Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Pertemuan Orang Tua


__ADS_3

Sampailah di rumah orang tuaku, aku keluar dari mobil dan membuka pintu mobil, kuangkat dan kugendong Vano, biasanya mas Arif yang melakukan ini, air mataku berkaca-kaca lagi, begitu dalam kenangan yang kau ciptakan mas, sampai setiap aktifitasku teringat akan dirimu


"Tante masuk dulu Tante" pintaku ke Tante Linda sambil masuk menggendong Vano menuju kamar tidur kemudian mencari kedua orang tuaku, dan aku kembali ke ruang tamu.


Di ruang tamu terlihat Tante Linda dan kedua orang tuaku, aku kembali ke dalam ke dapur untuk membuat teh hangat dan kue untuk suguhan, kemudian kembali ke ruang tamu.


"Maaf Tante seadanya saja, silahkan Tante" kataku sambil duduk di sebelah ibu.


"Rin... kamu tinggal di tempat Tante saja, selama Arif di Papua, boleh kok sama orang tuamu" kata Tante Linda.


"Gak apa-apa Bu?" tanyaku.


"Kalau kamu mau di sana beberapa hari dan di sini beberapa hari gak apa-apa Rin biar tidak capek di jalan, tapi baik-baik sama Bu Linda" kata Ibu.


"Iya Bu" kataku.


"Tante... nanti Rinda kesana Tante, Rinda


kabari Tante kalau mau kesana" kataku.


"Ini Rin kunci rumah, tau sendiri kerjaan Tante bagaimana, khawatir kalau mau kesana Tante gak ada" jelas Tante Rinda.


"Tante mungkin tidak setiap hari Rinda kesana, kasihan orang tuaku pasti kangen sama Vano, aku juga tidak bisa jauh dari Vano" kataku.


"Senyamanmu saja Rinda, sewaktu-waktu kamu ke rumah bisa saja, kan sudah ada kunci rumah" kata Tante Linda.


"Bu... saya pamit dulu ya, maaf bila Arif ada salah dan tidak baik dengan keluarga ini" pamit Tante Linda


"Terimakasi sekali bu Linda, sudah sangat perhatian sama putri dan cucu saya" kata Bapak.


"Arif anak yang baik bu, kami malah selalu merepotkan Arif, maafkan jika putri kami juga ada yang tidak berkenan ke bu Linda juga nak Arif" kata Ibu.


Setelah itu Tante Linda keluar rumah kami diikuti oleh Bapak, Ibu dan aku, Tante Linda masuk ke dalam mobilnya.


"Hati-hati" kata Bapakku.


Tante Linda menganggukkan kepala dan perlahan mobil meninggalkan rumah ini.


Kembali ke ruang tamu kami bertiga berbincang-bincang.


"Rinda... bagaimana menurutmu ajakan Bu Linda untuk tinggal disana, kami tidak enak merepotkan di sana?" tanya bapak.


"Rinda juga begitu Pak, tapi tau sendirilah bagaimana Tante Linda itu, memang di rumah itu tidak ada siapa-siapa cuma tante Rinda saja" jelasku.


"Untuk menghormati niat baiknya, kamu kesana Rin bila kamu merasa capek untuk pulang" nasehat Ibu.


"Iya Bu, aku ke kamar dulu Bu, mau istirahat sebentar" kataku sambil berlalu meninggalkan kedua orang tuaku.


****


Di dalam mobil, seorang Ibu berusia sekitar 50 tahun sendiri mengendarai mobil sendiri, "Bagaimana aku membiarkan Rinda jauh dari pengawasanku, Arif begitu menyukainya, aku juga ingin menjaga Rinda, kalau ada apa-apa di jalan bagaimana, ini jauh juga dari kerjanya, kalau dia diapa-apakan laki-laki lain bagaimana, terus kalau mantan suaminya mengambil paksa anaknya bagaimana, kasihan juga kan dia, semoga dia mau menerima tawaranku untuk tinggal di rumahku" kata Tante Linda pelan.

__ADS_1


*****


Di dalam kamar aku melihat hp, masih centang satu pesanku ke mas Arif.


"Ya Allah lindungilah calon suamiku" doaku.


waktu menunjukkan jam 13:20 harusnya Mas Arif sudah turun dari pesawatnya kan transit di Bandara Ngurah Rai pikirku.


Tak berapa lama hp ku berbunyi ada pesan whats up masuk.


"Sayang... aku baru turun pesawat, dilanjut nanti lagi, kalau aku di ruang tunggu" balas Mas Arif.


"Hati-hati Mas" jawabku ya.


Vano terbangun dari tidurnya memeluk dan menciumku.


"Bunda... susu" rengeknya


"Sebentar ya Bunda buatkan" kataku sambil keluar kamar membuat susu untuk Vano, kemudian kuserahkan botol susu ke Vano.


Hp ku berbunyi kembali kulihat ada pesan dari Mas Arif.


"Rinda... masih kangen" katanya.


"Sama Mas, Rinda juga masih kangen" balasku.


"Tunggu tiga bulan lagi ya Rin" balasnya.


"Pasti Mas" balasku.


"Hati-hati calon imanku" balasku.


Masih di dalam kamar kurebahkan tubuh ini, mau istirahat, Vano masih bermain di dalam rumah ada Ibu dan Bapak yang mengawasi.


Seminggu ini serasa hidup lagi aku, batinku


Akhirnya aku terlelap tidur dan terbangun dari tidur siangku kulihat jam 15 sore, lumayan lama, rumah sepi... kemana mereka, tak ada suara Vano, mungkin Vano sama Ibu pikirku, dan pada akhirnya aku tidur lagi.


"Bunda bangun" terdengar suara anak kecil dan terasa ada yang menciumku.


"Vano... dari mana?" tanyaku masih memejamkan mataku, bukannya menjawab pertanyaanku Vano malah membuka-buka mataku.


"Iya Vano... ada apa" kataku dan kubuka mataku melihat Vano, kupeluk kucium anakku ini.


"Bunda tidur saja" katanya.


"Bunda capek sayang" jawabku sambil memeluk Vano.


"Vano tadi dari mana?" tanyaku.


"Sama Mbah uti jalan-jalan gak tau ke siapa, tanya mbah uti saja Bunda" jawab Vano.

__ADS_1


Keluar kamar tidur, kulihat Ibu sedang memasak.


"Tadi dari mana Bu?" tanyaku.


"Lah kamu tidur saja, Vano ku ajak ke rumah bude Siti" jawab Ibu sambil mengupas bawang.


"Ibu mau masak apa?" tanyaku.


"Ini Rin ada sayur di kulkas mau tak oseng-oseng" jawabnya.


"Rinda yang masak saja Bu" pintaku


Akhirnya selesai masak juga.


Kulihat Vano bermain-main di depan bersama dengan teman sebayanya, Ibu ada di depan mengawasi Vano.


"Vano sudah mandi?" tanyaku


"Sudah, Bunda yang belum mandi" katanya.


Waktu begitu cepat sudah jam 8 malam, kulirik Hp tidak ada pesan, mungkin mas Arif belum turun dari pesawat pikirku, kutidurkan Vano sambil berdongeng, kulihat Vano beberapa kali menguap dan akhirnya tidur.


Tak lama kemudian telpon berdering, dan segera kuangkat.


"Assalamualaikum" salamku.


"Waalaikumsalam" jawabnya.


"Mas bagaimana sudah sampai? tanyaku.


"Iya Rin ini baru mau keluar dari Bandara, nunggu jemputan untuk ke mes, kamu sudah makan? kata Mas Arif.


"Sudah Mas, oh iya Tante Linda maunya aku tidur di rumah Mas, gimana?" tanyaku.


"Malah seneng aku, ada yang nemani Ibu, kamu juga gak jauh berangkat kerja, Vano gak capek dalam perjalanan" jelasnya.


"Aku dikasih kunci rumah sama Tante" kataku.


"Ibu jarang di rumah, sering ketemu orang-orang mungkin karena tidak mau kamu menunggunya kalau mau ke rumah, mungkin itu kunci rumah yang biasa aku pakai yang sekarang kamu bawa Rin" katanya.


"Mas Arif hati-hati ya...? nanti kalau sampai mes kabari Rinda" kataku.


"Iya Rin, kamu juga hati-hati, jaga dirimu, jangan kasih hatimu ke laki-laki lain ya" katanya.


"Enggak lah Mas" kataku.


Setelah telpon aku matikan kemudian aku tertidur.


Tiba-tiba bunyi telpon menggugah tidurku kuangkat telponya masih mengantuk.


"Rin aku sudah di mess" katanya.

__ADS_1


"Iya" jawabku sekenanya karena mengantuk.


"Kamu sudah tidur ini Rin, dilanjut istirahatnya dulu, aku juga mau istirahat" katanya.


__ADS_2