
Memasuki kamar tidur, Vano sudah terlelap tidur dengan posisi terlentang, aku betulkan posisi tidurnya dan aku beri pembatas bantal dan guling, karena khawatir kakinya atau badannya mengenai perutku, kemudian aku berbaring di sisi lain.
Sayunp terdengar suara tertawa dari mas Arif dan mas Deni dari belakang, sepertinya mereka sedang berada di taman belakang, entahlah apa yang mereka bicarakan aku tidak begitu jelas mendengarnya.
Lebih baik tidur saja, biarkan para lelaki itu mengobrol sampai larut malam, kalau lapar juga tinggal ambil di meja makan, batinku.
Mulai aku memejamkan mataku kemudian tertidur, beberapa saat kemudian aku terbangun lagi, merasa tidak nyaman dengan posisi tidurku.
Mas Arif membuka pintu kamar.
"Belum tidur Rin?" tanya Mas Arif dan menutup pintu kamar berjalan ke arahku.
"Sudah Mas, tapi bangun lagi, gak nyaman sekali," jawabku sambil bangun dari tidur dan duduk di atas pembaringan.
"Sudah mau tujuh bulan ya Rin?" tanya Mas Arif sambil duduk di tepi pembaringan.
"Iya Mas dua minggu ke depan," jawabku.
"Ada yang capek? aku pijiti," tanya Mas Arif.
"Ini Mas kakiku," jawabku sambil menyelonjorkan ke dua kakiku.
Mas Arif mulai memijit kakiku hingga aku merasa nyaman.
Kemudian Mas Arif merebahkan tubuhnya di sampingku dan di samping Vano.
Memelukku dan mencium wajahku.
Kami saling menatap kemudian tersenyum.
Bibir kami saling bertemu dan menikmati ciuman itu lalu di lepaskan dan kembali berciuman kembali.
Mas Arif meraba buah dadaku dan menciumnya dengan lembut, "Rin... ini semakin besar ya?" tanya Mas Arif.
"Iya Mas, itu nanti buat anakmu," jawabku.
Mas Arif tersenyum memandangku dan kembali menciumi buah dadaku.
Dan pada akhirnya kami bercinta di malam ini.
"Hati-hati Mas," pesanku ketika dia memasukkanya.
Kami menikmati setiap sentuhan itu, dan berganti posisi yang nyaman, sampai pada titik puncak kepuasan.
Kami saling tersenyum.
"Rin... bagaimana perutmu?" tanya Mas Arif.
"Agak kencang dikit sih tadi tapi sekarang sudah biasa," jawabku.
"Loh Mas, anakmu gerak lagi," kataku ketika anak yang di dalam perutku menunjukkan gerakannya.
Mas Arif menyentuh perutku, merasakan gerakan anaknya.
"Apa dia merasa ya, kalau tadi kita bercinta?" tanya Mas Arif.
"He he he, ya enggak tau Mas," jawabku.
__ADS_1
"Ayo tidur lagi Rin," pinta Mas Arif.
Kami mulai memejamkan mata dan terlelap tidur.
***
Suara Adzan membangunkanku dari tidur.
"Mas... ayo mandi sudah subuh," bisikku dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Kamu duluan saja Rin, masih mengantuk ini, tapi jangan menggodaku ya," pinta Mas Arif dengan mata tetap terpejam
"Kalau enggak bangun ya aku goda lagi," ucapku kemudian bangun dari tidur dan beranjak turun kemudian berjalan menuju ke kamar mandi, menyalakan shower untuk mandi besar kemudian berwudhu.
Keluar dari kamar mandi aku berganti baju kemudian keluar kamar menuju ke musholla untuk melaksanakan sholat subuh.
Selesai sholat subuh, Nia menuju ke musholla untuk melaksanakan sholat subuh juga.
"Rin para lelaki ke mana?" tanya Nia.
"Kayak gak hafal saja Nia, semalam begadang mereka, sekarang jelas masih tidur, Mas Arif saja masih pulas tidurnya," jawabku sambil melepas mukenah kemudian berjalan menuju shofa ruang keluarga.
Masih jam empat lebih, aku merebahkan tubuhku di atas shofa dan mulai memejamkan mataku.
Sejak hamil ini aku cepat sekali mengantuk.
Nia menghampiriku dan duduk di sebelahku.
"Rin, aku yang masak saja, sepertinya kamu kurang enak badan," kata Nia.
"Mau masak apa Nia, aku bantu," kataku.
Nia membuka kulkas mengambil beberapa sayur dan sebagainya.
"Rin... bantu kupas bumbunya saja," pinta Nia.
"Iya Nia," kataku sambil duduk dan mulai mengupas bumbu yang diberikan Nia, sedangkan Nia memotong sayur.
Beberapa menit kemudian masakan kami sudah matang, waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"Ini para lelaki belum juga bangun ya Rin?" tanya Nia.
"Emang perlu di siram air kok Nia," kataku.
"He he he," Nia tertawa.
"Sebentar ya..., aku mau masuk ke kamar," kataku dan meninggalkan Nia yang sedang membuat teh manis di dapur.
Berjalan menuju kamar tidur, Mas Arif dan Vano masih pulas tidurnya.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Mas... ayo bangun sudah jam setengah tujuh," bisikku kemudian aku naik ke atas ranjang menghampiri Vano dan membangunkannya.
"Vano gak sekolah?" bisikku.
"Iya Bunda," jawab Vano sambil membuka matanya dan duduk di pembaringan.
__ADS_1
"Bunda Ayah kok belum bangun?" tanya Vano.
"Kamu bangunkan saja Vano, Bunda sudah bangunkan dari tadi gak bangun-bangun," jawabku.
Vano turun dari ranjang menuju ke kamar mandi, aku gak tau apa yang sedang dia rencanakan.
Tak lama kemudian kembali dan membasahi wajah Mas Arif, aku menutup mulutku mau tertawa.
Mas Arif membuka matanya, melihat Vano yang membasahi wajahnya dengan air dari telapak tangannya.
Kemudian memeluk Vano dan menciuminya, "Anak Ayah...," kata Mas Arif.
Kemudian bangun dari tidurnya dan menggendong Vano keluar kamar, Mas Deni sudah berada ruang keluarga bersama Nia.
Tersenyum memandang kami.
"Mas... gak mandi dulu?" bisikku.
"Iya sebentar," jawab Mas Arif kemudian menurunkan Vano di karpet ruang keluarga.
"Kalian lanjut dulu ngobrol-ngobrongnya, kami bersiap-siap," ucapku ke Nia dan Mas Deni.
"Iya Mbak," kata Mas Deni canggung.
"Vano, ayo mandi dulu, sudah hampir jam tujuh," kataku sambil melepas baju Vano dan menggandengnya menuju ke kamar mandi untuk mandi.
Selesai mempersiapkan Vano, Mas Arif keluar kamar, terlihat sudah rapi dan berjalan menuju ke arah kami.
"Ayo sarapan," pinta Mas Arif.
Kami menuju ke meja makan dan sarapan bersama.
"Mas Deni, tau enggak ini tadi yang masak Nia loh," kataku memuji Nia.
"Iya kah?" tanya Mas Deni sambil menoleh ke arah Nia.
Nia mengganggukkan kepalanya tersenyum malu.
Selesai sarapan aku menuju ke kamar untuk berganti baju kerja, kemudian keluar kamar.
Vano sudah siap berangkat kerja.
"Rin, aku naik sepeda motor saja, diantar sama Mas Deni," kata Nia sambil keluar rumah
"Oh iya hati-hati ya, biar Mas Arif mengantar kami," ucapku.
Pagi ini kami berangkat kerja hampir bersamaan dari rumah mertua, berangkat berpasangan dengan pasangan masing-masing.
Mobil meninggalkan rumah mertua, di depan kami terlihat Nia di bonceng Mas Denu, terlihat mesra sekali.
"Mas, lihatlah di depan kita ini, senang sekali aku melihat mereka bahagia," kataku.
"Iya Rin, pasti Yusuf dan Widya juga begitu, kan dua bulan lagi mereka menikah," kata Mas Arif.
"Iya Mas, sukses ya kita menjadi mak comblang buat temanku dan temanmu," kataku dan menoleh tersenyum kepada suamiku.
Mobil berjalan menuju ke sekolahnya Vano kemudian menuju ke tempat kerjaku, terlihat dari kejauhan Nia dan Mas Deni saling pandang saling tersenyum.
__ADS_1