Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Jangan Ambil Anakku Ya Allah


__ADS_3

"Sayang... kamu baik-baik saja kan?" tanya mas Arif


"Iya mas" kataku


"Mas... aku mau istirahat" kataku mengalihkan pembicaraan


"Ya sayang, istirahatlah, jaga kehamilanmu" kata mas Arif dan aku menutup video call


Kemudian aku menangis apalagi mendengar ucapan suamiku untuk menjaga kandunganku, mas... maafkan aku, aku tidak baik menjadi istrimu, aku tidak bisa menjaganya batinku dan aku terus menangis


nak... apakah kamu tidak menginginkan ikut bersamaku juga ayahmu? apa kamu tidak ingin bermain dengan kak Vano, lihatlah nak kakakmu dia juga ingin bermain denganmu, aku terus menangis sampai lelah dan aku tertidur.


Pagi hari aku membuka mata, Vano sudah tidak ada di tempat tidur, perutku semakin sakit, aku berjalan tertatih keluar kamar, kulihat Vano melihat acara tv dan ibu memasak, "bu... " panggilku


"Rinda... kamu pucat sekali" kata ibu dan mematikan kompor menghampiriku, kami duduk di sofa ruang keluarga


"Rinda... ayo ke rumah sakit" kata ibu


Kemudian naik keatas tak lama kemudian turun lagi, dan keluar rumah sepertinya mengeluarkan mobil dari garasi, tak lama kemudian ibu kembali dan menggandengku keluar


"Rinda... apa yang terjadi?" tanya ibu dengan wajah cemas


"Bu... semalam banyak keluar darah, pagi ini perut bawahku semakit sakit bu" kataku


Sambil berjalan beriringan dengan ibu kemudian masuk ke mobil, ibu masuk ke rumah membawa Vano kemudian Vano masuk ke mobil duduk di sampingku, ibu segera menghidupkan mobil, meluncur menuju rumah sakit, sampai rumah sakit ibu turun duluan masuk ke ruang igd tak lama kemudian ibu kembali bersama dengan perawat dan perawat tersebut mendorong drangkar, menghampiri mobil, aku diangkat ke atas drangkar tersebut, kemudian di dorong masuk ke ruang igd, tubuhku sudah berkeringat dingin menahan sakit, ya Allah... jangan ambil anakku batinku dan aku menangis, sampai di ruang igd aku diperiksa oleh dokter Lisa


"Bu... maaf anak ibu sudah tidak ada di kantung kehamilan, segera dilakukan curet" kata dokter Lisa, aku tidak tau harus bicara apa aku menangis di ruang igd, ibu dan Vano menghampiriku


"Bu... maafkan Rinda... Rinda tidak bisa memberimu cucu, anak ini sudah tidak ada" kataku dengan isak tangisku


"Sayang... jangan bilang tidak bisa, belum rejeki kalian, sabar ya?" kata ibu


"Hubungilah Arif, ini ibu bawa hp ibu" kata ibu memberikan hp nya


"Bu... mas Arif nanti kecewa sama Rinda dan meninggalkan Rinda seperti dulu" kataku terisak


"Sayang.... jangan bilang begitu" kata ibu, kemudian ada perawat yang datang

__ADS_1


"Bu... permisi mau ambil darah ibu" kata perawat tersebut kemudian menyuntik di lenganku mengambil darahku


"Bu setelah ini pindah di ruang persalinan, tapi kami pasang dulu infusnya" kata perawat tadi, tak lama kemudian perawat tersebut memasang infus, dan mendorong drangkar tempatku berbaring ke ruang persalinan


"Nenek, kenapa bunda" tanya Vano pada ibu yang mengikutiku dari belakang


"Bunda lagi sakit, Vano pinter ya" kata ibu


Tak lama kemudian sampai di ruang persalinan


"Ibu nunggu disini dulu, sekitar dua jam lagi masuk ruang operasi" kata perawat tersebut meninggalkanku, kemudian berbalik lagi


"Bu... bisa melepaskan bajunya juga perhiasan yang menempel di tubuh ibu?" kata perawat


"Kalau sakit disini saja melepas bajunya, aku bantu" kata mbak perawat


"Iya terima kasih" kataku pelan dan aku melepas semua bajuku, aku taruh di sampingku, ibu datang bersama Vano menghampiriku


"Bu... ini baju Rinda juga ini cincin dari mas Arif, Rinda nitip ya" kataku dengan nada sedih


"Rin... kamu yang kuat, yakinlah semua ini pasti rencana yang terbaik untuk kalian" hibur ibu


Aku menelpon mas Arif dari hp ibu mertuaku


"Ibu... ada apa?" kata mas Arif dari seberang


"Mas... ini Rinda" kataku dan menangis lagi


"Sayang ada apa?" tanya mas Arif


"Mas... maafkan Rinda, Rinda tidak bisa menjaga anak kita" kataku dan menangis menjadi-jadi


"Maksudmu apa sayang, jangan menangis" kata mas Arif panik


"Anak kita sudah tidak ada, aku semalam pendarahan ini sudah di rumah sakit mau curret" kataku pelan


"Innalillahi wainailaihirojiun" kata mas Arif dan telpon tidak terdengar suara mas Arif

__ADS_1


"Mas...maafkan Rinda" kataku


"Aku pulang sekarang" kata mas Arif


"Mas... gak usah... kalau ada apa-apa pada operasi Rinda mas pulanglah, Rinda tidak apa-apa" kataku


"Rinda... jangan bilang begitu, aku tidak ingin kamu kenapa-napa" kata mas Arif


"Mas... doakan Rinda baik-baik saja" kataku


"Sudah dulu mas" kataku terisak menangis dan menutup telpon.


Ibu mertuaku menghampiriku


"Rinda... kamu harus kuat, lihat masih ada Vano, masih ada Arif di kehidupanmu" kata ibu


"Tapi bu... kenapa Allah memberiku dan secepat ini mengambilnya" kataku dan masih menangis


"Sudah... jangan menangis lagi, kamu harus kuat Rinda, yakinlah pasti ada rencana Allah yang indah untuk kalian, ayo hapus air matamu" kata ibu menghiburku


Telpon dari hp ibu mertuaku berbunyi kembali


"Iya Rif... aku sama Rinda, doakan saja semoga operasinya lancar, kalau ada apa- apa ibu akan mengabarimu, kamu mau ngomong sama Rinda?" kata ibu, kemudian hp diberikan kepadaku


"Mas... " kataku dengan menangis


"Rin... sudah jangan menangis lagi, anak kita sudah tidak ada, kamu harus merelakan, mengikhlaskan" kata mas Arif


"Dua minggu lagi aku pulang, aku ingin bertemu denganmu, aku ingin melihat senyummu lagi" kata mas Arif, perawat datang ke ruanganku, "bu waktunya masuk ruang operasi" kata perawat


"Mas... sudah dulu" kataku kemudian memberikan hp ke ibu mertuaku dan drangkar didorong perawat ke ruang operasi, ibu dan Vano mengikutiku dari belakang.


Sampai di depan ruang operasi aku memandang ibu dan Vano dengan pandangan cemas, kemudian aku didorong masuk ke ruang operasi, aku tidak pernah masuk ke ruangan seperti ini, ada lampu besar dan peralatan medis lainya, aku mau diapakan nanti, pikiranku cemas, ada petugas menghampiriku, aku berpindah dari drangkar ke tempat tidur operasi, petugas perempuan tersebut menyiapkan kelengkapan


"Bu... kakinya diangkat ditaruh di sini ya" kata petugas tersebut, aku menurutinya walaupun malu dengan posisi seperti itu, setelah mbak petugas tersebut selesai menyiapkan semuanya kemudian keluar meninggalkan aku sendiri, dingin sekali ruangan ini batinku, aku menggigil dan terbatuk-batuk, tak lama kemudian ada laki-laki yang sepantaran denganku masuk mendengarkanku terbatuk-batuk


"Mbak lagi batuk dan flu?" tanya petugas laki-laki tersebut, sebenarnya aku sangat tidak nyaman dengan posisi seperti ini dilihat oleh laki-laki lain

__ADS_1


"Enggak Mas, alergy sama dingin, ac nya dingin sekali" kataku, kemudian mas tersebut menyuntik ke infusku yang berada di tanganku, aku mulai menguap dan sudah tak sadarkan diri, tak tau apa yang terjadi denganku selanjutnya.


__ADS_2