
Seminggu kemudian...
Malam ini Nia tidur di rumah mertua, besok pagi Mas Arif dan Mas Deni berangkat ke Papua.
"Mbak, aku keluar dulu," pamit Mas Deni ketika kami sedang berada di ruang keluarga.
"Kamu juga Nia?" tanyaku menggoda.
"Rin... sehari gak menggodaku gitu gak enak apa," kata Nia kesal.
"He he he," aku hanya tertawa mendengar perkataan Nia yang kesal.
"Hati-hati ya...," kata Mas Arif.
Mas Deni dan Nia keluar rumah memakai sepeda motornya Nia.
Terdengar suara sepeda motor di nyalakan dan perlahan suaranya meninggalkan rumah ini.
"Mereka sepertinya sedang kasmaran," kataku.
"Besok lihat saja, pasti ada yang menangis, seperti kamu dulu." Mas Arif menggodaku.
"Kapan sih Mas, aku lupa," kataku.
"Di Bandara gitu," jawab Mas Arif.
"He he he, kan masih kangen Mas bertahun-tahun gak ketemu, eh ketemu seminggu sudah kamu tinggalkan lagi," kataku.
"Sekarang tidak kangen?" tanya Mas Arif.
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Mas Arif.
"Sudah terbiasa Mas, jadi kangennya itu sekarang ditahan saja," jawabku.
"Apa Mas gak kangen sama Rinda?" tanyaku.
"Ya kangen Rin, kamu itu selalu aku rindukan," jawab Mas Arif.
Vano masih asyik bermain di karpet, kemarin di belikan Mas Arif lego dari bahan kayu.
Aku rebahkan kepalaku di pundak Mas Arif dan Mas Arif merangkul pundakku kemudian mengusap ramputkan dan mencium keningku.
"Rin... cuti depan kamu lahiran ya?" tanya Mas Arif.
"Iya Mas, Mas kalau bisa cutinya Mas waktu Rinda melahirkan ya," kataku.
"Insyaallah sayang, aku hanya ingin kalian berdua istri dan anakku selamat," kata Mas Arif.
"Iya Mas, Aamiin...," ucapku.
Waktu menunjukkan sudah jam delapan malam, Nia dan Mas Deni belum juga kembali, sedangkan Vano sudah mulai mengantuk.
"Nia kok belum pulang ya Mas?" tanyaku.
"Mereka sudah dewasa Rin, bukan anak-anak, nanti juga pulang," jawab Mas Arif sambil berdiri dan berjalan menuju Vano.
__ADS_1
"Kamu istirahatlah, Vano aku yang memindahkannya," pinta Mas Arif.
Mas Arif menggendong Vano masuk ke dalam kamar, aku masih duduk di sofa ruang keluarga sambil melihat tv, tanganku mengusap lembut perutku.
Tak lama kemudian, Mas Arif keluar dari kamarnya berjalan ke arahku dan duduk di sampingku.
Mengusap perutku dan menciumnya.
"Nak... besok Ayah berangkat bekerja, kamu baik-baik ya? nanti saat ayah pulang, kami melihatmu lahir di dunia ini, Ayah sudah tidak sabar menunggumu lahir" bisik Mas Arif.
Perutku kemudian bergerak, " Eh Mas, dia bergerak, mungkin dia mendengar perkataanmu," kataku.
"Iya Rin," kata Mas Arif kemudian menciumi perutku.
"Mas...," panggilku pelan.
"Iya... apa Rin?" tanya Mas Arif.
"Mas... cuti depan aku tidak bisa memberi kewajibanku, aku melahirkan, mungkin cuti depannya lagi baru bisa, apa Mas tahan tidak bercinta kurang lebih enam bulan?" tanyaku serius.
"Aku akan menahannya Rin," jawab Mas Arif.
"Nanti di sana ada yang menggodamu dan Mas terlena," kataku curiga.
"Rin... percayalah kepadaku, berdoalah untuk suamimu saat jauh biar tidak tergoda kepapa perempuan lain, selalu berdoalah untukku tetap tergoda olehmu," pinta Mas Arif.
"Kalau tegang terus bagaimana? kan tidak bisa di salurkan," kataku.
"Ya... dikeluarkan di luar sayang," kata Mas Arif kemudian memandangku memegang kedua pipiku dan mencium lembut bibirku.
"Sayang... aku mencintaimu selamanya," ucap Mas Arif pelan saat melepas ciumanya.
"Nia... pintu pagarnya sudah di kunci?" tanyaku.
"Sudah Rin," kata Nia.
"Kalian lanjut dulu, kami masuk kamar, sudah agak malam," kata Mas Arif sambil berdiri dan berjalan menuju ke kamar, aku mengikutinya dari belakang.
Kami masuk ke dalam kamar.
"Mas... ayo tidur," kataku ketika kami sudah berbaring di atas ranjang.
"Iya Rin, kamu istirahat dulu, aku mau menyiapkan yang aku bawa besok," kata Mas Arif sambil duduk di pembaringan kemudian turun dari pembaringan mengambil tas dan beberapa baju juga barang-barang yang akan di bawa besok.
Pesawat besok siang jam satu siang, jadi Mas Arif dan Mas Deni berangkat pagi hari.
Aku mulai memejamkan mataku dan tertidur.
Beberapa saat kemudian terasa ada yang memelukku dari belakang.
Aku bisa merasakan kalau itu suamiku sendiri, kami tidur bertiga di atas pembaringan.
***
Pagi hari, semua yang ada di rumah sibuk mempersiapkan Mas Arif dan Mas Deni berangkat ke Papua, tidak dengan Vano yang masih terlelap tidur.
__ADS_1
Aku dan Nia sedang memasak bersama di dapur, sedangkan Mas Arif dan Mas Deni membersihkan rumah.
"Nia... bagaimana perasaanmu?" tanyaku ke Nia saat di dapur.
"Kok secepat ini ya?" tanya Nia.
"Nia pasti laki-laki kita ini pasti kembali lagi ke sini, ya... dua bulan lagi, kamu sabar, kita banyak doa semoga di sana mereka baik-baik saja, mata dan hatinya di tutup Allah hingga tidak tergoda oleh perempuan di sana," kataku.
Mas Deni terlihat menuruni anak tangga sudah membawa tas ransel di punggunggnya dan sudah rapi.
Mas Arif sudah juga sudah keluar kamar membawa tas ranselnya.
Aku menghampiri suamiku dan mengajaknya masuk ke dalam kamar kembali.
"Mas... maaf semalam tidak melaksanakan kewajibanku, jangan berikan ini pada perempuan lain, Mas... dua bulan lagi aku melahirkan, Mas pasti puasa lama, sabar tidak?" tanyaku sambil mencium bibir Mas Arif.
"Enggak sayang istriku, hanya kamu yang ada dalam hatiku tidak ada perempuan lainnya," jawab Mas Arif ketika kami melepaskan ciuman kami.
"Rin... kamu sudah pesan transportasi online belum?" tanya Mas Arif.
"Belum Mas, setelah ini, Mas gak pamit sama Vano?" tanyaku.
Mas Arif naik ke pembaringan mencium pipi Vano, seraya berkata, "Vano... Ayah berangkat kerja."
Vano menggeliat dan mulai membuka matanya kemudian memeluk Mas Arif dan berbisik, "Kapan pulang lagi?."
"Dua bulan lagi Vano, Vano yang pintar ya," pesan Mas Arif sambil menggendong Vano turun dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar, aku mengikutinya.
Terlihat Mas Deni sedang duduk berdampingan di kursi sofa, raut muka mereka terlihat sedang bersedih, ya...perpisahan itu sangat menyakitkan, hubungan jarak jauh juga rentan permasalahan juga perselingkuhan tapi dengan doa dengan perasaan kita untuk tidak menyakiti pasangan insyaallah hubungan jarak jauh akan menjadikan kerinduan yang mendalam juga keharmonisan keluarga di saat bertemu melepas rindu.
"Ayo sarapan bersama," ajakku.
Kami berlima menuju ke meja makan, duduk di sana dan menikmati masakan kolaborasi antara aku dan Nia.
Selesai sarapan aku memesan transportasi online, dan sudah mendapatkan driver. Sekarang waktu menunjukkan pukul enam lebih seperempat, kami menuju teras rumah duduk di sana sambil menunggu mobil yang kami pesan.
Terlihat Nia menangis dan Mas Deni sedang menenangkan Nia.
Mobil sampai di depan rumah mertua, aku memeluk suamiku dan berbisik, "hati-hati ya."
"Kamu juga sayang," bisik Mas Arif.
Mas Arif membungkukkan badannya hingga sejajar dengan tubuh Vano dan memeluk mencium pipi Vano.
"Vano... jadi anak yang baik ya," pesan Mas Arif.
"Ayah hati-hati, segera pulang lagi," kata Vano sambil mencium pipi Mas Arif.
Nia dan Mas Deni saling berpelukan terlihat Mas Deni mengusap air mata Nia.
Kemudian Mas Arif dan Mas Deni memasuki mobil kami melambaikan tangan.
Nia memelukku dan menangis, aku usap punggung.
"Sabar, dan banyak doa, hubungan jarak jauh itu menyakitkan di saat berpisah tapi menjadi bahagia di saat berjumpa lagi," ucapku.
__ADS_1
"Ayo siap-siap bekerja," kataku.
Kemudian kami masuk ke dalam untuk bersiap-siap bekerja dan kami berangkat kerja bersama dengan dua sepeda motor.