Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Bertiga


__ADS_3

Jam di dinding rumah mas Arif menunjukkan pukul sembilan malam, di ruang keluarga terlihat sepasang insan yang sedang bersantai menikmati waktu


"Mas..tante Rinda gak hubungi mas?" tanyaku


"Enggak ada pesan juga telpon aku Rin, kamu dihubungi enggak?" tanyanya


"Aku juga enggak mas, tidak biasanya tante belum pulang jam begini mas" jawabku


sebentar aku telpon ibu


"Halo... ibu dimana?" tanya mas Arif


"Maaf Rif gak sempat mengabarimu, ini ibu di jogja, Vera keguguran langsung ibu ke sana naik bus, gak lama kamu keluar tadi, ini sudah sama Vera" kata ibu


"Kondisi Vera bagaimana? aku kesana malam ini?" tanya mas Arif


"Vera baik-baik saja, tapi masih bersedih, butuh support dari keluarga, kamu di sana saja bersama Rinda, Vano" kata ibu


"Hati-hati bu, salam untuk Vera" kata mas Arif sambil menutup telpon


"Mas Arif biasa ya kalau telpon speakernya di keraskan?" tanyaku


"Biar tidak curiga kamu" jawabnya


"Vera keguguran mas?" tanyaku


"Iya, kasihan dia, belum punya anak sudah dua kali ini keguguran, mungkin terlalu lelah dengan aktifitasnya sebagai dokter muda, apalagi dia meneruskan kuliahnya ambil spesialis kandungan" kata mas Arif


"Rin kalau kamu ngantuk tidur dulu temani Vano, aku juga mau istirahat" kata mas Arif


Aku melangkah menuju kamarku menutupnya dan berbaring di samping Vano, mas Arif masuk ke kamarnya


*****


Di dalam kamar Arif, terlihat Arif belum bisa tidur, terlihat gelisah, waktu menunjukkan jam satu malam, Arif keluar dari kamarnya membuka pintu kamar Rinda, dilihat Rinda tidur pulas memeluk Vano, masih ada tempat tidur, aku tidur disini saja, sapa tau bisa tidur, pikir Arif, kubaringkan tubuhku di samping Rinda kupeluk dia dari belakang wangi tubuhnya membuatku terlelap tidur


*****


Adzan subuh berkumandang, membangunkan Rinda, merasa ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya dia membuka matanya, melihat ada tangan dan kaki memeluknya menoleh ternyata mas Arif, berat juga keluar dari pelukanya pikirku


"Mas Arif... bangun... bangun" kataku di telinganya.


"Kamu ngapain aku semalam" kataku.


"Ayo... bangun, ini berat aku gak bisa bangun" kataku pasrah.

__ADS_1


Bagaimana bisa bangun di tindih tangan dan kakinya, sedangkan aku kecil beratku cuma 45 kg tinggiku 156 cm, sedangkan Mas Arif tinggi 178 cm lebih beratnya mungkin 70 kg lebih, aku menggoyang-goyangkan tubuhnya tidak juga bangun malah bilang masih ngantuk dan lebih erat memelukku, aku merasa ada yang keluar dari dalam tubuhku, sepertinya aku lagi datang bulan, sudah pasrah saja, kalau sampai nembus seprei biar dia yang tanggung jawab pikirku akhirnya aku tidur lagi memeluk Vano dan Mas Arif di belakangku memelukku.


*****


Matahari sudah mulai naik, Vano bangun tidur melihat ayah dan bundanya masih tidur, dia turun dari tempat tidur melewati ayah bundanya dan mengambil susu kotak di tas bundanya melangkah menuju ruang keluarga melihat acara tv sambil meminum susu kotak dari sedotan


*****


Di dalam kamar Arif dan Rinda masih lelap tidurnya dengan posisi saling berpelukan, tak lama kemudian Rinda terbangun dari tidurnya.


"Mas Arif...." teriakku kaget langsung duduk di pembaringan, terlihat ada tetes darah di sprei.


Mas Arif kaget mendengar teriakanku.


"Kenapa?" tanyanya masih memejamkan matanya.


"Bangun... ini spreinya kotor" kataku.


"Aku gak ngapa-ngapain kamu" katanya lagi.


"Ayo bangun... Mas Arif kenapa tidur sini" kataku lagi.


"Gak bisa tidur semalam, melihatmu tidur pulas sama Vano jadi pindah kesini terus tidur aku.


"Darah apa?" tanyanya


"Ya darahku mas, subuh aku bangunkan gak bangun-bangun aku gak kuat melepaskan tangan dan kakimu jadi aku biarkan saja, akhirnya tembus di sprei" kataku


"Jorok juga kamu" kata mas Arif sambil bangun dan meninggalkan kamar, aku melepas sprei dan aku rendam di bak


"Yang bikin jorok juga sapa" kataku ke mas Arif dengan nada jengkel


Di belakang rumah aku mencuci sprei yang terkena darahku


"Rin... belum buat sarapan?" tanya mas Arif


"Belum... aku kan juga baru bangun, ini juga kan gara-gara mas kenapa tidur di kamarku" jawabku dengan nada jengkel yang aku lampiaskan dengan mengucek sprei lebih keras, laki-laki begitu ya tak tau disini sibuk, juga lapar, bangun kesiangan karenanya masih teriak tentang sarapan batinku


Kalau ada dia, mending kamar aku kunci saja, tapi kuncinya dimana? dari datang kesini tidak ada kunci juga grendel di kamar itu, pikirku, setelah mencuci sprei ku jemur spreinya di jemuran yang tidak jauh dari tempatku mencuci kemudian melangkah masuk rumah akan memasak.


Kulihat Vano duduk sendiri melihat tv


"Vano ayah Arif kemana?" tanyaku


"Keluar beli makan katanya begitu" kata Vano

__ADS_1


"Vano ayo mandi, bunda mandikan" kataku sambil mendekati Vano melepas bajunya dan memandikanya di kamar mandi


"dingin bunda" katanya


"Hei laki-laki harus kuat sama dingin" kataku


Setelah memandikan Vano membungkus tubuhnya dengan handuk dan menggendongnya kemudian memberi minyak telon ke tubuhnya dan memakaikan pakaianya, setelah selesai dengan urusan Vano aku mandi berganti baju dan duduk menemani Vano melihat tv.


Suara sepeda motor terdengar memasuki halaman rumah, mas Arif masuk membawa bungkusan makanan meletakkan di meja makan


"Ayo makan" katanya, aku dan Vano menuju meja makan, aku mengambil piring dan sendok menaruh di meja makan dan meletakkan makanan yang di beli mas Arif diatas piring, bertiga kami makan


"Enak Rin pecelnya?" tanya mas Arif


"Enak mas, makasih ya, beli di mana ini?" tanyaku


"Di pertigaan sana, kamu suka?" tanyanya


"Suka mas" kataku, setelah selesai makan aku membereskan meja dan duduk di sofa dengan mas Arif dan Vano


"Rin... kamu masih marah ya?" tanya mas Arif


"Dari tadi aku lihat tidak ada senyumanmu" kata mas Arif lagi


"Iya masih jengkel sama mas" kataku


"Kenapa?" tanyanya


"Kemarin sore sudah selesai masalahnya, kenapa mas malam-malam tidur di kamarku?" tanyaku


"Kan sudah kujelaskan aku gak bisa tidur sampai tengah malam, aku buka pintu kamarmu, aku lihat kamu tidur pulas, jadi aku tidur disana, terus tertidur, aku gak ngapa-ngapain kamu Rin, beneran, cuma memelukmu" jelasnya


"Kunci kamar ada di mana?" tanyaku


"Tanya sama ibu, aku gak bawa kuncinya" kata mas Arif


"Nanti aku pulang mas, daripada kamu apa-apain aku pas tidur" kataku


"He he he memang aku ngapain kamu? gak ada yang berkurang kan dari tubuhmu, loh ya masih cantik kan" kata mas Arif


"Ish... sana duduk sana dekat Vano, jangan dekat-dekat aku" kataku


"Rin... " katanya sambil memanyunkan bibirnya


"Apa? perlu aku pukul lagi? aku belum jadi istrimu, gak ada kewajibanku untuk itu" kataku sambil berlalu berjalan ke teras depan rumah, duduk di kursi memandang tanaman anggrek tante Linda

__ADS_1


__ADS_2