
Telpon berdering dari kamarku, kuangkat dari hp Rinda, mungkin orang tuanya, hp Rinda kan ketinggalan di rumah batinku.
"Assalamualaikum" kata Arif.
"Waalaikum salam" sapanya.
"Arif, Rinda bagaimana?" tanya ibu.
"Sudah lebih baik Bu" kata Arif.
"Rif, Ibu Bapak mau kesana, kamu beritau alamat mu ya?" kata Ibu, dan Arif menyebut
alamat rumah ini.
"Oh iya Bu tolong bawa hp Rinda ya? juga berkas Rinda untuk ke Kantor Agama" pesan Arif.
"Iya Rif" kata Ibu dan mematikan telpon.
Arif ke belakang mencari Ibu mengabarkan kalau orang tua Rinda akan ke sini.
"Bu, Bapak dan Ibu Rinda mau kesini sekarang?" kata Arif.
"Iya Rif, kita tidak usah bercerita tentang yang menimpa Rinda, aku juga bingung Rif, semua ini karena ayahnya Vano, seharusnya kasus seperti ini bisa ditempuh di jalur hukum Rif, tapi Rinda tidak bisa berterus terang, misal dia bisa terus terang kembali lagi ada Vano, ketika Vano dewasa apa dia tidak tertekan? bila dia tau cerita dari orang lain?" kata Ibu.
"Iya Bu, biar kita yang tau kejadian waktu itu" kata Arif.
Setelah berbicara dengan Ibu, Arif masuk ke rumah, Vano masih melihat acara kesukaanya, kulihat Rinda memeluk guling tapi tidak tidur, pandangan matanya tidak seperti tadi pagi, pandangan kosong, terdengar pintu pagar diketuk orang, Arif keluar rumah, kulihat Bapak dan Ibunya Rinda, aku buka pintu pagar.
"Silahkan masuk Bapak, Ibu" kata Arif.
"Rinda bagaimana?" tanya Ibu.
"Lebih baik Bu daripada tadi pagi" kata Arif.
Kemudian Bapak dan Ibu Rinda duduk di kursi tamu, kulihat Ibu Linda datang menemui mereka.
"Vano, Mbah uti, Mbah kung kesini" panggil Arif.
Vano beranjak dari tempat duduknya berlari ke ruang tamu.
"Mbah bunda sakit" kata Vano.
"Iya, ini Mbah mau lihat" kata Ibu.
"Vano main lagi ya sayang" kata Ibu Linda.
"Bagaimana Bu kondisi Rinda" tanya Bapak.
"Sudah lebih baik Pak, cuma saya tidak tau apa yang membuat dia depresi" jelas Ibu Linda.
Bapak menceritakan kejadian empat tahun lalu, sama seperti yang diceritakan kepadaku tempo hari.
"Bisa lihat Rinda?" tanya Ibu Rinda.
"Bisa, sudah bisa diajak ngobrol tapi pelan-pelan" kata Ibu Linda.
Arif menunjukkan kamar Rinda, melihat kami dia berdiri dan memeluk Ibunya.
"Bu...maafkan Rinda ya? Rinda tidak baik Bu" katanya.
"Sudah Rinda, Rinda anak Ibu Bapak yang terbaik, Rinda harus kuat, Rinda mau nikah sama Arif?" tanya Ibu.
Rinda menganggukkan kepalanya.
"Rinda disini saja ada Vano sama Mas Arif, Rinda takut di rumah" katanya.
__ADS_1
"Iya Rinda gak apa-apa tinggal disini" kata Ibu Linda.
"Rinda kuat, Rinda harus melawan rasa takut Rinda, Rin ikuti tante kuat, bangkit, semangat"
Rinda hanya tersenyum saja tidak mengikuti kata Ibuku.
Kami meninggalkan Rinda di kamar, kami duduk di ruang tamu.
"Rinda bisa sembuh Bu dari traumanya, ini belum kronis kalau penyakit, masih permulaan, tapi Rinda hebat selalu bisa bangkit lagi" kata Ibu.
"Oh ya Ibu Bapak silahkan kue sama minumnya diincipi" kata Ibuku mempersilahkan Ibu dan Bapak Rinda.
"Bu...nitip Rinda ya..., ini hp sama berkasnya Rinda, kalau ada apa-apa saya dikabari" kata Bapak.
"Iya Pak, maafkan anak saya juga ya" kata Ibu
Bapak dan Ibu Rinda meninggalkan rumah, aku menuju kamar Rinda lagi, pintu aku tutup, Rinda tersenyum melihatku dan memelukku.
"Rinda... ayo makan?" kata Arif.
"Ayo Mas, aku juga sudah lapar" kata Rinda.
"Bapak Ibukku sudah pulang?" tanya Rinda.
"Sudah Rin" jawab Arif.
Rinda berjalan ke ruang tamu Arif mengikuti dari belakang, Rinda duduk di meja makan mengambil makanan dan memakanya.
Alhamdulillah banyak perubahan darinya, Arif duduk disampingnya dan Vano duduk di samping Arif lahab memakan sayur sop yang dibuat Ibu, setelah makan Rinda masuk ke kamar mandi, aku hanya melihatnya saja demikian juga ibunya Arif, tak lama kemudian Rinda keluar kamar mandi kelihatan habis mandi, dia masuk ke kamar.
"Biarkan saja Rif" kata Ibu Linda.
Tak lama kemudian Rinda keluar kamar menuju ke kami.
"Maaf Tante" kata Rinda, Arif mengikuti langkah Rinda masuk ke kamarnya.
"Ada apa Rin?" tanya Arif.
"Mas... " panggil Rinda.
"Iya kenapa sayang?" tanya Arif pelan.
"Mas.. aku ingin bersama Mas terus" jawab Rinda.
"Iya... aku di dekatmu terus Rin" kata Arif.
"Vano kemana Mas?" tanya Rinda.
"Vano tidur di karpet, mau di pindah dimana?" tanya Arif.
"Rinda boleh tidur di kamar Mas Arif?" tanya Rinda.
"Terus aku tidur dimana?" tanya Arif.
"Ya tidur di kamar mas" jawab Rinda.
"Tidur bertiga?" tanya Arif heran
Dan Rinda menganggukkan kepalanya.
"Rin... kamu mau menikah denganku?" tanyanya, bukanya menjawab pertanyaanku malah menangis memelukku
"Mas... aku minta maaf, tidak memberimu kesucianku" kata Rinda kembali menangis.
"Aku menerima Rin, jangan menangis lagi ya?" kata Arif sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
"Bener mas?" tanya Rinda.
"Serius... besok senin aku mau ke Kantor Agama, kita akan menikah Rin, kamu senang apa tidak menikah denganku" kata Arif pelan.
"Iya mas... jangan sakiti Rinda ya?" kata Runda.
"Janji gak aku sakiti" jawab Arif.
terlihat Rinda tersenyum manis, kucium bibirnya dengan lembut, kuusap rambutnya yang panjang sebahu.
"I love you bidadariku" kata Arif.
"Love you too sayang" kata Rinda.
"Rinda....kamu... sayang... kamu sudah bisa berkomunikasi" kata Arif kembali menciumnya, memeluknya
"Kamu kembali sayang" kata Arif gembira.
"Ah mas Arif bikin malu saja" kata Rinda.
"Masih mau tidur bertiga?" tanya Arif
bukan menjawab malah memukulku dengan guling.
"Ibu.... Rinda sudah kembali" teriak Arif bersemangat dan berlari ke luar kamar Rinda dan Rinda mengejarku dengan membawa guling terus memukuliku aku pasrah di pukul dengan bantal asal dia tidak depresi lagi.
"Rin... bagaimana suasana hatimu?" tanya tante Linda.
"Rinda baikan Bu, mas Arif... ini kurang ajar" kataku.
"Aku kan sudah minta maaf Rin" kata Mas Arif
"Sudah malam... ini, Vano gak kamu pindahkan Rif?" tanya tante Linda.
"iya nanti Bu" jawab Mas Arif.
"Aku mau istirahat dulu ya, terserah kalian kalau mau bertengkar sampai pagi" kata Tante Linda.
Dan melangkah meninggalkan mereka naik ke tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Malam semakin larut Arif dan Rinda masih di ruang keluarga, Vano sudah di pindahkan Arif ke kamarnya.
"Rin... ayo tidur?" kata mas Arif
"Iya mas, tapi... gendong" kataku dengan manja.
Arif membopong Rinda masuk ke kamarnya, dan menurunkanya di tempat tidurnya, kemudian Arif turun dari tempat tidur berjalan untuk menutup pintu, dan kembali duduk di pembaringan kemudian merebahkan tubuhnya di samping Rinda.
"Mas... apa Mas mau melakukanya?" tanyaku.
"Tidak bidadariku, menunggu kamu siap, dan kita menikah ya" katanya.
Aku mengangukkan kepala.
"Mas...aku ingin melepas beban pikiranku dan traumaku untuk berhubungan dengan Mas Arif" kataku.
"iya sayang, aku sudah tau semuanya, kamu jangan cerita bila itu akan membuatmu mengingat dan menyakitimu, aku nanti berusaha membuatmu nyaman, Rin... senin aku mau ke Kantor Agama, kamu ikut? katanya.
"Enggak mas... mas saja yang berangkat" katanya
Mas Arif membalikkan tubuhnya ke arahku dan memelukku.
"Ayo tidur Rin!" kata Mas Arif.
"Iya Mas" kataku.
__ADS_1