Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Berkunjung


__ADS_3

Seminggu kemudian di hari Minggu, setelah sholat subuh dengan Mas Arif, kami kembali lagi ke tempat tidur, sambil berbaring kami ngobrol-ngobrol.


“Mas, mantanmu tidak menghubungimu lagi?” tanyaku.


“Enggak Rin, nomer hpnya kan sudah aku blokir kemarin itu saat kamu marah-marah,” jawab Mas Arif.


Aku memeluk tubuh suamiku dan menciuminya, masih merasa kangen sekali pada suamiku, ya seminggu lagi sudah berangkat ke Papua kembali.


“Seandainya dia mendatangimu bagaimana Mas, terus-terusan menggodamu, masak Mas tidak terangsang?” tanyaku.


“Rinda... jangan berfikir seperti itu, kamu doakan aku tetap menjaga hatiku,” jawab Mas Arif.


Aku senang mendengar ucapannya.


“Mas, bagaimana dengan Mas Deni dan Mas Yusuf?” tanyaku.


“Mereka sebenarnya kemarin itu mau ikut ke sini Rin, tapi karena mendadak memberitahu ke manajemen, jadi tidak bisa karena tiketnya sudah di pesan ke Merauke sama Balikpapan, mungkin cuti depan ikut ke sini mereka,” jawab Mas Arif.


“Iya Mas, mereka apa cerita ke Mas tentang keseriusan hubungan mereka sama Nia dan Widya,” tanyaku kembali.


“Insyaallah Rin, semoga di perlancar jalannya ya,” jawab Mas Arif.


“Aamiin.” Ucapku.


Mas Arif memeluk dan menciumiku kemudian bibir kami saling bertemu dan melepaskan kembali.


Aku tersenyum dan memeluk erat tubuh suamiku dan berbisik, “Masih kangen Mas.”


“Aku juga Rin, oh ya bagaimana kalau kita ke rumah orang tuamu?” Usul Mas Arif.


“Iya Mas, ayo siap-siap, makan di luar saja,” kataku.


“Pulang nanti sore ya?” tanya Mas Arif.


“Iya Mas, besok kan aku kerja,” jawabku.


Kami bangun dan turun dari pembaringan, keluar kamar, Vano belum bangun ketika aku membuka pintu kamarnya.


Aku menuju ke dapur, sedangkan Mas Arif mengambil sapu untuk membersihkan rumah.


“Rin kamu mau buat sarapan apa?” tanya Mas Arif sambil menyapu lantai.


“Gak tau Mas, mau oseng-oseng wortel dan jamur tiram?” tanyaku.


“Ada sosis juga ini,” kataku kemudian.


“Iya terserah lah Rin,” jawab Mas Arif.


Aku mulai mengambil beberapa makanan dan bumbu untuk aku masak.


Beberapa hari ini, badanku sudah enak, sudah tidak morning sick lagi, Alhamdulillah, anak baik mengerti orang tuanya.


Selesai masak aku menyajikannya di meja makan, Vano sudah bangun dan menghampiriku.


“Bunda makan,” bisiknya.


“Cuci tangan, kaki dan wajah dulu baru boleh makan.” Pintaku.


Kaki kecil Vano perlahan berjalan menuju ke kamar mandi, tak berapa lama kembali menghampiriku, dan aku menyerahkan piring berisi sayur dan lauk kemudian Vano membawanya ke depan tv duduk di atas karpet.


Aku hampiri Vano sambil membawa siomay dan duduk di samping Vano.


“Vano setelah ini kita ke Mbah Uti dan Mbah Kung, kamu ikut enggak?” tanyaku.


“Ikut Bunda,” jawabnya bersemangat.

__ADS_1


“Setelah ini kita bersiap-siap ya.” Aku mengingatkan Vano.


Berdiri dari duduk sambil membawa siomay dan berjalan ke teras depan rumah, Mas Arif sedang membersihkan daun-daun tanaman yang kering dengan gunting, aku duduk di kursi teras sambil makan siomay.


“Sudah matang Rin sarapannya?” tanya Mas Arif ketika melihatku duduk di kursi teras.


“Sudah Mas, mau sarapan sekarang?” tanyaku.


“Sebentar lagi Rin, setelah membersihkan ini,” jawabnya.


Aku masih duduk di kursi teras memandangi suamiku dan juga beberapa sepeda motor kadang mobil yang melintas di depan rumah mertuaku.


Setelah selesai, Mas Arif mencuci tangannya dengan air kran yang berada di teras kemudian menghampiriku mencium keningku.


"Hah siomay lagi?" tanyanya heran.


"He he he, anakmu suka siomay," jawabku dan tertawa riang.


"Ayo sarapan Rin!" Ajak Mas Arif.


Aku beranjak dari tempat dudukku berjalan menuju meja makan, mengambil piring dan nasi untukku dan suamiku kemudian kami makan berdua.


Selesai makan kami berkemas untuk mengunjungi orang tuaku.


Sampai di rumah orang tuaku...


"Assalamualaikum," salamku ketika memasuki rumah.


"Waalaikum salam," jawab Ibu dari dalam.


Kemudian terlihat Ibu berjalan menghampiriku.


Aku menyalami Ibu.


"Bu, Bapak bagaimana sakitnya?" tanyaku.


"Arif sama Vano mana?" tanya Ibu.


"Masih di luar Bu," jawabku.


Aku duduk di kursi ruang tamu, beberapa saat kemudian Mas Arif masuk sambil menggendong Vano yang sedang tidur dan membaringkan ke dalam kamar.


Mas Arif menyalami Ibu dan duduk di sampingku.


"Ibu, Bapak sehat?" tanya Mas Arif.


"Iya, Alhamdulillah Rif," jawab Ibu.


"Bapak kemana Bu? kok dari tadi Rinda tidak lihat?" tanyaku ke Ibu.


"Bapakmu keluar, gak tau kemana, sudah sehat dia," jawab Ibu.


"Bagaimana kandunganmu, gak ada masalah kan?" tanya Ibu.


"Alhamdulillah Bu, sehat," jawabku.


"Sudah bisa gerak-gerak Bu." Mas Arif menyela.


"He he he." Ibu tertawa.


"Rin, Ibu gak tau ke sana kapan? Ibumu masih di Jogja?" tanya Ibu.


"Iya Bu, mungkin minggu depan Ibu pulang," jawabku.


"Rif, kamu sudah makan?" tanya Ibu ke Mas Arif.

__ADS_1


"Sudah dirumah tadi, Rinda yang masak," jawab suamiku.


Aku tersenyum mendengarnya.


"Nah gitu masak untuk suami." Pesan Ibu.


Tak berapa lama Bapak datang dan bergabung dengan kami.


"Rinda, sehat?" tanya Bapak saat bersalaman denganku.


"Alhamdulillah Pak, Bapak sendiri bagaimana?" tanyaku.


"Sudah sehat gini," jawab Bapak.


"Oh... berarti sakitnya karena kangen Ibu," kataku menggoda.


"He he he." Kami tertawa bersama.


"Pulang kapan kamu Rif?" tanya Bapak.


"Seminggu yang lalu Pak," jawab Mas Arif.


"Suasana di sana bagaimana? sudah kondusif Rif?" tanya Bapak lagi.


"Iya Pak sudah normal," jawab Mas Arif.


"Alhamdulillah." Ucap Bapak.


Kami ngobrol-ngobrol ringan, Vano terbangun dari tidurnya kemudian keluar rumah bermain dengan teman sebayanya.


Tak terasa sudah jam tujuh sore, waktunya untuk pulang kami berpamitan pada kedua orang tuaku, mobil perlahan meninggalkan rumah kedua orang tuaku.


Sampai di rumah Vano sudah tidur dan dibaringkan Mas Arif ke kamarnya Vano, aku masuk ke kamar mandi setelah meletakkan tasku dan melepaskan jilbab.


Keluar dari kamar mandi, badan terasa gerah, aku berganti baju daster tanpa lengan kemudian berbaring di atas kasur.


Rasanya enak banget bisa merebahkan tubuhku ini.


Suamiku datang, meletakkan kunci mobil di meja nakas, kemudian berganti masuk ke kamar mandi dan berganti baju lalu menghampiriku.


Menciumku dan mencium perutku.


"Ini Ayah nak." Bisiknya.


Beberapa saat kemudian bergerak, Mas Arif merasakannya dari tangannya yang menempel di perutku.


"Sayang, dia gerak lagi." ucap suamiku dengan gembira.


Lalu menciumi perutku.


Mas Arif tersenyum bahagia sekali.


"Rin... love you," bisiknya saat berada di sisiku.


"Love you too," jawabku.


Mas Arif kembali menciumiku dengan lembut, kemudian turun kebawah menciumi buah dadaku.


"Rin, semakin besar ya?" bisiknya.


"Iya Mas, itu tempat Asinya anak kita," jawabku.


Terus kebawah menciumi tubuhku, tak lama kemudian melepas celana pendeknya, terlihat sangat tegang sekali.


"Pelan-pelan Mas." Bisikku

__ADS_1


Kami akhirnya bercinta kembali.


__ADS_2