
Arif berjalan menuju ruang nicu untuk mengadzani putrinya dengan langkah tak bertenaga.
Pikirannya masih kacau karena setelah melahirkan istrinya Rinda tidak sadarkan diri dan sekarang sedang berada di ruang ICU ditangani oleh dokter dan tenaga medis.
Melihat putri mungilnya dalam dekapannya Arif menitikkan air matanya, memandang wajah putrinya kemudian mulai mengadzani di telinga kanan dan kirinya dengan suara tercekat menahan kesedihan yang mendalam.
Begitu cantiknya dirimu nak, doakan Bundamu bisa melewati masa kritisnya ya, kata hati Arif.
Memberikan bayi mungil kepada perawat yang sedari tadi menunggu di ruang nicu, berdiri tak jauh dari Arif berdiri.
Bayi mungil sudah ditangan perawat tersebut dan meletakkan di box bayi.
Arif berpamitan kepada perawat tersebut, "Saya tinggal dulu, nitip anak saya."
Arif melangkah keluar ruang nicu, duduk sendiri di tempat duduk yang menghadap ke taman.
Pandangan matanya menatap bunga dan beberapa orang yang berlalu lalang di depannya.
Vano saat ini berada di rumah orang tuanya Rinda.
Arif mengambil ponsel sakunya dan berniat menelpon Yusuf yang sekarang sedang menikah dengan Widya.
"Suf, maaf hari ini aku tidak bisa datang ke acaramu, sampaikan maaf dan salamku kepada keluargamu juga keluarga Widya," kata Arif ketika panggilan telpon di angkat Yusuf.
"Iya, bagaimana kondisi istrimu?" tanya Yusuf.
"Masih belum sadar, sekarang masih di ruang ICU," jawab Arif.
"Sabar Rif, anakmu bagaimana?" tanya Yusuf.
"Sehat Suf, anakku perempuan," jawab Arif.
"Sudah dulu ya," kata Arif saat akan mengakhiri pembicaraan di telpon dengan Yusuf.
Ponsel dimasukkan ke dalam sakunya dan berjalan menuju ke ruang ICU.
Saat ini waktu menunjukkan pukul satu siang, waktunya berkunjung.
Membuka pintu ruang ICU dan ia memakai baju khusus pengunjung, melangkah menghampiri istrinya yang terbaring di bed pasien dengan selang di tubuhnya.
Menundukkan tubuhnya ke telinga Rinda, Arif berbisik, "Rin... bangunlah sayang, bangunlah bidadariku, apakah kamu tidak ingin melihat putri kita, dia sangat cantik sekali."
Masih belum ada pergerakan sama sekali dari tubuh Rinda.
Memandang Rinda seperti tidur dengan penuh ketenangan, denyut jantungnya masih terlihat normal, terlihat dari layar mesin di samping bed pasien.
__ADS_1
Arif mengambil tempat duduk, dan memegangi tangan istrinya yang putih pucat dengan lembut, dan menciuminya.
Tetes-tetes air mata mengenai jemari Rinda yang masih dipegang oleh suaminya.
Seorang dokter menghampiri Arif.
"Bapak suaminya Ibu Rinda?" tanya dokter tersebut.
"Iya," jawab Arif sambil mendongakkan kepalanya ke wajah dokter tersebut.
"Mari iku saya," ajak dokter itu.
Arif melepas genggaman tangannya dan melangkah mengikuti dokter tersebut menuju ke ruang dokter yang masih satu tempat dengan ruang ICU.
Duduk di sana, menghadap dokter tersebut.
"Istri Bapak masih belum sadar, kami terus memantau dan terus berusaha semampu kami demi keselamatanya, Bapak yang sabar," kata dokter tersebut.
"Dok... berapa lama bisa sadar kembali?" tanya Arif cemas.
"Entahlah, kasus seperti istri Bapak yang mengalami pendarahan, ada yang bisa terselamatkan ada yang langsung meninggal," jawab dokter.
"Bapak banyak berdoa, semoga ada mukjizat," kata dokter.
***
Keesokan harinya setelah melihat putrinya di ruang Nicu, Arif berjalan ke ruang ICU.
Rinda masih belum juga membuka matanya, semakin membuat Arif cemas.
Sudah dua puluh empat jam lebih Rinda tak sadarkan diri.
Arif duduk di samping Rinda menunggunya dengan sabar sampai batas waktu jenguk habis, sesekali membisikinya dengan lantunan surat Al Quran, kadang juga berbicara di telinga Rinda, berharap Rinda bisa membuka matanya.
Orang tua Rinda sedang menjaga Vano di rumahnya, Vano sengaja tidak diperlihatkan kepada bundanya karena kemarin menangis histeris ketika melihat bundanya tidur tidak bangun-bangun.
Setelah waktu jenguk di ICU habis, Arif melangkahkan kakinya dengan lemas seakan sudah hilang harapannya, dalam hatinya tidak rela ditinggalkan Rinda pergi selamanya.
Arif selalu berdoa agar Rinda kembali sadar, kembali hidup bersamanya.
Miracle-miracle dari Allah selalu di nantikan oleh Arif setiap detik setiap menit.
Melihat putrinya di Nicu secercah harapan kembali muncul dalam hidupnya.
"Nak... sabarlah, yakinlah bundamu akan bersama kita," bisik Arif sambil menciumi pipi putrinya.
__ADS_1
Arif keluar dari ruang Nicu, ponsel di sakunya berdering.
"Assalamualaikum Bu," salam Arif kepada Ibunya dengan suara tidak bersemangat.
"Waalaikum salam Rif, bagaimana Rinda?" tanya Ibu Arif
"Masih seperti kemarin Bu, belum juga sadar, dokter juga belum bisa bertindak hanya memantau keadaan Rinda di ICU," jawab Arif.
Terdengar isak tangis dari Ibu Arif.
"Rif... kamu yang sabar ya...yakinlah Rinda akan selamat," kata Ibu Arif.
"Iya Bu, seandainya Rinda sadar, Arif janji tidak kembali ke Papua Bu, Arif akan terus menemani Rinda sepanjang hidupnya, sekarang Arif merasa berat sekali hidup tanpa Rinda," kata Arif.
"Sabar Rif, kalau kamu gak kerja di Papua terus mau usaha apa?" tanya Ibu Arif.
"Bisa usaha kontrakan rumah Bu, biar Rinda yang mengurus kantor Ibu, Arif yang menjaga anak-anak," jawab Arif.
"Kamu punya uang banyak Rif? buat kontrakan ataupun kost-kost an itu biaya besar," kata Ibu Arif.
Arif tetap berdiri di depan Nicu sambil menerima telpon dari Ibunya.
"Arif sudah beli tanah tanpa sepengetahuan Rinda, jika Rinda sadar dan kembali seperti semula Arif mau pondasi dulu Bu," kata Arif.
"Jika Rinda pergi selamanya, Arif tidak tau Bu, harus bagaimana," kata Arif kemudian.
Arif berjalan menuju ke sebuah kursi yang tak jauh darinya, kemudian duduk di sana.
"Rif... pasrahkanlah kepada Allah semuanya, jika memang yang terbaik untuk Rinda, biar anakmu Ibu yang merawatnya bersama dengan anaknya Vera," kata Ibu.
Arif melihat orang-orang yang lewat di depannya dengan tatapan mata nanar.
"Bu jangan bilang begitu, Arif belum ikhlas ditinggalkan Rinda selamanya," kata Arif.
"Yang penting kamu sabar Rif, sudah dulu ya," kata Ibunya Arif dan panggilan telpon dimatkan.
Berdiri dari tempat duduknya, berjalan gontai serasa sudah tidak mempunya harapan lagi bagi Arif untuk bersama Rinda melanjutkan hidup di dunia ini.
Ya Allah... begitu singkatnya jodoh kami di dunia ini, baru satu tahun lebih beberapa bulan, Engkau memberiku kebahagiaan setelah itu Engkau ambil kembali.
Jika memang Rinda engkau ambil kembali, pertemukanlah kami pada dimensi kehidupan yang lainnya.
Arif berjalan menuju ke ruang ICU duduk di lantai di depan ruang ICU sampai waktunya menjenguk Rinda kembali.
Nafsu makan Arif sudah tidak ada, sedari pagu belum juga makan, Arif sudah tidak berselera makan, beberapa puntung rokok dia habiskan di ruangan bebas rokok.
__ADS_1