
Suatu sore di penitipan anak, ketika menjemput Vano
"Vano setelah ini pulang ke mbah uti ya?" kataku
"Horeeeee ketemu mbah uti, Vano juga kangen" katanya
"Ayo pulang bunda" katanya lagi
"Bu Via, bu Ana, pulang dulu ya? makasih menjaga Vano" pamitku
Hari ini pulang ke rumah orang tuaku setelah empat hari di rumah tante Linda, mungkin nanti kalau aku menikah sama mas Arif seperti ini kehidupanku ya batinku
"Vano makan dulu ya setelah ini, Vano mau makan apa?" tanyaku
"Ayam goreng bunda...kayak upin ipin" katanya
"Oke kita ke warung lalapan ya?" jawabku
Perjalanan menuju warung lalapan, sampai disana kuparkir sepeda di pinggir jalan, aku masuk ke dalam warung tenda yang ada tempat untuk duduk lesehan, memesan makan dan duduk lesehan
"Vano... jadi anak manis duduk diam ya?" kataku, karena Vano termasuk anak yang aktif jadi khawatir membuat gak nyaman pengunjung lainya, tidak lama kemudian yang jaga warung datang membawa pesananku
aku suapi Vano, aku juga ikut makan
"Enak ya Vano?" kataku
"Iya bunda" katanya sambil mengunyah makanan
Setelah selesai makan, aku membayar makananku dan meninggalkan warung menuju ke rumah orang tuaku, baru saja menstater sepeda, ada mas Andi di dekat sepedaku hmmm bener-bener ini orang kayak paparazi, gak bosan-bosannya menggangguku pikirku
"Rin tunggu" katanya
"Ada apa lagi? aku gak banyak waktu, sudah sore kasihan anakku" kataku
"Aku ikut pulang ya, mau bertemu orang tuamu" katanya
"Maaf mas, gak bisa, orang tuaku lagi gak enak badan gak bisa diganggu" kataku memberi alasan
"Ya kebetulan aku bisa jenguk" katanya lagi
Astaghfirullah, kok ada orang seperti ini batinku
"Maaf mas, nanti orang tuaku malah mikir yang tidak-tidak dan sakit ketika bertemu denganmu, karena aku sudah dikhitbah laki-laki lain, tolong jangan ganggu aku lagi dan maaf" kataku sambil menstater sepedaku
"Rin... tunggu" katanya, tapi aku gak menggubris dia, aku langsung menuju jalan raya menuju ke arah rumahku, berkali-kali aku menengok kaca spion melihat ke belakang khawatir dia mengikutiku.
__ADS_1
Berhenti di toko ritel A*******, Vano masih tidur di gendonganku, aku tengok kanan kiri sepertinya sudah aman dari dia, aku masuk ke toko tersebut membeli sesuatu yang aku butuhkan setelah mendapatkan yang aku butuhkan aku membayar ke kasir dan keluar dari toko tersebut, masih merasa tidak aman aku masih melihat sekitar sebelum menaiki sepeda motor, karena kuwatir diikuti olehnya dan tau rumahku, ya Allah... kapan aku bisa tenang begini batinku, setelah merasa aman aku menaiki sepeda motor menuju ke rumah orang tuaku.
Sampailah di rumah orang tuaku
" Assalamualaikum, Vano pulang mbah uti" teriakku
"Waalaikum salam, eh cucuku pulang, kangen empat hari ditinggal rumah sepi Rin" kata ibu
"Sebentar bu aku tidurkan Vano dulu" pintaku sambil melangkah menuju kamar, ah...kamar yang aku rindukan batinku
"Rinda... ada tamu mencarimu" kata bapak
"Siapa pak?" kataku
"Kurang tau Rin, laki-laki katanya temanmu" jawab bapak
sapa lagi? bapak sepertinya tidak kenal, apa mungkin dia? ya Allah... semoga tidak dia batinku
"Iya pak sebentar" kataku
Menuju ke ruang tamu, deg...orang ini lagi
"Loh kok tau, rumahku" kataku
"Aku ikuti kamu, orang tuamu sehat begitu" katanya
"Bisakah kamu tidak marah begitu" katanya
"Aku begini, karena sikap kamu" kataku ketus
Ketika aku lagi berbicara dengan mas Andi, ibu datang membawa minuman dan kue
"Bu, boleh saya menikahi Arinda" kata mas Andi
ini orang ngapain sih omong begini batinku
"Kami sudah kenal lama" katanya lagi
"Nak... siapapun yang mau menikahi Arinda pasti kedua orang tua akan merestui pilihan anak tapi... semua itu keputusan dari Arinda, mau apa tidak" kata ibu
"Bapak... bisa kesini?" panggil ibu
"Iya sebentar bu" kata bapak dari dalam rumah sambil berjalan menuju ruang tamu
"Ada apa bu?" kata bapak ketika bertemu dengan kami di ruang tamu
__ADS_1
"Pak... ini teman Arinda datang mau menikahi Arinda, bagaimana menurut bapak? kata ibu
dalam hati semoga bapak menolak, aku terus menatap wajah bapak berharap bapak mengerti aku tidak mau batinku
Lama bapak diam memandangku juga mas Andi
"Kamu kerja dimana?" tanya bapak
"Saya di Pemda pak, saya pns" jawabnya
"Oh pns" kata bapak
"Saya bisa membahagiakan Arinda pak" katanya lagi
"Membahagiakan yang seperti apa?" tanya bapak
Aku hanya diam membisu mendengar pembicaraan mereka demikian juga dengan ibu, terdengar telpon dari kamar berkali-kali berdering, nanti sajalah aku telpon balik yang nelpon batinku, berharap bapak menolak dan dia pergi dari rumah ini batinku
"Saya bisa membahagiakan dengan materi, Arinda minta apapun akan aku beri" jawabnya
"Nak... saya mendidik anak bukan menjadi orang materialistis, jadi kebahagiaan bukan diukur dari materi, kamu mungkin pernah melihat orang yang kehidupannya biasa bahkan nyaris kurang untuk makan tapi mereka tetap bisa tersenyum bahagia, ada juga orang yang cukup harta dan punya uang banyak tapi tidak ada senyum bahagia" kata bapak
"Dan... bapak minta maaf, bukan menolak atau bagaimana? Rinda ini sudah milik orang, jadi tidak bisa seenaknya menerima orang lain" kata bapak lagi
"Jadi walaupun kamu bersihkeras memaksa juga tidak bisa, cinta itu tidak bisa dipaksakan tapi cinta itu tumbuh dari hati masing-masing" kata bapak sambil memegang dadanya
"Jadi silahkan meninggalkan rumah ini, Arinda juga ingin istirahat" kata bapak sambil mempersilahkan mas Andi keluar rumah dengan gerak tangannya
dalam hatiku Alhamdulillah terima kasih bapak
Mas Andi meninggalkan rumah dengan wajah muram, pikirku apa peduliku, kamu pikir hartamu bisa membeli aku
"Rinda duduk dulu" pinta bapak
"Iya pak" kataku sambil duduk di ruang tamu bersama dengan ibu
"Itu tadi siapa? kamu sudah kenal lama? kamu gak apa-apa kan bapak menolaknya?" tanya bapak
"Bapak... rinda malah terimakasih sekali bapak menolak dia, iya itu kakak kelasku dulu, satu angkatan sama mas Arif pak, dari dulu ngejar Rinda, dulu pernah berantem sama mas Arif karena sikapnya yang tidak sopan" kataku
"Kamu ketemu dia dimana?" tanya bapak
"Gak sengaja waktu makan sama Vano, Rinda ketemu, dia mengikutiku dari jauh segala gerak Rinda, tadipun juga ketemu sudah Rinda marahi pak, Rinda gak tau dia mengikuti Rinda sampai rumah" jelasku ke bapak
"Kok ada orang seperti itu ya Rin, mungkin dia anak orang kaya, terus cinta kamu, jadi pikiranya cinta bisa di beli dengan hartanya" kata ibu
__ADS_1
"Iya mungkin begitu pikiranya, Rinda ke kamar dulu, dari tadi ada telpon masuk khawatir ada yang penting" pamitku sambil berlalu menuju kamar