
Sepulang dari rumah Embah, kami masih dalam perjalanan.
“Rin, mau kemana kita?” tanya Mas Arif.
Aku berfikir mencari ide.
“Hanya kita berdua Rin, tidak bersama Vano, sesuatu yang sangat jarang kita dapati” kata
Mas Arif kembali.
“Iya Mas, tapi ke mana? Aku juga bingung ini” kataku sembari memikirkan enaknya ngapain berdua bersama dengan suamiku ini.
“Kamu yang tau daerah sini Rin” kata Mas Arif.
“Pulang ke rumah saja?” kataku.
“Bagaimana kalau kita ke hotel di dekat pantai?” tanya Mas Arif
“Menginap di sana?” tanyaku lagi.
Mas Arif tersenyum menganggukkan kepala.
“Apa gak kejauhan Mas dari sini, sama juga dengan pulang ke rumahmu” kataku kembali.
Masih belum ada ide, kemana malam ini, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh sore.
“Mas... di depan itu sepertinya tempat nongkrong baru” kataku.
“untuk anak remaja itu Rin” jawab Mas Arif.
“Terserah Mas lah mau kemana, di rumah juga bisa itu, acara makan saja ribet amat sih”
kataku jengkel juga, muter-muter mikir cari ide gak ada yang pas. Sudah malam juga, makan di rumah, bercinta terus tidur kan enak, kata hatiku.
“Ke sana saja ya, kita lihat ada menu apa saja, kelihatannya tidak seberapa ramai” kata Mas Arif kemudian.
Mobil berhenti di parkiran sebuah tempat makan yang menampilkan gazebo-gazebo di pelatarannya, sepertinya masih baru tempat ini, jelas pemiliknya juga orang berada, tapi kenapa di dirikan di pinggiran kota? Batinku.
Kami turun dari dalam mobil dan menuju ke dalam untuk memesan makanan di sana, tapi belum
masuk sudah di sambut oleh pelayan yang bagiku cukup ramah sekali, menyodorkan menu andalan tempat itu.
Kami mencari tempat duduk di sana di gazebo yang ukurannya lebih kecil.
Duduk lesehan di gazebo ada meja kecil di depan kami, memandang lampu kerlip yang terpasang di tempat tersebut dan temaram cahaya lampu memang tempat yang sangat romantis.
“Ternyata di sini menjual makanan seafood Rin” kata Mas Arif sambil menunjukkan daftar menu makanan ke depanku.
__ADS_1
“Kamu lihatlah, mau makan apa malam ini?” tanya Mas Arif.
Aku mengambil daftar menu yang diberikan Mas Arif dan membaca menu yang tertera di sana.
Aku memilih makanan juga minumannya dan menulisnya di buku pesanan.
“Mas mau makan apa?” tanyaku.
Mas Arif menunjuk tulisan menu disana dan kembali aku menulis.
Setelah itu aku menuju ke pelayan menyerahkan buku pesanan ke dia, kemudian kembali ke gazebo di mana suamiku menunggu.
Aku tersenyum memandang suamiku, duduk di sampingnya.
“Ternyata nyaman juga ya tempat ini” kataku lirih.
Mas Arif menoleh ke arahku dan menciumiku.
“Mas di lihat orang” bisikku.
“Tidak ada yang melihat” bisiknya, kemudian mencium bibirku dengan lembut, dan aku
membalas ciumannya, kami menikmatinya, lalu kami lepas kembali.
Aku tersenyum melilhat suamiku.
“He he he, kalau ada mana mungkin kita bisa masuk ke sini” kata Suamiku dan tertawa.
“Bisa Mas ke sini, beli es teh saja he he he” jawabku dan tertawa.
“He he he bisa juga ya, yang penting dapat tempatnya” kata Mas Arif.
Aku tersenyum dan menyandarkan kepalaku di bahu Mas Arif.
Beberapa menit kemudian pelayan datang menghampiri kami membawa pesanan kami dan menatanya di atas meja di depan kami, kemudian meninggalkan gazebo tersebut dan kembali melanjutkan aktifitasnya.
Alunan musik yang romantis menambah suasana semakin syahdu.
Aku mulai memasukkan makanan ke mulutku sesekali melihat suamiku yang juga sedang makan, teringat saat sekolah dulu, suka curi-curi pandang, batinku dan tersenyum sendiri.
Ternyata suamiku melihat aku tersenyum-senyum sendiri tadi, dan aku menundukkan kepalaku seakan tidak terjadi apa-apa.
“Rinda... kenapa kamu barusan tersenyum-senyum sendiri?” tanya Mas Arif sambil melihatku dan menyantap makanan di depanku.
“He he he, aku teringat saat kita masih sekolah Mas” jawabku dan tersenyum kemudian tertawa.
“Emang apa yang kamu ingat sampai kamu tersenyum-senyum begitu” tanya Mas Arif penasaran.
__ADS_1
“Eh, penasaran juga, gak boleh lah tau isi hati orang” jawabku.
“Kan berhubungan denganku, jadi aku harus bertanya” kata Mas Arif tidak mau kalah.
“Ingat saat kamu ajak makan dulu itu, pertama kali kita jadian he he he” aku menjawab dan tertawa lagi.
“He he he, oh itu ya, iya aku ingat” kata Mas Arif juga ikutan tertawa.
“Pertama kali ngajak perempuan keluar rumah, he he he” katanya dan kembali tertawa.
Akupun ikut tersenyum-senyum.
“Itu juga pertama kali aku diajak laki-laki makan berdua di tempat umum” kataku.
Sambil makan kami bercerita mengenang masa remaja kita dulu.
“Apa yang kamu rasakan Rin waktu itu?” tanya Mas Arif kembali dan mengambil minumannya dan meminum kemudian menatapku lagi.
“Antara senang, takut, juga dada ini bergetar kalau bisa di bilang apa ya... berdebar-debar begitulah” jawabku.
“Takut kenapa memangnya?” tanya Mas Arif.
“Takut ketahuan guru atau teman, terus besoknya di ledekin habis-habisan, kan waktu itu kMasamu pertama kali ngajak aku makan di luar setelah dari pantai itu, ya setelah Mas bilang suka he he he” jawabku sambil tersenyum dan tertawa kembali.
“Lucu juga ya kalau di ingat saat ini” kata Mas Arif.
“Aku dulu juga begitu sama Rin dengan yang kamu rasakan, mau ngomong suka saja susahnya minta ampun he he he” kata Mas Arif dan kembali tertawa.
“Dulu susah ngomong suka, sekarang keranjingan bilang suka dan cinta apalagi kalau lagi aku diamkan, semua jurus rayuan maut keluar semua deh” kataku menggoda Mas Arif.
“Ya jelas Rin, kan itu modalku biar kamu tidak meninggalkanku, karena kamu tidak ngefek di kasih uang, jadi rayuan mautku saja untukmu tetap bersamaku he he he” kata Mas Arif sambil tertawa.
Malam ini acara makan malamnya tanpa gangguan Vano, kami saling tertawa mengingat masa lalu itu.
“Besok-besok kalau aku marah, enaknya minta uangmu yang banyak sekali terus aku bawa kabur, bagus kan ideku” kataku menggoda.
Mas Arif memandangku dengan wajah terkejutnya.
“Berarti kamu sudah gak cinta ya sama aku?” tanya Mas Arif.
“Kan jika Mas berulah dan menyakiti hatiku, aku akan begitu” jawabku.
“Oh, begitu ya, memang aku berulah kenapa sih Rin, aku kan sudah jadi laki-laki baik-baik” katanya.
“Ya... sapa tau suatu saat terjerat oleh cinta lainnya dan tidak bisa meninggalkannya, daripada uangmu untuk perempuan lain, lebih baik buat aku toh, entar bisa di lihat perempuanmu itu mau sama Mas atau mau sama uangmu” kataku menjelaskannya.
“Oh...begitu ya, berarti kamu tidak rela aku bahagia dengan perempuan lainnya, itu bertanda kamu cinta sama aku, betulkan?” tanya Mas Arif menggodaku.
__ADS_1