
Mas Arif masuk ke kamar, melihatku berbaring di atas kamar tidur.
"Rin..." kata Mas Arif pelan sambil duduk di pinggir tempat tidur dan memandangku dengan lembut tidak seperti saat marah dengan ibunya tadi.
"Kemarilah bidadariku!" pinta Mas Arif.
Aku bangun dari tempat tidur dan duduk dekat Mas Arif.
"Rin... aku ingin menikmati malam ini bersamamu" bisiknya.
"Ini bukan malam terakhir kita karena masih ada banyak malam-malam selanjutnya untuk kita" kata Mas Arif dan mencium lembut bibirku.
"Rin..." bisik Mas Arif pelan di telingaku.
"Iya" jawabku.
Kemudian Mas Arif berdiri dari tempat duduknya dan membuka almari membawa baju lingerie yang dulu dia pilihkan.
"Rin...aku pakaikan ini ya!" pinta Mas Arif.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
Mas Arif mendekatiku, perlahan melepas pakaianku mengganti dengan baju lingerie.
"Rin... "bisik Mas Arif dan memelukku mesra.
"Kamu sangat menggairahkan sayang" bisik Mas Arif.
Aku hanya diam menikmati setiap sentuhan dari tangan dan bibir suamiku tercinta.
"Mas..." bisikku pelan.
Instrumen musik Caravansari, silk road milik Kitaro mengalun pelan nan romantis dari sound yang dibeli Mas Arif tadi sepulang dari pantai, lampu temaram kamar tidur ini menambah suasana semakin romantis nan syahdu.
Aku tersenyum memandang suamiku, kami sudah di atas pembaringan, aku menghadap suamiku mencium lembut bibirku, tangan kekar Mas Arif meraba setiap inci tubuhku membuatku semakin terangsang.
"Mas... " bisikku.
"Iya sayang" jawab Mas Arif.
"Lakukanlah Mas" bisikku lagi.
"Iya sayang" bisiknya.
Ketika benda asing masuk ke tubuhku, aku menggeliat merasakan nikmat dunia.
"Mas..." erangku.
"Iya sayang" bisik suamiku dan mencium lembut bibirku.
"Mas... keluarkan di luar" bisikku mengingatkan.
Kami saling menikmati sampai pada puncak kenikmatan dan berhenti saling menatap tersenyum penuh dengan kepuasan.
"Terima kasih sayang" bisik Mas Arif dan menciumku.
Kemudian aku turun dari pembaringan menuju ke kamar mandi berniat membersihkan hasil karya suamiku.
Keluar kamar mandi aku menghampiri suamiku yang masih terbaring di atas.
Tersenyum memandang suamiku, dan dia memelukku mesra, alunan musik instrumen dari Kitaro masih mengalun indah di kamar ini.
"Kamu suka Rin?" tanya Mas Arif.
Aku mengangguk malu.
"Nanti mau lagi?" tanya Mas Arif lagi.
Dan aku mengangguk lagi.
"Istriku... sekarang bisa menikmati nikmatnya syurga dunia ya?" tanya Mas Arif dengan senyum menggodanya.
Aku malu dan membenamkan kepalaku di dada suamiku.
__ADS_1
"Hei... kenapa harus malu? kita ini sudah dewasa sayang, kita harus terbuka masalah ini, hubungan suami istri ini salah satu memperkuat cinta suami istri loh" kata Mas Arif.
Aku masih membenamkan wajahku di dada suamiku.
"Aku malu Mas" kataku.
"Rin... selama kamu denganku, kamu puas tidak?" tanya Mas Arif.
"Iya Mas" jawabku pelan.
"Beneran?" tanya Mas Arif lagi.
"Ah Mas, tanya begitu Rinda jadi malu menjawabnya" jawabku.
"Bidadariku jangan malu, kita terbuka" kata Mas Arif pelan dan masih memeluk tubuhku.
"Mas... aku merasakan nikmat itu.." kataku di potong suamiku.
"Itu apa?" tanya Mas Arif menggoda.
"Ah... Mas, bercinta" jawabku.
"He he he" Mas Arif tertawa mendengar jawabanku dan menciumku lembut.
"Rinda... terimakasih ya, kamu wanita terbaik dalam hidupku, aku ingin tidak hanya di dunia ini menjadi istriku tapi di akhirat juga kita bisa bertemu menjadi sepasang suami istri" kata mas Arif sambil membelai rambutku.
"Aamiin" kataku.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Mas... ayo tidur" pintaku masih dalam pelukan Mas Arif.
Bukan menjawab perkataanku tapi mencium bibirku dan berbisik "Aku ingin lagi"
Aku tersenyum mendengar ucapan suamiku, demikian juga suamiku.
Musik Instrumen dari Kitaro masih terus mengalun membuat suasana semakin intim.
Ketika setiap sentuhan merangsang hasrat kami.
"Ah mas" erangku menikmatinya.
"Mas... lakukanlah" bisikku.
"Hmmm, sebentar sayang" Bisik Mas Arif masih terus menciumi tubuhku.
Aku hanya menggeliat menikmati setiap sentuhanya.
"Mas..." rengekku.
Mas Arif tersenyum memandangku dan kembali menciumi tubuhku.
"Mas... ah..." rengekku kembali.
"Kenapa?" bisik Mas Arif menggoda.
"Gak tahan" bisikku.
Mas Arif tersenyum dan .....
"Aw..." erangku.
Kami saling menikmati dengan bergairah.
"Rin... love you" bisiknya.
"Love you too honey" bisikku pula.
Dan kami tersenyum saling menatap dengan senyum kepuasan.
"Terima kasih istriku bidadariku" bisik m
Mas Arif lembut.
__ADS_1
"Tidurlah sayang" katanya lagi.
Aku sudah merasa sangat lelah dan langsung tertidur dalam dekapan suamiku.
🌷🌷🌷🌷
Aku terbangun dari tidurku, kupandangi wajah istriku ketika tidur sungguh lembut sekali, ah... kenapa aku tegang lagi.
Kulihat jam di hpku jam dua pagi
Mulai aku menciumi tubuh Rinda dengan mesra, semoga dia tidak terbangun seperti waktu itu.
Tubuhnya menggeliat, membuatku semakin bergairah.
Aku cium bibirnya dengan lembut dan ada balasan dari Rinda, kulihat mata istriku sedikit terbuka, mungkin dia terbangun.
Aku bisiki di telinganya.
"Bidadariku, aku ingin lagi" bisikku.
Aku ciumi tubuhnya yang membuatnya menikmati, kudengar lenguhan suaranya membuatku semakin bergairah.
"Rin..." bisikku.
"Mas..." suara Rinda terdengar pelan.
Aku sudah tidak tahan lagi, akhirnya....
Ah... sungguh nikmat sekali bercinta dengan istriku.
Aku ciumi wajah istriku, aku lihat matanya terbuka dan tersenyum memandangku.
"Mas..." bisiknya lembut.
Membuatku semakin ingin terus menikmatinya sampai pagi.
"Ah... Rin" lenguhku mengakhiri percintaan ini
Aku tarik selimut untuk menyelimuti tubuh kami.
"Sayang... terimakasih, tidurlah" bisikku.
Aku lihat istriku sudah tidur kembali dan akupun mulai memejamkan mataku ini.
🌷🌷🌷🌷🌷
Adzan subuh berkumandang dari masjid perumahan, tak juga membangunkan dua anak manusia yang tengah dimabuk kenikmatan dunia.
Waktu menunjukkan pukul enam pagi
Aku buka mataku, kulihat jam di hpku, hah kesiangan gak sholat subuh, batinku.
Kutoleh ternyata suamiku masih tidur dengan nyenyaknya.
"Mas... ayo bangun katanya mau ke Bandara" kataku sambil menggoyangkan tubuhnya.
"Tiketnya masih nanti sore, ayo tidur lagi" kata Mas Arif dengan suara serak.
Aku bangun dari tempat tidur dan berganti baju biasa, suamiku ini memang tidak ada lelahnya, aku tidurpun diajak bercinta.
Aku keluar kamar, mau melihat Vano di kamar tidurnya, ternyata masih tidur dia, lebih baik mandi dulu saja, batinku.
Aku langkahkan kakiku menuju kamar mandi, aku putar kran shower dan aku mandi besar, guyuran air dari shower membuatku segar kembali, aku lihat di beberapa tubuhku ada tanda merah ulah dari suamiku, untungnya di dalam tubuh, coba kalau di luar, bisa malu aku di lihat ibu mertuaku, batinku.
Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, kulihat sosok tinggi masuk ke dalam menghampiriku.
"Mas..." kataku terkejut melihat suamiku masuk.
Mas Arif tersenyum memandangku.
"Kamu ini memang menggodaku terus kok Rin, aku dengar suara air, pintu kamar mandi tidak kamu kunci dengan benar, sekarang tanggung jawab" kata Mas Arif.
"Lagi Mas" kataku terperangah.
__ADS_1
"Iya, ayo" kata Mas Arif menghampiriku.
Dan pada akhirnya kami bercinta kembali dibawah guyuran air dari kran shower, setelah selesai mandi besar Mas Arif keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk dan berbalik tersenyum puas melihatku.