
Di rumah Arif, nampak Arif dan ibunya sedang berbincang-bincang di ruang keluarga.
"Rif... kamu sudah siapkan maharnya?"tanya Ibu.
"Sudah Bu, Arif ada emas batangan yang Arif bawa ke sini, untuk maharnya nanti?" kataku.
"Apa Rinda meminta itu?" tanya Ibu.
"Enggak Bu, Rinda menerima apapun yang aku beri untuk mahar asalkan tidak memberatkanku" kataku.
"Itu baru perempuan baik Rif" kata Ibu.
"Berkas lainya sudah ada?" tanya Ibu.
"Sudah Bu, sudah ada disini, tadi sudah Arif siapkan" kataku.
"Ya sudah kalau begitu, aku istirahat dulu, capek Rif" kata Ibu.
"Iya Bu" kataku.
******
Rinda terlihat membuka berkas-berkasnya, tinggal foto copy saja besok batinku, istirahat sepuasku di rumah selagi tidak ada yang menggangguku dan membuatku jantungan batinku.
Baru saja merebahkan tubuhku di kasur terdengar hp ku berbunyi.
"Bidadariku... lagi napa?" kata Mas Arif.
"Baru mau istirahat Mas, tadi nyiapkan berkas ke Kantor urusan agama" kataku.
"Mas beneran ini kita mau nikah? Mas gak lagi bercanda kan?" tanyaku.
"Kamu kira ini bercanda Rin? aku ini serius?" katanya.
"Kapan Mas mengurus suratnya?Rinda kok gak tau?" tanyaku.
"Di Merauke temanku Deni aku suruh ngurus suratnya, itu sudah awal aku pulang ke sini Rin, kemarin kamis baru sampai suratnya langsung aku urus, jumat sudah jadi" katanya.
"Hah... berarti Rinda kerja Mas keluar rumah mengurus semua itu, tanpa Rinda ketahui, kapan Mas ini gak bikin Rinda jantungan karena terkejut? coba Mas pikir aku ini ketemu Mas kemarin ke rumah membawa seserahan itu saja masih surprise sekarang Mas ditambah lagi seminggu lagi kita menikah, apalagi yang Mas rencanakan lagi untuk membuat kejutan untukku?" kataku.
"ha ha ha, kan semua untuk bidadariku" katanya sambil tertawa.
"Sayang besok aku ke sana, mau menggoda bidadariku lagi, di sini tidak ada kamu, sepi tak ada yang aku goda" katanya.
"Rasain, aku mau tidur sepuasku tanpa ada yang mengganggu" kataku.
"Rin... love you" katanya.
"love you too mas" jawabku.
"Mas aku tidur dulu ya.." kataku.
"Iya sayang, nanti malam aku kesana memelukmu dari belakang" katanya.
__ADS_1
"Iya dalam mimpi" kataku.
"He he he, bentar lagi kan gak dalam mimpi" katanya.
"Ayo tidur mas..Rinda ngantuk" kataku.
"Iya sayang, tidurlah love you bidadariku" katanya dan menutup telpon.
Pagi hari mentari pagi bersinar, tanganku meraba-raba tidak ada Vano, mungkin lagi main.
"Vano.... " teriakku, tidak juga ada sahutan akhirnya aku bangun dari tidurku melangkah keluar loh kok tutupan pintunya batinku.
Aku kembali ke kamar mengambil hp berniat untuk menelpon ibu.
Tuut...tuut... tuut... belum juga diangkat coba bebetapa saat lagi mungkin mereka di jalan.
sepuluh menit kemudian...
tuut...tut..tu.. akhirnya diangkat
"Ibuu, Vano ikut Ibu?" tanyaku.
"Iya Rin, kamu tidur saja sampai gak tau anakmu aku bawa" kata Ibu.
"Ibu kemana?" tanyaku.
"Iya Bu, terus ini aku keluar rumah dari mana? kunci rumah jadi satu sama kunci sepeda" kataku.
"Kamu hubungi Arif saja untuk membawa kunci sepedamu" kata Ibu memberi saran.
"Oh iya ya, ya sudah Bu kalau gitu" kataku.
"Assalamualaikum... " kataku lagi dan menutup telpon
Aku memencet tombol di hp ku berniat untuk menghubungi mas Arif.
"Ada apa Rin? ini mau kesana masih manasi mobil" katanya.
"Mas aku terkunci di dalam rumah gak bisa keluar, kalau kesini tolong bawa kunci sepedaku" kataku.
"Ha ha ha ha kok bisa" kata Mas Arif tertawa terbahak-bahak.
"Gak lucu Mas" kataku.
"Aku berangkat kesana ini Rin, kamu sudah mandi?" tanyanya.
"Belum" jawabku.
"Perlu aku mandikan?" godanya.
__ADS_1
"Gak usah, aku mandi sendiri, kayak bayi saja minta dimandikan" kataku.
Terdengar suara mobil dari luar, hadew... rambutku belum kering begini batinku, kudengar pintu pagar di buka, kemudian pintu rumah.
"Nah... ketemu bidadariku" katanya tertegun melihatku dengan pakaian super pendek yang sedang mengeringkan rambut dengan kipas angin, melihat mas Arif aku berlari ke dalam kamar langsung memakai baju panjang dan mengeringkan rambut di kamar dengan kipas angin, tiba-tiba mas Arif sudah masuk kamar, kenapa pintunya tidak aku kunci, jadi malu banget, mas Arif melihatku dengan tatapan yang tidak biasanya, jantungku rasanya berdetak lebih kencang, dengan kasarnya menjatuhkanku ke kasur.
"Mas..." aku mau teriak mulutku sudah dibungkam dengan bibirnya, ditindihi tubuh kecilku, aku sudah tidak bisa bergerak hanya memukul punggungnya, tak terasa air mataku jatuh, mas Arif sudah tidak bisa terkontrol, ketika dekapanya mulai melonggar aku langsung mendorongnya sekuat tenaga aku duduk dipojokkan memeluk lututku ketakutan, tanpa bicara hanya air mataku yang terus mengalir, melihatku seperti itu mas Arif mendekatiku.
"Rin... Rin... kenapa kamu" katanya sambil menggoyangkan tubuhku, aku tetap diam dengan pandangan kosong, kejadian beberapa tahun yang lalu terasa terulang kembali.
*****
Ya Allah... kenapa dengan Rinda batinku
"Rin... " kataku
"Rin..." teriakku lebih keras
"Rinda... " kataku memanggilnya kugoyangkan tubuhnya tapi tidak ada respon darinya, dia masih terdiam ketakutan di pojok tempat tidur, aku keluar mengambil air minum dan kembali ke kamar, Rinda masih tetap dengan posisi semula aku dekati aku lepaskan tanganya yang memeluk lututnya perlahan aku luruskan kakinya dan aku beri minum .
"Rin minumlah sedikit-sedikit" kataku, dia mau meminumnya seteguk demi seteguk, aku taruh air di meja, aku baringkan tubuhnya, kucium keningnya kupeluk Rinda, dia masih menggenggam tanganya meringkuk dalam pelukanku, aku lepas tanganya aku pelukkan ke tubuhku.
"Rinda... jangan begini Rin" kataku pelan.
"Aku takut" katanya pelan.
"Aku takut" katanya lagi.
"Aku janji Rin...aku tidak begitu lagi, maafkan aku" kataku tak terasa aku meneteskan air mata, aku peluk bidadariku, aku cium keningnya aku belai rambutnya.
"Sayang... ke rumah sakit ya" kataku, dia menggelengkan kepalanya.
"Pulang ke rumahku?" kataku lagi.
dia tetap menggeleng, Ya Allah... kenapa aku tadi berbuat begitu, apakah itu mengingatkan kejadian dulu, membuatnya trauma lagi.
aku peluk dia lagi lebih lembut.
"Rin... jangan begini sayang" kataku.
"Ketemu ibuku ya" kataku, dia mengangguk, aku menuntunya keluar rumah masuk ke mobil, dan aku tutup pintu rumah dan pagar, mobil segera melaju cepat menuju rumah ibu.
Dalam perjalanan aku menelpon ibu
"Ibu... Ibu... di rumah?" tanyaku
"iya ada apa? sepertinya kamu gugup sekali?" tanya Ibu
"Rinda.. aku gak tau Bu, aku salah, Rinda ketakutan Bu, aku bawa pulang sepertinya butuh psikiater" kataku dan kututup telpon, kulihat Rinda tetap diam dengan pandangan kosong tanganya masih saling menggenggam erat.
Sampai di rumah, aku gendong Rinda masuk ke kamarku
__ADS_1
"Ya Allah, kamu apakan Rif, sepertinya dia trauma kembali" kata ibu.