Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Tamu Di Pagi Hari


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul enam pagi, terdengar pintu pagar di ketuk oleh seseorang, siapa pagi-pagi bertamu batinku, mas Arif sama Vano masih tidur, antara ragu dan khawatir untuk melihat siapa yang datang, masih khawatir kalau ayahnya Vano yang datang, coba aku intip dari jendela dulu batinku, setelah mengetahui siapa yang datang akhirnya aku membuka pintu pagar.


"Faris... aku kira siapa pagi-pagi datang, langsung ke sini ini tadi?" tanyaku.


"Iya Mbak, minta alamat ke Bapak kemarin" katanya.


"Ayo masuk dulu, siapa Rif namanya?" tanyaku menggoda Faris.


"Fina Mbak namanya" kata Faris kemudian.


Fina mengulurkan tangannya berjabat tangan denganku.


"Aku Rinda kakaknya Faris" kataku mengenalkan diri.


"Iya Mbak, Faris banyak cerita tentang Mbak" katanya.


"Mbak Vano kemana?" tanya Faris.


"Vano masih tidur sama Ayahnya" kataku


"Sudah sarapan belum?" tanyaku lagi.


"Belum Mbak, ini tadi habis subuh berangkat dari Surabaya langsung kesini" kata Faris.


"Mau duduk di sini atau di sana?" tanyaku sambil menunjuk ruang keluarga.


"Disana saja Mbak" kata Faris.


"Aku tinggal ke dapur dulu ya" kataku.


Dan melangkah menuju dapur untuk masak cemilan untuk sarapan juga membuat jus alpukat, setelah selesai aku bawa ke ruang keluarga.


Di ruang keluarga aku, Faris dan Fina sedang mengobrol, sedangkan Vano dan mas Arif masih pulas tidurnya.


"Mbak tumben Vano belum bangun jam segini" tanya Faris.


"Kalau ada yang nemani pasti dienak-enakin tidurnya" kataku.


"Mbak Rinda libur atau kerja hari ini?" tanya Fina.


"Aku libur Fin, ambil cuti dua minggu" kataku.


"Loh... kenapa Mbak?" tanya Fina lagi.


"Faris apa kamu tidak cerita sama Fina kalau aku..." kataku belum selesai dipotong sama Faris.


"Gak cerita, sapa pula yang suruh nikah mendadak begitu, aku juga gak Mbak kasih tau, Ibu malah yang mengabarkan padaku" kata Faris dengan nada kecewa.


"Bagaimana aku bisa cerita Ris, aku saja tidak tau akan menikah, semua serba mendadak dan tiba-tiba, kamu tau seserahan sampai hari ini belum aku buka, masih di rumah di almari" kataku.


"Loh... kok bisa mendadak begitu Mbak?" tanya Fina.

__ADS_1


"Kalau untuk lamaran memang suamiku mau buat kejutan, jadi aku tidak tau kalau dia sudah pulang, aku sampai rumah dia sama ibu mertua ke rumah membawa seserahan itu, awalnya mau menikah enam bulan kemudian tapi Mas Arif memutuskan untuk segera menikah sebelum masa cutinya habis" ceritaku.


"Waw... betul-betul pejuang cinta ya Mbak suami mbak" kata Fina.


"Bukan pejuang cinta Fin, tapi memang dia bersungguh-sungguh mau menikahiku, jadi tidak mau menunggu lama, dan yang membuatku mau menikah dengannya karena dia sangat perhatian sama Vano" jelasku.


"Baik sekali ya Mbak" kata Faris.


"Iya Ris, mbak sih sudah lama kenalnya, teman SMA mbak dulu" kataku.


"Pacar Mbak atau teman biasa?" tanya Fina.


"Kalau bisa di bilang pacar Fin, tapi kami tidak ada komunikasi ada itu sepuluh tahun jadi kita dulu tidak ada kata putus, berpisah begitu saja, baru ketemu lagi sekitar tiga bulanan ini, dengan statusku dan statusnya yang masih belum menikah, akhirnya hubungan yang terpisah sepuluh tahun terjalin kembali" jelasku.


"Nbak... apa yang jadi suami mbak itu yang dulu sering ke rumah?" tanya Faris.


"Iya betul" kataku.


Ketika kami asyik mengobrol Vano membuka pintu, ketika melihat kami, dia berlari ke arah kami.


"Loh om Faris disini, sama teman cantik" katanya sambil memeluk Faris kemudian duduk di pangkuanku.


"Cantik mana Bunda sama tante Fina?" tanyaku.


"Cantikan Bunda lah" jawab Vano sambil menciumiku.


"Vano...ikut pulang ke Mbah uti nanti?" tanya Faris.


"Ayo Fin omeletnya di cicipi" pintaku.


"Iya Mbak, enak Mbak" kata Fina sambil mengambil omelet di piring dan memasukkan ke dalam mulutnya pelan-pelan.


"Sebentar ya aku tinggal dulu" pamitku mereka.


Kemudian menuju kamar tidur mau membangunkan Mas Arif, pintu kamar aku buka dan aku tutup lagi, Mas Arif masih tidur pulas, aku mendekat ke Mas Arif, aku ciumi Mas Arif dengan lembut.


"Bangun sayang" bisikku.


"Istriku..." bisik Mas Arif sambil memelukku.


"Ada Faris Mas di sini sama calonya, Mas gak nemui mereka?" bisikku.


"Yang bener mereka disini" kata Mas Arif terkejut.


"Makanya bangun sayang, lihat di ruang keluarga" kataku.


"Segera temui mereka" kataku


Kemudian berlalu meninggalkan Mas Arif di kamar dan ke ruang keluarga bergabung lagi dengan mereka.


Di ruang keluarga Vano masih asyik melihat acara tv.

__ADS_1


"Ris..nanti rencana nginap di Ibu apa langsung kembali ke surabaya?" tanyaku.


"Lihat nanti Mbak" kata Faris


Tak lama kemudian Mas Arif keluar dari kamar berjalan menuju ke kami, dan bersalaman dengan Faris dan Fina.


"Sudah lama ya?" sapa Mas Arif.


"Lumayan Mas" jawab Faris.


"Mas Arif tidak banyak berubah, cuma badanya sekarang yang lebih besar dari dulu" kata Faris.


"Wajahnya berubah tua tidak he he he?" tanya Mas Arif dan tertawa.


"Masih cakep Mas" kata Faris.


"Kalau gak cakep Mbak mu gak bakalan mau Ris he he he" kata Mas Arif dan tertawa kembali.


"Kapan kamu halalin pacarmu?" tanya Mas Arif sambil menepuk pundak Faris.


"Belum tau mas, masih nyiapkan untuk ke depanya" jawab Faris.


"Laki-laki sejati itu harus bisa memperjuangkan cintanya, disegerakan nikahnya, nanti pasti dimudahkan semua urusan oleh Allah, yang penting itu siap mental menghadapi kehidupan rumah tangga bersama pasanganmu" nasehat Mas Arif.


"Rin... seperti kita menikah itu ya, semua serba dimudahkan oleh Allah, bukan begitu?" tanya Mas Arif ke aku.


"Iya mas, sampek bingung Rinda dengan semua kejutanmu" kataku.


"Mas Arif ini harusnya dua bulan lagi mengurus surat-suratnya, eh ternyata seminggu sudah selesai langsung daftar ke Kantor agama, di sana akhad nikah saja gak ada foto, surat nikah saja baru keluar senin depan" ceritaku


"Hah..." Faris dan Fina sama-sama terkejut


"yang bener Mbak?" tanya Faris.


"Itu tanya sama Mas Arif sendiri" kataku.


"Bener mas?" tanya Faris seperti tidak percaya.


"Iya Ris, itulah Ris ketika kita mempunyai niatan yang baik Insyaallah akan dimudahkan dengan cara yang tidak kita duga" kata Mas Arif


Waktu menunjukkan pukul delapan.


"Rin... gak buat sarapan?" tanya Mas Arif.


"Enggak mas, aku belum belanja, kulkas kosong, cuma bisa bikin mi omelet ini" kataku


"Bagaimana kalau kita sarapan di luar" kata Mas Arif.


"Iya gak apa-apa Mas, bagaimana kalian?" tanyaku pada Faris dan Fina.


"Iya Mbak, sekalian aku pulang ke Ibu" kata Faris

__ADS_1


Kami keluar rumah bersama-sama menuju tempat makan, Faris dan Fina berboncengan naik sepeda mengikuti mobil kami dari belakang.


__ADS_2