke hadapan Nia dan orang tuanya.


“Mas...,” panggilku ke suamiku sambil mengode untuk mengambil seserahan yang ada di dalam mobil.


Mas Arif dan Mas Deni berdiri dan berjalan menuju ke mobil, beberapa saat kemudian kembali lagi sambil membawa seserahan untuk Nia.


Melihat itu orang tuan Nia juga Nia terkejut, mereka hanya bengong melihatnya.


“Ibu dan Bapak juga Nia, lamaran sudah di terima, untuk acara pernikahannya saya serahkan kepada Mas Deni dan keluarga sini,” kataku.


“Kami pamit dulu Ibu Bapak,” kataku kemudian.


“Den, kamu di sini dulu? Ya kenalan sama keluarganya Nia juga Nia, nanti sore kami jemput, kami mau ke orang tuanya Rinda,” kata Mas Arif.


“Rinda... terima kasih sekali ya... sudah menjembatani Nia dan Deni ini, aku sebagai orang tuanya Nia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi,” kata Ibunya Nia dengan mata


berkaca-kaca karena haru.


Nia, diam terpaku di tempat duduknya, mungkin otaknya kaget sampai susah untuk bicara.


“Saya pamit dulu,” kata Mas Arif sambil berdiri dan bersalaman dengan orang tuan Nia


demikian juga denganku dan Vano.


Aku dan Mas Arif juga Vano berjalan keluar diikuti oleh orang tua Nia, Deni dan Nia.


Sebelum masuk ke mobil aku menggoda Nia, “He... kamu sekarang sudah jadi wanita bisu ya kok dari tadi tida bicara sama sekali.”


Nia hanya mengepalkan tangannya.


“Kalian berkenalan dulu ya, kami tidak mengganggu,” kata Mas Arif menimpali.


Melambaikan tangan kepada mereka, setelah aku masuk ke dalam mobil, mobil perlahan

__ADS_1


meninggalkan rumah Nia menuju rumah orang tuaku.


__ADS_2