
Dua hari lagi, suamiku akan kembali ke Papua untuk bekerja, rasanya baru bertemu kemarin, tapi di tinggal lagi, beratnya menikah seperti ini, suamiku datang disaat aku selesai operasi curet, dan aku sendiri sampai hari ini belum bisa melaksanakan kewajibanku sebagai istri, dua bulan setengah suamiku menahan, mungkinkah laki-laki bisa menahan dua bulan setengah di tambah dua bulan ke depan, bagaimana kalau dia mencari perempuan lain? ah sudahlah untuk apa aku berfikir negatif kepada suamiku, hari ini aku ingin menikmati waktu bersama suamiku
"Rin... melamun saja?" kata Nia mengagetkanku
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nia lagi
"Itu makananmu segera di makan, entar tidak enak" kata NIa
"Dua hari lagi suamiku kembali ke Papua Nia, entahlah apakah ini perasaan bersalahku atau bagaimana? kataku sambil menyendok makanan sedikit, seperti tidak berselera untuk makan
"Kenapa?" tanya Nia dengan nada pelan
"Kamu tau kan, aku habis curret itu" kataku
"Iya kenapa memangnya?" tanya Nia penasaran
"Aku ini harus cerita bagaimana Nia sama kamu, sedangkan kamu sendiri belum menikah, kamu gak akan paham tentang kebutuhan biologis laki-laki" kataku
"Ha ha ha, Rinda... Rinda... kamu pikir aku ini anak Sd gitu yang tak tau masalah ini" kata Nia dengan suara agak keras
"Hust... jangan rame-rame di dengar orang" kataku cemas
"Malu aku Nia" kataku lagi
"Apa setelah curret tidak boleh berhubungan badan?" tanya Nia penasaran
"Setelah makan, ayo ke musholla saja, ngomongin ini, gak enak di kantin banyak yang dengan" kataku
"Makanya makananmu itu segera di habiskan, jangan di lihatin saja, itu bukan suamimu yang kamu anggurin" kata Nia dengan tersenyum
"Bahasamu ada saja, siapa pula yang nganggurin suami ha ha ha" kataku dan tertawa
Segera makanan kami habiskan, dan kami bergegas berjalan beriringan menuju musholla, waktu masih menunjukkan pukul 12:15
Sampai di mushollah, kami melaksanakan sholat duhur bersama Nia, aku yang mengimami, kemudian aku melepaskan mukenahku dan merapikan jilbabku
"Tadi sampai mana Nia?" tanyaku
"Curret ituloh Rin" kata Nia mengingatkanku
"Oh iya, aku waktu kontrol dulu itu tidak boleh melakukan hubungan badan selama tiga bulan setelah operasi curret, itu untuk meminimalkan resiko hamil lagi, karena memang kandungan belum siap untuk hamil" ceritaku
"Aku sendiri masih takut Nia, kapan hari melakukan hubungan badan, tapi masih sakit, perih begitu" kataku
"Aku ini bingung cerita sama kamu, kamunya belum menikah, paham enggak sih? kamu menikah gituloh Nia biar aku enak cerita ginian sama kamu" kataku
"Ha ha ha, iya juga sih, coba kamu coba cerita sama sapa gitu? atau sama ibu mertuamu, kan orangnya enak di ajak cerita" kata Nia
"Aku fokus bertanya tentang curret saja Rin" kata Nia masih penasaran dengan proses curret
"Kamu tanyanya tentang apa?" tanyaku
__ADS_1
"Itumu sakit enggak waktu curret itu?" tanya Nia
"Prosesnya aku gak tau Nia, aku kan di bius total jadi tidak merasakan apa-apa, tapi setelah sadar, ya rasanya seperti waktu melahirkan, tapi sakit melahirkan sih, beberapa hari sudah enak" ceritaku
"Nia... kamu dulu di Jogja ke rumah adiknya suamimu kan? katamu dia dokter kandungan, dan sedang mengambil spesialis kandungan, apa gak sebaiknya kamu cerita baiknya bagaimana sama adik iparmu itu" kata Nia
"Iya...ya.. baru ingat dengan Vera, tapi... Vera ini sibuk sekali, aku juga takut untuk mengganggunya" kataku
"Dicoba saja untuk menghubungi adik iparmu itu, siapa tau ada solusi untuk kalian" kata NIa
" Iya Nia, nanti aku coba untuk whats up Vera, semoga dia tidak sibuk" kataku
"Ayo kembali ke kantor, entar di bilang ngerumpi saja ya he he he" kataku sambil berdiri dan keluar dari musholla bersama dengan Nia
Kami berjalan beriringan menaiki tangga menuju ke kantor, sesampainya di kantor kami duduk de kursi meja masing-masing, aku mengambil hp dari laci meja kerjaku, dan mengirim pesan wa ke Vera
"Assalamualaikum Vera, apa kabarmu, kamu sibuk enggak? kalau tidak sibuk aku ingin curhat sama kamu" tulisku menyapa Vera
Masih centang dua dan belum berwarna biru, mungkin Vera lagi sibuk, kemudian hp aku taruh lagi di meja, aku mulai mengerjakan tugasku.
Hp ku berbunyi, aku lirik, ada pesan wa masuk, kemudian aku ambil hp ku untuk melihat siapa yang menngirim pesan tersebut
Alhamdulillah akhirnya Vera membalas pesanku
"Lagi tidak sibuk mbak, ada apa? atau telpon saja ya?" pesan Vera
"Bentar lagi aku telpon ya Vera" tulisku
"Oke" tulisnya menjawab pesanku
"Nia mau kemana?" tanya Nia penasaran
"Telpon adik iparku, membahas yang tadi, kalau disini entar di dengar lainya, jadi gak enak aku" bisikku ke Nia
Aku keluar dari ruangan kantorku menuruni tangga, di bawah tangga terlihat sepi, aku membuka hp, aku cari nomer Vera dan aku telpon
Tuut... tuut.. tut.. suara telpon di telingaku
"Assalamualaikum mbak Rinda" sapa Vera saat mengangkat telponku
"Waalaikum salam Vera, kamu beneran tidak sibuk ya? lagi di mana sekarang?" tanyaku
"Di rumah mbak, lagi libur aku mbak, sekaran aku ambil libur seminggu dua kali, banyak jadwal yang aku cancel, aku ingin segera hamil mbak, kalau sibuk terus kapan aku hamil" kata Vera
"Oh iya mbak... ibu kapan hari telpon Vera, kata ibu, mbak baru saja keguguran ya? Yang sabar mbak, mungkin perasaan mbak sama dengan yang Vera alami setelah keguguran" kata Vera lagi
"Vera... aku mau tanya tentang itu juga" kataku
"Iya mbak mau tanya tentang apa, Vera senang bisa membantu" kata Vera
"Ver, aku kapan hari kan kontrol kata dokter Lisa, amannya itu berhubungan tiga bulan setelah curret" kataku
__ADS_1
"Iya betul mbak, terus masalahnya apa?" tanya Vera
"Mas Arif sekarang ini kan pulan, dua hari lagi balik ke Papua, tau sendiri lah laki-laki seperti apa kalau tidak bisa menahan, lah ini posisinya jauh dariku, kalau cari perempuan disana bagaimana?' tanyaku
"Ha ha ha, mbak Rinda punya cemburu juga ya?" kata Vera menggodaku
"Bukan cemburu tapi khawatir hehehe" jawabku dan kami tertawa bersama
"Mbak sebenarnya bisa juga melakukan hubungan, selama sudah bersih, untuk menghindari kehamilan, bisa dengan pengaman, atau di keluarkan di luar" kata Vera menjelaskan
"Tapi..." kataku di potong oleh Vera
"Tapi apa mbak, gak suka pake pengaman?' tanya Nia
"Bukan begitu Vera, seminggu yang lalu itu kami melakukanya tapi masih sakit dan perih" kataku
"Berapa lama setelah curret?" tanya Vera dengan nada serius
"Sekitar dua minggu setengah gitu setelah curret" kataku
"Apa sudah bersih waktu itu?" kata Vera seperti menanyai pasiennya
"Ya sudah bersih Vera" Jawabku
"Mungkin belum kering lukanya itu, mas Arif ini... langsung saja hantam, memang laki-laki gak bisa merasakan sakit perempuan" kata Vera gemes dengan kelakuan kakaknya
"Mbak Rinda, kalau mau berhubungan gak apa-apa mbak asal tidak hamil ya!" kata Vera
lagi
"Oh... begitu ya Ver, baru tau aku hehehe" kataku dan tertawa
"Makasih Vera ya, oke mbak lanjut aktifitas dulu" ucapku
"Iya mbak, salam untuk mas Arif ya!" kata Vera kemudian telpon mati
Aku menaiki tangga satu demi satu menuju ke kantorku dengan perasaan lega, semoga sudah tidak sakit lagi, jadi nanti malam bisa melaksanakan kewajibanku, batinku
"Gimana Rin? sudah ada solusi?" tanya Nia ketika aku dekat dengan mejanya
"He he he, ada lah" kataku dan tertawa
Aku melanjutkan pekerjaanku yang tinggal sedikit, tak terasa waktu pulang sudah tiba, aku berkemas-kemas untuk pulang
"Rin, ayo bareng" kata Nia
"Ayo" jawabku
"Eh jangan tinggalin aku" kata Widya menyusul langkah kami
Kami bertiga menyusuri tangga dan berpisah di bawah tangga, mereka berdua menuju parkiran sepeda motor, aku menuju ke parkiran mobil yang berada di depan, jadi aku berjalan ke depan dulu.
__ADS_1
Terlihat Vano berlari menghampiriku, setelah sampai aku peluk aku cium Vano, kemudian berjalan mengandeng tangan mungil Vano
Dari jauh terlihat mas Arif melambaikan tanganya, aku tersenyum melihat suamiku dengan senyuman termanis yang aku punya he he he