Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Perhatianmu


__ADS_3

Sampai di rumah mas Arif, ibu di ruang tamu sendirian, karena Vera dan Deddy setelah acara kami langsung kembali ke Jogja, aku menyalami ibu kemudian masuk ke kamar, gak tau tubuhku ini rasanya gak enak banget, beda saat hamil Vano, mas Arif membawa tas ke dalam diikuti Vano, sampai di kamar aku rebahkan tubuhku.


Di ruang tamu


"Bu... Rinda hamil" kataku


"Beneran Rif?" tanya ibu


"Iya bu, semalam di tespek hasilnya positif, bu...selama aku di Papua nitip Rinda sama Vano ya bu" kataku


"Rif... Rinda dan Vano ini sudah aku anggap anak dan cucuku" kata ibu


"Terimakasih bu" kataku


"Kapan kamu balik ke Papua?" tanya ibu


"Tiga hari lagi bu" kataku, kemudian aku masuk ke kamar, Rinda tidak ada di kamar tapi pintu kamar mandi ditutup kudengar ada suara orang muntah di kamar


"Rin... kamu gak apa-apa?" tanyaku


"Gak apa-apa mas" jawab Rinda dari dalam


Dalam kamar mandi...


kehamilan ini bener-bener beda dengan Vano, sayang... jangan rewel ya? batinku sambil mengelus perutku, perut rasanya mual tapi tidak muntah, pusing sekali kepalaku, ketika sudah enakkan aku keluar kamar mandi, mas Arif di depan pintu kamar mandi kemudian memelukku


"Maafkan aku ya Rin, kamu jadi tersiksa begini" kata mas Arif


"Mas...ya seperti ini wanita hamil itu, mas jangan ngomong begitu, beri Rinda semangat" kataku


"Rin... kamu keluar kerja saja ya?" kata mas Arif


"Mas... terus aku ini aktifitasku apa?" tanyaku


"bosan kalau dirumah begini-begini saja" kataku kemudian


"Terserah Rin... aku ini kasihan melihat kondisimu, kalau aku kembali kerja siapa yang merawatmu?" tanya mas Arif


"Mas... aku bisa pesan makanan dan berangkat kerja lewat transportasi online, sudah... mas jangan memikirkan itu, Rinda bisa mengatasinya" kataku berusaha membuat mas Arif tenang


"Sekarang kamu pingin apa?" tanya mas Arif


"Pingin mas peluk, mencium bau suamiku" kataku


"Ih... jorok juga ya kamu Rin, aku belum mandi ini" kata mas Arif


"He he he tapi Rinda suka" kataku kemudian tersenyum memeluk mas Arif, rasanya nyaman sekali dalam pelukanya.


"Mas...kalau kembali ke Papua tinggalin bajumu yang habis dipakai ya?" pintaku

__ADS_1


"Buat apa?" tanya mas Arif heran


"Ya buat nemani tidur" kataku, mas Arif menggelengkan kepalanya


"Ada saja ya bawaan ibu hamil, iya mulai hari ini bajuku gak usah di cuci" kata mas Arif


aku tersenyum puas


"Makasih sayang" kataku


Sehabis sholat maghrib, kami duduk bersama di ruang keluarga, Vano masih seperti biasa lari kesana kemari dengan mainan mobil-mobilanya


"Rin... kapan rencananya kamu periksa?" tanya ibu


"Dua minggu lagi bu, khawatir kalau sekarang belum nampak apa-apa" kataku


"Ibu antar nanti" kata ibu


"Iya bu terimakasih" kataku


"Rif, nanti Rinda gak usah ikut antar kamu ke Bandara, khawatir ada apa-apa, kamu gak apa-apa kan Rin?" tanya ibu


"Iya bu, Rinda istirahat saja di rumah, lagian badan Rinda ini tidak enak banget rasanya" kataku


"Kamu pakai istirahat saja Rin" kata ibu, aku menganggukkan kepala, "aku ke atas dulu, mau istirahat" kata ibu


"Mas... martabak sepertinya enak banget ya" kataku


"Kamu pingin martabak?" tanya mas Arif


"Iya" jawabku


"Kamu di rumah saja, aku keluar rumah beli martabak" kata mas Arif


"Ayah mau ke mana?" tanya Vano


"Mau beli martabak" jawab mas Arif


"Ikut yah" rengek Vano


"Ayo... tapi jangan tidur ya" kata mas Arif


"Rin aku keluar dulu, kamu istirahat saja" kata mas Arif, kemudian mas Arif keluar sama Vano, aku tidur-tiduran di sofa sambil melihat tv dan sesekali mengganti canel tv, mas Arif kok lama sekali batinku


Kemudian mas Arif datang menggendong Vano dan keluar lagi membawa martabak pesananku


"Ini sayang" kata mas Arif sambil memberikan kardus berisi martabak


"Makasih sayang" kataku kemudian memeluk suamiku, aku membuka isi kardus dan memakan martabak, rasanya enak banget, aku makan martabak seperti tidak pernah melihat martabak, mas Arif bengong melihatku

__ADS_1


"Kenapa mas?" tanyaku


"Enggak apa-apa, melihatmu makan begitu jadi seneng aku" kata mas Arif, aku tersenyum, semua martabak sudah habis dalam waktu singkat


"Hah... habis Rin?" tanya mas Arif bengong


"He he he makasih ya" kataku


"Kenapa, ada yang aneh mas dengan Rinda?" tanyaku


"Enggak ada, cuma makanmu beda dari biasanya, tapi aku malah seneng Rin" jawab mas Arif


"Rin... ayo istirahat di kamar, aku gendong ya?" tanya mas Arif aku mengangguk, remot tv aku ambil dan aku mematikan tv kemudian mas Arif menggendongku, kedua tanganku aku lingkarkan ke leher mas Arif


"Aku berat mas?" tanyaku


"Enggak Rin, banyak makan ya" jawab mas Arif kemudian merebahkan tubuhku di pembaringan


"Rin... aku tidak minta hak ku, kamu istirahatlah" kata mas Arif


"Terimakasih mas atas semua perhatianmu padaku" kataku, mas Arif merebahkan tubuhnya di sampingnya, aku memeluknya terasa nyaman sekali


"Rin... kamu gak apa-apa aku tinggal ke Papua?" tanya mas Arif


"Mas... yakinlah Rinda tidak apa-apa, mas kembalilah kerja, itu semua untuk kita nanti" kataku kemudian mas Arif mencium pipiku


"Maafkan aku ya, tidak bisa menemanimu saat hamil begini" kata mas Arif lirih


"Mas... Rinda tidak apa-apa, jangan buat sedih Rinda begini, dua bulan waktu yang cepat sekali mas" kataku


"Terima kasih sayang" ucap mas Arif


"Tidurlah" kata mas Arif kemudian dan memelukku, rasanya nyaman sekali.


Pagi hari, badanku sudah lumayan enak, ibu menyiapkan nasi goreng, baunya mengundang selera


"Kamu mau Rin?" tanya ibu


"Iya bu, Rinda makan dulu ya, pingin banget" kataku, kemudian aku mengambil piring dan nasi goreng yang masih di penggorengan dan telur ceplok di meja makan kemudian berjalan ke sofa ruang keluarga untuk makan


"Bunda... Vano juga mau" kata Vano mendekatiku kemudian aku menyuapi Vano dan aku sendiri, Vano sudah kenyang tapi aku masih lapar akhirnya ke dapur lagi


"Bu, nambah lagi" kataku malu-malu


"Semoga sehat cucuku" kata ibu tersenyum dan aku mengambil nasi goreng lagi dan memakanya.


Setelah semua siap aku dan Vano diantar mas Arif berangkat kerja, mas Arif menurunkan Vano di sekolahnya kemudian mobil menuju di tempat kerjaku, aku turun diantar mas Arif sampai tangga naik, sampai atas kulambaikan tanganku sambil tersenyum kemudian masuk kerja, seperti biasa teman-teman bercanda.


Ketika aku pulang kerja dan turun ke bawah, mas Arif sudah menunggu dibawa dan kami berjalan bergandengan tangan menuju mobil kemudian lanjut menjemput Vano dan pulang ke rumah

__ADS_1


__ADS_2