Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Tante Linda psikiater hebat


__ADS_3

"Aku tau Rif, pasti kamu memaksa dia" kata Ibu lagi.


"Kamu ambilkan air dan handuk Rif" kata Ibu.


segera aku keluar aku ambilkan air dan handuk yang diminta Ibu dan memberikanya.


"Air hangat juga Rif!" pinta Ibu.


Aku segera memanaskan air di dapur setelah hangat aku berikan ke ibu, kulihat ibu menyeka tangan Rinda dengan air hangat dan mengusap wajahnya juga dengan air hangat.


"Sayang... lihat Tante... ada apa?" kata Ibu dengan lembut, Rinda langsung memeluk Ibu dan menangis lebih keras lagi.


"Menangislah sayang... ada Tante disini" kata Ibu.


"Sudah menangisnya?" kata Ibu lagi.


Aku hanya diam terpaku di pintu, aku yang mengakibatkan Rinda seperti itu.


"Ayo bicara sayang" kata Ibu sambil memeluknya.


"Tante... takut" kata Rinda


"Sudah jangan takut sayang, kamu harus mengalahkan rasa takutmu, apa yang membuatmu takut" kata Ibu.


"Mas Arif..." kata Rinda kemudian diam dan menangis lagi.


"Kenapa dengan Arif?" kata Ibu.


"Dia mau..." katanya tidak meneruskan dan menangis lagi.


"Sayang... istirahat dulu ya?" kata Ibu


Rinda mengangguk dan tertidur dengan memeluk guling


"Arif...kamu keterlaluan sekali, untung dia tidak depresi dan gila" kata Ibu memarahiku.


"Ditahan sedikit tidak bisa?" kata Ibu lagi.


Aku tidak bisa menjawab perkataan ibu hanya diam menunduk dan aku berjalan menuju kamar mau melihat Rinda.


"Jangan dekati Rinda dulu" kata ibu dan aku menurutinya dan kembali duduk di sofa.


"Rif... kamu tidak tau berat beban yang dilalui Rinda, kenapa kamu malah berbuat sama dengan mantanya Rinda?" kata Ibu.


"Maaf Bu aku khilaf, aku tadi masuk rumah melihat Rinda berpakaian seperti itu" kataku


"Kamu terus nafsu begitu?" tanya Ibu aku menganggukkan kepalaku.


"Arif...Arif... hmmm" kata Ibu dan berjalan meninggalkan aku menuju kamarku, aku mengikutinya dari belakang.


"Rinda... sudah lebih baik?" tanya Ibu.


"Iya Tante..." kata Rinda.


"Mas Arif kemana?" tanyanya.


"Kamu sudah siap bertemu dengan Arif" tanya Ibu, Rinda mengangguk.


"Rif...ini Rinda mencarimu, awas kalau macem-macem lagi" kata Ibu meninggalkan kami dan menutup pintu kamar

__ADS_1


Melihatku Rinda memelukku erat, aku dudukkan Rinda di tempat tidur dan aku duduk disampingnya, aku memandangnya, terlihat sudah tidak ada ketakutan seperti tadi.


"Maaf ya Rin" kataku sambil memeluknya dengan lembut aku cium keningnya.


"Ini boleh?" kataku menunjuk bibirnya dia mengangguk pelan, aku cium bibirnya dengan lembut dia memelukku mengusap rambutku membalas ciumanku dan aku rebahkan tubuhnya di kamarku, aku cium lembut bibirnya lagi, aku lepaskan aku pandangi wajahnya aku usap rambutnya aku tersenyum kepadanya, dia juga tersenyum padaku, aku peluk tubuh kecilnya aku berbisik.


"Maafkan aku ya sayang" dia mengangguk pelan


"Mas..." panggilnya.


"Apa sayang?" tanyaku, dia diam saja memandangku dengan matanya yang lembut.


"Rin... aku janji tidak akan mengulanginya lagi" kataku.


"Aku akan sabar menunggumu sampai siap Rin" kataku lagi.


"Ayo jalan-jalan ya?" tanyaku


Dia menganggukkan kepala, aku keluar dari kamar menuju kamar Rinda untuk mengambil jilbabnya dan mengenakan jilbab ke Rinda, aku gandeng Rinda menuju mobil aku bukakan pintu mobil dan dia masuk duduk di kursi depan


"Bu aku keluar sebentar, Rinda minta jalan-jalan" kataku


"Iya hati-hati, ajak di tempat yang sepi jangan tempat rame" kata Ibu


"Iya Bu" jawabku


Mobil melaju, menuju telaga di tengah kota ini, aku parkirkan mobil aku peluk pinggang Rinda, dia masih diam saja tapi sudah tidak takut seperti tadi, berjalan menuju kursi di pojokan, berharap Rinda lebih tenang, dan ceria lagi, aku duduk di kursi bersama Rinda melihat pohon dan bunga di depan kami, aku sandarkan kepalanya di pundakku, ku usap bahunya.


"Sayang... bidadariku... disini suka" kataku.


"Iya mas" jawabnya, aku tetap memeluknya terkadang mencium kening dan pipinya.


"Mas..." katanya.


"Aku takut mas seperti tadi" katanya.


"Aku janji Rin... tidak akan mengulangi lagi" kataku.


"Mas ingin sekali" kata Rinda.


"Aku akan menahanya Rin, aku tidak mau membuatmu takut lagi kalau kamu belum siap" kataku.


"Mas... kalau mas ingin lakukanlah mas" kata Rinda.


"Tidak sayang" kataku sambil mengusap pundak dan kepalanya.


"Sudah lupakan kejadian tadi ya...aku minta maaf Rin" kataku.


"Iya mas" katanya.


"Ayo senyum Rin!" pintaku


Melihat Rinda tersenyum hatiku bahagia sekali, apa jadinya kalau tidak ada ibuku, terima kasih ibu batinku, aku peluk tubuh kecil Rinda, melihatnya tersenyum manis membuatku merasa memiliki hidup lagi.


"Mau kemana setelah ini?" tanyaku.


"Gak kemana-mana mas, temani aku saja sehari ini" katanya.


"Iya minta temani ke mana?" tanyaku lagi

__ADS_1


"Di sini saja mas" katanya.


"Ketemu Vano di rumah mbah mau?" tanyaku, dia menggelengkan kepala.


Beberapa saat kemudian.


"Mas..ayo pulang" katanya.


"Pulang kemana?" tanyaku.


"Pulang ke rumahmu, Vano mas jemput di embah ya?" tanyanya.


"Kamu belum makan dari tadi, makan dulu ya" kataku, dia mengangguk, kami berjalan bergandengan tangan keluar dari taman di telaga tengah kota menuju mobil dan keluar dari area parkir.


"Mau makan apa?" tanyaku.


"Boleh minta bakso mas?" tanyanya.


"Iya" jawabku


Sampai di tempat jualan bakso yang terkenal disini kami turun, Rinda tetap menggenggam erat tanganku, dalam hati senang diperlakukan seperti ini tapi kehilangan keceriaanya membuatku tidak tenang apalagi aku yang membuatnya seperti itu, Rinda duduk lesehan menghadap jalan raya, aku memesan dua porsi bakso dan es degan, kemudian kembali duduk disamping Rinda memeluknya dari samping kuusap bahunya aku memandangnya, tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan kami, kulihat bakso hanya dipandangi Rinda saja.


"Kenapa?" tanyaku.


"Aku suapi ya?" kataku.


Dia mengangguk, pelan-pelan aku suapi sedikit demi sedikit bakso, dia tersenyum kepadaku.


"Terima kasih ya mas" katanya dengan suara yang lebih ceria dari pada tadi.


"Mas gak makan?" tanyanya


"Ohh iya, ini aku mau makan" jawabku


Kemudian makan bakso, kulihat Rinda mau makan bakso yang belum habis


setelah selesai makan kami keluar dari warung tersebut, masuk ke mobil dan melaju ke jalan raya


Di dalam mobil.


"Sayang kemana sekarang?" tanyaku.


"Ke rumah Tante Linda" jawabnya.


Segera aku menuju rumah, sampai rumah, Rinda sudah membuka pintu mobil sendiri dan masuk ke dalam rumah, kuikuti dari belakangnya, dia menuju kamarnya


"Kamu mau istirahat?" tanyaku.


"Iya, mas Arif tolong jemput Vano ya" pintanya aku menganggukkan kepala berjalan keluar dan pergi meninggalkan rumah menuju rumah embah


Sampai di rumah mbah, kulihat Vano berlari menghampiriku.


"Ayah... Bunda kemana?" tanyanya.


"Bunda di rumah nenek, kurang enak badan" kataku, aku masuk ke rumah berjabat tangan dengan keluarga Rinda.


"Rinda kemana Rif?" tanya Ibu.


"Di rumahku Bu, tadi kurang enak badan, sekarang istirahat disana" kataku.

__ADS_1


"oh iya... Bapak kemana Bu?" tanyaku.


"Bapakmu di belakang, kamu kesana saja" kata Ibu


__ADS_2