Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Senangnya Bertemu Ibu


__ADS_3

Pagi ini aku berangkat bekerja seperti biasanya, setelah mengantar Vano aku menuju ke kantorku, kehamilan ini memang tidak begitu menyusahkanku, hanya saja nafsu makanku semakin bertambah, dari rumah pasti membawa cemilan untuk di kantor.


Ibu mertua besok berangkat ke Jogja, rencana Ibuku mau ke rumah nanti sore diantar Bapak, ingin segera sore biar bisa bertemu dengan orang tuaku.


“Rin, kamu makan saja, sudah berapa bulan?" tanya Nia.


“Jalan kayaknya dua bulan deh, aku belum periksa juga, rencana besok biar ada Ibu yang menjaga Vano ”kataku.


“Sudah kelihatan sedikit gendut perutmu ”kata Nia.


“He he he” aku tertawa.


“Doakan lancar ya! ” pintaku.


“Iya Rin” jawab Nia.


“Rin, minggu besok itu pacarku mau ke rumah ”cerita Nia.


Aku kaget mendengar perkataan Nia dan bertanya,


Serius Nia?


“Iya Rin” jawab Nia.


“Alhamdulillah semoga sampai ke penghulu ya” kataku sambil tersenyum gembira.


"Aamiin, doakan ya" pinta Nia.


"Pasti" jawabku sambil tersenyum


“Rin, kamu gak ke kantin? ” tanya Nia.


“Malas Nia, nitip pesankan ke Mbah Yah ya, aku makan di sini saja sekalian juga sholat” kataku.


“Oke” jawab Nia.


Beberapa menit kemudian Mbak Yah masuk ke ruanganku membawa pesanan makanan untukku, dan aku membayarnya sekalian.


“Mbak nanti piring dan gelasnya aku bawa sekalian pulang ya?” tanyaku.


“Iya Bu Rinda, kalau warung tutup taruh di depan saja” kata Mbak Yah menjelaskannya.


Segera aku menikmati makanan dari warung Mbak Yah, Alhamdulillah gak rewel anak ini,


baik-baik ya sayang, tujuh bulan lagi kita bertemu, bisikku pelan sambil mengelus perutku yang sudah terlihat agak gendut.


Nia, Widya masuk ke ruangan, ketika aku menyelesaikan sholat duhur, aku buka mukenahku dan aku rapikan aku keanggotaan ke dalam tasnya.


Kami kembali menjalankan aktifitas rutin kami, Alhamdulillah laporanku sudah selesai kemarin, ya tepat waktu, semoga begitu juga begitu.


Waktu menunjukkan pukul tiga sore waktunya aku pulang.


“Ayo pulang Nia!” ajakku sambil berdiri dan membawa piring juga gelas.


“Iya, kamu duluan Rin, ini kurang sedikit nanggung kalau di tinggal ”kata Nia.


“Oke, semoga hari minggu menyenangkan ya ”kataku menggoda Nia.

__ADS_1


Nia tersenyum mendengarnya dan berkata, “Terima kasih Rin”


Aku keluar ruangan menuruni anak tangga menuju ke warungnya Mbak Yah, karena sudah tutup, seperti pesan Mbak Yah, piring, sendok, garbu dan gelas aku taruh di meja depan warung.


Menuju ke parkiran sepeda motor, mengambil sepeda motor dan menangani menuju ke Penitipan anak.


Sampai disana, mantanku menuju sepeda motornya dan melihatku.


Aku acuh tak acuh dengannya.


Dia menghampiriku.


“Bagaimana Rin, mau kan kembali lagi? Aku terus menunggumu ”katanya.


“Keputusanku tetap tidak mau ”jawabku.


Bagaimana kalau Vano ikut denganku? ” ancamnya.


“Enak saja, ayo bertemu di Pengadilan saja, biar Pengadilan memutuskan hak asuh anak, pasti yang menang juga aku, karena Vano masih balita” tantangku.


“Daripada kamu sama suamimu gak hamil-hamil lebih baik sama aku nanti pasti ada adiknya Vano" katanya.


“Lihat saja nanti pasti kamu tau kalau aku juga bisa dihamili suamiku” kataku dan aku pergi sentinya, rasa takut dengan mantanku itu, orang yang gak mau paksa saja, emosi saja, sabar ... sabar ... Rinda, ingat kamu sedang hamil jangan emosi kasihan anakmu, kata hatiku.


Sampai di ruang Penitipan anak.


“Vano ayo pulang mbah uti, pasti sudah di rumah" kataku.


Vano berangkat mengambil tas troly nya dan bersalaman dengan Ibu gurunya demikian juga denganku dan kami berpamitan untuk pulang.


Sampai di rumah.


"Sudah lama Bu?" tanyaku.


“Tadi jam dua sampai sini” kata Bapak.


“Anak perempuan ya Bu, memang begitu, putriku juga begitu, sedikit-sedikit menyuruh aku ke sana katanya kangen" kata Ibu mertua.


“He he he, Bu bisa saja” kataku sambil tertawa.


“Rinda pamit dulu ya, mau mandi dan ganti baju, sudah gerah” kataku sambil menuju ke kamar.


Ibu, Bapak, Ibu Mertua dan Vano berada di ruang tamu ngobrol dan bercanda terlihat akrab sekali.


Setelah mandi terasa segar sekali, saat berganti baju, terlihat perutku agak sedikit buncit, aku foto dan aku kirimkan ke suamiku dengan menulis pesan, perutku sudah terlihat sedikit he he he.


Aku mengambil wudhu dan sholat ashar di mushola, kemudian merapikan mukenahku dan bergabung dengan orang tua, anakku dan ibu mertua di ruang keluarga.


Kami saling bercanda.


“Ibu, sudah tau kalau Rinda sedang hamil?” tanya Ibu mertua ke Ibuku.


“Iya Bu, kapan hari Rinda mengabariku” jawab Ibuku.


“Aku senang sekali Bu, tahun ini pasti punya cucu dua aku, putriku juga sedang mengandung” cerita Ibu mertua.


“Selamat Bu” kata Ibu memberi selamat.

__ADS_1


“Bapak pulang dulu ya Rin, gak apa-apa Bapak sendiri di rumah sudah biasa” kata Bapak.


“Kok terburu-buru Pak, gak menginap di sini?" tanya Ibu mertua.


“Enggak Bu, masih ada yang saya kerjakan di rumah, lain kali saja” tolak Bapak Halus.


“Hati-hati ya Pak” pesanku.


Kami berdiri mengantar Bapak sampai di pintu pagar.


“Vano gak ikut Mbah kung?” tanya Bapak ke Vano.


Vano menggelengkan kepala dan tersenyum.


“Vano di sini saja sama Mbah uti, nenek dan Bunda” kata Vano.


Bapak menghidupkan sepeda motornya dan meninggalkan rumah mertua.


Sepeninggal Bapak, kami masuk kembali ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga.


“Rin, Ibu tadi membawakanmu urap-urap kesukaanmu loh" kata Ibu.


“Hmmm pasti enak, mana Bu, jadi lapar lagi” kataku.


“Eh anak Arif doyan makan he he he” celetuk Ibu mertua dan kami tertawa bersama.


“Mbah Uti bawa apa untuk Vano?” tanya Vano.


“Bawa telur asin kesukaanmu ”jawab Ibu.


“Asyiiik” teriak Vano.


Vano menghampiri Ibuku dan berkata dengan tidak sabarnya “Mana telur asinnya”


“Sabar, Mbah Uti ambilkan di tas ini” kata Ibuku.


Ibu mertua melihat pemandangan itu tersenyum bahagia.


“Aku naik ke atas dulu Bu, mau mandi juga siapkan yang mau bawa ke Jogja” pamit Ibu.


“Rinda, Vano makan yang banyak” pesan Ibu mertua kemudian meninggalkan meninggalkan kami menaiki tangga menuju kamar kamar, di kamar Ibu juga ada kamar mandi di dalam seperti di kamar Mas Arif.


Sepeninggal Ibu, aku membantu Ibu membuka dan menaruh urap-urap dan lain sebagainya ke wadahnya dan menyajikan di atas meja, kemudian kami duduk menghadap meja.


“Bu, Rinda sudah meneteskan air liur ini, hmmm pingin segera makan” kataku.


“Makan saja lah Rin, Ibu mertuamu juga sudah berpesan begitu tadi ”kata Ibu.


Segera aku mengambil piring.


“Bunda aku juga ambilkan piring” pinta Vano.


Aku mengambil piring dua untukku juga untuk Vano.


“Ibu gak makan?” tanyaku.


“Kamu saja yang makan, Ibu tadi berangkat berangkat sudah makan” jawab Ibu.

__ADS_1


“Hmmm nyummi ini pastinya” gumamku dan mulai menyantap masakannya Ibu.


__ADS_2