
Terbangun dari tidur, dengan tubuh yang sangat lelah, aku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh siang.
“Mas…ayo bangun” bisikku.
Bukannya bangun malah memelukku erat.
“Nanti saja, ayo tidur lagi, selagi tidak ada yang menganggu” katanya dengan mata terpejam.
Dan pada akhirnya aku tidur kembali mengikuti suamiku, mata ini memang sangat ingin untuk tidur kembali.
Beberapa saat kemudian terasa ada yang mencium buah dadaku, hmmm suamiku ini apa masa kecilnya tidak menyusui ibunya sampai ketika dia menikah selalu menyusui istrinya. Aku membuka mataku, benar-benar suamiku ini, kok bisanya melakukannya dengan mata terpejam.
“Mas… sudah siang, saatnya cek out” bisikku.
Suamiku membuka matanya dan tersenyum.
“Apa yang Mas lakukan?” tanyaku dengan senyumanku.
“He he he” jawabnya.
“Waktu kecil tidak pernah disusui Ibu ya?” tanyaku menggoda.
“Atau tadi sedang mimpi saat kecil?” kataku kembali.
Mas Arif tidak menjawabnya tapi memelukku dan menciumi wajahku kemudian bangun tidur.
“Ayo Mandi, kita berkemas kemudian sarapan di bawah dan cek out” ajak Mas Arif.
Aku membuka selimut yang menutupi tubuhku yang telanjang, turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi, wow ada bath up di situ.
Aku masuk ke dalam bath up dan aku nyalakan kran air, suamiku mengikutiku, kami masuk ke dalam bath up yang cukup untuk kami.
Saling memandang penuh dengan tatapan cinta. Dan kami menikmati ciuman dan sentuhan pada siang hari ini di kamar mandi di dalam bath up.
Kami keringkan tubuh kami dengan handuk kemudian keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk.
“Rin” panggil suamiku.
Aku menoleh dan di peluk erat tubuhku dari belakang kemudian kami menjatuhkan diri di atas sofa, kembali suamiku merangsang tubuhku dan kembali kami bercinta atas sofa.
“Love you honey” bisiknya ketika kami menyelesaikan percintaan ini.
Kemudian kami mandi kembali dan segera bersiap untuk cek out dan sarapan di bawah, ya…hotel ini memang tidak mengantar makanan di kamar tapi menyiapkannya di bawah untuk sarapan atau makan malam tamu hotel.
Selesai berkemas, berniat untuk keluar kamar, suamiku memandangku dengan tatapan penuh cinta.
“Kenapa? Minta lagi?” tanyaku.
“He he he, maunya biar cepet jadi anak” jawabnya.
Aku cubit pipinya lebih keras.
“Hmmm lama-lama gemesin” kataku.
__ADS_1
“Emang aku bayi apa?” jawab Mas Arif.
“Iya bayi, kalau tidur menyusu, apa coba kalau bukan bayi” kataku.
“Iya bayi besar” kataku kembali.
“Sudah ayo” ajakku.
Mas Arif mengikuti langkah kakiku menuju tempat sarapan hotel tersebut.
Mengambil makanan yang aku sukai demikian juga dengan Mas Arif. Kami menuju ke kursi dan duduk di sana, piring dan gelas berisi makanan kami taruh di atas meja, sambil menikmati makan siang, mataku melihat suasana di sekitarnya, aku sepertinya mengenal perempuan yang sedang duduk di pojokan sana? Apa dia? Tapi? Kenapa tidak mengenakan hijab? Wajahnya betul-betul mirip sekali. Ah sudahlah, kata hatiku.
Aku melirik suamiku, kemudian mengambil makanan dari piringnya.
“Kamu suka?” tanya Mas Arif.
“Baru mencoba, sepertinya enak” kataku sambil memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutku dan mengunyahnya kemudian merasakanya.
“Enak juga, mau lagi” kataku.
Mas Arif mengambil dari atas piringnya dan menyuapiku.
Kami saling pandang dan tersenyum.
Selesai makan, kami menuju ke meja resepsionis untuk melakukan cek out.
Aku lirik ke belakang seseorang yang mirip dengan Rista masih duduk di sana, kemudian dia berdiri, mungkin dia tidak mengetahui keberadaanku di sini.
“Maaf, kamu Rista?” sapaku saat kami sudah dekat.
Dia menoleh ke arahku dan tersenyum, memang sangat mirip dengan Rista.
“Kamu salah orang” jawabnya sambil tersenyum dan meninggalkanku yang masih terbengong.
“Rista, jangan membohongiku” kataku sambil berlari mengejarnya.
Dia berhenti dan berbalik ke arahku, aku memandanginya dari atas sampai bawah.
“Saat ini aku bukan Rista yang kamu kenal” katanya.
“Dimana anakmu? Kenapa kamu ke hotel sendirian? Apa kamu juga butuh laki-laki selama suamimu gak ada di sini?” tanya dia.
Pertanyaan yang sangat menyakitkan hatiku, dia pikir aku ini perempuan murahan.
“Rista… aku punya suami, dan aku ke sini juga dengan suamiku, terus kenapa kamu ke sini? apa juga menginap di sini? siapa lelaki itu?” tanyaku.
“Tidak ada urusannya denganmu” jawab Rista kemudian berlalu meninggalkanku masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan pelataran hotel.
Mas Arif mendekatiku.
“Siapa dia? Kamu kenal? Temanmu?” tanya Mas Arif bertubi-tubi.
“Mas, bisa mengikuti mobil tadi? Nanti aku jelaskan” kataku.
__ADS_1
Segera kami menuju ke mobil dan keluar dari pelataran hotel, jauh di depan masih terlihat mobil Rista.
Mau kemana dia, batinku.
“Siapa dia Rin?” tanya Mas Arif dengan pandangan fokus ke depan.
“Rista, aku penasaran sekali, siapa dia sebenarnya” jawabku.
“Hah.. Rista? Yang dekat sama mantanmu itu? Yang mau mendekati Vano?” tanya Mas Arif tak kalah terkejutnya.
“Iya” jawabku.
Jarak mobil kami semakin dekat.
“Mas, aku hanya mau tau dia mau kemana saja, kita ikuti saja” kataku.
“Loh, Rista mau ke mana? ini kan menuju luar kota” kataku.
“Bagaimana Rin, kita ikuti atau kita balik ke rumah embah?” tanya Mas Arif.
“Putar balik saja Mas, sudah biarkan saja, apa urusannya denganku, tapi aku kok ya penasaran dengannya ya?” kataku.
“Aku juga begitu Rin, kapan hari aku melihat dia memakai baju yang sepertimu, sekarang dia memakai baju yang begitu minim” kata Mas Arif.
“Mas tadi menikmati pemandangan itu ya?’ kataku sedikit cemburu.
“Bagaimana sih Rin, lah aku punya mata gak melihat bagaimana? ya jelas melihatlah, tapi yang jelas lebih sexy istriku ini” katanya.
Aku memonyongkan mulutku dan berkata “Gombalan mautnya mulai keluar, bilang saja menikmati keseksiannya” kataku lagi.
Mas Arif memandangku dan tersenyum.
“Sudah… jangan marah lagi, apa harus mataku ini aku tutup dan aku buka ketika bersama istriku lagi” katanya.
Perkataanya membuatku tersenyum dan tertawa.
“Ha ha ha, terus yang mengantarkan aku siapa kalau matamu tertutup?” tanyaku.
“Pak Dirman” jawab suamiku.
Hmmm, andai tidak menyetir sudah aku remas-remas pipinya.
Perjalanan menuju rumah embah, waktu menunjukkan pukul dua sore.
“Mas… sholat duhur di masjid depan Mas” pintaku.
“Iya Rin” kata suamiku.
Mobil perlahan minggir ke tepi jalan dan berbelok menuju masjid, kami turun dari mobil dan menuju ke dalam masjid kemudian melaksanakan sholat dhuhur, aku memakai mukenah milik masjid tersebut.
Setelah sholat kami berjalan beriringan saling bergandengan tangan.
Aku mendongak ke atas memandang wajah suamiku dan tersenyum manja.
__ADS_1