Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Bisik-Bisik Tetangga


__ADS_3

"Bunda... Vano boleh main sama om Arif" tanyanya dengan melas seakan ingin aku menyetujuinya.


"Vano dirumah saja ya" jawabku


Terlihat wajah kecewanya.


"Rin... jangan begitulah, kasihan Vano ingin bermain di luar tak kamu perbolehkan" bela Mas Arif.


"Bukan tak boleh Mas, tapi Vano kan baru sembuh dari sakitnya, aku takut dia sakit lagi" jawabku.


"Kalau ke toko mainan boleh? dekat sini saja" pinta Mas Arif.


"Biar aku sendiri sama Vano, kamu di rumah saja mengerjakan aktifitasmu" lanjutnya.


"Vano mau sama Om Arif tanpa Bunda?" tanyaku, Vano diam saja.


"Sama Bunda juga" rengeknya.


"Tapi sebentar ya!" jawabku.


Menuju toko mainan.


"Bunda, Vano mau itu..." dia menunjuk salah satu mainan.


"Mahal Vano, Bunda gak ada uang" jawabku


"Kalau yang itu, boleh" tunjuk Vano sambil memandangku dengan tatapan polosnya dan


aku jawab.


"Boleh"


Ketika mengambil mainan dan membawa ke kasir tiba-tiba dari sampingku muncul mas Arif membawa mainan yang diminta Vano tadi.


"Ini buat Vano dari Om Arif ya" katanya.


Vano terlihat senang sekali dan memegang-megang mainan yang dibawa Mas Arif.


"Rin, tak usah" kata mas Arif sambil menggelengkan kepalanya, ketika aku akan membuka dompet untuk membayar.


"Biar aku yang membayarnya" lanjutnya


"Maaf merepotkanmu Mas, terima kasih banyak" jawabku.


"Setelah ini kita langsung pulang ya?" pintaku.


"Kasihan Vano" lanjutku.


Mas Arif menganggukkan kepala dan kami menuju mobil.


Dalam perjalanan, Vano asyik dengan mainanya, aku dan Mas Arif masih terdiam membisu hanya hati kita yang berbicara.


Kulihat dari belakang Mas Arif curi-curi pandang melalui kaca dalam mobil, kulihat dia tersenyum.


"Rin... diam saja, ceritalah apa saja seperti kamu dulu, aku lihat sekarang kamu banyak diamnya, apa kamu takut denganku? apa kamu kira aku ini hantu yang setiap hari mendatangimu" katanya sambil tertawa.


"Bisa saja Mas Arif" kataku.


"Rin... aku serius ini sama kamu, wa ku semalam bukan main-main, bukan bercanda" katanya.

__ADS_1


"Mas... aku takut Mas?" kataku.


"Apa yang kamu takutkan Rin?" tanyanya.


"Aku takut ketika aku bahagia dan berharap banyak denganmu, Mas pergi meninggalkanku lagi seperti dulu, Mas... menahan rindu itu sakit, menahan ketidakpastian itu lelah" kataku.


"Aku janji Rin, selalu bersamamu walaupun jauh" katanya.


"Mas... tapi saat ini aku tidak bisa?" kataku.


"Kenapa?" tanyanya.


"Aku masih masa iddah, apa kata orang-orang? apa kata mantan suamiku?" jelasku.


"Aku paham Rin? kurang berapa lama massa iddahmu? tanyanya.


"Kurang dua bulanan mas" jawabku.


"Loh... berarti kamu baru bercerai?" tanya Mas Arif.


"Iya... awal bulan kemarin baru turun akta ceraiku" jelasku.


Sampailah kami di rumah, Vano turun dari mobil dengan semangatnya menunjukkan mobil kepada kedua orang tuaku.


"Mbah uti, Mbah kung bagus ya, tadi dibelikan Om Arif" katanya dengan malu-malu.


Kami masuk ke ruang tamu, berdua aku dan Mas Arif di ruang tamu, Vano sibuk bermain di ruang keluarga.


"Rin... minggu depan aku balik ke Papua, ijin cutiku sudah selesai, kamu gak pa pa kan aku tinggal?" kata Mas Arif.


"Loh kok cepet Mas?" tanyaku.


Aku tersipu malu mendengar ucapanya.


Ah...bisa saja mas Arif ini membuatku malu dan jatuh cinta kesekian kali padanya batinku.


"Bukan begitu Mas" kataku malu.


"Tapi..." kataku dan dipotong Mas Arif.


"Tapi apa Rin?" tanyanya sambil memandangku, aku tertunduk malu.


"Nanti gak balik lagi gak ada kabar lagi" jawabku.


"Lihat saja nanti Rin" jawabnya.


"Aku pamit dulu, kamu istirahat saja, senin aku jemput lagi" katanya.


Mas Arif meninggalkan rumah orang tuaku, kulanjutkan aktifitasku mencuci baju beres-beres rumah dan bermain dengan Vano.


"Eh kamu lihat gak beberapa hari ada mobil di rumah janda baru itu" kata Ibu Dwi


"Hati-hati nanti suami-suami kita diembat lagi sama dia" kata Ibu Dyah


Aku mendengar omongan ibu-ibu itu rasanya nyesek sekali hati ini


"Bu maaf, ibu kalau ngomong yang enak jangan fitnah terus, kalau Ibu gak tau kenyataanya jangan bigos deh itu bisa jadi fitnah Bu" ucapku ke ibu tersebut dan langsung pergi meninggalkan mereka, tapi aku masih terdengar omongan mereka.


"Tuh lihat dia marah, kalau tak ada apa-apa kenapa marah begitu ya..." kata Ibu Dwi

__ADS_1


"Jangan-jangan dia jadi istri simpanan ya" timpal Ibu Dyah.


Ya Allah sabarkan hati hamba ini dari nyinyiran orang-orang itu, aku juga gak mungkinlah menolak Mas Arif datang ke rumah, toh sekarang hubunganku dengan dia masih tahap awal belum tau ke depan seperti apa, bisa jadi dia pergi tanpa jejak lagi.


Masuk ke rumah langsung masuk kamar menangis, Ibu mendatangiku


"Ada apa lagi Rin?" kata Ibu


"Ibu-Ibu komplek itu Bu" kataku sambil menangis.


"Kenapa? kamu cerita" lanjut Ibu


"Bu seorang janda itu apa gak baik? kenapa orang-orang bilang begitu? mereka sampai bilang suruh hati-hati pada suaminya takut suka aku, bilang aku istri simpanan orang" curhatku


"Rinda, mereka cuma melihat dari luarnya saja, mereka tidak tau bagaimana dalammu, Ibu percaya kamu tidak seperti yang mereka tuduhkan" jelas Ibu.


"Masak Mas Arif ke sini mereka bilang aku simpananya, Mas Arif saja belum punya istri!" lanjutku.


"Ya itu karena mereka tak tau tentangmu jadi ngomong semaunya, gak usah diambil hati, yang penting kamu tidak seperti itu" hibur Ibuku.


"Gak mungkin juga Bu aku melarang Mas Arif kesini, toh sebentar lagi dia juga kembali ke Papua" jelasku.


"Gak usah didengar omongan orang-orang yang penting kamu tidak melakukan, biar waktu yang menjawab" nasehat Ibu.


"Vano... lagi main apa?" tanyaku ke Vano.


"Main mobil-mobilan yang tadi dibelikan Om Arif" jawabnya.


"Vano...kamu suka sama Om Arif?" tanyaku.


"Suka Bunda, enak jalan-jalan naik mobilnya Om Arif" katanya.


"Tapi Om Arif akan pergi jauh dan lama tidak kesini, gak apa-apa kan?" jelasku.


"Kok pergi jauh? kenapa?" tanyanya.


"Ya kerja Vano, Om Arif kerjanya jauh dari sini, ke sana naik pesawat" jelasku.


"Waw naik pesawat" kata Vano dengan berseri.


"Enak ya bisa naik pesawat, Bunda ngajak Vano naik pesawat kapan?" tanyanya.


"Memang mau ke mana Vano?" tanyaku.


"Ke Om Arif" jawabnya.


Ada-ada saja ini anak, padahal baru beberapa hari bersama mas Arif tapi seakan sudah lama dan tampak akrab.


Telp dari dalam kamarku berbunyi


segera aku tinggalkan Vano menuju kamar untuk mengambil hp, kulihat dari layar Mas Arif yang telp.


"Assalamualaikum" sapaku pelan.


"Waalaikumsalam, Rin besok aku ke rumah ya, mau ajak Vano ke pantai boleh?" katanya.


"Mas... apa gak ada tempat lainnya? pantai anginya begitu khawatir, entar Vano sakit lagi!" jelasku.


"Kalau ke Kebun Binatang bagaimana?" tanyanya.

__ADS_1


"Boleh boleh tapi nanti Vano mas yang gendong kalau capek" pintaku.


__ADS_2