
Telpon berdering dari hpku membangunkan dari tidurku.
Tanganku meraba-raba di sekitarku mencari hpku, setelah aku mendapatkannya aku mengambilnya, kulihat suamiku yang sedang telpon, segera aku angkat.
“Assalamualaikum Mas” sapaku.
“Waalaikum salam sayangku” balas Mas Arif.
“Sudah sampai mana sekarang?” tanya Mas Arif.
“Sudah di Bandara Mozes Kilangin Rin, ini mau berangkat” jawabnya.
“Hati-hati ya Mas” pesanku.
“Rin, kamu baik-baik saja kan?” tanya Mas Arif.
“Iya Mas, baik-baik saja Rinda, tapi masih kangen” kataku manja.
“Aku juga masih kangen Rin” jawab suamiku.
“Sudah dulu ya, ini mau naik, ibu hari ini pulang, Vano sudah mulai sekolah kan?” tanya Mas Arif
“Iya Mas, semalam ibu juga bilang kalau pulang hari ini” jawabku.
“Iya Rin, hati-hati ya, Assalamualaikum” kata Mas Arif.
“Waalaikum salam” jawabku dan aku menutup telpon dari suamiku.
Kulihat jam masih jam 5 pagi, berarti disana sudah jam 7 pagi.
Seperti aktifitas biasanya, bangun tidur sholat subuh, masak dan menyiapkan diriku juga Vano kemudian berangkat beraktifitas sendiri, bedanya sekarang aku berangkat sendiri, kalau ada Mas Arif di sini sering di antar.
Perjalanan menuju ke sekolahnya Vano dahulu kemudian menuju ke tempat kerjaku. Seperti biasanya masuk ke kantor menyalakan komputer dan mulai mengerjakan tugas-tugasku, ya rutinitas yang sama dari hari ke hari terkadang juga membosankan, tapi itulah kehidupan.
“Rin tumben sendiri, suamimu kemana?” tanya Nia saat kami istirahat di musholla setelah sholat duhur.
“Sudah balik Nia, semalam” jawabku.
“Loh, katanya masih minggu depan, kenapa?” tanya Nia penasaran.
“Disana sudah kondusif Nia, mana ada sih perusahaan bayar pegawainya yang cuti lama, pasti tidak” kataku.
“Andai begitu enak ya he he he” kata Nia.
“Enak di kamu, gak enak di perusahaan” kataku
“He he he” kami tertawa bersamaan.
“Ayo kembali lagi ke kantor, aku mau melanjutkan aktifitasku, minggu depan sudah akhir bulan, waktuku membuat laporan” kataku.
Kami beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju ke kantor.
__ADS_1
Satu persatu map di depanku aku buka isinya dan mulai menginput data di dalamnya.
Sudah sore, sudah waktunya aku untuk pulang, aku merapikan meja kerjaku kemudian bersiap untuk menjemput Vano.
Sampai di Penitipan Vano.
“Bu Rinda, maaf tadi tidak memberitahu Ibu, barusan saja ayahnya Vano kemari melihat Vano dari luar, ini ada titipan dari ayahnya” kata Bu Lia.
“Vano bagaimana Bu melihat ayahnya?” tanyaku.
“Vano tidak mendekatinya Bu, tapi tidak menangis seperti biasanya, ayahnya juga tidak berusaha untuk membawa Vano, hanya melihat dari luar saja” jawab Bu Lia.
“Terima kasih Bu” kataku.
“Vano ayo pulang” ajakku.
Aku mengambil tas bekal Vano kemudian membawanya dan Vano berjalan di sampingku, anak ini sudah hampir 4 tahun usianya.
Kami bersalaman dengan Ibu Gurunya Vano kemudian melangkah keluar ke arah sepedaku yang aku parkir di luar.
Sepeda motor aku hidupkan dan kami menuju ke rumah ibu mertua.
Dalam perjalanan seperti biasa kami mengobrol-ngobrol ringan dengan Vano
“Vano tadi ayah ke sana?” tanyaku
“Iya Bunda, tapi ayah hanya di luar” jawab Vano.
“Enggak nangis Bunda, kan ayah tidak membawa Vano, hanya memberi kue sama baju” jawab Vano.
“Suatu saat jika ayah mengajakmu jalan-jalan begitu tapi mengembalikan sama Bunda lagi, kamu mau?” tanyaku.
“Kalau Vano sendiri gak mau Bunda, tapi kalau sama Ayah Arif atau sama Bunda baru mau” jawabnya.
Oh berarti Vano mau bertemu dengan ayah kandungnya jika kami juga menemaninya, batinku.
Tak terasa sudah sampai rumah, Ibu mertua sudah berada di rumah sekarang beliau sedang santai di teras rumah.
Aku duduk di samping Ibu mertua setelah bersalamanya denganya.
“Bu, bagaimana kehamilan Vera?” tanyaku.
“Vera baik, hanya saja ini harus bedrest total” jawab Ibu.
“Kenapa Bu?” tanyaku penasaran.
“Iya karena Vera punya riwayat keguguran berkali-kali, tapi janinnya perkembanganya bagus” jawab Ibu.
“Terus Kerjaan Vera menjadi dokter bagaimana Bu?” tanyaku kembali.
“Vera cuti dulu selama masa kehamilan ini, ya... anak lebih utama dari pada pekerjaan Rin, apalagi Vera menikah sudah lama belum juga di beri keturunan, jadi kehamilan ini bener-bener dia jaga” jawab Ibu.
__ADS_1
“iya Bu, semoga saja sehat ya Bu” kataku.
“Kamu bagaimana Rin? Vera cerita kalau kirim vitamin untukmu” kata Ibu.
“Oh iya Bu, kapan hari sudah sampai, sudah aku konsumsi setiap hari, semoga saja Rinda segera menyusul Vera ya Bu” kataku dan menghela nafas panjang.
“Rinda... semua serahkan kepada Allah, Allah lah yang menentukannya, kita hanya bisa berdoa dan berusaha” kata Ibu sepertinya melihat kegelisahanku.
“Iya Bu” jawabku pelan.
Seandainya waktu itu aku tidak keguguran saat in perutku pasti sudah kelihatan, batinku.
“Bu Rinda mau ke dalam dulu, mau mandi dan beres-beres” pamitku.
Aku memasuki rumah dan masuk ke dalam kamar, setelah melepas jilbab aku menuju ke kamar mandi untuk mandi, aku tersenyum sendiri, biasanya kalau seperti ini Mas Arif pasti segera menyerangku, batinku mengingat ulah suamiku.
Aku merapikan diri dan berganti baju santai lalu keluar ke kamar, kulihat Ibu sedang santai duduk di ruang tamu, Vano seperti biasa bermain dengan mainannya, ya... di ruang keluarga berserakan mainanya, yang penting setelah bermain mau membereskannya.
Duduk di samping Ibu.
“Bu... sepertinya ada yang sedang Ibu pikirkan?” tanyaku dengan hati-hati sambil menatap wajah Ibu mertua yang semakin menua.
“Iya Rin, aku memikirkan Vera, di sana sendiri, sedangkan mertuanya juga sudah meninggal semua” jawab Ibu menghela nafas panjang.
“Kondisi kehamilannya selalu bermasalah, aku mau menemaninya tapi bagaimana dengan pekerjaanku di sini” kata Ibu.
“Bu, apa Ibu tidak punya asisten?” tanyaku.
“Punya Rin, tapi sepenuhnya belum bisa aku lepaskan ke dia, aku maunya kamu suatu saat masuk ke tempatku” kata Ibu.
“Insyaallah Bu, suatu saat pasti Rinda ke sana” kataku.
“Nanti pada saatnya ya Bu, ini Rinda mau belajar banyak di sini” kataku kemudian.
“Arif bagaiman Rin, baik-baik saja dia?” tanya Ibu.
“Iya Bu, sekarang mungkin sudah sampai di mes nya, tadi pagi mengabari Rinda kalau sudah sampai Bandara Mozes Kilangin” jawabku.
“Iya Rin, dia baik sama kamu kan? Tidak berulah macam-macam?” tanya Ibu.
“Alhamdulillah Bu, baik-baik saja Mas Arif, semoga selamanya” jawabku.
“Hubungan kalian ini rentan perselingkuhan Rin, aku teringat ayahnya Arif, ya... sepertimu kami dulu menjalani rumah tangga, kemudian ada perempuan lain yang hadir dalam kehidupan ayahnya Arif, dan mulai sering bertengkar dan dia memilih perempuan itu, aku tidak ingin arif mengikuti perilaku ayahnya” kata Ibu menceritakan masa lalunya.
Aku menghela nafas panjang.
“Doakan Bu, rumah tanggak kami baik-baik saja” kataku.
"Yang penting kamu terus menjaga keharmonisan rumah tanggamu, tetap selalu berkomunikasi dengan baik Rin" nasehat Ibu.
"Pertengakaran itu bumbu rumah tangga, tapi jangan berlarut-larut" nasehat Ibu.
__ADS_1
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku sambil berkata "Iya Bu"