
Sabtu pagi aku, Nia dan Vano sedang bersantai di dalam rumah ibu mertua, seperti biasa Nia begitu asyik mencoba resep-resep masakan yang dia searching di google.
“Nia kamu mau masak apa sih kok ribet banget dari tadi pagi, itu ikan bandeng kamu apakan saja?” tanyaku saat mendekati Nia yang sedang berada di dapur.
“Mau buat otak-otak bandeng, sudah kamu santai saja, telpon suamimu atau apa gitu, jangan ganggu aku di sini, lagi fokus ini,” ucap Nia.
“Oke deh… aku bagian makan saja ya,” kataku sambil berlalu meninggalkan Nia yang sedang memasak.
“Vano… main saja sih, belajar baca atau menulis gitu, apa mau Bunda mengajari?” tanyaku.
“Enggak mau, nanti pasti Bunda ngomel-ngomel, Vano minta ajari tante Nia saja,” jawab Nia.
Aku hanya menggelengkan kepalaku saja, ternyata sekarang anakku lebih dekat sama Nia, gak apa lah yang penting berdampak positif.
Masuk ke kamar tidur mengambil ponselku berniat untuk menghubungi suamiku.
"Assalamualaikum," sapaku ketika telpon diangkat oleh Mas Arif.
"Waalaikum salam Rinda," jawab Mas Arif.
"Mas, aku sudah tidak kerja di tempatku lagi, besok senin aku mulai masuk di kantornya ibu," kataku mulai bercerita.
"Baguslah, kamu naik sepeda motor?" tanya Mas Arif.
"Iya Mas, kan dekat saja toh sama sekolahnya Vano," jawabku.
"Kandunganmu bagaimana?" tanya Mas Arif.
"Baik-baik saja kok Mas, jangan khawatir, Mas pulang kapan rencananya?" tanyaku.
"Rencananya sih lima minggu lagi Rin, ada apa?" tanya Mas Arif.
"Gak apa-apa Mas, semoga saja pas bertepatan dengan Rinda melahirkan," jawabku.
"Iya Rin, kamu segera kabari aku jika ada apa-apa, NIa suruh tinggal di rumah saja menemanimu," kata Mas Arif.
"Rif, telpon Rinda ya, tanyakan Nia sedang apa di sana?" Terdengar suara Mas Deni.
"Rin, ini Deni tanya Nia sedang apa di sana?" tanya Mas Arif.
"Bilang sama Mas Deni, kalau Nia sedang buat otak-otak bandeng, dan juga bilangin sama Mas Deni, bentar lagi bisa gemuk itu badannya karena dimasakin Nia menu yang enak-enak," jawabku.
"Den... dengar apa kata istriku," kata Mas Arif.
Terdengar suara tertawa Mas Deni dari telpon.
"Mas... aku sebenarnya bingung juga sih hari senin ini, ada perasaan khawatir, grogi jadi satu, bagaimana aku ini memulai memimpin tempat ibu, apalagi disana juga sedang ada masalah, aku curiga ada yang memark up data keuangan," kataku.
__ADS_1
"Ibu sudah tau?" tanya Mas Arif.
"Biar ibu saja yang bertindak, kamu cukup mengawasi dulu dan melaporkan kecurigaan-kecurigaanmu pada ibu," jawab Mas Arif.
"Iya Mas, ibu juga bilang begitu, tapi Rinda ini masih gak percaya diri gitu," kataku.
"Istriku... harus bisa dong, harus mampu loh, kamu tunjukkan sayang kalau kamu bisa," kata Mas Arif memberiku semangat.
"Insyaallah sayang," ucapku.
"Kamu rencana kemana hari ini?" tanya Mas arif.
"Gak kemana-mana Mas, tadi sih mau keluar ke telaga di tengah kota itu, tapi Nia sibuk masak otak-otak, Rinda lihat saja ribet banget," jawabku.
"Ya jelas ribet lah kamu gak hobby masak," ucap Mas Arif.
"He he he, terus hobby ku apa?" tanyaku.
"Hobbimu ya menyenangkan suami, dan juga mengomeli suamimu," jawab Mas Arif.
Aku tersenyum dan tertawa.
"Tapi Mas suka kan aku omeli, pasti kangen ya dengan omelanku?" tanyaku.
"Gak enak Rin kamu omeli terus mana enaknya," ucap Mas Arif.
"He he he," aku tertawa senang.
"Assalamualaikum, suamiku sayang," salamku saat mau mengakhiri panggilan telepon.
"Waalaikum salam istriku," jawab Mas Arif dan panggilan di matikan.
Meletakkan ponsel di atas meja nakas aku berjalan keluar kamar menuju ke dapur, Nia masih di dapur sedang menggoreng dan aku menghampirinya.
"Nia, aku sudah tidak menganggumu kan?" tanyaku.
"Sudah enggak Rin, coba kamu incipi ini," kata Nia sambil menyerahkan piring berisi otak-otak bandeng yang sudah di goreng.
Aku mengambil sedikit dan merasakan rasanya, tersenyum memandang Nia dan berkata, "Mantap Nia, enak banget, bikin lapar saja."
"Ikan bandeng bagus loh Rin, untuk tulang," kata Nia.
"Begitu ya," kataku.
"Iya, coba kamu searching di google," kata Nia.
"Iya nanti saja, sekarang anakku ini sudah gerak-gerak minta makan," ucapku.
__ADS_1
"Yang lapar kamu apa anakmu sih, kok apa-apa alasan anak saja," kata Nia.
"He he he, dua-duanya lah," kataku sambil mengambil piring.
"Vano... ayo makan, masakan Tante Nia sudah matang dan mantap rasanya!" kataku.
Terlihat Vano bangun dari duduknya dan berlari kecil ke arah kami.
"Vano minta dikit Bunda," kata Vano.
"Itu di piring masih ada, jangan minta yang ini," kataku.
"Rin...Rin... tiap hari kok rebutan makanan saja sama anakmu," kata Nia.
"Biarin lah," jawabku.
Vano mengincipi otak-otak di piring.
"Mantap Tante Nia," puji Vano sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Bunda... Vano ambilkan piring dan nasinya tidak sampai Vano," Rayu Vano kepadaku.
Aku berjalan mengambil piring dan menaruh nasi di atas piring dan Vano mengambil otak-otak bandeng yang dia taruh di atas nasinya kemudian memegang piring dan di bawa ke ruang keluarga untuk makan di sana.
Nia duduk di kursi meja makan di depanku, kami makan berdua di meja makan.
“Nia… terima kasih sekali ya atas semua kebaikanmu kepadaku ini, hampir tiap hari kamu masak untuk kami dengan sukarela,” kataku.
“Biasa saja lah Rin, toh untuk beli bahan uangmu, aku hanya menyalurkan hobbi masakku,” ucap Nia.
“Sore nanti mau kemana kita Rin?” tanya Nia.
“Bersantai sajalah Nia di rumah, aku dua minggu lagi baru kontrol,” kataku.
“Aku ini masih grogi masuk ke kantornya ibu senin depan, kurang sehari lagi kan,” kataku.
“Dibuat santai saja Rin, yang penting kamu bisa menguasai keadaan,” saran Nia.
Waktu menunjukkan pukul satu siang, setelah makan dan sholat berjamaah kami istirahat, Nia tidur di shofa keluarga, sedangkan Vano di karpet bawa, televisi masih menyala.
Aku mematikan televisi dan masuk ke dalam kamar tidurku. Merebahkan tubuhku di atas kasur, mengusap perutku dengan lembut.
“Nak… sebulan lagi kita bertemu, kamu baik-baik saja ya di dalam, ayah, Bunda dan kakak Vano sangat merindukanmu ingin segera berjumpa denganmu,” gumamku.
Beberapa saat kemudian aku memejamkan mataku dan tertidur untuk beberapa menit ke depan.
Sore hari, kami tetap di dalam rumah tidak keluar kemana-mana, menikmati waktu di rumah bertiga dengan segala aktifitas kami.
__ADS_1
Nia sedang mengajari Vano belajar membaca dengan telatennya, aku melihat keakraban mereka berdua dari sofa keluarga yang aku duduki.
Nia... semoga kamu segera di beri momongan setelah menikah dengan Mas Deni lima tiga bulan lagi, doaku tulus untuk sahabatku.