
Setelah bertemu Vano di depan aku segera masuk ke dalam rumah menemui mbah yang semakin menua, kata ibu usianya sudah tujuh puluh tahun, tapi masih kelihatan sehat, waktu menunjukkan pukul sebelas siang
"Mbah sehat?" sapaku
"Rinda...lama tidak kesini" katanya
"Iya sehat saja" katanya lagi
"Anakmu dari tadi lari-lari ngejar ayam, bawa anak kelinci" katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh
"Minta telur bebek katanya tadi" kata nenek antusias menceritakan tingkah laku Vano
"Ya begitulah mbah, Vano banyak tingkahnya" kataku
"Yang penting sehat" kata mbah
"Mbah Rinda kebelakang ya? pamitku
Aku menuju belakang rumah, disana ditanami buah-buahan ada belimbing, pisang, mangga, sawo sayangnya tidak sedang berbuah, bapak sama ibu terlihat lagi asyik di samping rumah ngobrol dengan bibi dan mbah menghampiri mereka, Vano ada di sekitaran mereka masih membawa anak kelinci
Telpon berdering aku ambil di dalam tas
"Mas Arif... masih kangen ya? godaku
"Pasti sayang" jawabnya
"Kamu di mana sekarang? apa masih di salon?" tanya mas Arif
"Lagi di rumah mbah, Vano main anaknya kelinci di pegang di bawa kemana-mana" ceritaku
"Gak takut Vano?" tanya mas Arif
"Enggak mas, enggak takut, ini ngejar-ngejar ayam, hadew rame banget di sini kalau ada Vano" ceritaku
"Nanti aku ajak ke sana ya ke rumah nenekmu" kata mas Arif
"Insyaallah, eh udah dulu ya mas, aku belum nemui bibi" kataku sambil mematikan hp
Menuju samping rumah
"Rinda... lagi libur ya?" tanya bibi
"Iya bi, enak ya di sini sejuk banyak pohon?" kataku
"Apa mau tinggal disini?" kata bibi
"Enggak lah bi, jauh lah dari tempat kerjaku juga sekolah Vano, bisa terlambat dan capek sekali pastinya" jawabku
"Sudah makan belum semuanya, tadi aku masak, ya seadanya masakan desa, ayo makan semua" ajak bibi sambil masuk ke dalam diikuti bapak ibu juga mbah
"Vano.... sudah lari-larianya, kelincinya taruh di kandang lagi ya" kataku
"Gak mau, Vano bawa kelincinya" katanya
"Nanti lagi, kita makan dulu, cuci tangan pakai sabun, sini" kataku sambil mengambil kelinci di tangan Vano dan mengembalikan ke kandang bersama induknya kemudian mengajak Vano ke tempat cuci tangan kemudian masuk rumah
Di meja makan, bibi menyiapkan makanan
"Bibi masak banyak, apa sudah tau kami mau kesini?" tanyaku
__ADS_1
"Aku kemarin telpon bibimu mau ke sini Rin" kata ibu
"Vano duduk manis ya? jangan banyak gerak nanti jatuh" kataku
"Anakmu ini gak punya rasa lelah Rin, dari tadi berlarian mbah melihatnya sampai bingung" kata mbah sambil tertawa
Kami menikmati makanan masakan bibi lumayan enak juga, setelah makan kami ngobrol-ngobrol ringan
"Vano sepertinya sudah mengantuk, bi ada kamar bi?" kataku
"Kamu bawa Vano ke kamar itu Rin" kata bibi sambil menunjukkan sebuah kamar
Aku masuk ke dalam menidurkan Vano tak lama kemudian Vanopun tidur juga aku ikut tidur pula, maklum.sudah kenyang bawaanya ngantuk.
Waktu menunjukkan jam dua sore, aku terbangun Vano masih terlelap dari tidurnya, melihat Vano masih tertidur lelap aku pun ikut tidur lagi
"Rin... bangun, kamu ikut pulang apa masih disini" kata ibu membangunkanku
"Masih ngantuk bu bentar lagi saja, ibu pulang dulu" kataku dengan mata terpejam
"Terserah kamu Rin, ibu sama bapak mau pulang dulu" pamit ibuku
"Iya" jawabku dengan mata masih terpejam
Beberapa saat kemudian Vano bangun dari tidurnya,
"Bunda ayo bangun gak pulang?" katanya
kubuka mataku kulihat hp sudah jam empat lebih
"Tidur sini saja Vano, besok bunda ajak jalan-jalan ke sawah juga melihat bengawan solo ya
"Iya bi" kataku sambil bangun dari tempat tidur
"Vano ayo mandi" kataku sambil menggendong Vano berjalan ke arah dapur memanaskan air untuk mandi Vano
*****
Mentari pagi bersinar udara masih terasa sejuk dan segar karena bebas polusi di desa ini
"Vano... ayo bangun kita jalan-jalan ke sawah" kataku sambil menggoyangkan tubuh Vano dan menciumnya
"Hmmm masih ngantuk bunda" katanya
"Ya sudah bunda tinggal ya" kataku
mendengar aku tinggal dia langsung bangun
Berjalan di pematang sawah, mata rasanya segar melihat hijau daun padi di sepanjang mata memandang, aku ambil hp untuk mengabadikan pemandangan, Vano berlari di sepanjang pematang sawah
"Hati-hati Vano, jangan lari-lari" teriakku, Vano berhenti di dekat pohon sambil menungguku
"Bunda lama kaya kura-kura jalanya" katanya
"Bunda bukanya lama jalanya tapi menikmati pemandangan" kataku
Tibalah di jalan desa yang sudah beraspal
"Vano kita kesana, disana dulu ada yang jual nasi pecel, sarapan di sana ya" kataku
__ADS_1
Vano mengikuti langkahku
"Bunda Vano capek" katanya
"Ayo naik ke punggung bunda, bunda gendong" kataku, kemudian Vano naik ke punggungku
Lumayan juga menggendong Vano, lumayan capek batinku, akhirnya sampai di tempat orang jual nasi pecel
"Kapan kesini nak Rinda? anaknya sudah besar ya" kata penjual
"Kemarin bu, nanti juga balik" jawabku
"Bu pecel satu saja ya sama teh hangat dua di makan disini" pesanku
"Iya Rin, duduk dulu ya.." kata ibu penjual
Menikmati pecel sambil melihat suaaane desa, terlihat petani desa ke sawah ada yang membawa sepeda angin, sepeda motor juga ada yang berjalan kaki
"Rinda... kapan ke sini?" kata seseorang, aku menoleh ke sumber suara
"Hey... santi, ayo duduk sini" kataku
"Kemarin aku pulang kesini, mengunjungi nenek, nanti habis duhur pulang lagi" kataku
sambil makan kita saling bercerita, Santi adalah teman semasa kecil rumahnya dekat sama mbah
Waktu cepat berlalu, waktu menunjukkan pukul 14:30, aku berkemas untuk pulang ke rumah ibu, rasanya masih pingin berlama-lama disini
"Mbah, Rinda pulang dulu ya" pamitku bersalaman sambil memberi uang untuk mbak
"Bi, sabar ya merawat mbah" kataku ke bibi
"Iya Rin, hati-hati ya, sering-sering ke sini" kata bibi
"Sebentar Rin, ini ada telur bebek kesukaan anakmu" kata mbah sambil berjalan kesebuah ruangan dan keluar ruangan membawa bungkusan berisi beberapa biji telur bebek
"Makasih ya mbah" kataku sambil menerima bungkusan telur bebek dan aku taruh di tas
"Bunda... kelincinya?" kata Vano
"Nanti saja kalau sudah besar kasihan masih kecil Vano, kamu mau dipisahkan dengan bunda?" kataku
"Ya gak mau bunda" katanya
"Anak kelinci biar sama induknya ya, nanti kalau sudah siap bisa Vano bawa" kataku
"Mbah, bibi Rinda berangkat dulu ya..." kataku sambil menghidupkan sepeda
"Hati-hati Rin" kata bibi
Dalam perjalanan...
"Bunda katanya mau lihat sungai bengawan solo?" tanya Vano
"Oh iya, nanti melewati ada jembatan di depan sana kita bisa belok dan berhenti dibawah jembatan" kataku.
sampai di bawah jembatan, aku turun dari sepeda motor masih menggendong Vano.
"Dulu disini belum ada jembatan Vano jadi kalau mau ke sana ada perahu yang menyeberangkan, ayo pulang Vano, lain kali bisa lebih lama main disini" kataku sambil berlalu menuju sepeda motor dan kembali ke rumah orang tuaku.
__ADS_1