Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Teringat Kembali


__ADS_3

"Rin... aku video call ya?" tulis Mas Arif


"Iya" tulisku menjawab pesan suamiku


Bagaimanapun tiga hari tidak berkomunikasi aku merindukanya, membaca isi pesan di whats up nya ketika aku di rumah sakit membuatku merasa damai, membaca whats up nya yang mengatakan ayo bikin lagi, membuatku rindu ingin bertemu suamiku, kemudian hp ku berbunyi, suamiku video call melalu whats up dan aku angkat, kulihat mas Arif berada di tempatnya kerja


"Sayang... kebanyakan nangis ya? matamu sembab sampai seperti itu" kata Mas Arif dengan wajah sedih, melihat suamiku mataku berkaca-kaca kembali.


"Mas... maafkan Rinda ya, anak kita..." kataku terisak.


"Sudah sayang, jangan menyalahkan dirimu terus semua sudah di gariskan oleh Allah, jangan menangis ya sayang" hibur Mas Arif


"Iya Mas" kataku sambil mengusap air mataku dan tersenyum melihat suamiku.


"Masih sakit sekarang?" tanya Mas Arif.


"Sudah tidak seberapa Mas" jawabku.


"Rin... kalau kamu mau keluar mau beli apa gitu keluarlah, naik transportasi online, uangnya masih kan?" tanya suamiku.


"Iya masih Mas" kataku dengan memandang wajah suamiku di layar hp.


"Kenapa melihatku seperti ini?" tanya Mas Arif.


"Enggak apa-apa Mas, Rinda rindu dengan Mas Arif" kataku.


"Aku juga Rindu sayang" kata Mas Arif.


"Rin... Vano kan di rumah sama Ibu, barangkali mau keluar sendiri gak apa-apa Rin, nikmatilah hari-harimu" kata Mas Arif.


"Iya Mas, nanti kapan-kapan" kataku.


"Sudah dulu Rin, aku lanjut kerja ya, jangan menangis lagi ya, tersenyum ayolah" kata Mas Arif, kemudian aku tersenyum dan video call dimatikan.


Setelah selesai telpon Mas Arif aku berjalan keluar dari kamar tidur, kulihat Vano tidur di karpet dengan memegang remot tv, dan Ibu duduk di kursi ruang tamu, akhirnya aku menghampiri Ibu.


"Rin... sudah bangun?" tanya Ibu.

__ADS_1


"Iya Bu" kataku dengan wajah lebih ceria.


"Kamu sudah bersemangat hari ini" kata Ibu sambil menatap wajahku, kemudian aku duduk di kursi di depan Ibu.


"Iya Bu... Rinda berusaha berdamai dengan diri Rinda, belajar mengikhlaskan kehilangan anakku" kataku.


"Bagus Rin.. tetaplah bersemangat, tetaplah optimis untuk bisa memiliki anak lagi, jangan lupa banyak berdoa dan sholat malam ya?" nasehat Ibu.


"Iya Bu, Rinda selalu belajar kuat melewati kehidupan Rinda ini" kataku semangat.


"Bu... aku ingin keluar, jenuh di rumah" kataku.


"Mau keluar ke mana?" tanya Ibu.


"Mau jalan-jalan ke kota saja" jawabku.


"Kondisimu sudah enak ta? nanti ada apa-apa di jalan, istirahat dulu saja, kamu berjalan saja belum bisa seperti semula, pasti belum enak itu" kata ibu mulai mengomel.


"Bu... Bu... sebentar saja" kataku.


"Enggak Ibu ijinkan, dari pada ada apa-apa di jalan, kamu harus pulih dulu baru Ibu bolehkan keluar rumah" kata Ibu, aku hanya mendengarnya tanpa membantah.


Terasa ada yang menciumku, aku buka mataku ternyata Vano sudah ada di sampingku.


"Bunda... gak makan?" tanya Vano


"Iya sayang" kataku sambil mencium Vano dan memeluknya, anak memang segalanya, andai aku tidak ada Vano saat ini apa jadinya aku, pasti hidupku akan sepi.


"Ayo Vano kita makan, Bunda akan bangun sekarang" kataku kemudian aku bangun dari tempat tidur duduk di pinggir pembaringan dan menguap sebenarnya masih sangat mengantuk sekali, Vano sudah turun duluan dan berlari meninggalkanku, kemudian aku keluar kamar menuju meja makan.


"Bu... sudah pulang?" sapaku ke Ibu mertua.


"Iya Rin, kamu sudah menghubungi Arif?" tanya Ibu mertua.


"Iya sudah Bu, tadi" kataku sambil duduk di kursi meja makan.


"Rin... ayo makan" kata Ibuku.

__ADS_1


"Bu... masak apa?" tanyaku.


"Masak sayur bayam sama goreng ikan lele, ayam, tahu tempe ini Rin?" jawab Ibu.


"Vano suka bayam?" tanya Ibu mertuaku


"Suka nek, Vano makan sendiri" kata Vano


"Anak pintar" kata nenek, kemudian aku mengambil nasi untuk Vano juga untukku, demikian juga dengan Ibu dan Ibu mertuaku, kami makan bersama-sama.


"Bu... lebih lama tinggal disini, jadi rame rumah ini" kata Ibu mertua disela-sela kami makan.


"Lah gimana Bu dengan Bapaknya Rinda di sana" kata Ibu


"Bu... pulang nunggu Rinda mulai kerja saja ya? Ibu disini banyak membantu Rinda" kataku.


"Iya Rin" kata Ibu.


"Bagaimana kamu telp Arif tadi?" tanya Ibu mertuaku, aku tersenyum mendengar pertanyaan Ibu mertuaku, bingung jawab apa masak jawab Mas Arif bilang mau bikin lagi, hadew...


"Kok malah diam dan tersenyum-senyum Rin?" tanya Ibu mertua.


"Gak usah dijawab, yang penting Ibu tau kalian sudah berdamai, sudah saling mengikhlaskan kepergian anak kalian" kata ibu sambil tersenyum.


"Bukan begitu Bu?" tanya Ibu mertua ke Ibuku.


"Iya Bu, Rinda dari kemarin cuma nangis dan tidur begitu terus, baru kali ini melihat senyumanya, sudah Rin... sabar, ikhlas banyak doa pada Allah ya" nasehat Ibu.


"Bu... nanti sore biar saya yang memasak Bu" kata Ibu mertuaku


"Nenek... masak nasi goreng nek, Vano suka" kata Vano request makanan


"Iya Vano" kata Ibu mertua tersenyum melihat Vano


"Vano... adik Vano sudah tidak ada, Vano banyak berdoa ya biar Vano segera diberi adik lagi" kata Ibu


"Iya Mbah uti, Bunda... jangan bersedih terus" kata Vano

__ADS_1


"Iya Vano... Bunda sudah tersenyum kan? maafkan bunda kemarin-kemarin sampai tidak mengurusmu" kataku.


Setelah selesai makan siang, Ibu mertua membantu Ibuku membereskan meja dan mencuci piring dan lain sebagainya, melihat mereka hatiku rasanya damai, mungkin bila mereka bertemu di saat mudanya, mungkin mereka akan menjadi sahabat sampai tua.


__ADS_2