
Seminggu kemudian...
ketika Rinda sibuk mengerjakan tugasnya di kantor yang masih banyak belum selesai, tiba-tiba telpon di hp nya berbunyi
"Rin... hp mu berbunyi" kata Nia yang duduk di meja depanku mengingatkanku
"Biarin Nia, tak selesaikan ini dulu, nanggung" kataku kemudian melanjutkan input dataku, belum selesai telpon kembali berdering, gak sabar banget sih orang ini, akhirnya aku hentikan pekerjaanku dan mengambil hp ku di dalam tas ku, ternyata mas Arif yang menelpon
"Ada apa mas?" tanyaku
"Kok ada apa sih kamu, kamu gak suka apa suamimu ini pulang" jawab mas Arif jengkel
"Dari tadi aku telpon tidak segera kamu angkat, apa pekerjaanmu denganku ini lebih penting pekerjaanmu" katanya dengan nada marah, aku belum bereaksi menjawab dan aku berdiri dari kursiku kemudian berjalan keluar kantorku, karena gak enak jika di dengar teman-teman
"Rin... kenapa kamu diam saja?" tanya mas Arif
"Terus aku ini mau ngomong apa? sedangkan mas marah-marah seperti itu" kataku
"Rin... aku sudah di Juanda" kata mas Arif
"Iya, aku masih di kantor" kataku
"Kamu kok seperti tidak suka aku pulang sih dari nada bicaramu" kata mas Arif dengan nada curiganya
"Bukan tidak suka, lah mas sendiri yang mau pulang sendiri tanpa kita jemput, terus aku harus bagaimana? kan hanya menunggu mas di rumah" kataku
"Ya sudah, aku pulang aku tunggu kamu pulang" kata mas Arif dan mematikan teleponnya, hmmm laki-laki aneh kalau mau pulang ya pulang.
Aku masuk ke ruanganku kembali dan duduk di kursiku menginput data dari komputer, waktu menunjukkan pukul empat kurang lima menit, aku segera merapikan meja kerjaku dan ke penitipan anak kemudian pulang, pasti mas Arif sudah di rumah
"Rin... kok seperti tergesa-gesa begitu?" tanya Nia
"Suamiku pulang, aku duluan ya" kataku
Kemudian meninggalkan kantor menuruni tangga dan berjalan ke parkiran sepeda, menghidupkan sepedaku kemudian menuju penitipan anak, dimana Vano berada, tak lama kemudian sampailah aku di Penitipan anak, Vano seperti enggan meninggalkan Penitipan anak,
"Vano... ayo pulang, besok kan libur, kita jalan-jalan ya" bujukku
__ADS_1
"Gak bohong bunda?" tanya Vano dengan tatapan mata tidak percaya
"Serius Vano, ayo pulang" kataku
Kemudian aku mengambil tas nya Vano membawanya dan bersalaman dengan bu gurunya Vano diikuti oleh Vano, aku berjalan keluar penitipan anak diikuti langkah kecil Vano di belakangku, Vano langsung naik di depan berdiri di depanku, aku segera menghidupkan sepeda matic ku dan langsung pulang, dalam pikiranku pasti suamiku sudah sampai di rumah.
Sampai di rumah, pintu rumah sudah terbuka semoga mas Arif sudah di rumah, kubuka pagar rumah dengan mendorongnya kemudian Vano masuk ke rumah, aku kembali menuju sepeda motorku dan masuk ke garasi, baru masuk rumah, terdengar suara Vano dari dalam rumah
"Ayah pulang hehehe"
kulihat mas Arif menggendong Vano dan menciumnya,ketika mengetahuiku Vano diturunkan dari gendongannya dan aku menghampiri suamiku bersalaman kucium punggung tanganya dan memeluk erat tubuh suamiku
"Mas... maafkan Rinda ya, anak kita sudah kembali kepada Allah" bisikku dengan mata berkaca-kaca
"Sudah... jangan membicarakan itu, aku merindukanmu sayang" kata mas Arif kemudian mencium kening kedua pipiku dan berakhir pada ciuman di bibirku
"Aku rindu sayang" bisiknya
"Mas... dilihat Vano" kataku mengingatkan karena kami masih berdiri di depan kamar kami.
kemudian kami masuk ke kamar dan menutupnya, aku duduk di pinggir tempat tidur mas Arif berdiri di depanku mengambil kursi dan kami duduk berhadapan, mas Arif memandangku, melepas jilbabku memegang pipiku
"Maaf tadi aku marah-marah denganmu saat kamu bekerja karena telponku tidak segera kamu angkat, apa terlalu banyak pekerjaanmu Rin?" tanya mas Arif kemudian menghela nafas dan memelukku
"Mas... iya pekerjaanku sangat banyak, karena aku tinggal cuti kemarin itu, waktu kita cuti nikah semua di bantu Nia, aku tidak enak mas merepotkan Nia terus" kataku menjelaskan
"Iya Rin, besok waktu untuk kita" kata mas Arif dan memelukku
"Iya mas, ini Rinda masih bau dari tadi mas peluk terus, Rinda mau mandi dulu" kataku, mas Arif mendengar perkataanku tersenyum dan melepaskan pelukanya.
Aku mengambil ganti baju juga pembalut, mas Arif memperhatikanku sampai aku masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi, kemudian berganti baju dan keluar dari kamar mandi, kulihat mas Arif masih duduk di pinggir tempat tidur, aku menyisir rambutku
"Rin... kamu masih belum bersih?" tanyanya
"Mas kok tau?" tanyaku kembali
"Tadi kamu membawa pembalut ke kamar mandi aku memperhatikanya" kata mas Arif menjelaskan
__ADS_1
Kemudian aku menghampiri mas Arif, memeluknya mengusap rambutnya
"Maaf mas, aku belum bisa melaksanakan kewajibanku disaat mas pulang" bisikku
"Mas kecewa?" tanyaku lagi, mas Arif memelukku mencium lembut tubuhku
"Sudah nasibku Rin, dua bulan menahan, dua minggu di sini juga menahan" katanya pasrah, mendengar ucapanya rasanya gemes juga lucu akhirnya aku ciumi suamiku dengan gemasnya
"Rin jangan begini, tegang ini loh, tanggung jawab nanti kamu yang keluarkan" kata suamiku
"Hei.... kok aku yang tanggung jawab itu kan punyamu, anggota tubuhmu, ya keluarin sendiri" kataku sambil menjulurkan lidah dan berjalan keluar kamar menuju Vano di ruang keluarga yang sedang asyik bermain sambil menonton tv acara kesayanganya.
Mas Arif kulihat keluar kamar menghampiriku dan duduk di sofa di sebelahku
"Mas... sudah makan tadi?" tanyaku
"Belum Rin, aku tadi sampai rumah jam setengah tiga, di meja makan gak ada makanan sama sekali" kata mas Arif
"Apa kita keluar beli makan?" tanyaku
"Nanti saja Rin, aku ingin bersamamu seperti ini, kemudian mas Arif merebahkan kepalanya di pangkuanku
"Mas... dilihat Vano" bisikku
"Kalau dia tanya bilang saja Ayah malas ambil bantal jadi ini yang di jadikan bantal" katanya sambil memejamkan matanya
Sepertinya mas Arif lelah dan mengantuk setelah perjalanan pulang, aku mengusap rambutnya, kupandangi wajah suamiku, wajah yang semakin dewasa tidak seperti dulu waktu Sma yang kelihatan muda, wataknya yang cepat marah juga sudah jarang aku temui, ya... sepuluh tahun telah merubah watak dan perilaku mas Arif, yang pasti dia sudah mengalami banyak hal dalam kehidupanya.
Vano menghampiriku dan telunjuk tanganku aku taruh di mulutku pertanda jangan ramai, karena mas Arif sedang tidur pulas di pangkuanku
"Bunda... ayah kok tidur di situ" bisik Vano
"Hust, jangan rame, Ayah lelah Vano, biarkan istirahat di pangkuan bunda" kataku
"Vano ambilkan bantal ya bunda" bisiknya kembali, kemudian Vano berlari masuk ke kamar tamu dan tak
lama kemudian keluar lagi menyeret bantal dengan tubuh kecilnya dan memberikan kepadaku.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Vano bermain dulu saja, jangan berisik" kataku