
Beberapa hari ke depan sampai aku melahirkan, Nia tinggal sementara di rumah mertuaku, tapi terkadang dia juga pulang ke rumah orang tuanya.
Sabtu pagi ketika aku duduk santai di teras rumah setelah selesai merapikan tanaman dan menggunting daun tanaman yang sudah kering.
Vano berlari menghampiriku sambil membawa ponsel di tangan kanannya.
“Bunda…Bunda…, nenek telpon,” kata Vano ketika sudah berada di dekatku dan memberikan ponsel kepadaku
“Terima kasih ya,” ucapku saat menerima ponsel dari Vano, dan segeran mengangkat panggilan telpon dari ibu mertua.
“Assalamualaikum Bu,” sapaku.
“Waalaikum salam Rin, ini aku di rumah sakit, Vera hari ini jadi operasi caesar tidak jadi besok,” kata Ibu mertua seperti tergesa-gesa.
“Iya Bu terus bagaimana kondisi Vera?” tanyaku.
“Vera masih di ruang operasi,” jawab Ibu.
“Iya Bu, semoga selamat semuanya,” kataku.
“Rin… nanti ada asistenku yang ke rumah, kamu jangan ke mana-mana,” pesan Ibu mertua.
“Tolong segera kamu pelajari, bila ada yang tidak kamu mengerti, kamu tanya ke asisten Ibu, biro Ibu aku serahkan kepadamu,” pesan ibu lagi.
“Iya Bu, semoga Rinda sanggup mengemban amanah Ibu,” kataku.
“Oke, makasih Rinda, sudah dulu ya, assalamlualaikum,” ucap Ibu mertua.
“Waalaikum salam,” jawabku, dan panggilan telpon langsung di matikan oleh Ibu mertua.
Ya… Allah semoga tidak terjadi apa-apa dengan Vera, semoga semua selamat, doaku dalam hati.
Aku melangkah memasuki rumah dengan pikiran yang tidak tenang, terlihat Nia sedang asyik memasak dan aku menghampirinya.
Aku letakkan ponsel di meja dapur dan aku duduk di sana.
“Rin… apa yang terjadi? Sepertinya ada sesuatu yang membuatmu tegang begitu?” tanya Nia.
“Ibunya mas Arif baru saja telpon aku, Vera hari ini operasi caisar, ibu sepertinya tergesa-gesa, aku khawatir ada apa-apa dengan Vera, Nia,” kataku.
“Ini kamu minum dulu,” kata Nia sambil memberikan sebotol susu kedelai kepadaku.
“Terima kasih Nia,” ucapku sambil membuka botol susu kedelai dan perlahan meminumnya.
“Jangan tegang begitu, Ibu hamil harus rileks,” kata Nia.
“Kamu ini Nia, kayak pernah hamil saja bilang begitu,” kataku.
“Kata orang-orang, he he he,” kata Nia dan tertawa.
“Nia, aku makan ini dulu ya, gak apa-apa kan?” tanyaku sambil mengambil pisang goreng yang baru keluar dari penggorengan.
“Iya, hati-hati masih panas,” jawab Nia.
Vano menghampiriku.
“Vano mau ini?” tanyaku.
Vano menganggukkan kepalanya dan aku ambil lepek untuk menaruh pisang goreng dan menyerahkan kepada Vano.
“Bunda… sepertinya ada yang orang di luar,” kata Vano sambil mengambil lepek berisi pisang goreng dari tanganku.
“Aku lihat dulu ya,” kataku sambil berdiri dari tempat dudukku dan perlahan melangkahkan kakiku menuju ke depan rumah.
Sampai di depan rumah terlihat seorang perempuan yang lebih tua dariku berdiri di depan pagar rumah, aku berjalan menghampirinya.
“Mbak, dari biro bu Linda?” tanyaku.
“Betul, ini sama Bu Rinda ya?” tanya perempuan tersebut.
“Iya Bu,” kataku sambil membuka pintu pagar.
“Silahkan masuk Bu,” kataku mempersilahkannya.
__ADS_1
Aku berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh perempuan tersebut dan duduk di ruang tamu.
“Maaf kita belum berkenalana, nama Ibu siapa?” tanyaku sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan
“Oh iya sampai lupa, nama saya Bu Riska, bisa di panggil Bu atau Mbak, silahkan,” jawab Bu Riska.
"Bu Riska pasti sudah tau tentangku dari bu Linda ya?" tanyaku.
"Iya, Bu Linda sedikit cerita tentang Bu Rinda," jawab Bu Riska.
“Sebentar Bu Riska, saya ke belakng dulu,” pamitku.
Aku berjalan perlahan-lahan menuju ke dapur.
"Nia, aku bawa pisang gorengnya ya? tolong ambilkan susu kedelai dua botol di kulkas," pintaku.
Nia membuka kulkas dan menyerahkan dua botol susu kedelai, dan aku mengambil nampan kemudian menaruh sepiring pisang goreng dan dua botol susu kedelai dan membawanya ke depan ke ruang tamu, aku menaruhnya di meja tamu.
"Silahkan Bu Riska," kataku mempersilahkan untuk mencicipi hidanganku.
"Iya terima kasih," ucap Bu Riska.
"Begini Bu Rinda, saya kemari untuk menyerahkan laporan keuangan kantor Bu Linda, juga beberapa program kerja baik yang sudah berjalan maupun yang masih dalam rencana," kata Bu Riska.
Aku menganggukkan kepalaku pelan tanda memahaminya.
"Ini Bu laporan-laporannya, bisa Ibu pelajari, bila ada yang perlu ditanyakan, bisa menghubungi nomer ponsel saya ini," kata Bu Riska sambil menunjukk tulisan no ponsel di kertas laporan.
"Iya Bu, saya pelajari dulu," kataku.
"Oh iya ngomong-ngomong Bu Rinda mulai masuk memimpin di kantor kapan?" tanya Bu Riska.
"Insyaallah bulan depan tapi sepertinya saya tidak bisa full ya, karena kondisi kehamilan saya ini," jawabku.
"Iya Bu Rinda, nanti saya bantu juga," kata Bu Riska.
"Terima kasih Bu," ucapku.
Bu Riska mengambi susu kedelai tersebut dan membukanya, perlahan meminumnya kemudian menutup botol dan meletakkan kembali di meja tamu.
"Terima kasih Bu, susu kedelainya segar," kata Bu Riska.
"Iya Bu, ada langganan setiap pagi ke sini mengantarnya, jadi ya... selalu fresh," kataku.
"Bu Rinda, saya pamit dulu, hubungi saya bila ada yang perlu di tanyakan," kata Bu Riska.
Kemudian berdiri dari tempat duduknya mengulurkan tangan ke arahku untuk berjabat tangan.
"Bu Riska terburu-buru saja," kataku sambil berjabat tangan dengan Bu Riska.
"Oh iya, ini susu kedelainya di bawa," kataku sambil mengambil botol susu kedelai dan aku serahkan ke Bu Riska.
"Terima kasih," ucap Bu Riska sambil menerima botol susu kedelai dari tanganku.
Bu Riska berjalan ke luar rumah beriringan denganku.
"Iya Bu Rinda ada yang perlu saya kerjakan di kantor hari ini, maaf mengganggu Bu Rinda," kata Bu Riska.
"Saya pamit dulu Bu Rinda," pamit Bu Riska ketika akan menaiki sepeda motornya.
"Hati-hati Bu," pesanku.
Perlahan Bu Riska meninggalkan rumah ibu mertua dan aku menutup pintu pagar.
Membalikkan badan berjalan perlahan meninggalkan teras menuju ke dalam rumah.
Mengambil berkas yang di bawa Bu Riska untuk aku pelajari di sofa keluarga.
"Apa itu Rin, kok banyak banget?" tanya Nia.
"Ini Nia, laporan dari kantornya ibu mertua," jawabku.
Aku mulai membuka halaman pertama berisi saldo kas, kemudian halaman selanjutnya berisi rincian.
__ADS_1
"Kok ada yang aneh ya... masak beli almari lagi, emang buat apa?" gumamku.
"Apa Rin?" tanya Nia.
"Ini Nia, coba kamu lihat aneh kan? kantor seperti tempat ibu mertua masak sebulan beli almari tiga kali, apa gak penuh itu kantor," jawabku.
Melihat lembar berikutnya tentang program yang sudah berjalan dan rencana.
"Kenapa tidak masuk ke sekolah? kan lumayan itu pendapatanya," gumamku lagi.
Aku tutup laporan tersebut, sedikit banyak aku tau gambaran seperti apa kantor ibu mertua.
Disini untuk manajemen aku sudah mengerti tinggal belajar lagi ke humannya, menghendel staf di sana. Ada kecurigaanku ke arah korupsi di sana, tapi biarkan dulu untuk bulan ini, setelah aku resign dari kantorku aku harus mampu mengungkapkannya, batinku.
"Rin... iya ya Rin mencurigakan," kata Nia sambil mengembalikan laporan yang tadi aku serahkan ke Nia.
"Bulan depan aku harus masuk ke sana Nia, ibu ini hampir 7 bulan sering berada di Jogja, disini plng cuma satu bulan gitu kalau dihitung semuanya, apa karena itu terus dimanfaatkan oleh stafnya, aku baru tau laporannya kan baru kali ini," kataku.
"Santai lah Rin, jangan tegang begitu, ingat kamu ini sedang hamil," kata Nia.
"Iya Nia, aku santai begini," kataku.
Kami mengobrol-ngobrol di ruang keluarga sampa siang hari dan merasa mengantuk akhirnya aku tidur di karpet bawah bersama dengan Vano.
Sore hari, ponselku kembali berbunyi dan segera aku angkat.
"Ibu bagaimana Vera?" tanyaku segera ketika panggilan telpon aku angkat.
"Alhamdulillah Rin, Vera sudah sadar, anaknya perempuan," jawab Ibh mertua.
"Alhamdulillah, ponakan baru," ucapku.
"Rin apa tadi Riska ke rumah?" tanya Ibu mertua.
"Iya Bu, ini tadi sudah Rinda pelajari, ada sesuatu yang mencurigakan, bulan depan saja Rinda masuk ke kantor Ibu," jawabku.
"Memang ada laporan yang bagaimana Rin? yang membuatmu curiga, Ibu dari tinggal di Jogja belum pernah melihat laporan keuangan, Ibu hanya menerima pendapatan yang di kirim tiap awal bulan," kata Ibu.
"Di transaksi, ada pembelian almari tiga buah untuk laporan bulan kemarin," kataku memberitahu.
"Loh... kok bisa sih?" tanya Ibu terkejut.
"Setelah ini aku fotokan laporannya, Ibu bisa tanya ke bu Riska," jawabku.
"Oke Rin, kamu segera fotokan ya, Assalamualaikum," kata Ibu dan telpon di matikan.
Aku memfoto laporan yang aku curigai tadi dan segera mengirimnya melalui whats up ke ibu mertua.
Beberapa saat kemudian, ponselku berdering dan segera aku angkat.
"Rin, besok Ibu akan bertanya tentang pembelian tersebut, dan pembelian tersebut juga tanpa persetujuanku, apa ada lagi transaksi yang mencurigakan?" tanya Ibu.
"Sepertinya sudah gak ada Bu, semuanya masih dalam batas normal menurut Rinda, oh iya Rinda juga butuh laporan yang lama Bu, laporan yang belum pernah Ibu cek, biar nanti Bu Riska yang mengantar ke sini, Rinda cek sama Nia," kataku.
"Terima kasih Rin, sampaikan juga terima kasihku untuk Nia," pesan Ibu mertua.
"Iya Bu, ini Nia sering tinggal di sini Bu sampai Mas Arif pulang nemani juga bantu Rinda," kataku.
"Gak apa-apa Rin, ibumu sendiri kalau lama di sana Bapakmu sakit, memang orang tuamu ini tidak bisa dipisahkan he he he," kata Ibu sambil tertawa.
"Iya Bu, tua-tua tapi seperti anak muda ya cinta mereka he he he," kataku dan juga tertawa.
"Salam ya untuk kedua orang tuamu kalau bertemu, sudah dulu ya, senin jam lima kamu sudah di rumah kan?" tanya Ibu mertua.
"Iya Bu, Rinda sudah di rumah," jawabku.
"Riska biar antar laporannya dan segera kamu cek sama Nia, nanti aku suruh Riska bawa uang untukmu juga Nia," kata Ibu.
"Gak usah lah Bu, jadi gak enak saja," kataku.
"Gimana sih kamu ini Rin, keringat kerja orang harus di hargai, kalau gak begitu dosa, sudah dulu ya, hati-hati, jaga kesehatan, Assalamualaikum," kata Ibu.
"Waalaikum salam," jawabku dan panggilan telpon aku akhiri.
__ADS_1