
Sampai di rumah, mas Arif menggendong Vano masuk ke dalam kamar tamu kemudian aku mengunci pintu pagar dan pintu rumah, dan berjalan masuk ke dalam kamar untuk berganti baju dan cuci tangan kaki serta berwudhu.
"Mas... ayo jamaah isya" kataku kepada mas Arif
"Tunggu dulu Rin" kata mas Arif, kemudian mas Arif berwudhu dan berjalan menuju mushola, aku sudah siap dengan mukenahku, kami sholat isya berjamaah.
Selesai sholat jamaah kami masuk ke dalam kamar, aku merebahkan tubuhku di kasur demikian juga dengan mas Arif.
"Mas... ibu apa sudah pulang ya?" tanyaku
"Sudah Rin, sepeda motornya sudah ada di garasi, mungkin istirahat di atas, kasihan ibu ini, dari dulu pekerja keras" kata mas Arif
"Iya mas... kapan hari cerita ke Rinda, inginkan Rinda masuk ke manajemen bironya, tapi Rinda belum siap, apalagi melihat ibu kadang pulang malam begini Rinda jadi berpikir ulang untuk masuk ke sana" kataku
"Rin... dalam minggu ini, aku mendengar banyak nasehat baik untuk rumah tangga kita, baik dari orang tuamu maupun dari pak Tulus tadi" kata mas
"Iya mas, gak menyangka pak Tulus guru kita yang super killer sekarang bisa hangat dan nasehatnya bagus" kataku
"Mereka-mereka ini karena sudah banyak pengalaman hidup Rin" kata mas Arif
"Iya mas, ketika kita jauh dari orang yang kita sayangi, kita pasti banyak mengingat kebaikanya ya" kataku
"Iya Rin, aku ingin bisa selalu bertemu, tapi bingung mau usaha apa di sini?" tanya mas Arif
"Benar kata pak Tulus juga bapak, saat muda seperti kita ini, seakan kita mengejar uang, mengejar kesuksesan sehingga kebersamaan dengan keluarga terbuang dengan ambisi, saat kita tua, anak-anak pasti meninggalkan orang tua untuk untuk kerja ataupun mengikuti pasanganya" kataku
"Rinda...merasa jleb di hati mas, tapi masih beruntung Rinda bisa bertemu dengan Vano setiap hari, andai aku terpisah dengan anakku, dan anakku ikut embahnya, apa jadinya aku, rinduku dan rasa memyesalku tidak bisa bersama dengan anak" ucapku
"Iya Rin, Rin... ayo kita nabung untuk kita bisa terus bersama dua puluh empat jam" kata mas Arif
"Hah dua puluh empat jam? gak bosan mas melihat Rinda? mendengar Rinda mengomel?" tanyaku
"Maksudku, aku ingin di kota ini sayang, jadi dua puluh empat jam ada untukmu juga anak-anak kita" kata mas Arif menjelaskan maksudnya.
"Rin... aku dari kecil melihat pertengkaran kedua orang tuaku, baru-baru ini saja aku berdamai dengan ibuku, dan menjadi akrab hubungan kami" kata mas Arif kemudian menghela nafas dan menoleh ke arahku
"Iya mas, aku tidak ingin anak-anak kita mengalami hal seperti itu, ayo kita bina keluarga kita dengan harmonis sampai kita menua bersama" kataku
"Rin... suatu saat bila aku meninggal duluan, apa kamu akan menikah lagi?" tanya mas Arif
__ADS_1
"Mas... untuk apa bertanya seperti itu? aku ingin mas menungguku di alam berbeda, aku ingin setia di sini sampai kita dipertemukan lagi" kataku dengan mata berkaca-kaca
"Aku tidak tau mas, apakah aku sanggup berpisah denganmu, ya... dipisahkan dari dunia ini, dipisahkan oleh kematian salah satu diantara kita" kataku lagi
"Jangan bersedih sayang, semua pasti sudah direncanakan oleh sutradara kehidupan ini, kita ini hanya menjalaninya saja" kata mas Arif
"Rin... aku ingin selalu menikmati setiap detik, menit, jam dan hari kebersamaan keluarga kecil kita ini, dengan waktuku yang cuma dua minggu di sini" kata mas Arif
"Aku ingin sekali Rin, walaupun kita kadang bertengkar tapi aku ingin ada rindu dalam hati kita yang bisa menghapuskan pertengkaran kita ini" kata mas Arif sambil memeluk dan menciumku
"Iya mas, Rinda juga ingin begitu" kataku
"Tapi mas gak bosan dengan Rinda? tanyaku
"Sama istri itu tidak boleh bosan sayang?" kata mas Arif sambil menciumku
"Ayo tidur Rin" ajak mas Arif
Aku tersenyum, memandang suamiku dan memeluknya.
"Terima kasih mas, atas semua perhatianmu, cintamu selama ini kepadaku juga Vano, aku sebagai istrimu masih banyak kurangnya, maafkan Rinda ya mas" ucapku
"Mas... katanya ngajak tidur? kok kita ngobrol lagi" kataku
"Hehehe, lah kamu yang ngajak ngobrol begini, kamu gak lelah seharian kerja ini tadi terus berkunjung ke pak Tulus?" tanya mas Arif
"Mas... bertemu dengan mas, bertemu dengan orang-orang yang membawa dampak positif pada kehidupan Rinda, Rinda hilang lelahnya" kataku
"Besok kamu kerja kan, ayo istirahat sayang, sini aku peluk" kata mas Arif
Mas Arif memelukku dan aku masuk dalam pelukanya, mendengarkan detak jantungnya yang beraturan iramanya, membuatku menjadi tenang dan aku tertidur dalam pelukanya suamiku
🌹🌹🌹🌹
Pagi hari seperti rutinitas hari-hari aku bekerja dan Vano sekolah.
Di dapur bertemu dengan ibu mertua
"Bu semalam pulang jam berapa?" tanyaku
__ADS_1
"Jam tujuh Rin, kamu kemana kok tidak ada di rumah saat aku pulang" tanya ibu sambil memencet tombol magic com untuk menanak nasi
"Diajak mas Arif ke guru Sma dulu bu" kataku
"Bu masak apa pagi ini?" tanyaku
"Kamu goreng telur ceplok saja Rin, kan masih ada bumbu pecel di kamar, ibu yang nyiapkan sayurnya" kata ibu sambil membuka kulkas
"gurumu usia berapa Rin?" tanya ibu
"Sekitar 65 tahun bu, kasihan sendiri di rumah, istrinya meninggal setahun yang lalu, anak satu-satunya menjadi angkatan dinas di Palembang" ceritaku sambil menuangkan minyak goreng ke wajan
"Kasihan ya... kok gak ikut anaknya ya?" tanya ibu
"Gak mau bu, katanya ingin di rumahnya saja, karena di rumah itu banyak kenangan bersama anak istrinya jadi dia bisa mengenangnya tiap hari" kataku sambil membuka cangkang telur untuk dibuat telur mata sapi
"Oh... begitu, ini ibu sudah selesai Rin, ini kalau sayurnya sudah empuk kamu tiriskan ya? ibu mau mandi" kata ibu
"Iya bu, nanti ibu kerja?" tanyaku
"Iya tapi gak sore kok pulangnya, mungkin cuma sebentar ke biro mengawasi" kata ibu sambil menaiki tangga.
Tak berapa lama, akhirnya selesai memasakku, aku siapkan semuanya di meja makan, Vano masih asyik melihat tv
"Vano ayo mandi, air hangatnya sudah bunda siapkan setelah itu sarapan, kemudian Vano masuk ke kamar mandi yang dekat dengan dapur masuk ke dalam bak air hangat, setelah selesai mandi aku mengganti bajunya dengan baju sekolah.
"Vano..ibu mau mandi dulu, Vano bisa lanjut lihat acara tv" kataku kemudian berjalan menuju kamar tidur, suamiku tidur lagi setelah sholat subuh tadi.
Setelah mandi aku berganti baju kerja dan mendekati mas Arif untuk aku bangunkan
Mas... ayo bangun, katanya ingin bersama keluarga, gak ingin mengantarku kerja?" tanyaku.
"Ya pingin sayang, jam berapa ini?" tanya suamiku
"Masih jam tujuh, ayo bangun mandi dan sarapan bareng" kataku
Kemudian mas Arif bangun dari tidurnya dan mandi, setelah itu kita sarapan pagi bersama, ibu sudah menunggu di meja makan.
Selesai sarapan aku masuk ke kamar merapikan diri dan berangkat kerja diantar suamiku
__ADS_1