Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Tak Tergoda


__ADS_3

Pagi ini, setelah kami bercinta...


"Rin... kamu masih marah?" tanya Mas Arif sambil mencium perutku dan berbisik, "Jangan meniru Bundamu ya yang suka marah-marah."


Aku mendengar ucapanya langsung memukul punggungnya.


"Yang bikin marah juga siapa." Ucapku jengkel.


"He he he," Mas Arif tertawa.


"Rin... kamu mau tau siapa perempuan itu?" tanya Mas Arif.


"Yang jelas ya perempuanmu di sana," jawabku, sambil berdiri dan akan berjalan keluar kamar, tapi tangan Mas Arif segera menarikku ke pangkuannya.


"Sudah jangan marah, aku sudah tidak pernah tidur denganya," kata Mas Arif.


Aku terkejut mendengar ucapanya, "Hah."


"Maksudmu, kamu pernah tidur dengannya?" tanyaku.


Dan langsung saja aku memukulinya berkali-kali dengan bantal, "Kurang ajar juga suamiku, istri hamil niduri perempuan lain,"


"Aw," rintihku dan menghentikan memukul tubuh suamiku.


Aku merebahkan tubuhku sambil mengusap perutku yang terasa kencang sekali.


Melihat aku seperti itu, Mas Arif cemas dan bertanya kepadaku,


"Rin, Rinda, kamu kenapa?"


"Perutku kencang banget sih Mas," jawabku.


"Kamu buat istirahat saja, nanti sore kita ke klinik," kata suamiku.


"Rin, kamu jangan punya pikiran yang tidak-tidak denganku," kata Mas Arif.


"Gak punya pikiran macem-macem bagaimana Mas, coba pikirlah, apa yang ada dipikiranmu jika aku dapat kiriman foto begitu? terus Mas bilang niduri dia, Mas pikir hatiku ini dari batu apa?" tanyaku.


Mas Arif merebahkan tubuhnya di sampingku dan menghadapku, tangannya mengusap perutku dengan lembut, kemudian mencium pipiku.


"Itu masa laluku Rin, aku sejak mencarimu dan bertemu denganmu sudah tidak pernah melakukanya pada perempuan manapun, hanya kamu yang ada di hidupku," katanya.


"Kalau kamu mau tau, itu mantanku dulu yang aku perawani dulu, kapan hari aku bertemu di Timika, pertemuan gak disengaja, dia menggodaku juga tapi aku tidak tergoda olehnya, kamu kalau tidak percaya tanyakan saja sama Deni," kata Mas Arif.


Memandangku dengan tatapan mata yang lembut tapi ada kekhawatiran dari raut wajah suamiku.


"Rin, gimana perutmu?" tanya Mas Arif.


"Sudah lebih baik Mas," jawabku.


"Jangan marah lagi ya? aku hanya cinta kamu istriku," kata Mas Arif sambil mencium pipiku.


"Mas...." Bisikku.

__ADS_1


"Apa benar yang Mas omongkan?" tanyaku.


"Iya Rin, untuk apa aku dengannya, aku lebih suka dirimu yang bisa menjaga tubuhmu hanya untuk dilihat suamimu saja, kamu lebih sexy, lebih menggairahkan, dan yang terpenting, kamu mempunyai anak denganku," jawab Mas Arif.


"Jangan bersedih, jangan menangis lagi, kasihan anak ini," katanya lagi sambil mengusap perutku.


"Kamu istirahat saja, nomernya akan aku blokir," katanya pelan dan memelukku.


Aku memeluknya lebih erat.


"Kamu pingin apa? aku carikan," kata Mas Arif.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Nak, kamu baik-baik saja kan? maafkan Ayah ya." Bisik Mas Arif sambil mencium perutku.


Mas Arif keluar dari kamar tidur, tak lama kemudian menggendong Vano masuk ke dalam kamar.


Kami bertiga berada di atas tempat tidur.


"Bunda sakit?" tanya Vano sambil memegang dahiku.


"Bunda gak apa-apa Vano, cuma lelah saja," kataku berbohong.


Kemudian Vano mencium perutku.


Aku dan Mas Arif tersenyum melihat tingkah Vano.


"Vano sepertinya suka dengan adiknya ya Ri," kata Mas Arif.


"Iya Mas," kataku.


"Periksa sekarang ya?" tanya Mas Arif.


"Nanti sore saja Mas, kan praktek dokter Lisa buka nanti sore." Aku menjelaskan.


"Tapi beneran kamu gak apa-apa?" tanya Mas Arif dengan wajah cemasnya.


Aku tersenyum melihat expresi wajah suamiku yang cemas begitu.


"Sudah enakan sekarang Mas," kataku sambil bangun dari tidur.


"Kamu istirahat saja, mau diambilkan apa?" tanya Mas Arif.


"Jus apukat saja Mas," jawabku sambil merebahkan tubuhku kembali.


"Iya Rin, aku segera ambilkan, kamu istirahat saja, maafkan aku ya sayang." Ucap suamiku sambil mencium keningku, kemudian turun dari pembaringan dan keluar kamar.


Maksud dari perempuan itu tadi apa? ya perempuan penggoda, tapi Alhamdulillah punya suami yang tak tergoda olehnya.


Hanya ingin mendapat perhatian dari suamiku sampai melepas bajunya seperti itu, astaghfirullah, batinku.


Mas Arif kembali membawa segelas jus apukat dan memberikan kepadaku disaat aku bangun dari tidurku.

__ADS_1


Aku menerima segelas jus apukat dan meminumnya kemudian menyerahkan kembali ke suamiku seraya berkata, "Terima kasih Mas."


Dan aku tersrnyum memandang suamiku.


"Kamu istirahat saja, aku akan ajak Vano jalan-jalan dan membeli makanan." Pamit suamiku.


"Iya Mas hati-hati," kataku dan mencium pipi suamiku.


Mas Arif dan Vano meninggalkan rumah, aku masih berbaring di kamar tidur sambil browsing-browsing mencari artikel tentang kehamilan.


Anakku sudah seperti itu ya di dalam perutku saat usia empat bulan ini.


Tiba-tiba terasa ada gerakan kecil dari dalam perutku, "Ya Allah...Alhamdulillah, nak... kamu menunjukkan gerakan pertamamu kepada Bunda." Gumamku.


Tak terasa air mata bahagia menitik dari ujung mataku.


Perutku dan badanku sudah lebih baik, aku menuju ke kamar mandi untuk mandi dan keramas, serasa segar badan ini ketika terkena guyuran air dari shower, aku usap lembut perutku dengan raut bahagia, lima bulan lagi kami bisa bertemu denganmu nak, batinku, dan terasa ada gerakan kecil dari dalam perutku, aku tersenyum bahagia.


Selesai mandi dan merapikan diri, aku menuju ke dapur mau memasak siomay lagi, ah... entahlah, beberapa minggu ini suka sekali dengan siomay, pagi, siang dan malam selalu nyemil siomay tak pernah bosan.


Selesai memasak, aku membawa siomay yang sudah aku taruh di piring dan duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton acara tv dan ngemil siomay.


Waktu menunjukkan pukul sebelas siang.


Beberapa saat kemudian suamiku dan anakku pulang.


Vano berlari menghampiriku dengan membawa mainan mobil dari besi.


"Bunda, Vano dibelikan Ayah tadi," kata Vano gembira.


Aku tersenyum melihat Vano gembira.


Mas Arif datang, aku berdiri dan berjalan menghampirinya, memeluk dan menciumnya, kemudian mengambil bungkusan kresek berisi makanan dari tangannya.


Aku berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan di meja makan.


Setelah siap, Mas Arif duduk kursi meja makan sambil makan nuget dan siomay.


"Rin, siomaynya enak, kamu beli di mana?" tanya suamiku.


"Beli online Mas, non msg itu," jawabku.


"Beberapa minggu ini aku gak bosen makan siomay itu Mas," kataku.


"Gak apa-apa Rin, yang penting sehat kamu juga anak kita," kata suamiku.


"Mas, pagi tadi anak kita menunjukkan gerakan-gerakan kecilnya loh." Ceritaku dan tersenyum memandang suamiku.


"Betulkah Rin?" tanya Mas Arif terkejut.


"Iya sayang, nanti kalau gerak lagi aku tunjukkan," jawabku.


Terlihat raut bahagia di wajah suamiku mendengar kabar ini.

__ADS_1


__ADS_2