Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Kerikil-Kerikil Kecil


__ADS_3

Terbangun dari tidur


"Sudah mau sampai ya mas?" tanyaku


"Iya Rin" jawab mas Arif tersenyum dan memandangku


"Jangan memandang begitu mas, jadi malu aku" kataku


Mobil memasuki halaman rumah


"Ibu apa keluar ya, kok tidak ada sepedanya, cuma ada sepedamu Rin disini?" tanya mas Arif


"Mungkin menemui clientnya mas, biasa tante begitu" kataku


Kami keluar dari mobil, mas Arif menggendong Vano masuk ke kamar tamu aku mengikutinya dari belakang, kemudian mas Arif kembali ke luar untuk mengambil beras dan dibawanya ke dapur, aku menuju kamar mandi, berganti baju dan duduk santai di ruang keluarga, kulihat mas Arif keluar dari kamarnya terlihat habis mandi juga


"Di kamar ada kamar mandi mas?" tanyaku


"Ya ada Rin, berarti selama dua bulan kamu di sini gak pernah masuk kamarku ya?" katanya


"Iya hehehe" jawabku sambil tertawa


"Rin... kalau sudah sampai papua aku gajian lagi, aku nitip uang untuk acara pernikahan kita, mau ya?" tanyanya


"Kalau nitip boleh mas" jawabku


"Nantinya kalau kamu tidak mau aku bawa ke papua, aku pingin punya rumah sendiri Rin, kamu yang mengelola keuangan ya" katanya


Aku mengangguk


"Nantilah setelah acara pernikahan selesai, mikir untuk beli tanah" katanya lagi


Telepon berdering dari kamar mas Arif


"Mas hpmu bunyi" kataku


"Tolong kamu ambil Rin, angkat juga gak apa-apa, aku masih capek pingin tidur-tiduran begini" katanya


Aku masuk ke kamar mas


Arif, mengambil hp ada nama Risa di layar hp


"Mas... dari Risa siapa dia?" tanyaku dari kamar, hatiku sudah tidak enak sebenarnya


"Kamu angkat saja" kata mas Arif


"Halo... Assalamualaikum" sapaku


"Ini siapa?" tanya dari seberang

__ADS_1


"Saya Rinda" jawabku


"Loh ini kan hp nya kak Arif kok kamu yang bawa?" katanya


"Oh iya maaf, mas Arif masih capek sekarang tidur di sofa saya disuruh mengangkat hp nya, ada pesan untuk mas Arif?" tanyaku


"Aku pacarnya kak Arif, kamu siapa?


"Saya tunangannya mbak, sebentar lagi akan menikah" kataku


"Oh ya... oh... begitu ya, kamu merebut kak Arif dari ku, bermain dengan kak Arif ketika kak Arif pulang ke Jawa?" katanya dengan marah


"Maaf mbak sebelumnya mbak jangan berfikiran begitu dengan saya, saya mengenal mas Arif ini sudah lama, saya juga tidak merasa merebut dari siapapun, saya mengenal dan bersamanya sejak SMA, kalau mbak yang menjadi pacarnya mas Arif, berarti mbak datang setelah saya mengenal mas Arif, disini siapa yang merebut mas Arif?" tanyaku


"Bidadariku.... kok lama mengangkat telponya?" tanya mas Arif


Aku keluar kamar memberikan hp ke mas Arif


"Nih kekasih hatimu lagi kangen" kataku sewot lalu meninggalkan mas Arif berjalan ke halaman belakang, mas Arif mengikutiku dan hp nya sengaja di keraskan volumenya jadi aku mendengar pembicaraan mereka


"Risa... sudah aku bilang kita sudah tidak ada hubungan dan jangan menghubungiku lagi" kata mas Arif dengan nada kesal


"Tapi aku masih sayang kak Arif" katanya


"Kalau kamu sayang cinta sama aku, kamu juga bisa menjaga harga dirimu untuk aku, aku sudah tau kamu seperti apa di belakangku, apa perlu aku ungkapkan?" kata mas Arif


"Bidadariku yang cantik luar dalam, dia calon istriku, lusa kami menikah, jangan ganggu aku lagi" kata mas Arif dan menutup telponya.


Aku duduk di kursi taman belakang menangis disana, mas Arif sudah di sampingku melihatku dan memelukku


"Lepaskan aku mas" kataku


"Rinda... dengar penjelasanku" bisiknya


"Tidak perlu penjelasan lagi" kataku sambil melepaskan pelukanya lari ke dalam rumah, tapi lagi-lagi tanganku di tangkap mas Arif


"Rin... kalau kamu tidak mau mendengarkanku, masalah ini tidak akan selesai" katanya


"Rinda...duduk..." kata mas Arif dengan membentakku, kaget juga aku biasanya dia yang kalem bisa seperti itu, aku menurutinya untuk duduk di sofa.


Mas Arif berjalan menuju ruang makan mengambil air membawanya dan duduk di karpet meminum air dan meletakkan di meja sampingku


"Rinda... kalau kamu mau marah...marahlah, itu wajar" kata mas Arif


Aku masih diam saja


mas Arif duduk di bawah lagi memandangku menggenggam tanganku, aku masih diam saja


"Rin... kamu lihat cincin ini, Ini bertanda aku serius sama kamu" katanya lagi

__ADS_1


"Baru sekali ini aku memberikan cincin pada perempuan, maaf... setelah aku lulus SMA memang ada perempuan-perempuan lain yang mengisi hatiku termasuk Risa, Rinda... aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Risa, kamu mau percaya apa tidak terserah" katanya


aku masih diam saja tapi air mataku terus mengalir ke pipiku


"Rin..." katanya sambil duduk di sebelahku


"Aku tau kamu marah sama aku, dengan sikap diammu ini" katanya


"Sudah ya sayang jangan menangis lagi" katanya sambil mengusap air mataku, memandangiku menciumku dan memelukku erat


"Sayang... bidadariku, bicaralah" katanya aku masih diam seribu bahasa masih sakit hatiku


"Rin... kalau kamu diam terus aku akan menggodamu" bisik mas Arif, aku tetap saja diam, dia mulai meraba punggungku membuka resleting belakang bajuku


"Mas Arif ini apaan sih" kataku dengan nada marah


"He he he akhirnya bicara kan?" katanya sambil tertawa dan melepas pelukanya, aku menarik resleting bajuku ke atas, ku pukul mas Arif dengan bantal di sofa


"Kurang ajar ya mas ini" kataku masih terus memukulnya


"Sudah Rin, jangan pukul lagi" kata mas Arif sambil berjalan menghindari ku masuk ke kamarnya, dan tidur dengan santainya di kamar


"Hayoo... sini berani pukul lagi sama bantal" katanya menggodaku, aku lempar bantal ke arahnya dan keluar dari kamarnya berjalan ke belakang rumah


Tak lama kemudian mas Arif duduk di sampingku, kami masih diam tidak ada yang memulai bicara, dirangkulnya bahuku kepalaku disandarkan ke pundaknya


"Sayang... maaf ya" katanya pelan


"Rinda... " ucapnya dengan memegang kedua pundakku menatapku dan... mencium bibirku lembut, aku menikmati setiap rasa yang diciptakannya, dia melepaskan ciumannya memelukku dengan erat


"Rin... maafkan aku ya, kamu jangan diam begini" katanya


"Mas Arif berapa lama berhubungan dengan Risa, sudah kamu apain saja anak orang itu?" tanyaku


"Rin... apa perlu aku bercerita semua masa laluku? kalau itu nanti akan membuatmu semakin sakit hati? Rin... aku belum lama mengenal Risa tapi aku tau seperti apa dia, aku mencari perempuan yang baik, baik agamanya, baik hatinya dan yang bisa menjadi seorang pendidik bagi anak keturunanku nanti, dan kamu yang aku cari selama ini" kata mas Arif


"Kalau mas Arif sudah tidak ada hubungannya dengan Risa, kenapa Risa masih menghubungi mas?" tanyaku


"Rin... dia belum bisa menerima kenyataan aku putuskan, terus aku harus bagaimana?" tanyanya


"Walau begitu mas masih meladeninya kan? buktinya dia sering menghubungi mas" kataku


"Aku blokir saja ya nomernya" kata mas Arif


"Ya terserah mas mau blokir mau enggak itu semua dari niatmu sendiri bukan dariku" katanya


"Rin... maafkan aku ya?" katanya


"Iya" jawabku singkat

__ADS_1


__ADS_2