
Bertiga kami turun dari mobil masuk ke dalam Alun-alun kota, Vano seperti biasa berlari kesana kemari dengan aktifnya, kami berjalan bergandengan tangan mengikuti mengawasi setiap gerak langkah Vano.
"Vano... jangan jauh-jauh" teriakku.
"Kita awasi dari sini Rin, kan dia bermain disana masih kelihatan kok" kata mas Arif.
"Iya mas, hadew...punya anak satu tingkahnya kayak anak sepuluh" kataku.
"Nanti punya anak lagi, kira-kira bagaimana ya?" tanya Mas Arif.
"Yang jelas semakin rame rumah Mas" jawabku.
Ketika kami sedang asyik ngobrol-ngobrol terlihat Vano berlari ke arah kami diikuti oleh seorang laki-laki, terlihat Vano menangis, pikiranku sudah tidak tenang aku segera berlari mendekati Vano, Mas Arif mengikutiku dari belakang, Vano segera memelukku ketika jarak kami sudah dekat, dan menangis, aku menggendongnya membelai rambutnya, aku lihat yang mengejarnya adalah Ayahnya.
"Kenapa Vano sampai menangis begini?" tanyaku, dan masih dengan menggendong Vano, Mas Arif mengetahui ada yang tidak beres dan mendekatiku berganti menggendong Vano.
"Siapa dia Rin?" tanya Mas.
"Ayahnya Vano" jawabku.
"Aku hanya ingin berbicara sama Vano" kata Mas Ardi.
"Kalau mau bicara tidak mungkin dia menangis ketakutan seperti ini" jawabku ketus.
"Itu siapa?" tanya Mas Ardi.
"Suamiku, Ayah sambungnya Vano" kataku.
"Itu anakku" teriak Mas Ardi.
"Rin... tolong bawa Vano menjauh, tidak baik Vano mendengar pembicaraan orang dewasa, biar aku yang menyelesaikanya" kata Mas Arif.
Kemudian aku pergi menggendong Vano menjauhi mereka menenangkan Vano yang masih menangis, dari jauh aku lihat Mas Arif dan Mas Ardi berbicara tapi tidak jelas apa yang mereka omongkan, yang aku lihat Mas Arif seperti sangat marah dengan Ayahnya Vano.
*****
Di pojok Alun-alun kota terlihat dua lelaki yang sedang beradu mulut.
"Apa kamu bilang dia anak kamu?" tanya Arif
"Iya memang dia anakku" jawab Ardi
"Kalau itu anakmu jelas mau bertemu denganmu bukan ketakutan seperti itu" kata Arif
"Kamu siapa?" tanya Ardi.
"Aku suaminya Rinda, aku sudah tau kamu seperti apa? kamu tidak lebih dari laki-laki perusak anak orang, apa dengan menikahinya setelah memperkosanya, yang kamu lakukan itu akan menyelesaikan masalah? apa kamu tau trauma yang dia simpan bertahun-tahun?" kata Arif marah.
Dia hanya diam saja.
__ADS_1
"Terus apa dengan begitu caramu mendekati Vano sampai dia ketakutan? kamu itu bapak macam apa?" kata Arif dan meninggalkan Ardi, kemudian berbalik lagi.
"Perlu kamu tau Rinda tidak pernah menjelek-jelekkanmu di depan anaknya, kenapa anak itu tidak mau sama kamu, kamu pikir sendiri apa yang sudah kamu lakukan pada Vano dari lahir sampai usia satu tahun" kata Arif sambil menunjukkan jarinya ke muka Ardi kemudian berlalu meninggalkannya sendiri di pojok alun-alun.
*****
Aku duduk di kursi taman dan memangku Vano melihat kedua lelaki itu dari kejauhan, tak lama kemudian Mas Arif meninggalkan ayahnya Vano menuju ke arahku.
"Vano bagaimana Rin?" tanyanya.
"Sudah tenang Mas" jawabku.
"Ayo meninggalkan sini, menuju rumah Ibu" kata Mas Arif dengan suara dingin.
Dalam hati ada apa ini, apa yang sudah mereka bicarakan tadi, Vano digendong mas Arif, tanganku digandengnya kami keluar dari Alun-alun menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari Alun-alun, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut suamiku, akupun diam tidak ingin menanyakanya, biarlah dia yang bercerita suatu saat, pintu mobil di buka aku masuk ke mobil, Vano diberikan kepadaku dan aku memangkunya di bangku depan, Mas Arif masuk dari pintu kemudi, kami meninggalkan Alun-alun menyusuri jalan provinsi menuju rumah ibukku, tak ada pembicaraan sama sekali selama perjalanan, Vano sudah mulai mengantuk dan tertidur di pangkuanku, aku memberanikan diri bertanya.
"Mas... sepertinya tidak baik suasana hatimu?" tanyaku.
"Gak kenapa-napa aku Rin, emosi saja aku melihat dia, laki-laki itu yang membuatmu trauma" katanya.
"Mas... percuma juga menyimpan dendam, toh aku juga sudah bisa melewati masa itu karena perjuangan Mas juga Ibu menanganiku, dia juga sudah dapat hukumanya dengan penolakan Vano" kataku.
"Rin... kenapa kamu tidak lewat jalur hukum?" katanya.
"Sejahat-jahatnya dia mas, dia tetap ayah kandungnya Vano, kalau aku lewat jalur hukum bagaimana kalau kasus ini masuk ke dunia maya pasti ada rekam jejak digital yang tersimpan sehingga Vano tau saat dewasa nanti, apa gak kasihan Vano?" kataku.
"Maafkan aku istriku" kata Mas Arif sambil memegang jemari tanganku tersenyum memandangku
Tak terasa sudah sampai di rumah orang tuaku, Mas Arif turun dari mobil membukakan pintu mobil dan menggendong Vano yang sudah tidur kemudian aku menutup pintu mobil berjalan mengikuti mas Arif menuju ke dalam rumah.
"Assalamualaikum..."
"waalaikumsalam, loh... kok gak ngabari dulu kalau mau kesini" tanya Ibu.
"Pingin kesini Bu" kata mas Arif kemudian masuk ke dalam kamarku untuk menidurkan Vano.
Aku duduk di ruang keluarga.
"Rinda... bagaimana keadaanmu?" tanya Ibu sambil mendekatiku dan membawa air minum untuk diberikan kepadaku.
"baik Bu, tadi gak sengaja ketemu ayahnya Vano" kataku.
"Sudah Rin...jangan diteruskan ceritanya" kata Ibu.
Tak lama kemudian Mas Arif bergabung di ruang keluarga.
"Bapak kemana Bu?" tanya Mas Arif.
"Sebentar lagi pulang, ke tetangga ada hajatan" kata Ibu.
__ADS_1
"Rif... bagaimana kabar Ibumu?" tanya Ibu.
"Baik Bu, Ibu sekarang sedang ada diklat di Jogja, lusa mungkin pulang" kata Mas Arif.
"Cucuku pulang ya.." kata Bapak dari luar.
Kemudian ikut bergabung di ruang keluarga.
"Sudah lama Rin?" tanya Bapak.
"Belum lama Pak" jawabku sambil bersalaman mencium tangan Bapak.
"Ayo makan seadanya" ajak Ibu.
Kami berempat menuju meja makan, makan bersama menikmati masakan Ibu.
"Rinda... kamu kalau capek istirahat saja, kalau kamarmu sempit bisa tidur di kamar Faris kan sebelahan kalau Vano terbangun pasti terdengar" kata Ibu.
"iya Bu" jawabku, entahlah beberapa hari ini badanku kurang enak, mungkin beberapa hari ini terlalu lelah karena Mas Arif meminta hak nya berkali-kali.
"Mas... aku istirahat dulu" kataku berlalu dan masuk di kamar adikku Faris sedangkan Mas Arif mengobrol dengan Bapak.
Pintu kamar dibuka, kulihat suamiku yang masuk, Mas Arif menutup pintu mendekatiku, merebahkan tubuhnya disampingku memelukku.
"Rin... kamu kelihatan kurang sehat, wajahmu masih pucat" bisiknya.
"Gak apa-apa Mas mungkin lelah aku" kataku.
"Malam ini aku tidak meminta hak ku istriku" kata Mas Arif.
"Kalau Mas minta aku tidak menolak" kataku pelan.
"Besok masih ada waktu sayang, sekarang istirahatlah" katanya dan membenamkan kepalanya ke pelukanku
"Mas...makasih ya" kataku lirih.
"iya sayang, ayo kita tidur" katanya.
Pagi menjelang, Vano bangun terlebih dahulu menangis keluar kamar mencariku, aku terbangun dan keluar kamar memeluk Vano.
"Bunda tidur dimana?" tanyanya.
"Di kamar Om Faris sama Ayah, kan gak muat tidur bertiga" kataku.
"Ayah kemana?" tanyanya.
"Masih tidur di kamar" kataku.
Vano berjalan menuju kamar dimana Mas Arif tidur.
"Ayah... ayo bangun, Vano mau sekolah, ayah antar" katanya sambil menggoyang-goyangkan badan Mas Arif.
__ADS_1