
Setelah tante Linda berangkat kerja, aku masuk ke dalam untuk membangunkan Vano walaupun susah akhirnya mau bangun juga mandi dan sarapan, menyiapkan segala kebutuhan hari itu dan berangkat kerja, waktu menunjukkan pukul setengah delapan, aku memeriksa semua pintu juga jendela khawatir ada yang masih terbuka yang terakhir adalah mengunci pintu pagar.
"Vano kita berangkat" kataku kepada Vano.
"Bunda enak di rumah nenek aku bisa tidur lama" katanya.
"Vano suka?" tanyaku.
"Suka" jawabnya.
Obrolan-obrolan ringan masih terus berlanjut selama perjalanan ke sekolahnya, setelah meninggalkan Vano di penitipan anak, aku menuju tempat kerjaku.
Sampai di kantor masih sepi, hanya aku saja yang sudah sampai, kulihat jam di dinding masih jam delapan kurang seperempat, kalau aku berangkat dari rumah orang tuaku, pasti jam segini baru sampai di sekolah Vano dan yang pasti belum sarapan, ternyata banyak keuntungan tinggal di rumah tante Linda, aku ambil hp di dalam tas, eh ada pesan masuk dari mas Arif juga ada dari teman-teman, yang aku buka duluan pasti pesan dari mas Arif.
"Pagi Rinda... bagaimana pagi ini masih bersantai ya?" tanya Mas Arif.
"Iya Mas, ini sudah di kantor sudah sarapan biasanya belum sempet sarapan, ternyata tinggal di tempatmu waktuku bisa banyak melakukan sesuatu yang tidak bisa aku kerjakan di rumah orang tuaku, makasih ya Mas, Mas jaga kesehatan disana, sudah makan?" balasku
Masih centang satu, hp aku tinggal di meja kerjaku aku nyalahan komputer, kulihat ada beberapa teman yang sudah datang, kemudian terlihat Nia masuk ke ruangan ini.
"Rin... tumben cepet?" katanya.
"Iya kan berangkat dari rumah mas Arif dekat sini paling 10 menit dari sini" kataku.
"Loh jadi tinggal disitu, bagaimana sama Ibunya gak cerewet?" tanyanya.
"Enggak kok Nia, ini tadi aku masak bareng, bisa sarapan pagi deh" jawabku sambil tersenyum.
"Wih... tumben kamu masak" kata Nia.
"Iyalah bantu tante Linda" jawabku.
Waktu begitu cepat berlalu, Mas Arif belum juga membalas pesanku, ada apa ya pikirku, apa mungkin hp nya ketinggalan di mess atau rusak, semoga tidak ada apa-apa disana pikirku dalam hati, kukemasi pekerjaanku, kumatikan komputer bersiap untuk pulang menjemput Vano dan pergi ke swalayan membeli susu dan lain sebagainya.
Di penitipan anak, terlihat anak-anak begitu ceria tertawa bersama-sama kejar-kejaran ah sungguh bahagianya dunia mereka, Vano lagi main puzzle dengan temanya, kuhampiri Vano.
"Vano gak pulang?" tanyaku.
"Sebentar Bunda, belum selesai ini" katanya.
"Lanjut dulu Bunda tunggu sebentar ya" kataku.
Setelah Vano menyelesaikan puzzlenya, kami berpamitan sama Bu gurunya Vano untuk pulang.
Dalam perjalanan seperti biasa ada saja yang kami obrolkan.
"Bunda pulang ke nenek lagi ya?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, lusa pulang ke mbah uti" jawabku.
"Belanja dulu ya Vano, susumu mau habis" kataku.
Kuparkir sepedaku kemudian aku masuk ke dalam toko tersebut, Alhamdulillah tidak begitu ramai, Vano masih aku gendong di gendongan ranselku kalau turun khawatir lepas dari pengawasanku, kuambil beberapa barang yang aku butuhkan kumasukkan ke keranjang dan aku bayar di kasir, rencana mau ngajak Vano makan ayam kentucky
Sampai di tempat makan yang aku tuju kupesan makanan dan aku bayar aku menuju meja makan, Vano aku turunkan dari gendingan ransel dan duduk di kursi.
"Vano makan sendiri ya?" tanyaku.
Vano menganggukkan kepalanya
"Bunda antar Vano cuci tangan ya?" pintanya.
Aku berdiri mengantarkan Vano mencuci tanganya setelah itu kembali ke meja tadi, kuambil hp ku dari dalam tas, tidak ada pesan dari mas Arif, masih centang satu, tiba-tiba ada yang menyapaku.
"Rinda ya ini?" sapa laki-laki tersebut.
"Eh.. Mas Andi ya" jawabku.
"Kamu sendirian Rin?" tanyanya.
"Ini sama anakku" jawabku.
"Suamimu?" tanyanya.
"Oh.... aku gabung sini ya" pintanya.
"Silahkan" kataku.
Vano masih melanjutkan makanya dengan lahab, aku melihat-lihat hp dengan perasaan khawatir karena hp mas Arif tidak aktif, mas Andi memesan makanan lalu duduk di depanku.
"Mas Andi tugas dimana sekarang?" tanyaku.
"Masih di Pemda sini tapi pindah bagian saja" jawabnya.
"Mas aku duluan ya, ini sudah selesai makan" pamitku sambil berdiri dan menggendong Vano.
"Rin, bisa kita ketemu besok?" tanyanya.
"Ada apa ya?" tanyaku balik.
"Ada yang mau aku omongkan sendiri sama kamu besok" katanya.
"Aku kerja Mas" tolakku halus.
"Jam istirahat ya... aku tunggu di rumah makan, itu yang di jln pahlawan" katanya lagi.
__ADS_1
"Insyaallah Mas, kalau aku sudah disana jam dua belas berarti aku datang, kalau tidak berarti Mas tinggal saja" kataku sambil berlalu dan meninggalkan tempat makan itu menuju rumah tante Rinda
Dalam hati ada apa lagi dengan mas Andi, dia itu teman mas Arif sekolah dulu, ya... dulu pernah bertengkar sama Mas Arif sih, tapi aku anggap dia cuma sebatas teman saja, apasalahnya untuk menemuinya.
Sampai rumah kubuka pintu pagar kumasukkan sepedaku di teras depan dan kututup kembali pintu pagar, kulepas sepatuku kutaruh di tempatnya dan kubuka pintu, baru saja masuk rumah ada telpon masuk, kuturunkan Vano dari gendonganku dan kuangkat telpon.
"Mas Arif kemana saja seharian, Mas...seharian aku mikirin mas, kenapa-kenapa disana" omelku.
"Ngomongnya pelan Rin" kata Mas Arif
"Mas Arif sehari gak bisa dihubungi, Rinda khawatir Mas Arif pergi tak ada kabar, ganti nomer gitu" kataku.
"Ya Allah...Rinda...Rinda..., hpku ketinggalan di mes, maaf ya... aku gak ngerti kalau kamu begitu menghawatirkanku seperti ini" katanya.
"Kamu di mana sekarang?" tanyanya lagi.
"Di rumah" jawabku sewot.
"Rinda... maaf ya!" katanya pelan.
"Gak aku ulangi lagi, maaf sekali ya!" katanya lagi.
"Iya" jawabku.
"Kamu di rumah ibu?" tanya Mas Arif.
"Iya" jawabku singkat karena masih jengkel
"Rin... masih marah ya, sayang bidadariku jangan marah lagi ya, kurang dua bulan tiga minggu kita ketemu lagi" katanya.
"Jangan ulangi lagi, umpama hp ketinggalan kan bisa hubungi lewat lainya bisa mesengger" kataku.
"Iya bidadariku sayang love you" kata Mas Arif.
Jangan marah lagi ya?" katanya
"Iya Mas" jawabku.
"Kamu lagi napa ini?" tanyanya.
"Baru masuk rumah, tante pulang malam aku gak boleh masak kata tante bawa makanan nanti, akhirnya aku makan di luar tadi sama Vano" jelasku.
"Mas tak bersih-bersih dulu ya, dilanjut nanti kalau sudah santai" kataku.
"Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu Rin" kata Mas Arif dan mematikan hp.
*****
__ADS_1
Di sebuah kamar, Arif duduk sendiri di dalam kamar, memegangi hp nya, Rinda... aku ini kangen, ingin ngobrol banyak, baru saja kamu angkat sudah marah-marah seperti itu, apa begitu perempuan kalau hatinya lagi khawatir?