
"Vano masih tidur pulas Mas, semoga besok gak sakit lagi" kataku sambil melihat Vano ke belakang
"Kemarin sakit itu kecapekan dari Alun-alun Mas" ceritaku.
"Mungkin capek Vano, memang main apa di Alun-alun? tanya Mas Arif.
"Itu prosotan yang di Alun-alun dia naik sampai atas sendiri" ceritaku.
"Berani sekali dia" puji Mas Arif.
"Eh mas sudah mau sampai" kataku.
Mobil berhenti di depan rumah kedua orang tuaku, tapi pintu rumah masih tertutup dalam hati kemana kedua orang tuaku.
"Mas Arif, bisa minta tolong gendong Vano, aku mau membuka pintu" pintaku
Mas Arif menganggukkan kepalanya dan keluar dari mobil membuka pintu tengah mobil berniat untuk menggendong Vano, aku keluar dari pintu depan dan kubuka pintu rumah.
"Mas lewat sini, ini kamar Vano" kataku dan mas Arif mengikutiku sambil menggendong Vano masuk ke dalam rumah.
Setelah Vano diletakkan di kamar tidur aku keluar mau mengambil tas di depan.
Tiba-tiba...
Mas Arif memelukku dari belakang.
"Mas lepaskan Rinda, gak enak kalau dilihat tetangga atau Ibu dan Bapak tiba-tiba datang" kataku.
Bukanya melepaskan pelukannya tapi malah lebih erat memelukku.
"Rin..." ucap Mas Arif pelan dan kubalikkan tubuhku menghadapnya inginku lepas dari pelukannya tapi malah aku didekap lagi lebih keras.
"Aw...Mas gak bisa nafas aku kalau begini" kataku.
"Maaf" katanya sambil melonggarkan pelukannya, tanpa aku duga mas Arif menciumku sambil berkata.
"Aku sangat merindukanmu Rin, tolong cintai aku lagi, jangan berikan hatimu pada lelaki lainya" katanya.
Aku tak bisa berkata apa-apa, ciumanya pelukanya membuatku terbuai melayang terbang tinggi.
kupandangi Mas Arif.
"Mas... aku juga rindu" kataku.
Ada senyum manis mengukir di bibirnya, dan dia mencium pipiku lagi, dag dig dug rasanya hatiku mungkin pipi ini memerah warnanya karena malu juga senang
"Mas... Mas gak pulang? gak baik di rumah janda lama-lama atau bersama janda lama-lama nanti banyak setan yang membisiki" bisikku dengan pelan.
"Besok masih bisa bertemu kan? katamu akan mengantarku kerja sampai mas kembali ke Papua" bisikku lagi.
Mas Arif melepas pelukanya dan tersenyum, lagi-lagi menciumku lagi.
"Aku pulang dulu ya" katanya dengan tatapan mata yang tak rela.
Mas Arif meninggalkan rumah ini, tapi pipiku, keningku, bibirku masih terasa ada ciumannya, hatiku melayang bahagia tapi sedih juga karena akan ditinggalkanya lagi, aku takut dia seperti dulu tanpa kabar berita.
Tak lama kemudian kedua orang tuaku datang
"Dari mana Pak, Bu?" tanyaku.
"Dari rumah embah mu, dapat kabar kalau embah sakit" jelas Ibu.
__ADS_1
"Loh... sakit apa embah Bu? tanyaku.
"Sakit tua Rin, usianya saja sudah 70 tahun an" jelas Ibu
"Arif kemana? tanya Bapak sambil melihat sekeliling rumah.
"Sudah pulang barusan saja" jelasku.
"Vano mana?" tanya Ibu.
"Itu tidur pulas, dari tadi" kataku.
"Rin... bagaimana kamu dengan Arif? sepertinya dia bener-bener serius sama kamu Rin" ucap Bapak.
"Rinda takut berharap Pak, takut ditinggalkan lagi seperti dulu, apalagi minggu depan dia sudah balik Papua" jelasku.
"Lagian pak, Rinda belum habis masa iddah, apa kata orang nanti, apa kata ayahnya Vano juga keluarganya? lanjutku.
"Iya sih" jawab Ibu.
"Aku mengikuti air mengalir saja Pak, Bu, kalau dia jodohku pasti akan bersamaku juga nantinya" kataku.
****
Paginya setelah sholat subuh seperti hari-hari biasanya aku menyiapkan semua keperluanku juga Vano, hari ini Vano sudah bisa mulai di penitipan anak juga sekolah, sekolahnya dia plus penitipan anak, sambil menyuapi Vano makan, ada mobil yang berhenti di depan rumah.
"Bunda Om Arif datang" teriak Vano.
Memang betul tak lama kemudian mas Arif turun dari mobil menghampiri Vano dan menggendongnya menuju ke arahku.
"Pagi sekali mas, aku saja belum siap-siap Mas sudah sampai sini" kataku.
"Demi melihat bidadariku belum mandi aku kesini" katanya sambil tertawa.
"Belum lah, aku mau sarapan sama kamu makanya pagi-pagi kesini"katanya sambil senyum-senyum.
"Aku gak masak Mas, Ibu juga gak masak, tadi cuma buat ini untuk Vano" kataku.
"Kalau gitu sarapan di luar saja" katanya.
"Ya sudah Mas, aku tak siap-siap ya" jawabku.
Setelah menyiapkan semuanya segera aku menemui Mas Arif dan berangkat kerja, enak juga setiap hari ada yang antar batinku he he he.
Dalam perjalanan.
"Mas Arif... mau sarapan apa?" tanyaku.
"Kamu pingin apa?" tanyanya balik.
"Kok tanya balik sih Mas, aku jarang sarapan, biasanya jam 9 aku sarapan di kantin tempatku bekerja" jelasku.
"Nasi pecel mau?" tanyanya.
"Mau Mas, mas tau nasi pecel yang enak dimana? tanyaku.
"Ada, gak jauh dari sini, ke sana saja ya" jawabnya.
Aku menganggukkan kepalaku, Vano seperti biasa mesti tidur kalau dalam perjalanan begini.
"Nah... disitu Rin" katanya sambil membelokkan mobil ke parkir warung pecel madiun, masih sepi pengunjung, waktu masih menunjukkan jam setengah tujuh.
__ADS_1
Setelah makan, meneruskan perjalanan menuju sekolah Vano dan ke tempat kerjaku.
"Rin...hari minggu aku berangkat, bisa antar aku ke Bandara?" tanyanya.
"Bisa mas, naik bis ya, memang penerbangan jam berapa?" tanyaku
"Agak siang jam 10 tapi jam 9 sudah harus sampai sana" jelasnya.
"Oke bisa" jawabku.
"Mas aku turun sini ya" kataku
setelah turun dari mobil mas Arif aku jalan kaki menuju kantorku.
Sampai di kantor
"Rin... sudah jadian nih, kan beberapa hari ini antar jemputmu" tanya Nia.
"Apa sih Nia, gak taulah bagaimana aku bercerita" jawabku sambil membuka lembar demi lembar berkas di depanku.
"Aku juga tidak berani banyak berharap Nia, aku ini apa? janda anak satu, sedangkan dia masih bujang" jelasku.
"Oh my god... dia bujang...?? kata Nia seakan tidak percaya.
"Beneran" tanyanya lagi.
"Iya beneran status di ktp nya sih belum kawin gak tau kalau sudah kawin-kawinan" kataku sambil tertawa.
"Kamu naksir?" kataku lagi.
"Bukan naksir Nia, lah Aldi mau aku kemanakan hayo..., cuma heran saja di usia 29 tahun belum nikah, dan masih mengharapkan cintamu yang singgle parent punya anak satu" jelas Nia.
"Mangkanya itu Nia, aku juga heran dan tidak percaya kalau dia bener mau sama aku, coba pikir yang lajang masih banyak kan, kok masih mau ngarep aku yang seperti saat ini" kataku lagi.
Hp dalam tas ku berbunyi, segera ku buka tas dan ku cari Hp ku.
"Assalamualaikum"sapaku.
"Waalaikumsalam" jawabnya.
"Ada apa Mas Arif" tanyaku.
"Masih lama kamu pulang?" tanyanya.
kulihat jam menunjukkan jam empat kurang seperempat.
"Sebentar lagi Mas, ini mau beres-beres kerjaan juga mau siap-siap pulang" kataku.
"Tunggu di parkir mobil ya, aku jemput Vano dulu" kata Mas Arif.
"Makasih Mas" kataku sambil menutup telpon.
Tak lama kemudian.
Hp ku berdering kembali
"Bu Rinda ini ada yang jemput Vano, Bu Via tidak kenal, kata Vano namanya Om Arif, Vano minta pulang sama Om Arif begitu" kata Bu Via.
"Iya betul Bu, gak apa-apa Vano sama Om Arif" kataku dan kututup telp kemudian menelpon mas Arif.
"Mas sudah ketemu Vano?" tanyaku.
__ADS_1
"Sudah Rin, tapi ini Bu gurunya khawatir sama aku dikira aku penculik mungkin he he he" jawabnya sambil tertawa.
"Ya sudah, aku tunggu di parkiran ya..." kataku.