
Mobil melaju menuju Penitipan anak sekaligus sekolahnya Vano, kemudian mobil menuju ke kantorku.
"Mas... nitip jaga Vano ya nanti" kataku sambil membuka sabuk pengaman.
"Iya sayang" jawab mas Arif dan mencium pipiku
"Aku kerja dulu mas" pamitku dan menyalami mas Arif kemudian mencium pipi kanan dan kirinya dan membuka pintu mobil,
Aku melambaikan tanganku ke arah mas Arif yang akan membawa mobil meninggalkanku.
"Hati-hati Rin" kata mas Arif dari dalam mobil yang kacanya dibuka.
Setelah mobil meninggalkankan parkiran aku berjalan menuju kantorku dan menaiki tangga satu demi satu, sampai di kantor masih belum ada yang datang, kulihat jam di dinding menunjukkan pukul delapan kurang seperempat, aku nyalakan komputer, aku tunggu beberapa saat sambil membuka map di mejaku dan mulai aku menginput data penjualan.
"Pagi Rinda, rajin banget" sapa Nia
"Kamu tau sendiri, dua bulan kebanyakan cuti, pekerjaanku seperti ini menumpuk kayak gunung anakan, besok harus selesai Nia, terima kasih sudah banyak membantuku kemarin-kemarin" kataku sambil menginput data.
"Kamu nanti lembur?" tanya Nia sambil meletakkan tasnya di sisi samping mejanya.
"Iya Nia" kataku singkat karena aku fokus pada angka-angka nominal uang yang aku ketik
"Vano siapa yang njaga?" tanya Nia lagi
"Sama mas Arif" kataku
"Kamu lanjut saja Rin" kata Nia, kemudian aku lebih serius dan fokus pada pekerjaanku
Waktu istirahat ketika aku berniat untuk menuruni tangga ada kurir yang datang
"Ibu Arinda ada?" tanya kurir tersebut
"Oh iya saya pak, ada kiriman untuk saya?" tanyaku dengan wajah heran
"Ini ada kiriman makanan dari pak Arif silahkan diterima" kata kurir tersebut sambil menyerahkan bungkusan ke aku
"Oh ya terima kasih, berapa uangnya?" tanyaku sambil menerima bungkusan tersebut
"Sudah di bayar sama pak Arif bu" jawab kurir tersebut kemudian berbalik menuruni tangga demikian juga denganku.
Setelah sholat duhur, aku beristirahat termasuk Nia, biasanya di habiskan di kantin untuk makan siang, tapi kali ini aku tidak ikut, karena sudah dapat kiriman makanan dari suamiku, akhirnya aku naik lagi ke tangga untuk kembali ke kantorku dan makan makanan kirimanya mas Arif.
Sampai di meja kerjaku kubuka bungkusan tadi, ternyata nasi padang dengan ikan rendang, aku ambil hp dari dalam tas ku berniat untuk menelpon suamiku, video call diangkat suamiku, ternyata mas Arif lagi tidur-tiduran di kamar
__ADS_1
"Mas, makasih kirimanya, ini Rinda mau makan'" kataku
"Enak gak Rin?" tanya mas Arif
"Lumayan enak" jawabku
"Sudah lanjutkan dulu makanya, juga kerjanya, biar lemburnya tidak lama-lama, setelah jemput Vano aku ke tempatmu" kata mas Arif kemudian menutup telponya
Satu persatu teman kerjaku kembali ke kantor
"Wih... enak banget dapat kiriman dari suamimu" kata Nia
"Makanya segera nikah biar lebih perhatian" kataku
"Suami idaman itu Rin suamimu, hati-hati di rebut pelakor apalagi kerja jauh" kata widya
"Hust jangan jadi kompor deh" kataku
"Kalau dia mau cari perempuan lain kayaknya gak mungkin deh, sepuluh tahun pergi tanpa kabar, sudah berkelana dari hati ke hati perempuan, eh ujung-ujungnya nyari aku juga" kataku membanggakan diri
"Cinta mati dia Rin sama kamu" kata Widya
"Sudah jangan bicarakan suamiku, aku mau neruskan kerjaanku dulu" kataku sambil berdiri dan berjalan ke tempat sampah untuk membuang bungkus makanan dan mencuci tangan di wastafel, kemudian aku kembali ke meja kerjaku menginput data lagi, sebenarnya sangat lelah tapi aku harus selesai sore ini.
Kulirik jam di dinding menunjukkan pukul tiga sore, semoga sebelum maghrib sudah selesai, kasihan mas Arif pulang ingin bersama keluarga tapi akunya yang sibuk menyelesaikan pekerjaanku.
"Iya hati-hati" kataku
satu persatu teman meninggalkan kantor untuk pulang ke rumah masing-masing, tinggal aku sendiri di kantor ini, sepi sekali sampai detak detik jam dinding terdengar di telingaku, jam di dinding menunjukkan pukul empat lebih dua puluh menit.
Tenggelam dalam keheningan di kantor, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, aku mendongakkan kepalaku, ternyata mas Arif dan Vano berdiri di pintu kantorku
"Sendiri saja Rin?" tanya mas Arif
"Iya mas, tinggal sebentar, mas duduk di sana saja, Rinda segera menyelesaikan tugas Rinda" kataku
"Ayo Vano jangan ganggu bundamu, mau lihat lagu-lagu di youtube dari hp ayah?" kata mas Arif mengalihkan perhatian Vano biar tidak menggangguku
"Rin... ini jus apukat" kata mas Arif sambil menaruh jus apukat yang ditaruh di gelas plastik
"Iya mas" kata ku singkat
Aku tetap fokus mengerjakan tugasku tinggal satu map saja, punggung ini rasanya sudah kaku sekali, berkali-kali aku regangkan tubuhku, kulirik suamiku sesekali mengawasiku kerja.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul lima, akhirnya selesai tugasku, tinggal ngeprint saja, aku siapkan kertas dan aku print laporanku, sambil menunggu selesai ngeprintnya, aku berjalan menuju ke arah suamiku dan anakku
"Terima kasih mas" kataku pelan
"Rin... pekerjaanmu membutuhkan konsentrasi tinggi ya?" tanya mas Arif
"Rin... aku rasa berat pekerjaanmu ini, kenapa tidak masuk ke biro psikologynya ibu?" tanya mas Arif
"Mas... semua pekerjaan itu berat tapi... bagaimana kita menyikapinya, di sini aku bekerja dengan angka yang tidak punya hati, yang penting aku fokus dengan angka tersebut, sedangkan di ibu, aku berhadapan dengan human, manusia mas, saat ini aku belum siap mas" kataku, mas Arif menganggukkan kepala mendengar penjelasanku
Krek...krek...krek... bunyi mesin printer memecah kesunyian kantor di sore hari
"Nanti siapa yang kunci kantor ini Rin?" tanya mas Arif
"Ada satpam di bawah mas, dia yang buka tutup kunci" kataku
"Tadi Nia yang mengabari kalau aku lagi lembur" kataku
"Setelah selesai ngeprit pulang?" tanya mas Arif
"Iya mas" kataku, sambil berdiri menuju ke mesin printer mengambil kertas yang sudah tercetak angka dan tulisan, kemudian aku klip dan aku taruh di laci mejaku, aku matikan komputerku kemudian mengambil tas dan melambaikan tangan ke suamiku
"Ayo" kataku, mas Arif mengambil hp yang di pengan Vano
"Sudah main hp nya Vano, tidak boleh lama-lama biar matanya tidak rusak" kata mas Arif kepada Vano, dan Vano sepertinya pasrah memberikan hp tersebut kepada ayahnya.
Aku menutup pintu kantor dan menuruni tangga mengikuti mas Arif dan Vano, adzan maghrib terdengar dari masjid di sekitaran tempat kerjaku, di bawah aku bertemu pak satpam,
"Pak sudah selesai, bisa dikunci pintunya" kataku
"Iya bu" jawab pak satpam, kemudian aku melangkah mengikuti suamiku yang jauh di depanku sambil menggendong Vano di punggungnya.
Sampai di mobil aku langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil kemudian menutup pintu dan memasang sabuk pengaman, mobil meninggalkan kantorku
"Rin... kalau ada sesuatu yang hilang dalam kantormu apa tau?" tanya mas Arif sambil menyetir mobilnya
"Aman mas, di situ ada cctv dua puluh empat jam kok" kataku menjelaskan
"Jadi ini tadi aku bisa terlihat ya masuk ke ruanganmu?" tanya mas Arif
"Iya" kataku sambil menganggukkan kepalaku
"Mas... langsung pulang ya? Rinda mau
__ADS_1
mandi dulu, sudah tidak nyaman ini" kataku
Sampai di rumah aku mandi air hangat dan langsung merebahkan tubuhku di atas kasur dan tidur.