
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Vano sudah tidur dari tadi jam setengah delapan
"Rin, aku pulang dulu ya? sepedamu aku bawa, besok aku kesini lagi" katanya, aku menganggukkan kepala tanda setuju dan masuk ke dalam mencari kedua orang tuaku
"Bu, mas Arif pamit pulang" kataku
"Kasihan Rin, biar tidur sini saja ada kamarnya Faris" kata ibu
"Ibu ngomong sendiri sama mas Arif" kataku
"Bapak kemana bu?" tanyaku
"Bapakmu sudah tidur sepertinya" kata ibu sambil berjalan ke luar rumah
"Arif tidur sini saja" kata ibu
"Arif pulang bu, gak enak sama tetangga, besok kesini lagi" katanya
"Hati-hati ya" kata ibu
"Iya bu, saya bawa sepedamu ya Rin, kunci kontaknya mana? tanyanya
"Sebentar mas, aku ambil di dalam" kataku sambil berjalan masuk rumah kemudian berjalan keluar memberikan kontak sepeda ke mas Arif, "hati-hati ya" kataku
Setelah mas Arif pulang aku masuk kamar demikian juga dengan ibu pagar dan pintu rumah sudah terkunci, aku rebahkan tubuhku di kasur melihat cincin melingkar erat di jari manisku, ya Allah Alhamdulillah atas semua yang engkau berikan kepadaku, semoga ini barokah, Aamiin batinku, kulihat Vano tertidur dengan lelapnya, kucium keningnya pipinya, gemes sekali, teringat waktu mas Arif ingin Vano memanggil ayah bukan om, tersenyum aku mengingatnya, kupeluk Vano, tak lama kemudian suara telpon membuyarkan lamunanku, mas Arif video call batinku, kuambil jilbabku dan aku angkat
"Sudah sampai rumah" kataku
"Rin... masih kangen" katanya
"He he he, bisa saja mas Arif ini" kataku sambil tertawa
"Besok ada rencana kemana Rin?" tanyanya
"Gak kemana-mana di rumah saja aku mas" kataku
"Besok aku kesana ya" katanya
"Iya sayang, ayo istirahat mas, mas pasti lelah hari ini" kataku
"Ya sudah bidadariku i love you" katanya
"Love you too" jawabku dan kuletakkan hp di meja samping tidurku, rasa kantuk mulai menyerangku dan akhirnya aku tertidur
Pagi hari setelah sholat subuh aku duduk santai di depan tv bersama dengan Vano
"Rin... Arif nanti kesini?" tanya ibu
"Iya bu, cuma Rinda tidak tau jam berapa?" kataku
"Aku nanti mau ke rumah mbah kamu, ikut kesana bagaimana?" kata ibu
"Atau nanti kamu nyusul?" kata ibu lagi
__ADS_1
"Ibu ada perlu apa ke mbah selain mengunjungi mbah?" tanyaku
"Bibi lagi panen padi Rin, bapak sama ibu ke sana mau bantu" kata ibu
"Kalau mas Arif belum datang ibu sama bapak berangkat dulu ya" kataku
"Vano ikut bareng mbah uti, mau lihat kelinci Vano dulu, bunda sama ayah saja nanti ke sana" kata Vano
"He... Vano mulai kapan panggil om Arif ayah?" tanya ibu heran
"Kemarin, om Arif yang nyuruh" kata Vano polos, ibu tersenyum mendengar Vano
Kulihat ibu dan bapak sudah bersiap-siap akan ke rumah mbah,
"Rin Vano siapkan keperluanya, bareng aku dulu, jam segini Arif belum datang" kata ibu
"Mungkin masih tidur mas Arif capek bu, sudah aku siapkan keperluanya Vano sudah di tas bu" kataku sambil mengambil tas keperluanya Vano dan membawanya keluar menaruh di sepedanya bapak
"Vano ikut mbah uti ya?" kataku sambil memakaikan jaket ke Vano, kemudian Vano berjalan ke luar
"Gak pakek gendongan Rin" kata ibu
"Vano duduk di tengah saja bu, sudah makin berat kasihan ibu" kataku sambil mengangkat Vano menaruh di belakang bapak
"Hati-hati" kataku sambil melambaikan tangan ke mereka
Tidak lama kemudian mas Arif datang ke rumah membawa mobil
"Kok sepi Rin, kemana semuanya?" tanya mas Arif
"Mas Arif mau minum apa?" tanyaku
"Gak usah Rin, ini ada air putih" katanya
"Rin kamu siap-siap ya, ayo jalan-jalan" kata mas Arif kemudian
Aku masuk kamar berganti baju untuk keluar bersama mas Arif, setelah rapi semua aku menemui mas Arif
"Ayo sekarang berangkat" kataku
"Hey cepet sekali" katanya sambil berdiri dan berjalan keluar rumah, aku mengikutinya dari belakang dan mengunci rumah juga pagar rumah, kemudian membuka pintu depan mobil masuk ke dalam mobil
Dalam perjalanan
"Mas... kita mau kemana?" kataku
"Ke pantai yang dulu pernah kita ke sana" katanya
Ya aku ingat disana mas Arif pertama kali mengungkapkan cintanya padaku, tersenyum sendiri aku mengenang itu
"Hey... kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyanya
"Ingat kita dulu mas hehehe" kataku sambil melirik mas Arif
__ADS_1
Perjalanan sekitar setengah jam dari rumah ke pantai pasir putih ini, sampailah di sana tidak banyak berubah disini, tapi ada beberapa warung yang lebih banyak dari dulu, setelah mobil di parkir, kami turun dari mobil
"Rin kita kesana ya?" pinta mas Arif
mas Arif menunjukkan tempat dimana dulu kami duduk berdua di bongkahan batu itu, dan sampai sekarang masih ada
"Mas... bongkahan batu ini saksi bisu kita" kataku
"Iya Rin, dulu aku bilang cinta di sini, sekarang kita datang kesini kamu sudah aku lamar, bentar lagi jadi istriku" katanya sambil merangkulku
"Iya mas, lucu ya dulu itu hehehe" kataku dan tertawa mengenang moment tersebut
kusandarkan kepalaku di pundak mas Arif memandang lepas pantai berdua di sini di pantai pasir putih
"Mas... mas sudah siap keuanganya, kata mas minta di rayakan? kataku
Sambil mengelus jilbab di kepalaku mas Arif berkata
"Aku tabung Rin dari gajiku,Insyaallah ada" katanya
"Mas Arif rencana mengundang berapa orang? tempatnya dimana?" tanyaku
"Bingung juga aku Rin dengan konsep nikah kita nanti" katanya
"Kamu ada ide Rin?" lanjutnya
"Sebenarnya Rinda tidak kepingin di ramaikan mas, Rinda kepinginnya di rumah acara akhad nikah juga silahturahminya" kataku
"Di rumah siapa Rin, yang enak untuk acara seperti itu?" tanya mas Arif
"Gak tau aku mas, di rumah orang tuaku sempit, rumah mas Arif?" bagaimana
"Ibu mungkin tidak setuju, dia tidak rela tanamannya rusak karena banyak tamu" katanya
"Oh iya mas, bagaimana kalau di hotel yang di pertigaan dekat sama alun-alun? disitu kan ada paket untuk pernikahan untuk tamu sekitar tiga ratus orang, sudah sama makananya" kataku
"Iya gak apa-apa ya, kapan-kapan kesana ya tanya harga" katanya
"Iya mas, konsepnya santai saja, kita bisa berjalan menemui tamu ngobrol dengan tamu" kataku
"Bagus itu Rin" katanya
Memandang luas lautan mendengar deburan ombak, kami menikmati kebersamaan ini, pantai yang penuh kenangan untuk kami
"Mas..." kataku pelan mengangkat kepalaku dari pundaknya dan dia melepas pelukan di pinggangku
"Ada apa Rin" katanya sambil menatapku
"Mas... mau ke rumah mbah?" kataku
"Kapan?" tanyanya
"Sekarang mas" jawabku
__ADS_1
Mas Arif berdiri demikian juga aku, dia memelukku sambil berbisik
"Aku masih ingin bersamamu sayang"