
Setelah Vano tidur di kamarnya, aku menyelimuti Vano mencium pipinya kemudian keluar dari kamar Vano, dan pintu aku tutup, mengunci pintu pagar dan pintu rumah, mematikan beberapa lampu, baru menuju ke kamarku untuk merebahkan tubuhku, sepi sekali rumah ini, besok ibu baru kembali ke sini.
Rasanya nyaman sekali tubuhku ini, sembari mengusap perutku yang semakin terlihat membuncit, mataku mulai mengantuk, padahal masih jam delapan malam.
Tiba-tiba telpon dari hpku berdering, segera aku angkat video call dari Mas Arif.
"Assalamualaikum," sapaku.
"Waalaikum salam," jawab Mas Arif.
"Sudah tidur Vano?" tanya Mas Arif.
"Iya sudah Mas, ini Rinda di rumah sendiri, Ibu pulang ke rumah bareng Faris tadi." Ceritaku.
"Gak balik ke rumah?" tanya Mas Arif.
"Iya besok sore," jawabku.
Aku memandang wajah suamiku.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Mas Arif heran.
"Membayangkan wajah anak kita nantinya he he he," kataku dan tertawa.
"He he he." Kami tertawa bersama.
Lalu Mas Arif bertanya. "Ibu masih di Jogja ya?"
"Iya Mas, katanya 2 minggu lagi pulang, Vera ngeflek lagi," jawabku.
Terlihat ada raut wajah kecewa dan Mas Arif bertanya. "Terus kondisi Vera bagaimana?"
Aku menceritakan apa yang diceritakan Ibu mertuaku kepadaku tadi sore. "Tadi bilangnya baik-baik saja Vera Mas, tapi Ibu mau memeriksakan Vera"
"Semoga baik-baik saja Vera." Harap Mas Arif.
Mas Arif kembali memandangku dan berkata. "Rin, aku mau lihat perutmu, kapan aku bisa mengusap perutmu, merasakan kehadiran anak kita"
"Sabar Mas, 5 minggu lagi, kita pasti bertemu." Ucapku menyemangati suamiku.
Aku mengarahkan kamera hp ke arah perutku sembari berkata. "Sudah lumayan membuncit ya Mas perutku"
"Iya Rin, sudah ada gerakan belum?" tanya Mas Arif.
Aku tersenyum dan menjawab pertanyaan Mas Arif. "Ya belum Mas, sebulan lagi baru ada gerakannya"
"He he he." Kami tertawa bersama.
"Oh iya Mas, Faris hari minggu tunangan, tapi aku tidak bisa ikut, Fina rumah orang tuanya Ponorogo, jauh juga Mas dari sini," kataku.
"Iya Rin, sayangnya aku tidak bisa ikut," kata Mas Arif dengan raut wajah kecewa.
"Mungkin berangkat dari sini Mas, kan seserahannya Rinda yang hias, tadi pagi di bawah ke sini sama Faris, mungkin juga akan bawa mobil Ibu." Ceritaku.
"Iya gak apa-apa, apa kamu sudah menceritakan ini pada Ibu?" tanya Mas Arif.
"Sudah Mas, Ibu membolehkan," jawabku.
"Rin, ternyata Deni sama Yusuf tertarik sama Nia dan Widya," kata Mas Arif.
"Yang mau sama Nia dan Widya siapa?" aku bersemangat bertanya.
"Deni tertarik sama Nia, sedangkan Yusuf sama Widya, setelah ini kamu kirim nomer hp mereka ya, sapa tau jodoh," kata Mas Arif.
"Semoga saja ya Mas," jawabku.
"Rin... aku rindu," kata Mas Arif.
"Aku juga Mas," jawabku.
__ADS_1
Kami saling memandang wajah masing-masing dari layar hp.
Kemudian saling tersenyum.
"Love you my wife," kata Mas Arif.
"Love you too my hubby," jawabku.
"Rin, sudah dulu ya" kata Mas Arif.
"Iya Mas, Rinda juga mau tidur, Assalamualaikum" kataku akan mengakhiri percakapan kami.
"Waalaikum salam, " jawab suamiku dan telpon di matikan.
Semoga Nia dan Widya ada jodoh sama Deni dan Yusuf, gumamku.
Mataku semakin mengantuk, dan aku mulai memejamkan mata.
Keesokan harinya.
"Bunda... lapar," kata Vano membangunkanku dari tidur.
Aku membuka mata dan bertanya. "Jam berapa sekarang?"
Vano menciumi pipiku lalu membisikiku. "Baru jam enam Bunda."
"Bunda gak sholat subuh jadinya." Aku terkejut.
Segera beranjak dari tempat tidur dan keluar menuju dapur, Vano berjalan mengekor di belakangku.
"Vano mau makan apa?" tanyaku.
"Tumben jam segini lapar?" tanyaku lagi.
"Iya semalam gak makan, Vano kan tidur sebelum makan." Jawab Vano.
Aku buka kulkas, ada nuget ayam.
"Iya." Jawabnya.
Aku mengambil nuget dan menggorengnya setelah matang kemudian mengambil piring dan nasi serta nuget untuk kuberikan kepada Vano sebagai sarapannya.
Sedangkan aku membuat susu dan sarapan roti.
Hp dari kamar berbunyi, siapa pagi-pagi gini telpon.
Melangkah ke kamar sambil membawa susu dan roti kemudian aku letakkan di meja nakas dan mengambil hpku.
Dalam hatiku, tumben sekali Nia pagi-pagi telpon. Lalu aku angkat.
"Assalamualaikum Rin," salam Nia.
"Waalaikum salam," jawabku.
"Tumben banget kamu sepagi ini telpon, ada apa?" tanyaku keheranan.
"Nia, Mas Deni baru saja telpon aku, kamu yang ngasihkan?" tanyanya.
"Ya enggak lah, kan aku gak kenal sama dia," godaku.
Dalam hati cepat sekali Mas Deni beraksi, pagi-pagi sudah mulai pendekatan he he he.
"Suamimu kamu beri no hpku?" tanya Nia kembali.
"He he he, iya. Fotomu juga," jawabku.
"Kenapa? ada tertarik enggak kamu sama dia?" tanyaku.
"Eh, iya sih he he he," jawab Nia seperti malu-malu gitu.
__ADS_1
"Ya sudah di lanjut saja pendekatanya," kataku.
"Terima kasih ya," jawab Nia.
"Ibumu di situ Rin," tanya Nia.
"Enggak, Ibu pulang kangen sama Bapak he he he," jawabku.
"Masih kangen-kangenan juga Ibu dan Bapakmu, kalah kamu yang muda he he he," kata Nia meledek.
"Iya Nih he he he," kataku kemudian tertawa.
"Rin, aku nanti ke rumahmu ya, boleh?" tanya Nia.
"Wah... dengan senang hati, ayo segeralah ke sini, bisa bantu aku masak juga mempercantik seserahanya Faris adikku untuk lamaran minggu depan," jawabku.
"Oke, aku kesana, kamu nitip belanja apa? aku dengan senang hati membantu loh, aku tau sejak kamu hamil jadi mager banget," kata Nia.
"He he he, tau aja kamu, aku nitip susu hamil sama susunya Vano, habis ini aku kirim gambarnya biar tidak keliru, oh ya sama roti." Pesanku ke Nia.
"Oh iya Nia, kalau mau nanti kamu nanti tidur sini, sekalian bawa baju gantimu." Ajakku
"Oke, aku tunggu Rin, sudah dulu ya. Assalamualaikum," kata Nia.
"Waalaikum salam," jawabku dan telpon aku matikan.
Kembali mencelupkan roti ke dalam segelas susu dan memasukkan ke mulutku sedikit demi sedikit sambil memandang wajahku, terlihat cubi pipiku, naik berapa kg ya kira-kira, batinku.
Aku berdiri melihat perutku dan mengusapnya, "Baik-baik ya sayang di dalam perut Bunda." Gumamku.
Kembali aku duduk dan menatap hpku, ah telpon Mas Arif saja.
"Assalamualaikum suamiku," salamku ketika telpon diangkat, aku lihat Mas Arif sedang berbaring di kasurnya.
"Waalaikum salam istriku," jawab salamnya dan tersenyum.
"Tumben telpon aku pagi-pagi?" tanya Mas Arif heran.
"Iya sedang kangen sama suamiku, he he he," jawabku dan tertawa.
Mas Arif tersenyum memandangku.
"Aku juga sayang," katanya.
Aku mulai bercerita.
"Mas, temanmu Mas Deni, cepat sekali pendekatanya."
"Pagi ini Nia menghubungiku, kata Nia, baru saja di hubungi Mas Deni dan Nia ada ketertarikan sama Deni."
"Semoga ada jodoh ya, kalau Yusuf bagaimana? apa juga sudah menghubungi temanmu yang satunya?" tanya Mas Arif.
"Belum Mas," jawabku.
"Sudah dulu Mas," kataku sambil menutup mulutku dan segera masuk ke kamar mandi.
Huek huek, aku mulai mual dan muntah tapi tidak ada makanan yang keluar cuma cairan saja, setelah lumayan enak aku keluar lagi dan duduk di depan meja nakas.
Kulihat hpku belum dimatikan panggilan video call.
Aku lihat wajah suamiku khawatir dan dia bertanya kepadaku.
"Rin, tadi kamu kenapa?"
"Biasa Mas mual, muntah, tapi gak apa-apa," jawabku.
"Sudah dulu ya Mas, mau nemani Vano juga masak." Pintaku.
"Iya, hati-hati ya, Assalamualaikum," kata Mas Arif.
__ADS_1
"Waalaikum salam," jawabku.
Kami saling pandang dan tersenyum ketika video call belum di matikan.