
Pagi ini aku berangkat kerja diantar sama Mas Arif, setelah mengantar Vano kemudian melanjutkan mengantarku ke tempat kerja.
"Mas" panggilku sebelum aku turun.
"Iya Rin" kata Mas Arif.
Aku mendekatkan diri ke Wajah Mas Arif dan mencium pipinya dengan lembut.
"Love you my hubby" bisikku.
Mas Arif tersenyum melihat ulahku.
"Kok cuma cium pipi sih, enggak cium ini?" godanya.
"Entar lipstikku gak terlihat di bibirku" kataku.
"Ya lipstikan lagi, ayolah, pumpung tidak ada orang" pinta Mas Arif.
"Porno juga suamiku ini, ini tempat umum entar dilihat orang" kataku.
"Enggak sayang, kan kacanya gelap" kata Mas Arif tidak mau menyerah.
"Ayo buka" tantangku.
Kemudian aku menciumnya, kulihat dia menikmatinya.
"Sudah ya sayang" kataku.
"Nanggung banget sih Rin" kata Mas Arif dengan wajah kecewanya.
Aku tersenyum puas melihat suamiku seperti itu.
"Entar malam di lanjut masih lama disini satu bulan kan Mas menemani istrimu ini, entar malah bosan begituan terus sama istrimu ini" kataku.
"Enggak ada kata bosan sama istri tercinta" kata Mas Arif.
Aku membuka pintu mobil tersenyum memandang suamiku.
"Nanti ya di lanjutkan, aku kerja dulu, muaach love you my hubby da da" kataku sambil menutup pintu mobil dan berjalan meninggalkan suamiku menuju ke kantorku.
Sampai di kantor, seperti biasa aktifitasku, menyalakan komputer dan mulai menginput data penjualan.
"Rin, kamu banyak kerjaan?" tanya Nia.
"Enggak begitu, kenapa?" tanyaku.
"Rin, aku minta tolong untuk memisahkan nota-nota penjualan ini, bisa?" tanya Nia.
"Boleh Nia, tapi sebentar aku selesaikan satu map ini ya" jawabku.
"Oke" kata Nia.
Aku melanjutkan pekerjaanku yang tersisa sedikit, telpon dari hpku berbunyi, siapa yang telpon aku, semoga tidak si mantan,batinku.
Aku ambil hpku dan aku lihat ternyata Vera yang telpon, ada apa ya, kok tumben sekali dia telpon, pasti ada hal penting, pikirku.
Telpon aku angkat.
"Assalamualaikum Vera, apa kabarnya?" sapaku.
"Waalaikum salam Mbak Rinda" ucap Vera.
"Alhamdulillah baik Mbak, Mbak gimana kabar Ibu? aku beberapa kali telpon tidak diangkat" tanya Vera.
"Ibu sudah sehat Vera, kemarin ada itu tiga harian Ibu sakit, diajak periksa gak mau, besok sepertinya mau kerja Ibu" jawabku.
__ADS_1
"Hmmm, Ibu ini mesti begini Mbak, kalau sakit susah di ajak periksa" gerutu Vera.
"Diikuti saja Vera apa maunya, namanya orang tua kadang susah menghadapinya" kataku.
"Mbak... sebenarnya aku mau mengabarkan kalau aku sedang hamil dua bulan Mbak" kata Vera dengan nada senang.
"Alhamdulillah Vera, betul-betul di jaga ya, semoga selamat sampai lahiran ya" kataku.
"Program hamil apa kamu Ver?" tanyaku semangat.
"Gak progam apa-apa Mbak, aku cuma mengurangi aktifitasku dan banyak makan makanan yang mengandung asam folat sama vitamin, itu saja, Mbak mau coba? atau aku kirim vitamin yang aku konsumsi ini?" tanya Vera.
"Boleh, boleh, entar uangnya aku transfer ya" jawabku.
"Sudah gak usah, buat kakak ipar" kata Vera.
"Terima kasih Vera, nanti aku sampaikan ke Ibu dan Mas Arif kalau kamu sedang mengandung" kataku.
"Mbak di kantor ini?" tanya Vera.
"Iya" jawabku.
"Wadew maaf sekali Mbak, Vera pasti mengganggu Mbak kerja, sudah dulu ya Mbak, nanti aku kirim vitaminnya" kata Vera.
"Assalamualaikum" kata Vera kemudian menutup telponnya.
"Waalaikum salam" balasku.
Hp aku letakkan di atas meja kerjaku, aku melanjutkan pekerjaanku yang tinggal selembar kertas.
"Siapa tadi Rin?" tanya Nia.
"Oh tadi itu adik iparku yang di Jogja, mengabarkan kalau hamil, kasihan sudah berkali-kali keguguran semoga saja kehamilannya ini sehat dan Ibu anak selamat sampai lahiran" kataku.
"Aamiin" kata Nia.
"Sudah Nia, mana kwitansi yang harus aku sortir?" tanyaku.
Kemudian Nia menyerahkan setumpuk kwitansi untuk dipisahkan sesuai dengan nama pembeli.
Aku mulai menyortir satu persatu.
"Nia ini pembeli baru ya?" tanyaku.
"Iya Rin, pembeli baru tapi lumayan loh pesanannya" jawab Nia.
"Semoga terus menjadi mitra kerja perusahaan ini ya Nia" kataku.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, waktunya kami beristirahat.
"Nia ayo ke kantin terus sholat dhuhur" ajakku.
"Ayo" jawab Nia.
Aku berdiri dari kursiku dan berjalan keluar menuju ke kantin.
"Mbak Yah, ada sayur apa?" tanyaku.
"Ini Bu, masuk saja" kata Mbak Yah.
Kemudian aku dan Nia masuk ke dalam kantin.
"Mbak Yah, aku mau ini, nasinya sedikit saja, sama es teh" pesanku ke Mbak Yah.
"Aku yang ini ya Mbak Yah, sama es teh juga" kata Nia.
__ADS_1
Kami keluar dari dalam kantin Mbak Yah dan duduk di kursi berhadapan dengan Nia dan meja yang memisahkan kami.
Tak lama kemudian Mbak Yah datang menghampiri kami dengan membawa pesanan makanan kami.
"Terima kasih Mbak Yah" ucapku.
"Sama-sama" jawab Mbak dengan senyumannya.
Kami segera menikmati makanan di depan kami.
"Nia, bagaimana hubunganmu sama Aldi?" tanyaku serius.
"Aku sudah putus Rin" jawab Nia pelan.
"Loh yang benar saja, kenapa?" tanyaku.
"Gimana ya" kata Nia sambil menghela nafas panjang.
"Aku pacaran kan sudah lima tahun ini Rin, orang tuaku juga ingin segera aku menikah, kesana-kesini sama Aldi, gak enak juga di lihat tetangga juga saudara kan, terus kapan hari itu aku minta kejelasan hubungan ini, eh dia bilang belum siap untuk menikah" cerita Nia.
"Terus?" tanyaku dan meminum es teh dari sedotan plastik.
"Akhirnya aku minta putus saja, lah untuk apa aku menjalani hubungan lama yang tidak ada kejelasannya, mending aku jomblo Rin" jawab Nia.
"Terus dia mau saja kamu putuskan?" tanyaku serius.
"Iya, langsung mau begitu" jawab Nia dengan nada kecewa.
"Berarti memang dia hanya ingin bersenang-senang saja sama kamu, kalau dia mau sama kamu berarti dia siap untuk berjuang, orang pacaran, orang kalau sedang ingin mengenal lawan jenis kalau serius ya diajak nikah, bukan digantung, waktu lima tahun itu tidak sedikit Nia, umpama kamu beli sepeda motor sudah lunas itu" kataku dengan nada jengkel.
"Iya Rin, salahku juga mau menghabiskan waktu bersamanya selama itu" kata Nia menyesal
"Semoga segera menemukan laki-laki yang serius sama kamu dan segera mengajakmu ijab kabul ya" kataku.
"Aamiin, doakan ya!" kata Nia.
"Pasti itu" jawabku.
Makanan di atas piringku juga Nia sudah habis.
"Mbak Yah..." panggilku.
"Iya Bu" jawab Mbak Yah dari dalam.
"Ini sudah, nambah kerupuk dua tadi" kataku.
"Iya Mbak" kata Mbak Yah sambil menghitung habisnya makanan kami berdua dan aku membayarnya.
"Nia aku bayar, sekali-kali nraktir teman" kataku.
"Terima kasih Rin" ucap Nia dan kami meninggalkan kantin menuju ke musholla untuk melaksanakan sholat duhur.
Selesai sholat duhur, kami istirahat sebentar karena masih ada waktu beberapa menit.
"Ah lumayan bisa merebahkan tubuh ini" kataku.
"Iya Rin, kamu sekarang enak tempat kerja sama rumah tidak jauh jadi capeknya tidak seberapa" kata Nia
"Sama saja Nia, dulu capek dalam perjalanan, sekaran capek nyenengin suami he he he" kataku sambil tertawa.
"ih kamu itu Rin, bikin aku pingin segera nikah saja, usiaku sudah 28 tahun, perawan tua" kata Nia dengan wajah cemberut.
"Sudah jangan bersedih, jodoh itu Allah yang mengatur, banyak doa" kataku menghibur.
"Iya Rin" kata Nia.
__ADS_1
"Ayo kita lanjut kerja" kata Nia lagi.
Kemudian kami meninggalkan musholla menuju ke kantor melanjutkan aktifitas kami lagi sampai pada jam pulang kerja.