
Satu bulan kemudian...
"Mas Arif sudah sampai dimana?" tanyaku sambil menahan rasa sakit.
"Ini baru turun dari pesawat Rin, kamu mau melahirkan?" tanya Mas Arif.
"Ini di rumah sendiri sama Vano, aduh...," jawabku.
"Rin... segera pesan transportasi online, kamu bawa Vano ke rumah sakit, biar aku menghubungi orang tuamu," kata Mas Arif gugup.
Transportasi online segera aku pesan.
"Vano, ayo ikut Bunda ke rumah sakit," kataku.
Nia kemarin pulang ke rumah, ibu mertua tidak jadi ke sini karena anak Vera sedang sakit.
Mobil yang aku pesan online sudah sampai di depan rumah, aku berjalan tertatih menuju ke mobil tersebut.
Wajahku sudah terlihat pucat.
"Pak langsung ke rumah sakit," ucapku.
"Bu...ibu tidak apa-apa, wajah Ibu pucat sekali," kata Pak Sopir.
"Suami Ibu kemana?" tanya Pak Sopir lagi.
"Pak jangan tanya terus segera berangkat," jawabku sambil menahan rasa sakit.
Mobil segera meluncur meninggalkan rumah ibu mertua menuju ke rumah sakit.
Sampai di sana...
"Pak... tolong segera ke igd, aku sudah tidak kuat lagi," ucapku kepada Pak Sopir.
"Bunda, kenapa?" tanya Vano dengan mata berkaca-kaca.
"Gak kenapa-napa sayang, Vano yang pintar ya," ucapku dengan mata berkaca-kaca pula.
Dalam hati lantunan doa dan dzikir selalu aku panjatkan berharap proses persalinan lancar.
Darah semakin banyak yang keluar dari bagian bawahku, tubuhku pun semakin lemas.
Perawat datang membawa drangkar menuju ke mobil.
Aku diangkat ke atas drangkar, Pak Sopir membantuku mengambilkan tas.
"Mbak sebentar, aku mau bayar Pak Sopir," kataku dengan suara lemah.
"Bu, sudah saya ikhlas, Ibu langsung masuk saja," ucap Pak Sopir.
Mataku terasa berkunang-kunang tapi aku berusaha untuk tetap sadar, dalam bayanganku adalah Vano, suamiku belum juga sampai.
Ponsel berdering dari dalam tasku.
"Mbak... tolong diangkat," pintaku ke Mbak Perawat.
"Juga tolong ambil tanda pengenalku di dompet untuk pendaftaran masuk rumah sakit," kataku
Aku lihat Mbak perawat membuka tasku dan mengambil ponselku kemudian mengangkatnya dan mengarahkan kamera ke arahku, Mas Arif yang sedang menelponku.
Aku lihat dia berada di mobil.
"Rinda... kamu jangan menyerah, kamu harus kuat Rin," kata Mas Arif.
Aku tersenyum kepada suamiku.
__ADS_1
Kemudian aku di dorong ke sebuah ruangan, sebelumnya sudah dipasang infus di tanganku.
Masuk ke ruangan persalinan.
Vano terus menangis melihatku kesakitan, pikiranku semakin kacau, kemana Ibu Bapakku, bagaimana Vano di luar, batinku.
"Mbak... bisakah aku minta tolong menjaga anakku sebentar, suamiku perjalanan kesini, sedangkan aku belum menghubungi orang tuaku," kataku.
"Iya Bu, sekarang fokus ke persalinan, anak Ibu aman," kata perawat tersebut.
"Ibu sudah pembukaan tujuh," kata perawat tersebut menjelaskan.
Tabung oksigen didorong perawat masuk ke ruang bersalin dimana aku berada.
Kemudian perawat memasang selang oksigen ke lubang hidungku.
Kondisiku sudah lumayan lebih baik daripada tadi.
"Bu... ada kontraksi lagi?" tanya Perawat tersebut.
Aku menggelengkan kepalaku.
Tiba-tiba pintu ruang persalinan terbuka terlihat suamiku dengan wajah cemas masuk ke dalam ruangan menghampiriku.
Meletakkan tas ranselnya di bawah.
"Rinda... kamu harus kuat, kamu harus bertahan demi kita, jangan menyerah," bisik suamiku di telingaku.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku.
"Vano bagaimana? tadi di luar sendiri dan menangis," tanyaku.
"Ibumu sudah datang, Vano sudah aman dengan Ibumu," jawab suamiku.
"Mbak... kontraksi lagi," kataku.
Akupun mengikuti apa yang sudah diintruksikan oleh perawat.
Mas Arif terus memberiku semangat berdiri di sebelah kepalaku, terus membisikiku dengan doa-doa.
Beberapa saat kemudian terdengar suara bayi menangis.
Setelah itu aku sudah tidak tau apa yang terjadi denganku.
Yang ada di depanku hanya cahaya putih menyilaukan mata.
Setelah cahaya putih yang menyilaukan mataku mulai memudar, tampak olehku seorang kakek berjubah putih menghampiriku dan mengajakku berjalan, entah kemana dan entah dimana aku belum pernah melihat tempat ini, aku hanya merasa tubuhku begitu ringan.
Akupun bertanya kepada kakek tersebut, "Kek...Rinda mau kakek bawa kemana?."
"Ikut kakek," jawab Kakek tersebut.
Aku berjalan tak tau dibawa kemana, arah barat, timur, utara, selatan aku gak tau, mendongakkan kepalaku tidak terlihat matahari, entah dari mana cahaya putih yang menerangi tempat tersebut.
Tidak terlihat siapapun di sana, hanya aku dan kakek dan jalan yang tak terlihat ujungnya.
Ya Allah... apa yang terjadi denganku, batinku.
Aku meraba perutku sudah tidak membuncit lagi.
Kemana anakku, kemana Vano, Mas Arif.
Aku mulai menitikkan mataku dan menangis.
Aku hentikan langkah kakiku dan aku duduk di jalan tersebut.
__ADS_1
Kakek yang sedari tadi bersamaku menghampiriku.
"Rinda... jangan berhenti, perjalananmu masih panjang," ucap kakek tersebut.
"Kek... dimana anakku, dimana suamiku?" tanyaku.
"Suatu saat kamu pasti bertemu dengan mereka," jawab kakek tersebut.
"Ayo segera melanjutkan perjalan, waktumu tidaklah lama di sini," kata kakek tersebut.
Sepanjang perjalanan aku hanya menangis mengingat anak dan suamiku.
Apa aku sudah melahirkan? dimana anakku dengan Mas Arif.
Tangisku semakin menjadi-jadi, aku duduk bersimpuh di jalan menangis sejadi-jadinya.
"Kek... pertemukan aku dengan anak dan suamiku." Aku memohon dengan air mata yang jatuh membasahi pipiku.
"Kek..," panggilku ke kakek tersebut dengan suara memelas.
Aku pegang erat kaki kakek tersebut bersimpuh di kakinya memohon untuk dipertemukan kepada keluargaku.
"Kek....Rinda mohon, jangan bawa Rinda," kataku dengan cucuran air mataku yang tiada henti.
"Nak... kakek hanya di utus untuk membawamu," kata kakek tersebut.
"Kakek akan membawaku kemana?" tanyaku.
"Kakek bawa ke suatu tempat, nanti pasti kamu tau," jawab kakek itu.
"Ayo berdiri jangan begini," kata kakek tersebut membujukku.
Aku tetap duduk bersimpuh di kaki kakek, berharap untuk dipertemukan pada anak dan suamiku.
Mas Arif... aku merindukanmu, kamu dimana? kata hatiku.
Terdengar suara Vano menangis keras memanggil-manggilku.
"Bunda....!" panggil Vano dengan menangis
"Bunda...!" panggilnya berkali-kali aku mendengarnya.
"Kek... itu suara anakku, dimana dia?" tanyaku.
Kakek tersebut tidak juga memberi jawaban.
Aku semakin kencang menangis.
Kakek itu membungkukkan badannya berusaha menenangkanku.
Tapi aku terus menangis sejadi-jadinya.
"Kembalikan aku ke tempatku, aku mohon," pintaku dengan suara serak karena kebanyakan menangis.
"Kek... bagaimana anakku, dimana dia, tangisanya tadi...," kataku tak bisa kulanjutkan.
Hanya tangisanku yang terdengar di sana, suara Vano sudah tidak terdengar lagi.
"Nak... ayo ikutlah denganku, jangan begini," kata Kakek itu.
"Biarkan Rinda disini Kek, Rinda tidak mau ikut kakek, Rinda tidak mau berpisah dengan anak dan suami Rinda," jawabku.
Aku masih terus menangis di situ, hanya kakek tua yang menemaniku.
"Nak... ayo ikut denganku, nanti kamu akan bertemu dengan anak dan suamimu," ucap Kakek itu.
__ADS_1
"Janji?" tanyaku.
Kakek tersebut menganggukkan kepalanya dan tersenyum.